
Pagi pertama Xia Wei di tempat ini terasa begitu luar biasa menurutnya. Bagaimana tidak jika pagi-pagi sekali para pengawal di kediaman Jendral Chen ini sudah sibuk berlatih.
Xia Wei yang pada dasarnya memang mudah terbangun oleh sesuatu pun memilih untuk tak melanjutkan kembali tidurnya. Lagi pula dia sudah merasa cukup dengan tidurnya.
"Apa Yi Wei sudah bangun?" tanyanya ketika selesai membersihkan diri dan menggunakan pakaian yang kemarin disediakan oleh dayang.
Perlu diketahui, Xia Wei tidak tidur bersama di kamar Yi Wei. Tapi kamar yang ia tempati kini tepat berada di samping kediaman Yi Wei.
"Baju ini ternyata bagus juga. Sepertinya aku harus mengabadikannya he...he..."
Segera saja Xia Wei keluarkan ponsel dalam tasnya yang sengaja ia simpan di atas tempat tidurnya lalu menghidupkannya. Karena disini tidak ada listrik sama sekali, jadi Xia Wei harus menghemat daya sebanyak mungkin.
"Baiklah, ayo kita mulai," Xia Wei berpose dan menikmati saat-saat mengambil selfie nya.
Tak ingin hanya wajah close up nya saja yang diabadikan, Xia Wei mengalihkan pandangannya ke segala ara di kamar ini. Senyum cantiknya tercetak kala melihat spot terbaik untuknya berpose.
Dengan ponsel yang ia simpan di atas meja, Xia Wei mengatur timer untuknya bergerak dan berpose.
"Lihatlah ini, pilihanku memang tidak pernah salah." Bangganya ketika melihat hasil jepretan kamera dengan berlatarkan pintu kayu yang estetik itu.
"Sekarang saatnya membangunkan Putri Mahkota." Xia Wei mematikan ponselnya dan beranjak dari kamarnya.
"Zhu Li!"
Zhu Li hanya bisa berdecak kesal mendengar suara Xia Wei. Tidakkah dia memperdulikan para dayang dan kasim tengah melihat ke arahnya dengan berbagai pandangan.
"Jagalah sedikit sopan santunmu disini, aku tahu kau tak ingin mati muda." Xia Wei tersenyum lebar dengan kikuk menyadari kesalahannya.
"Maafkan aku, Pangeran Hwang," ucap Xia Wei tiba-tiba dengan sedikit membungkukkan badannya anggun.
Tak lama kemudian dia bangkit dan melihat eskpresi datar nan aneh yang Zhu Li layangkan pada dirinya.
"Seperti itu?"
"Aku tidak peduli." Zhu Li memilih pergi begitu saja, Xia Wei yang berjalan di belakangnya tertawa tanpa suara dengan puas.
Ketika sampai di tempat pelatihan pengawal Jendral Chen, Xia Wei berhenti dan menatap takjub melihat luasnya lapangan ini.
"Bukankah kau ingin menemui Putri Mahkota? Kenapa malah mengikutiku?"
"Ahh, aku lupa." Dia terlalu asik mengikuti Zhu Li sampai melewati kamar Yi Wei begitu saja.
__ADS_1
"Kau mau berlatih juga?" tanya Xia Wei ketika melihat Zhu Li yang tengah memilih panah di tempat penyimpanan senjata.
"Iya."
"Boleh aku mencoba?" Xia Wei menyatukan kedua tangannya di dada dengan mata berbinar-binar.
"Aku benci tatapan itu," kesal Zhu Li.
Dia tahu kalau Xia Wei sudah menatapnya seperti itu, maka penolakan sekeras apapun tak akan berhasil melawannya. Padahal ia baru sehari mengenalnya tapi Xia Wei mudah sekali ditebak.
"Aku tidak akan bertanggung jawab jika kau terluka. Dan aku-"
"Oke, deal!" ucap Xia Wei cepat lalu menjabat tangan Zhu Li dengan cepat pula.
"Apa?" Zhu Li tidak mengerti.
"Aku sampai lupa jika kita beda zaman. Intinya kau sudah mengijinkan dan sekarang aku tinggal memilih senjata." Xia Wei berlari menuju penyimpanan pedang di sisi kiri Zhu Li.
Zhu Li hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Biarkan sajalah anak itu, nanti saat dia capek juga berhenti sendiri. Zhu Li juga tak percaya jika Xia Wei mampu menggunakan senjata-senjata itu yang lumayan berat bagi...
"Aku terlihat keren, 'kan?" tanya Xia Wei mengangkat pedang besar yang ia suka dengan mudahnya.
