
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Putra Mahkota, Yi Wei segera pergi menuju kamarnya. Niat untuk mencari Xia Wei yang pergi bersama Zhu Li kandas tak bersisa saat rasa kantuk datang.
"Sudahlah, lagipula Pangeran Hwang tak mungkin macam-macam pada Xia Wei," gumamnya pelan sebelum masuk ke alam tidurnya. Yi Wei sudah benar-benar merindukan kasur ini.
Di luar sana Xue Ren yang memang berniat untuk menginap satu hari di kediaman Jendral Chen ini masih berjalan-jalan di sekitar kamarnya.
"Kemana mereka pergi?"
Masih begitu jelas dalam ingatannya ketika Xia Wei pergi dengan menarik Zhu Li. Bahkan sampai saat ini pun asal usul Xia Wei belum ia ketahui meskipun Yi Wei telah menceritakannya. Oh ayolah, Xue Ren tak mungkin bisa menjadi Raja di masa depan jika ia bisa tertipu dengan mudahnya.
"Hormat pada Putra Mahkota." Shu Yuan yang merupakan pelayan setia Xue Ren datang menghadap.
"Ada apa?"
"Saya ingin menyampaikan hasil penyelidikan hari ini, Yang Mulia! Dari yang saya selidiki, apa yang terjadi pada Putri Mahkota jelas memang penculikan. Tapi ada yang aneh dengan kediaman Putri Mahkota."
Xue Ren menaikan satu alisnya dengan mempertahankan wajah datarnya. "Apa yang kau temukan?"
"Dari apa yang saya lihat, kekacauan yang terjadi bukanlah sisa penculikan Putri Mahkota, Yang Mulia," kata Yuan tegas.
"Sudah ku duga." Yuan mengangkat kepala begitu 3 kata itu keluar dari mulut Xue Ren.
"Jadi Putra Mahkota juga telah menyadari hal ini?"
Xue Ren diam tak membalas. Pikirannya tengah berkelana pada keanehan-keanehan yang ia temukan sebelum dan setelah penculikan itu terjadi.
"Terus pantau seluruh penghuni istana. Segera selidiki hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini. Aku yakin masih ada mata-mata yang tinggal dengan tenang di dalam istana. Sekarang pergilah!" perintah Xue Ren.
"Baik, Yang Mulia." Yuan menyatukan kedua tangannya lalu membungkukkan sedikit badannya.
Baru saja Yuan akan berbalik, namun Xue Ren kembali menginterupsinya. "Kerjakan dengan halus dan bersikaplah seperti biasanya."
Xue Ren masuk ke kamarnya setelah mengatakan hal itu. Disini dia tak perlu terganggu dengan keberadaan mata-mata karena penjagaan Kediaman Chen lumayan kuat dalam menghalau penyusup masuk. Yah, kecuali mereka yang lalai dan membiarkan dua orang itu keluar dengan mudahnya.
Dari dalam kamar Xue Ren menangkap suara dua orang yang sedang mengobrol. Awalnya begitu samar, tapi lama-kelamaan suara itu semakin jelas membuat dirinya tahu siapa pemilik suara itu.
"Aku benar-benar tidak percaya kau tidak membawa uang sepeser pun," kata Xia Wei dengan tangan terlipat di dada dan mata yang menatap tajam Zhu Li.
__ADS_1
"Kau juga tak memilikinya," balas Zhu Li enteng.
"Astaga! Sudah berapa kali ku katakan, ini bukan du-" Xia Wei meraung-raung karena Zhu Li membekap mulutnya kencang.
"Kau gila! Jaga ucapanmu itu, kalau ada yang mendengar kau bisa kena masalah!" bisik Zhu Li kesal.
'Kenapa aku bisa melupakan hal itu? Dasar Xia Wei!' batinnya.
Xia Wei tak lagi meraung, kini dia berbicara dalam bekapan. Tentu saja Zhu Li tak mengerti apa yang dikatannya. Dengan kesal Xia Wei menarik tangan yang menutup mulutnya dan menatap garang pada Zhu Li.
"Sekali menyebalkan, tetap saja menyebalkan!" kesal Xia Wei dengan suara kencang.
"Dasar tidak berkaca," gumam Zhu Li pelan sambil mendengus.
Xia Wei berjalan duluan menuju sebuah taman kecil yang rupanya merupakan bagian dari kediaman Xue Ren saat ini.
Dengan cepat dia mendudukkan diri di atas rumput hijau. Zhu Li menghela nafas kasar melihat kelakuannya. Tidak anggun sekali, pikirnya. Tapi dia tetap saja ikut duduk di samping Xia Wei.
"Kenapa bintang disini begitu banyak dan sangat terang?"
