Myth Of Two Person

Myth Of Two Person
6. Tempat Asing


__ADS_3

Kini Xia Wei berada di kediaman Jendral Chen. Karena kediaman Yi Wei di istana telah rusak, Zhu Li memberi perintah untuk pergi kediaman Yi Wei. Tak lupa dia juga memberitahu Kaisar Wu.


Pernikahan Yi Wei juga dihentikan karena hari telah beranjak sore. Yi Wei hanya berharap semoga pernikahan itu diundur—atau lebih baik jika ditiadakan saja.


Keluarga Yi Wei menyambut senang kedatangan mereka. Kebahagiaan terlihat jelas ketika Jendral Chen memeluk Yi Wei, melihat putrinya yang kembali dalam keadaan baik-baik saja. Yi Wei pun tak bisa menahan air mata bahagianya.


Jendral Chen berkali-kali menyampaikan rasa terima kasihnya pada Huang Zhu Li karena telah menemukan Putri mereka. Tak lupa ia juga berterima kasih pada Xia Wei setelah mendengar cerita jelasnya dari Yi Wei.


Tentu saja tanpa memberitahu cerita Yi Wei yang terjebak dan Xia Wei yang bukan dari zaman ini.


Setelah pertemuan yang penuh drama, akhirnya Yi Wei memilih untuk pergi ke kamarnya bersama Xia Wei. Dia sadar betul jika Xia Wei sedang merasa canggung.


"Ah, akhirnya..." Xia Wei duduk di kursi panjang yang terdapat jendela di atasnya.


Tangannya sibuk mengipas-ngipas lehernya gerah. Ini pertama kalinya dia menggunakan pakaian tradisional seperti ini. Dan rasanya sangat menyiksa tubuh.


Terlebih dia juga menggunakan 2 baju sekaligus. Ya, saat mendapat baju ini tadi, dia terpaksa men-double-nya karena tak ada tempat berganti. Bayangkan saja siapa yang mau membuka baju di hutan penuh ilalang.


Rambutnya yang panjang ia gelung tinggi agar tidak menempel di leher. "Yi Wei, dimana kamar mandimu?"


"Di sana," tunjuk Yi Wei ke sebelah kiri Xia Wei.


Tanpa kata Xia Wei yang memang sejak tadi juga menahan kencing, segera masuk ke kamar mandi. Decakan keluar begitu ia memasukinya. Setinggi-tingginya jabatan Ayah Yi Wei tetap saja kamar mandinya sederhana seperti ini. Atau ini sudah termasuk mewah?


Masa bodo dengan hal itu, yang jelas kini Xia Wei sudah sangat kebelet.


Di luar Yi Wei sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ah, dia begitu merindukan kasur ini. Setelah lebih 2 bulan lamanya dia berada di tempat asing, kini akhirnya dia pulang.


Bohong jika dia tidak ketakutan saat berada di tempat asing sendirian. Duduk bersandar di bawah pohon sambil menyaksikan warga sekitar yang lalu lalang menuju kebun mereka nyatanya semakin membuat Yi Wei dirundung ketakutan.


Hampir saja ia mengeluarkan air matanya, tapi suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Yi Wei berhenti nostalgia. Dia tersenyum melihat Xia Wei yang begitu senang setelah menyelesaikan urusannya di dalam sana.


Xia Wei melemparkan baju kotornya ke atas ransel yang ada di kursi.


"Sekarang aku bebas," ucapnya dengan kedua tangan terangkat ke atas.


Yi Wei terkekeh melihat tingkah konyol Xia Wei. Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain. Berkenalan dengan Xia Wei membuatnya banyak mengerti tentang hal lain.


Yah, walaupun pertemuan mereka memang sangat singkat. Tapi hal itu tak bisa menjadi tolak ukur suatu hubungan, kan.


"Yi Wei aku ingin bertanya,"

__ADS_1


"Silahkan"


"Di zaman ini, aku harus memanggilmu apa? Itu...kau tahu kan di drama-drama kolosal yang ku lihat banyak orang dihukum gara-gara salah berbicara. Dan aku tak mau jadi korbannya."


"Yah, perkataanmu memang benar, tapi tak usah terlalu formal begitu. Panggil aku seperti biasanya, kecuali jika kau bertemu keluarga terpandang lainnya terutama keluarga kerajaan, maka kau bisa memanggil mereka dengan panggilan formal." Xia Wei mengangguk paham.


"Hah...aku berharap kakek buyutku bisa cepat mencari jalan keluar agar aku bisa pulang." Kata Xia Wei dengan mata menatap ke luar jendela.


"Kakek buyut?"


"Eh, oh iya aku belum memberitahumu ya jika yang berbicara denganku di perbatasan itu adalah kakek buyutku. Katanya dia itu semacam penjaga gerbang makanya dia bisa berbicara denganku ketika aku masuk ke sini." Jujur Xia Wei.


Yi Wei termenung mendengarnya. "Apa mungkin selama ini kakek buyutmu itu yang membantuku?"


"Apa?"


"Kau tahu kan selama disana aku tidak pernah makan. Sebenarnya aku juga bingung tapi ketika kelaparan aku selalu merasa perutku langsung kenyang entah karena apa. Malam juga tak terasa dingin ketika aku tidur." Xia Wei yang tiba-tiba berdiri membuat Yi Wei tersentak kaget.


"Kau mengagetkanku saja." Ucap Yi Wei memegang dadanya.


"Maaf, aku hanya takjub saja mendengar ucapanmu." Kata Xia Wei salah tingkah.


