
Tatapan tajam dari arah depannya itu tak sedikit pun membuat Xia Wei takut dibuatnya. Tentu saja dia tahu siapa orang di depannya ini, tapi dia tidak begitu mengerti tentang tata krama yang sebelumnya Yi Wei sampaikan.
"Bukahkah kau bilang Putra Mahkota adalah orang paling tampan disini?" Bisik Xia Wei dengan tangan sebagai batasnya.
Yi Wei tersedak kecil lalu menatap Xia Wei tak percaya. Lirikan mata itu seakan berbicara pada Xia Wei. 'Tentu saja' itulah yang bisa Xia Wei simpulkan.
Mohon maaf saja, tapi wajah di depannya ini masih kalah tampan dengan idola Xia Wei. Ya bukan kalah jauh juga sih, nyatanya mereka punya ketampanan yang berbeda satu sama lain.
Lihatlah itu! Garis muka Pangeran Mahkota lebih tegas dipadukan dengan mata tajam. Alisnya yang sedikit menurun tak sedikit pun mengurangi kesangaran wajahnya. Dia seperti patung, pikir Xia Wei.
Xia Wei memangku dagunya dengan satu tangan. Kepalanya mengangguk-angguk menyetujui penilaiannya sendiri. Yi Wei yang tidak tahan lagi dengan kelakuan temannya itu pun menyenggol tangan yg menjadi tumpuan dagunya.
Hampir saja Xia Wei akan memekik keras tapi tatapan tajam di depan itu membuatnya tutup mulut.
"Ekhem...Ada apa gerangan sampai Putra Mahkota berada di kediaman hamba malam hari seperti ini?"
Xue Ren yang sejak tadi fokus pada tingkah Xia Wei mengalihkan atensinya pada Yi Wei. "Aku ingin melihat keadaanmu."
"Ya ampun, kau romantis sekali." Pekik Xia Wei heboh.
Meski Xue Ren kalah tanding dengan idolanya, tapi jujur saja dia ini pecinta cool boy, dan Xue Ren inilah yang dia dambakan. Dia berkata dengan wajah datar membuatnya terlihat berkarisma di mata Xia Wei.
"Ahahaha...maafkan teman hamba yang tidak sopan ini Yang Mulia," Xia Wei mengepalkan tangan kuat ketika Yi Wei mencubit sedikit pahanya.
Dasar Yi Wei!
"Sepertinya temanmu ini bukan dari daerah ini ya, sikapnya itu aneh sekali." Kata Xue Ren dengan mata yg meneliti keseluruhan tubuh Xia Wei.
Xia Wei hanya bisa tersenyum palsu. Jelas sekali kalau pangeran itu tengah menyindirnya. Terlebih ia ingin sekali mencolok kedua mata Xue Ren yang nyatanya telah tidak sopan melihat dirinya.
'Sialnya orang itu adalah seorang pangeran. Jika bukan, sudah habis dia aku hajar!' batin Xia Wei.
"Jadi, siapa namamu dan darimana asalmu?" Tanya Xue Ren langsung dengan tatapan tajamnya.
"Hei, untuk apa ak-"
"Mohon maaf pangeran, biar saya yang menjawabnya." Ucap Yi Wei lembut sedangkan Xia Wei, dia sudah meronta-ronta karena mulutnya dibekap oleh Yi Wei.
"Baiklah."
"Perkenalkan Pangeran, dia Han Xia Wei. Dia ini berasal dari kota Huanyu. Dan dia ini yang sudah menolong saya tadi."
"Huanyu? Bukankah itu daerah netral yang ada di perbatasan Kerajaan Wu dan Kerajaan Xing?" Yi Wei mengangguk.
Xia Wei hanya bisa diam dalam duduknya. Ini adalah kesepakatan yang ia sepakati bersama Yi Wei dan Zhu Li di perjalanan. Dan ya, daripada ia disebut aneh lebih baik menyetujui kesepakatan itu.
Helaan nafas terdengar ketika Yi Wei melepaskan tangan yang membekap mulut Xia Wei. Kini perempuan dari zaman modern itu mengambil cangkir teh dan meminumnya sekali teguk tanpa memperdulikan keanggunan.
"Ah, segarnya."
