
Hidup di zaman Millenial seperti ini tak ayal membuat semua orang harus mengerti tentang IT. Karena nyatanya orang-orang di desa bahkan hampir tak tahu apa itu internet. Apakah itu sebuah nama, hewan, tumbuhan, atau pekerjaan? Mereka tak pernah peduli.
Itu adalah satu hal yang Lyra sesalkan dengan kehidupannya di desa. Masih banyak barang-barang primitif yang digunakan di desa. Mulai dari alat masak sampai tungku pun juga masih tradisional.
Lyra tak habis pikir dengan ibunya yang lebih memilih tungku daripada kompor yang jelas-jelas ada di dapur rumahnya. Dan karena kesederhanaan ibunya, Lyra berada di sini. Di dalam hutan rimbun untuk mencari kayu bakar.
"Aku masih tak habis pikir kenapa ibu suka sekali dengan tungku tua itu. Jika sudah begini, aku juga yang harus mencari bahan bakar." Rutukku kesal.
Yah, sebenarnya ini tidak masalah untuk Lyra. Hanya saja melihat ibunya yang duduk di dapur belakang dengan banyak asap membuatnya sedikit khawatir. Di depan orang banyak ibu mungkin terlihat sangat sehat tapi jangan kalian pikir dia sesehat itu. Ibu harus selalu meminum racikan obat tradisional untuk meredakan rasa sesak nafas yang terkadang menyerangnya.
Itulah alasan kenapa Lyra selalu meminta ibunya agar lebih sering menggunakan kompor gas. Siapa yang tidak tahu jika menghirup asap akan berdampak buruk pada mereka yang menderita gangguan pernafasan.
Hutan yang dimasuki memang rimbun. Namun dari sini masih terlihat beberapa warga yang juga sedang bekerja. Bahkan Lyra bisa melihat Paman Liu yang tengah mencari kayu bakar juga tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Paman Liu!" Panggil Lyra membuat Paman Liu memutar balik badannya dan melambai padanya.
"Xia'er, kemarilah!" Balas Paman Liu sama senangnya.
Xia'er adalah nama panggilannya disini. Lyra memang berkebangsaan China, hanya saja ibunya bukanlah orang China. Ibu adalah orang Asia, tepatnya Indonesia. Dan ayahnya sendiri asli China. Han Xia Wei, itulah nama Chinanya.
Lyra adalah panggilan ibunya ketika mereka bersama. Kata ibu, percuma Lyra punya dua nama jika hanya nama chinanya saja yang digunakan.
"Paman juga sedang mencari kayu bakar rupanya." Ucap Lyra ketika sampai di depan Paman Liu.
Mereka berdua sama-sama membawa tempat untuk meletakkan kayu bakar yang digendong seperti ransel. Jarang-jarang Lyra bisa mengobrol dengan Paman Liu. Biar pun Paman Liu terlihat sederhana, nyatanya beliau ini seorang pengusaha pabrik giling yang disegani disini.
"Paman, apa pabrik sedang tidak sibuk?" Tanya Lyra sambil mengambil satu per satu kayu bakar yang ada.
"Paman sudah tua Xia'er. Jadi, biarkan saja mereka anak muda yang bekerja." Ucap Paman Liu diakhiri kekehan.
Mendengarnya, Lyra pun ikut tersenyum. Mereka yang disebutkan Paman Liu adalah anak-anak beliau yang memang sudah cukup umur untuk bekerja. Anak pertama Paman Liu saja tahun ini menginjak 27 tahun dan dia sudah memiliki seorang putri cantik.
Kata Paman Liu kelak usahanya akan dia berikan kepada si sulung Liu Shan. Bukan karena masalah siapa yang lahir dulu, dia memilih Liu Shan. Namun, hidup berpuluh tahun bersama ketiga anaknya membuat Paman Liu yakin jika Shan lah yang lebih cocok melanjutkan usahanya.
__ADS_1
"Bagus sekali, Paman. Mereka memang sudah waktunya untuk mengurus paman." Lanjut Lyra.
"Hei, pamanmu ini masih kuat dan bugar tak perlu dijaga seperti itu." Meskipun berkata demikian, terbesit kebahagiaan di hati Paman Liu ketika membayangkan ucapan Lyra.
"Terserah paman sajalah," Ucap Lyra pada akhirnya.
Ketika Lyra kembali membungkuk untuk menggapai ranting kering, tak sengaja ujung matanya menangkap sesuatu berwarna merah di ujung sana. Dan ketika ia menolehkan kepala betapa terkejutnya Lyra.
Hampir saja dia tersandung akar pohon jika saja tidak berpegangan pada Paman Liu. "Xia'er, ada apa?"
Paman Liu ikut terkejut karena bahunya disentuh Lyra. Paman Liu dibuat bingung ketika atensi Lyra saat ini mengarah ke satu titik di seberang sana.
