Myth Of Two Person

Myth Of Two Person
2. Seorang Bangsawan


__ADS_3

"Siapa kau sebenarnya?"


Wanita itu tetap diam tak bersuara. Apakah dia bisu, pikir Lyra. Jika butuh bantuan kenapa dia tidak berbicara? Bagaimana aku akan mengerti dengan diamnya wanita itu.


Dari pakaiannya, Lyra tahu kalau wanita itu seorang pengantin. Tapi ukiran pada bajunya itu, dimana dia mendapatkan baju itu. Jarang sekali ada orang yang bisa membuat sulaman seindah dan sedetail itu sekarang.


Lyra hanya pernah beberapa kali melihat ukiran seperti itu, pertama ketika dirinya menyaksikan pernikahan salah satu publik pigur terkenal di televisi dan kedua ketika dirinya menonton drama kolosal.


Baju itu jika di zaman dulu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan tingkat tinggi. Tapi melihat warna dan bentuk sulamannya, sudah jelas jika baju itu hanya digunakan oleh anggota kerajaan, atau mungkin khusus seorang kaisar dan permaisurinya.


Itu tentu saja tidak mungkin. Bagaimana bisa orang zaman dulu ada di sini sekarang. Lyra terkekeh memikirkan kegilaan yang sempat melintas di kepalanya.


"Kau benar."


Tidak. Itu bukan suara Lyra ataupun suara Paman Liu di belakang sana. Wanita itu, dia baru saja berbicara. Lyra sempat terdiam sebelum akhirnya mengangkat kepala menatap wanita itu.


"Kau...kau bisa bicara?"


"Tentu saja aku bisa," balas wanita itu dengan suara lembutnya.


Lyra berjalan mendekat hingga jarak di antara mereka terpisah satu langkah. Lyra menatap wanita itu yang juga kini tengah menatapnya. Seakan ada ikatan yang terjalin di antara keduanya, Lyra bisa merasakannya.


Hangat namun menusuk. Sulit menjabarkan apa yang dirasakannya sebab Lyra juga merasa asing dengan perasaan itu. Lyra mengalihkan pandangannya pada dua buah pohon yang tinggi menjulang saling berhadapan.


Ini terlihat seperti pintu, batinnya.


"Ini memang pintu." Lagi, wanita itu membuka suaranya.


"Apa kau bisa mendengar kata hatiku?" Tanya Lyra dengan wajah cengo.


Wanita itu mengangguk, tentu saja hal itu membuat Lyra kembali terkejut. Entah sudah berapa kali dirinya terkejut selama satu jam terakhir.


"Tapi bagaimana bisa? Dan lagi apa yang maksud dengan kata 'benar' tadi?" Tanya Lyra mulai waspada.


Lyra hanya merasa wanita itu begitu aneh sampai-sampai tak terlihat oleh orang lain. Lihat, kakinya saja masih menapak dan ada sepasang. Jadi, kenapa dia bisa tak terlihat dan kenapa dia berada di dalam hutan.


"Maaf, tapi sebelum menjawabnya, bisakah kau menjulurkan tanganmu padaku?" Pintanya.


Meski ragu, Lyra mencoba percaya dan menjulurkan tangannya. Tidak seperti wanita tadi yang tertahan dinding tak kasat mata, tangan Lyra terjulur dengan bebasnya melewati dinding itu.


Ada sensasi dingin yang menguar ke tubuhnya ketika jari-jari itu mulai memasuki dinding pembatas. Lyra tentu saja tidak bisa melihat batas itu. Tapi wanita itu, dia bisa melihat dengan jelas dinding setinggi pohon yang mengurungnya di dalam hutan.


Dengan tangan bergetar, wanita itu menggapai tangan Lyra. Ini nyata. Setelah sekian lama dia tidak bisa berinteraksi dengan orang lain, kini ada yang bisa ia ajak bicara.


"Kamu...siapa namamu?" Tanya wanita itu dengan mata berkaca-kaca menatap Lyra.

__ADS_1


Lyra hanya mengangkat satu alisnya. Bisa dia rasakan betapa lembut dan halusnya tangan wanita itu. "Namaku Lyra, eh maksudku Han Xia Wei."


"Xia Wei?" Lyra hanya mengangguk pelan menanggapinya.


"Maaf, tapi bisakah kamu melepaskan tanganku? Itu sedikit tidak nyaman."


"Oh, maafkan aku." Wanita itu segera melepaskan tangan Lyra.


"Jadi, siapa sebenarnya dirimu?"


"Ah, perkenalkan namaku adalah Chen Yi Wei. Seperti katamu tadi, aku memang bukan dari zaman ini." Lyra tertegun mendengarnya, dia kan hanya bergurau.


"Ini memang tak masuk akal, tapi kamu benar lagi ketika mengatakan aku seorang pengantin. Ah, atau mungkin juga calon permaisuri." Jelas Yi Wei diakhiri senyum manisnya.


"Tapi...tapi, kenapa kamu ada disini? Ini bukan tempatmu." Kata Lyra dengan suara memelan.


"Aku juga tidak tahu. Terakhir aku ingat ketika hari pernikahanku seseorang memukul belakang kepalaku hingga aku tak sadarkan diri. Setelah bangun aku ada disini, seorang diri." Yi Wei bercerita dengan santainya membuat Lyra sangsi akan kebenaran cerita itu.