"Ternyata leluhurku keren sekali ya," puji Xia Wei dengan polosnya.


Melihat mata itu Yi Wei tahu pasti jika Xia Wei pasti ingin pergi keluar. "Kenapa tidak kau katakan saja ingin keluar." Sindir Yi Wei disambut cengiran lebar Xia Wei.


"Tentu saja bisa, hanya saja karena ini sudah petang kita tak akan punya cukup waktu untuk berjalan-jalan di luar sana."


"Kenapa?"


"Pertama, ayahku tak akan menginginkanku keluar sementara ini akibat aksi penculikan itu. Kedua, aturan rumah ini melarang penghuninya keluar lebih dari pukul 8 malam." Xia Wei menjadi lesu mendengar penuturan Putri rumah ini.


Jika hanya batas waktu yang membuat mereka tak bisa keluar mungkin Xia Wei tetap akan pergi. Tapi mengingat betapa sayangnya Jendral Chen pada keluarga, akan susah membujuknya setelah ia hampir kehilangan putri tunggalnya.


"Tapi aku bosan." Rajuk Xia Wei.


"Kalau begitu...bagaimana jika kau ku ajak keliling rumah ini?" Seketika wajah lesu Xia Wei tampak berbinar layaknya lampu yang bersinar terang.


Setelah membersihkan diri dan makan malam, Yi Wei mengajak Xia Wei keluar kamar untuk jalan-jalan. Rumah ini memang tidak sebagus dan seluas istana, tapi cukup menyenangkan untuk sekedar berjalan-jalan di bawah sinar purnama seperti saat ini.


"Ngomong-ngomong, kenapa tidak ada anggota kerajaan yang datang menjengukmu?" Heran Xia Wei.

__ADS_1


Pasalnya sejak 2 jam lalu mereka sampai di rumah ini tak ada tanda-tanda kedatangan anggota keluarga kerajaan. Xia Wei tadinya berharap dia bisa melihat laki-laki tertampan di kota ini. Tapi apalah daya, anggota kerajaan pun dia tidak tahu.


"Sepertinya mereka sedang sibuk gara-gara gagalnya pernikahan ini dan kejadian penculikan juga. Aku juga tak berharap sedikit pun mereka akan menjengukku."


"Benar juga,"


Kini di depan Xia Wei sedang terpampang jelas sebuah taman kecil penuh bunga lengkap dengan gazebo di tengahnya. Inilah untungnya punya halaman rumah yang luas. Membuat taman seindah ini sangat mudah dilakukan.


Dengan langkah cepat dan rok baju yang ia angkat sedikit ke atas, Xia Wei menghampiri gazebo itu. Matanya bergerak kesana sini melihat betapa indahnya taman ini. Malam saja sudah sangat bagus, apalagi jika dilihat di siang hari.


Yi Wei datang dengan sebuah obor di tangannya yang ia dapatkan dari salah satu tiang di dekat gazebo. Keindahan gazebo ini semakin terlihat ketika Yi Wei selesai menyalakan obor di keempat tiang penopangnya.


"Wah.."


Xia Wei semakin terkesima ketika melihat ada kolam hias berukuran kecil yang dibuat melintasi gazebo. Terlihat ikan berwarna-warni yang berenang di dalamnya. Cahaya dari obor membuat sisik ikan itu terlihat bercahaya.


"Ini benar-benar keren, I love it." Pekik Xia Wei senang.


Yi Wei duduk bersandar di tiang seberang Xia Wei dengan senyum yang terus terukir. Dia begitu bahagia melihat Xia Wei yang terlihat tak bersedih lagi. Dia pintar sekali menjaga suasana hatinya.


Ketika tangannya sibuk melambai-lambai ke bawah seakan menyapa para ikan yang acuh padanya, sesosok bayangan muncul di kolam itu. Tangan Xia Wei berhenti melambai dan kepalanya mendongak menatap laki-laki dengan tatapan setajam rubah.


Yi Wei yang juga menyadari kehadiran sosok itu lekas berdiri dan memberi hormat. "Salam, Putra Mahkota."


Apa?! Putra Mahkota?


Xia Wei diam tak bergeming mendengar sapaan Yi Wei di belakangnya. Matanya masih saja menatap lekat orang di seberang sana yang juga tengah melihat dirinya.


'Kenapa di malam purnama ini dia terlihat dipenuhi kegelapan. Aku tak bisa melihat laki-laki itu!' Kesal Xia Wei dalam hati.


Padahal matanya sudah memincing keras agar dapat melihat sosok itu. Ini kah laki-laki yang katanya paling tampan di daratan ini? Tanyanya dalam hati.


Laki-laki yang katanya Putra Mahkota itu memutus pandangan dan berjalan memutari kolam menuju gazebo dengan langkah santai. Selangkah demi selangkah wajah itu terlihat semakin jelas dengan badan tegap.


Begitu Xue Ren sampai di depan gezebo, dapat dia lihat Xia Wei yang memiringkan kepala agar bisa melihat dirinya.


"Ya Ampun..."


Melihat reaksi berlebihan Xia Wei, Xue Ren tahu tak lama lagi gadis itu akan terpekik takjub melihatnya. Dia cukup percaya diri dengan wajahnya. Perempuan di kota ini mengatakan jika ia adalah laki-laki tertampan disini.


"Dia Putra Mahkota?"

__ADS_1


Tanya Xia Wei cepat tanpa sadar perubahan raut wajah Xue Ren yang bertambah datar.


TO BE CONTINUED....


__ADS_2