"Paman..." Panggil Lyra pelan, matanya masih saja menatap ke depan.
Paman Liu membalas singkat panggilan Lyra sambil mengalihkan pandangannya ke arah yang dituju Lyra. Aneh, apa yang sebenarnya Lyra lihat.
"Dia sangat cantik," tangan Lyra terulur dan menunjuk sosok berbaju merah khas gaun pernikahan zaman dulu di seberang sana.
"Hei, kau tak boleh bercanda seperti itu di hutan. Itu tidak baik." Kata Paman Liu yang tak ingin tertipu oleh anak jahil seperti Lyra.
Namun bukan itu yang Lyra lakukan, dia memang benar-benar melihat sosok itu. Dari radius 100 meter saja Lyra masih bisa melihat jelas wajah wanita itu. Kulitnya putih bersih, proporsi wajahnya sempurna dengan hidung mancung, bibir tipis, dan rahang yang tegas.
Lyra seakan tersadar dari diamnya. Dia mengangkat tangan dan mengucek matanya berulang kali berharap itu hanya halusinasi semata. Namun dia masih melihat sosok itu. Kembali ia coba mencubit keras lengannya dan menjerit sampai Paman Liu kaget dibuatnya. Lagi, dia masih melihatnya.
"Hei, sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Paman Liu semakin gusar.
Lyra memang jahil, tapi tak pernah sampai ssejahil ini. Melihat wajah Lyra, Paman Liu jadi penasaran sosok seperti apa yang dia lihat. Hutan ini memang terkenal angker. Banyak warga pernah melihat bahkan sampai berinteraksi dengan mahkluk-mahkluk itu. Setidaknya, itulah yang diceritakan orang.
Tak ada yang tahu kebenaran hutan ini sampai sekarang.
"Paman, aku harus bagaimana...dia masih saja terlihat." Kata Lyra dengan raut bingung bercampur ketakutan yang kentara.
"Sepertinya, dia butuh bantuanmu Xia'er."
__ADS_1
"Apa maksud Paman?"
"Entahlah, aku hanya pernah mendengar ini. Katanya jika kita melihat sesuatu di hutan ini, itu berarti dia membutuhkan pertolongan." Jelas Paman Liu yang dibuat setenang mungkin.
Jujur, Paman Liu juga sama takutnya dengan Lyra. Tapi mengingat ia sudah tua, tak mungkin dirinya ikut-ikutan takut seperti anak remaja. Logika harus dia gunakan terlebih dahulu.
"Jadi, aku harus mendekat kesana?" Lyra menunjuk ke 2 pohon yang saling berhadapan dengan wanita itu yang berada di tengah-tengahnya.
Paman Liu mengangguk dan menepuk bahu Lyra. "Temui dia, dan ajak dia bicara. Aku akan menunggu disini. Xia'er yang ku kenal itu bukan seorang penakut." Kata Paman Liu menyemangati.
Lyra menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. Dia jadi samakin tenang dan ketakutan itu pun berangsur hilang.
"Baiklah, Paman. Aku akan kesana, jangan tinggalkan aku, ya." Paman Liu mengiyakan tak lupa ia kembali menyemangati Lyra.
Lyra melangkahkan kakinya ke arah wanita itu berdiri. Satu yang membuat Lyra bertanya-tanya, wanita itu, sejak tadi dia terus melihat ke arahnya. Tapi tak pernah membuka suara. Jika dia memang bisa melihatnya dan butuh bantuan, kenapa tidak menghampiri Lyra langsung.
Tepat ketika jarak mereka tinggal dua meter jauhnya, Lyra berhenti. Dari sini wajah wanita itu terlihat jelas bak seorang dewi purnama. Sangat cantik.
Tangan wanita itu terangkat membuat Lyra terkejut dan refleks memundurkan satu kakinya. Dia kira wanita itu akan menariknya dan merasuki tubuhnya. Namun hal itu itu terjadi. Justru Lyra dibuat penasaran ketika tangan itu seperti tertahan oleh sebuah batas tak kasat mata yang terlihat berkilau ketika disentuh.
"Apa ini?" Gumamnya tanpa sadar.
Apakah itu semacam gerbang dimensi atau penjara tak kasat mata. Matanya berkeliling menatap kilau cahaya yang terus berkilau menuju ujung hutan. Sebenarnya apa yang sedang dirinya lihat saat ini.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Lyra pada wanita bergaun merah darah itu dengan mata tajam penuh kebingungan.
***TO BE CONTINUED.....
HALLO, Selamat membaca cerita ini ya. Ada satu hal yang harus aku ceritain, ini itu cerita pertama aku sejak zaman old dan gak aku post. Dulu itu ceritanya masih absurd dan bikin penulisnya mumet tujuh keliling.
Tapi sekarang, aku mau coba remake lagi cerita ini jadi lebih teratur dan masuk di akal.
Ikutin terus cerita ini ya, bye bye***
__ADS_1