Lagi, dalam hati Yi Wei hanya bisa merutuki sikap bar-bar Xia Wei. Seharusnya dia sedikit mengajarkan tatakrama agar Xia Wei bisa hidup tenang disini.
Namun hal itu berbeda dengan Xue Ren yang nyatanya menarik sisi bibirnya sedikit ke atas. Gadis ini beda dari yang lain, pikirnya.
"Lalu apa yang kau lakukan di daerahku Nona Han?"
"Itu...aku datang untuk menjual beberapa tanaman herbal hehehe..." Xia menggaruk kepalanya malu-malu.
"Benarkah Nona Han?" Tanya Xue Ren dengan nada terkejut terselip di dalam ucapannya.
__ADS_1
"Be-benar, Pangeran. Dan tolong jangan memanggilku seperti itu, Pangeran bisa memanggilku Xia Wei." Ucap Xia Wei ceria.
Xia Wei memang orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan bisa dibilang, dia ini juga terlalu polos dalam banyak hal.
"Baiklah, Xia Wei."
Dalam hati Xia Wei terpekik senang. Ya ampun, kapan lagi ada pria tampan yang memanggil namanya langsung seperti itu.
"Oh iya, bagaimana keadaanmu Putri Mahkota?" Tanya Xue Ren datar.
'Tidak niat sekali, dan apa barusan dia bilang? Putri Mahkota? Sejak kapan aku menyetujuinya?' Pikir Yi Wei.
Xia Wei yang tahan melihat tingkah keduanya memilih mengalihkan pandangan ke arah kolam yang berada di belakang Xue Ren. Tepat saat itu, dia melihat Zhu Li yang sepertinya hendak menghampiri Xue Ren.
"Zhu Li!" Teriakan Xia Wei itu membuat kedua orang itu menatapnya serempak. Zhu Li bahkan menghentikan langkahnya di belakang sana.
"Eh?"
Xia Wei menunjukkan senyum lebarnya kala sadar telah berteriak. Dia menatap kedua orang itu canggung lalu cepat-cepat bangkit dari duduknya.
"Eum, Yi Wei aku sepertinya akan berjalan-jalan saja bersama Zhu Li. Kalian bisa dengan tenang berbicara tanpa ada aku. Hamba permisi Yang Mulia."
Setelah membungkuk sedikit, Xia Wei segera berlari ke arah Zhu Li. Karena tidak hati-hati, kakinya tersandung. Namun dengan cepat Zhu Li yang berjara sekitar dua meter darinya berlari dan memegang bahu Xia Wei.
"Dasar ceroboh." Ledek Zhu Li.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini sekarang."
"Eh, tapi aku ingin..."
"Biarkan mereka bicara lebih dulu. Jadi nyamuk itu tidak enak. Ayo!" Xia Wei menarik lengan baju Zhu Li dan berjalan tergesa-gesa tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
"Maafkan Xia Wei, Pangeran. Dia memang gadis yang unik."
"Hm, kau benar. Dia sangat unik."
......~~......
"Hei, kau mau membawaku kemana?" Protes Zhu Li yang sejak tadi hanya mengikuti langkah Xia Wei yang tak tentu arah.
"Aku tidak tahu."
"Sudah ku duga."
"Aku sebenarnya ingin pergi ke pasar malam. Tapi kata Yi Wei, orang di rumah ini tidak boleh keluar lebih dari jam 8." Xia Wei menatap lesu bulan purnama yang sudah mulai tinggi.
"Aku tak yakin kalau kau orang yang penurut seperti itu." Ucap Zhu Li yang langsung dibalas cengiran bodoh Xia Wei.
"Kau benar. Aku tidak sepenurut itu. Jika aku tahu letaknya, aku pasti sudah pergi diam-diam sejak tadi." Gerutu Xia Wei dengan kesal.
Zhu Li tersenyum mendengarnya. "Kenapa kau tidak bertanya padaku. Kau tahu, otakku ini penuh dengan ide kreatif." Ucap Zhu Li bangga.
"Itu karena aku tahu kau akan sesombong ini. Lalu bagaimana caranya kita keluar dari kediaman ini?"
"Itu gampang saja. Di rumahku, aku bahkan bisa menyelinap keluar dengan mudah padahal disana temboknya 3 kali lebih besar dari ini." Xia Wei hanya memutar bola malas mendengarnya.