Zhu Li terperangah, demi apa Xia Wei bisa memegang bahkan mengangkat pedang yang biasa dibawa tentara kala pergi berperang.
"Jangan bermain-main dengan pedang itu!" cegah Zhu Li kala Xia Wei mencoba menebas-nebaskan pedang pada angin.
...•••••...
Zhu Li menatap fokus tempat bidikannya di seberang sana. Dalam sekali tarikan tangan, busur itu melengkung sempurna mengikuti postur tubuhnya yang tegak.
'Wush'
Anak panah melesat jauh ke arah bidikan. Senyum puas hadir di bibir Zhu Li. Para dayang yang mencuri pandang permainan panah Zhuli juga ikut bersorak bahagia.
Xia Wei terperangah untuk beberapa detik. Bukan karena permainan Zhu Li, ia hanya merasa kagum Zhu Li bisa memperlihatkan wajah datar nan dingin itu.
"Kau ingin mencobanya?" tawar Zhu Li menyodorkan panah itu pada Xia Wei.
Di zaman ini perempuan boleh belajar senjata dengan catatan itu hanya untuk menjaga diri sendiri. Selain itu, banyak hal yang dibatasi untuk seorang wanita bermain senjata.
"Tentu saja!" pekik Xia Wei senang.
__ADS_1
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Pangeran Hwang." Zhu Li memutar mata malas mendengar ucapan Xia Wei. Alih-alih hormat, itu lebih terdengar seperti ledekan baginya.
Tepat ketika Xia Wei memegang busurnya, Putra Mahkota datang diikuti oleh Yi Wei. Xia Wei tersenyum lebar pada Yi Wei dan membungkuk ketika bertatapan dengan Xue Ren.
Yi Wei terkejut melihat busur yang dipegang Xia Wei. Terlebih itu adalah busur milik Zhu Li yang sengaja ia bawa dari kerajaan. "Xia Wei, kamu bisa bermain panah?" tanya Yi Wei ragu.
"Hei, ayolah. Jangan remehkan aku, dulu aku ini sering berlatih panahan di sekolah."
Memang dulu itu Xia Wei mengikuti ekstrakurikuler panahan di sekolah. Jadi, dia terbiasa memegang senjata. Mudah-mudahan kemampuannya tidak menghilang karena sudah lama dia tidak ikut berlatih.
"Kau sudah siap?" Xia Wei mengangguk pada Zhu Li dan mulai memposisikan tubuhnya tegak.
'Baju ini menyusahkan!' batin Xia Wei kesal ketika mengangkat busur.
Walau terhalang oleh pakaiannya, Xia Wei tetap fokus dan menajamkan tatapan ke arah bidikan. Tali busur ia lepaskan dengan tenang. Anak panah pun melesat cepat menuju tujuannya.
Yi Wei tertegun sambil menutup mulut dengan kedua tangan.
"Xia Wei, kamu..."
...****************...
Satu Minggu berlalu begitu saja sejak kedatangan Xia Wei. Sekarang Xia Wei sudah mulai terbiasa dengan dunia ini setelah Yi Wei dan yang lainnya membantu ia beradaptasi.
Tuan Chen membolehkannya tinggal disini dengan catatan Xia Wei harus menjaga Yi Wei. Ketika kejadian latihan memanah itu ternyata ada seseorang yang melaporkannya pada Tuan Chen.
Dan atas pertimbangan beberapa penasihat dan istrinya, Tuan Chen memberi tugas kepada Xia Wei.
"Yi Wei, kita sudah lama tinggal di dalam rumah. Tidakkah kamu ingin mengajakku pergi melihat dunia luar?" tanya Xia Wei terang-terangan.
"Benar juga, tapi aku tak yakin Ayah akan memberi izin," ucap Yi Wei sedih.
"Urusan izin biarkan aku yang urus. Asalkan kamu juga setuju untuk pergi keluar maka semuanya beres." Yi Wei menggelengkan kepalanya heran melihat Xia Wei pergi dengan langkah lebar menuju kediaman Ayahnya.
Usaha Xia Wei tidak sia-sia. Mudah sekali untuk meyakinkan Tuan Chen. Xia Wei dan Yi Wei mengganti pakaian dengan pakaian biasa tanpa aksesoris atau semacamnya.
Keduanya berjalan dengan riang menuju arah gerbang. Ajaibnya, begitu mereka mendekat para prajurit berbaris rapih dan memberi salam. Ini memalukan, pikir Xia Wei.
"Kalian mau kemana?!"
...__TO BE CONTINUED__...
__ADS_1