Myth Of Two Person

Myth Of Two Person
3. Mengobrol


__ADS_3

Sesuai dengan perjanjian, besoknya Lyra datang kembali menemui Yi Wei. Dia beralasan ingin mengerjakan tugas bersama teman. Guna meyakinkan ibunya, Lyra benar-benar membawa buku dan barang-barang lain dalam tasnya.


"Yi Wei!"


Lyra berteriak ketika melihat Yi Wei yang sedang duduk di bawah pohon besar itu. Yi Wei berdiri dan melambaikan tangan.


Kakinya berhenti tepat di hadapan pembatas itu. Lyra masih curiga dengan keberadaan pembatas aneh yang sudah pasti ada sesuatu kekuatan atau ilmu yang membuat pembatas itu bisa memerangkap seseorang disana.


"Aku berdiri disini saja, ya."


Yi Wei tak mempermasalahkannya, dia tahu jika Lyra pasti masih ragu untuk masuk ke dalam sini. Yah, meski banyak yang selalu melewati kawasan ini tapi tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan pembatas dan Yi Wei yang terkurung.


"Ngomong-ngomong, apa yang kau bawa dalam tas mu itu?"


"Ini pengalihan saja. Kau ingin tahu isinya?" Yi Wei mengangguk antusias dengan wajah polosnya.


Lyra melepaskan ranselnya dan meletakkannya di atas tanah dengan dia yang bersila. Sebelum membuka isi ransel itu, Lyra mengambil kain dan menyimpannya di depan Yi Wei sebagai alas isi tasnya.


Dia tak ingin ambil rugi dengan mengeluarkan isi tasnya di atas tanah. Setelah itu, baru Lyra mengeluarkan satu per satu isi tasnya dan memperlihatkannya kepada Yi Wei.


"Aku membawa buku, ponsel, laptop, powerbank, pulpen, dan tentu saja yang paling utama adalah cemilan." Serunya dengan senang ketika mengeluarkan cemilan yang mengisi setengah dari isi tasnya.


Walaupun Yi Wei tidak tahu dan tidak mengerti fungsi barang-barang yang Lyra bawa itu, tapi matanya ikut berbinar senang ketika cemilan-cemilan itu keluar dari dalam tas Lyra.


"Tunggu dulu! Selama disini apa yang kamu makan?"


"Tidak ada," kata Yi Wei dengan santainya.


"Apanya yang tidak ada?" Lyra yang kurang mengerti maksud ucapan Yi Wei kembali bertanya.


"Aku tidak pernah makan."


"APA!"


"Aku ini tidak selemah yang kau pikirkan, tahu." Sungut Yi Wei.


"Tapi itu tidak masuk akal," sangkal Lyra yang masih saja tak habis pikir.


"Keberadaan ku disini saja tidak masuk akal, jadi untuk satu hal itu harusnya kau mengerti." Lyra terdiam menyetujui perkataan Yi Wei.


"Benar juga. Semua tentangmu itu tak ada yang masuk di akal." Lyra dan Yi Wei mengangguk-anggukan kepalanya takjim.

__ADS_1


"Tetap saja, kau harus makan." Lyra mendorong satu bungkus Snack kentang ke pembatas itu.


Yi Wei dengan senang hati menerimanya. "Ini makanan apa?"


Yi Wei bingung melihat bentuk makanan yang seperti ini. Bagaimana cara memakan makanan ini, pikirnya sambil membolak balik cemilan kentang itu. Dia bahkan heran dengan suara krasak-krusuk yang tercipta saat ia menggerak-gerakkan makanannya.


Lyra tertawa keras melihat kelakuan aneh Yi Wei. Memang apa yang bisa orang dulu lakukan disini. Peradaban yang sudah berbeda membuat batas di antara mereka terbentang jelas.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Yi Wei mengerutkan dahi.


"Kau lucu," balas Lyra dengan tawa yang mulai mereda.


"Lihat aku! Begini cara membuka bungkusnya." Lyra mempraktekan cara membuka bungkus Snack itu menggunakan giginya. Dia itu sangat lemah jika harus menggunakan tangan untuk membukanya.


Yi Wei mengikuti semua instruksi Lyra. Setelah bungkus itu terbuka, matanya berbinar menatap cemilan itu. Belum lagi dengan bau khas bawang putih dan bahan lainnya yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


"Bagaimana cara memakannya?" Tanya Yi Wei lagi dengan begitu polosnya.


Lyra lagi-lagi tertawa dibuatnya. Tak ingin kehilangan momen lucu itu, Lyra mengambil ponselnya dan memasukkan tangan yang memegang ponsel itu ke dalam pembatas. Syukurnya, ponselnya bisa menangkap keberadaan Yi Wei disana.


'Cekrek'


Yi Wei sempat terkejut mendengar suara dari benda asing di depan wajahnya itu. Alhasil, gambar yang diambil menampilkan raut konyol Yi Wei. Lyra tertawa terbahak-bahak melihat hasil jepretannya.