"Kau tahu, di zamanku bintang tak lagi sebanyak ini. Hanya ada beberapa tempat saja yang masih seperti ini. Itu pun daerahnya tak bisa dihuni manusia." Kata Xia Wei tanpa mengalihkan matanya dari langit malam yang berhias cerahnya bintang dan bulan itu.
"Benarkah?" Tanya Zhu Li mulai penasaran. "Jadi bagaimana keadaan duniamu sekarang?"
"Tentu saja teknologi disana lebih canggih daripada disini. Orang-orang tak lagi menunggang kuda, tak menggunakan surat untuk mengirim pesan kerinduan, tak menggunakan uang koin seperti disini."
"Kami jarang menggunakan kayu bakar karena ada kompor yang lebih praktis. Di zamanku semua anak bisa sekolah, tak lagi memandang segala hal dari kasta. Yah, meskipun tetap saja kami yang hanya rakyat biasa kalah telak dengan orang yang berkuasa." Xia Wei terkekeh pelan setelah mengatakan kalimat terakhir.
Zhu Li ikut tersenyum kecil mendengarnya. Dirinya juga tidak bisa menyangkal hal itu.
"Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan, tapi menurutku duniamu terdengar sangat keren," ucapnya tulus.
"Tentu saja." Xia Wei tersenyum bangga.
"Oh iya, aku sampai lupa satu hal." Zhu Li memperhatikan Xia Wei yang rusuh menepuk-nepuk bagian pinggangnya.
"Dimana aku menyimpannya?" Tanyanya pada diri sendiri. "Ini dia," serunya bahagia ketika tangannya merasakan sesuatu di balik baju yang menurutnya sangat merepotkan.
__ADS_1
Dengan cepat Xia Wei menarik ke atas roknya, Zhu Li sampai memalingkan wajah malu. "Kau kenapa?" Xia Wei yang menangkap hal itu mengernyitkan alis.
"Ka-kau yang kenapa! Tidak sopan melakukan hal itu di depan laki-laki tahu!" Aku Zhu Li dengan telinga yang memerah.
Xia Wei hampir saja tersedak tawa tapi dia menahannya karena tak ingin membuat Zhu Li semakin kesal. "Ayolah, apa kau kira aku tak memakai celana lagi. Aku juga tak sudi memperlihatkannya padamu tahu," sanggah Xia Wei sambil tertawa pelan.
Sungguh, dia paling tak bisa menahan tawa. Xia Wei itu orang yang sangat ekspresif. Terlebih humornya yang setara dengan tanah itu membuatnya tak tahu tempat saat tertawa.
Meskipun ia malu, tapi Zhu Li tak akan menurunkan gengsinya di depan Xia Wei. Setelah berdehem satu kali, kepalanya dengan pelan mulai kembali menatap ke arah depan. Ujung matanya menatap lega celana yang Xia Wei pakai.
Untunglah gadis ini masih memakai celananya. Padahal dirinya tahu jika di zaman ini memang semua perempuan juga memakai celana panjang di balik pakaian luar mereka.
"Lihatlah ini, Zhu Li! Ternyata aku masih membawa makanan di sakuku," pekik Xia Wei bahagia.
Matanya berbinar menatap dua bungkus coklat yang memang ada di sakunya sejak pagi. Ia ingat sebelum pergi menemui Yi Wei matanya menangkap keberadaan coklat di atas rak sepatu. Tanpa pikir panjang langsung saja Xia Wei masukkan coklat itu ke saku celananya.
"Meskipun sudah tak berbentuk, tapi ini masih bisa dimakan." Xia Wei mengangkat dua bungkus coklat tak berbentuk itu di depan Zhu Li.
"Apa itu makanan?" tanya Zhu Li ragu.
"Tentu saja, coba makan ini." Xia Wei menyerahkan satu bungkus coklat itu pada Zhu Li.
"Lihat bagaimana aku membukanya." Zhu Li menatap serius Xia Wei yang sedang membuka bungkus coklat itu, lalu dia mempraktekannya sendiri.
"Wah..." Zhu Li menatap takjub bungkus coklat yang berhasil dibukanya.
"Cobalah." Xia Wei tersenyum senang sambil memakan coklatnya, menurutnya Zhu Li itu sama lucunya dengan Yi Wei.
Tanpa mereka berdua sadari, Xue Ren sejak tadi mendengarkan segala obrolan keduanya. Dia bahkan melihat jelas bagaimana interaksi keduanya melalui jendela kamarnya yang sengaja ia buka sedikit.
"Ternyata begitu, ya," gumamnya pelan.
Satu sudut bibirnya terangkat memperlihatkan seringai khas miliknya.
"Ini lebih mengejutkan daripada dugaanku." Setelah mengatakan hal itu, Xue Ren menutup jendelanya dan pergi menuju tempat tidurnya.
..._TO BE CONTINUED_...
__ADS_1