"Kamu yakin?" Yi Wei mengangkat alis, "Bukan begitu, hanya saja mendengarmu bercerita dengan santai membuatku berpikir itu hanya karangan saja." Lanjut Lyra.


"Xia Wei, aku sudah ada disini sejak 5 purnama lalu. Apa yang harus membuatku berbohong? Lagipula aku lebih suka berada disini daripada berada di zamanku."


Bukannya mengerti, Lyra semakin bingung saja dibuatnya. "Kamu bilang 5 purnama, jadi kamu sudah ada sejak 2 setengah bulan lalu?"


"Itu sama saja asal kau tahu. Kalau begitu kenapa kamu tidak kembali saja ke zamanmu? Meskipun lebih nyaman disini tapi jika seorang diri tidak ada artinya. Kamu pasti kesepian."


"Aku juga ingin pulang. Tapi aku tak bisa." Lirihnya.


Lyra bingung sekali menghadapi permasalahan ini. Ia ingin membantu tapi dirinya tak tahu harus membantu apa. Hutan ini memang penuh misteri.


"Oh, Xia Wei...darimana kamu mendapatkan kalung itu? Itu seperti barang dari zamanku." Ucap Yi yang antusias menatap kalung di leher Lyra.


Lyra memegang dan menatap kalungnya. "Ini pemberian ayahku sebelum meninggal."


"Maaf, aku tak tahu itu." Ucap Yi Wei canggung.


"Tak masalah. Ayahku memang orang yang suka menyimpan barang-barang antik seperti ini. Jadi, bisa jadi jika kalung ini memang dari zamanmu." Lyra agak ragu sebenarnya dengan hal itu tapi ya itu memang kenyataan walaupun ayahnya tak sesuka itu pada barang antik.


"Tapi bagaimana bisa? Melihat dari bahannya saja aku tahu kalau itu harta milik kerajaan."


Eh, benarkah?


"Mungkin Ayah mendapatkannya dari pasar antik. Aku tidak tahu. Ayah tak pernah cerita."


Yi Wei berhenti bicara. Dia hanya merasa bukan itu kebenarannya. Tapi kalau memang benar, bukankah itu berarti barang sejarah di masanya tidak terlalu berarti disini.

__ADS_1


"Kalau aku boleh tahu, berapa umurmu?" Tanya Lyra pada Yi Wei


"Hm, karena aku sudah lama disini berarti saat ini aku genap 17 tahun," serunya dengan semangat.


"17 tahun! Dan kamu sudah akan menikah?!"


Meski Lyra tahu itu biasa di zaman dulu, tapi tetap saja rasa terkejut itu masih bisa dia rasakan. Dirinya tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan anak-anak remaja disana.


"Hei, tidak perlu terkejut. Itu memang sudah seharunya. Bahkan temanku ada yang menikah saat umurnya 15 tahun. Aku ini sedang matang-matangnya kau tahu."


Badan Lyra bergidik memikirkan ucapan Yi Wei. Ya ampun, dirinya tidak bisa membayangkan seorang anak perempuan berumur 16 tahun yang mengurus anak mereka.


"Aku juga akan 17 tahun beberapa bulan lagi. Tapi pernikahan tak pernah ada dalam pikiranku."


Paman Liu yang ternyata memperhatikan gerak gerik Lyra dari tempatnya hanya bisa menerka-nerka siapa yang gadis itu ajak bicara. Hutan ini memang terkenal mistis, tapi dia tidak menyangka jika makhluk itu akan memperlihatkan diri pada remaja seperti Lyra.


Karena dirinya merasa Lyra sudah terlalu lama mengobrol dengan 'makhluk itu', Paman Liu pun memanggilnya. "Xia'er, apa sudah selesai? Kau kan harus mencari kayu bakar."


Lyra melihat gendongannya yang masih kosong lalu menepuk dahi. Dia belum sempat mengumpulkan kayu bakarnya. Ibu bisa marah jika dia berlama-lama di hutan.


"Yi Wei, maaf tapi aku harus kembali sekarang. Aku tidak suka diomeli ibu." Yi Wei tertawa mendengarnya, dia juga tidak suka diomeli.


"Aku tahu. Cepatlah pergi."


Lyra mengangguk kecil. Ketika hendak berbalik dia kembali bertanya, "Besok aku akan datang lagi." Ucapnya tegas.


"Iya, iya. Cepatlah kamu kembali."


"Jadi, kita teman?"


Lyra merasa bodoh karena mengajak orang asing berteman. Ralat, dia bahkan belum tahu Yi Wei itu manusia atau bukan. Dia hanya punya firasat baik tentang Yi Wei, mungkin juga iba.


Yi Wei tersenyum mendengarnya. "Tentu saja, teman.


Lyra ikut tersenyum mendengarnya. Dia pun pamit pada Yi Wei dan menghampiri Paman Liu yang ternyata membantunya mengumpulkan kayu bakar.


Melihat hari yang beranjak petang, Lyra dan Paman Liu berniat untuk pulang. Sebagai penutup, Lyra melambaikan tangan pada Yi Wei yang selalu memperhatikannya dengan Paman Liu sejak tadi.


"Dia teman yang baik."


**TO BE CONTINUED...


HALLO, SEMOGA SUKA YA SAMA CERITA INI. MOHON BANTUANNYA JUGA YA KALAU KALIAN LIAT ADA TYPO BERTEBARAN


TERIMA KASIH💞🥰🥰🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2