"Oh, maafkan aku. Wajahmu saat terkejut itu-ptftt..." Jika saja tangannya bisa keluar dari pembatas itu sudah Yi Wei pukul gadis di depannya ini.


"Lihat ini," Lyra memperlihatkan ponselnya yang terdapat wajah Yi Wei dengan sangat konyol disana.


"Apa itu? Apa itu aku?" Tanyanya takjub.


"Bagaimana? Bukankah wajahmu disini sangat lucu?" Lyra masih saja meledeknya setelah menertawakan kepolosan Yi Wei.


"Terserah kau sajalah. Tapi ini sangat keren, ternyata di zaman ini banyak barang-barang aneh ya."


"Itu bukan aneh. Tapi revolusi teknologi."


Yi Wei mengernyit heran mendengarnya. "Apa maksudnya?"


"Begini, ibaratnya saat di zamanmu penerangan hanya mengandalkan obor dan minyak tanah yang ribet, maka disini kami sudah menggunakan listrik yang selalu ada dan biayanya lebih terjangkau."


"Kita hanya perlu menekan tombol lalu 'wushh' cahaya bisa kita dapat."

__ADS_1


"Aku tidak mengerti." Lyra menepuk keningnya pusing.


"Ah, contoh lainnya adalah ponsel ini. Jika di zaman dulu untuk mengabadikan momen kau harus melukisnya yang butuh waktu berjam-jam, sekarang kau hanya harus berpose dan sedetik kemudian gambar itu sudah kau dapatkan." Yi Wei menganggukan kepalanya mengerti dengan mulut yang membulat.


Hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol dan bercerita tentang masa lalu masing-masing. Dari sana, Lyra tahu jika Yi Wei itu ternyata anak dari seorang Jendral yang terkenal dimasanya. Mungkin hal itu juga yang membuat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota.


Yi Wei memang lain daripada yang lain. Saat ada wanita yang dijodohkan dengan penerus kaisar bukankah seharusnya dia senang? Yi Wei itu beda lagi. Di satu sisi dia senang karena tahu bagaimana sikap dan sifat Putra Mahkota.


Sayangnya, dia tak menginginkan hubungan tersebut. Begitu juga dengan Putra Mahkota. Entah itu ulah Putra Mahkota atau bukan sampai dirinya ada di tempat ini sekarang. Yang terpenting adalah dia tak jadi dinikahkan dengannya.


Kini mungkin saja Putra Mahkota sedang bersenang-senang dengan Putri Mahkotanya yang baru. Berpikir seperti itu nyatanya lebih baik daripada harus membayangkan dirinya yang berdiri bersisian dengan Putra Mahkota.


"Apa dia tampan?" Lyra begitu semangat menanyakan hal itu.


Yi Wei tersenyum jenaka mendengarnya, "Menurutku dia orang paling tampan di zamanku." Mata Lyra berbinar senang mendengar penuturan Yi Wei.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja mendengar kau mengatakan hal itu membuatku senang. Kau tahu di lingkunganku ini tak ada laki-laki tampan." Ucap Yi Wei sepelan mungkin padahal tak ada seorang pun di sekitar mereka.


Tadi dia sempat terciduk oleh orang yang akan pergi ke sungai. Tapi untung saja tadi dia refleks mengangkat ponselnya seakan-akan sedang berteleponan dengan temannya. Dan saat ditanya kenapa dia ada disana, Lyra membalas dirinya sedang mengerjakan tugas menggambar.


Padahal sejak awal dia tak sedikit pun menyentuh ponsel atau laptopnya. Bukunya saja sudah dia masukkan ke dalam tas.


"Aku akui itu benar. Semenjak datang kesini, tak ada orang tampan yang melewati daerah ini." Lyra dan Yi Wei tertawa bersama karenanya.


"Jika pun ada, apa yang dilakukan orang tampan di hutan belantara ini." Gumam Lyra lagi yang membuat mereka kembali tertawa.


Tiba-tiba saja tawa Lyra berhenti. Yi Wei yang merasa tak mendengar suara Lyra lagi berhenti tertawa dan melihat Lyra bingung.


"Hei, ada apa?" Ujar Yi Wei setengah khawatir


"Yi Wei, apa kau yakin saat mengatakan jika kau sendirian di hutan belantara ini?" Tanya Lyra dengan tatapan kosong.


"Tentu saja, apa maksud perkataanmu?"


Lyra tak membalas. Dia sudah merasa gila dan pusing dengan keberadaan Yi Wei yang baru dua hari ini dia ketahui. Tapi, Lyra tak yakin dengan ucapan Yi Wei yang satu itu. Masalahnya saat ini tak jauh dari arah mereka berada, ada seseorang yang tengah berdiri dengan tatapan kosongnya.


"Yi Wei, kau tidak sendirian." Gumam Lyra pelan dengan telunjuk yang menunjuk ke arah belakang Yi Wei.


Yi Wei yang masih bingung akhirnya mengikuti arah yang ditunjuk Lyra. Matanya hampir saja keluar kala melihat seseorang yang dia kenal tengah berdiri disana.

__ADS_1


"Pangeran Huang!"


To Be Continued....


__ADS_2