"Aku tidak peduli." Senyum Zhu Li luntur dan wajahnya berubah datar sedatar triplek.
"Ini bukan saatnya sombong. Aku ingin jalan-jalan." Perkataan itu terdengar seperti rengekan anak kecil di telinga Zhu Li.
__ADS_1
Dia yang memang tidak tega melihat Xia Wei akhirnya menarik tangan gadis itu menuju pintu belakang yang biasanya digunakan oleh dayang dan kasim kediaman ini.
"Ck, jika saja tahu cara ini yang kau gunakan aku pasti sudah menikmati dunia luar."
Xia Wei kira mereka akan menyelinap melalui tembok besar itu atau lebih parah lagi ia kira Zhu Li akan membawanya berjalan di atas atap rumah seperti yang biasa dia lihat di film kolosal pada umumnya.
"Jika ada yang mudah kenapa harus dipersulit. Cepat sebelum ada orang yang memergoki kita."
Tak ingin ketahuan, Xia Wei pun segera berjalan melalui pintu kayu itu lalu menghela nafas lega ketika berhasil melewatinya.
"Masih syukur pintu itu tidak dijaga ketat. Kau tahu gara-gara insiden hilangnya Yi Wei diculik penjagaan malam ini semakin diperketat. Dan sepertinya pengawal yang menjaga di sana sedang melakukan pertukaran waktu jaga."
"Begitukah?" Zhu Li mengangguk seraya melangkahkan kakinya menuju pasar malam.
"Makanan, aku datang menjemputmu!" Ucap Xia Wei senang dengan suara kecil. Tidak lucu jika pengawal sampai mendengarnya.
"Wahhh…ini keren sekali." Xia Wei menatap takjub pasar malam yang ada di depannya.
Jika di zamannya pasar akan ramai dan penuh hiasan jika menjelang hari besar, maka beda hal nya dengan pasar disini. Tanpa ada acara sekalipun pasar ini sudah sangat ramai dan indah.
"Kau belum pernah ke pasar? Kau terlihat kampungan sekali." Xia Wei menatap tajam Zhu Li yang asal bicara.
"Tentu saja pernah. Kau kira di tempatku tak ada pasar apa!" Berbicara dengan Zhu Li selalu membuat Xia Wei emosi.
"Ya, siapa yang tahu kan." Balas Zhu Li dengan bahu yang terangkat dan raut wajah yang menyebalkan di mata Xia Wei.
Kekesalan Xia Wei terhenti ketika matanya menatap penuh binar pada kue lotus yang di jual beberapa penjual di jalanan pasar.
"Zhu Li aku ingin membeli itu," pinta Xia Wei.
"Kau tinggal membelinya, kenapa bilang padaku." Kata Zhu Li tidak peduli.
"Apa kau lupa jika aku bukan dari sini."
"Lalu?" Zhu Li mengangkat alisnya bingung.
"Tentu saja aku juga tidak punya uang!" Ucap Xia Wei tegas.
Keduanya terdiam sesaat sebelum akhirnya Zhu Li mengeluarkan tawa sumbangnya yang menular pada Xia Wei.
"Ha ha ha ha...aku juga tidak membawa uang." Kata Zhu Li polos membuat tawa Xia Wei berhenti seketika.
"Kau yakin?!" Geram Xia Wei.
"Tentu saja."
"Mana ada seorang pangeran yang tidak punya uang. Apa kau ini pangeran palsu?" Dengan cepat Zhu Li langsung mengapit kepala Xia Wei di lengannya.
"Jaga ucapanmu, nona." Ingatnya pelan namun datar.
"Apa kau mau membunuhku! Aku susah bernafas, bodoh!" Teriak Xia Wei sambil memukul-mukul lengan Zhu Li yang mengapit kuat kepalanya.
Zhu Li hanya bisa tertawa keras melihat Xia Wei yang menderita. Siapa suruh Xia Wei meragukan pangeran seperti dirinya. Biar tahu rasa.
Untung saja pasar sedang ramai jadi mereka berdua tidak terlalu menarik perhatian, ya walaupun beberapa orang yang melewati mereka pasti akan menatap aneh keduanya dan mengeluarkan isi pikiran mereka pada rekannya.
Satu yang harus dicatat, Xia Wei dan Zhu Li tidak peduli!
TO BE CONTINUED....
__ADS_1