Myth Of Two Person

Myth Of Two Person
4. Putra Mahkota


__ADS_3

Jauh dari zaman saat ini, beberapa orang sedang berkumpul di sebuah tempat paling megah yang disebut Istana Kekaisaran. Para warga yang memang diperbolehkan menyaksikan berlangsungnya pernikahan calon kaisar mereka, berbondong-bondong datang.


Mereka penasaran dengan calon permaisuri yang menurut kabar adalah anak seorang Jendral negeri ini. Kekaisaran sengaja merahasiakan Yi Wei dari orang-orang luar. Dan itu pun sudah menjadi kesepakatan di antara kedua pihak.


"Keadaan darurat! Kasim Yang!" Teriak salah seorang prajurit yang datang dengan tergopoh-gopoh dan penampilan yang tak kalah kacau.


"Salam Kaisar dan Permaisuri, Ada berita yang harus hamba sampaikan." Kata prajurit itu dengan badan bersujud di hadapan Kaisar.


"Hei, jaga sopan santunmu!" Sungut seorang jendral muda yang berdiri di belakang Kaisar, Jendral Li. Pengawal itu tersentak kaget saat sadar akan ketidaksopanan sikapnya.


Tepat ketika Jendral Li akan mengeluarkan pedangnya dari dalam sangkar, Kaisar angkat tangan. "Tidak apa-apa. Apa berita yang ingin kau sampaikan?"


"Mohon ampun Yang Mulia, Pe-Permaisuri hilang." Ucapnya memelan.


"Apa kau bilang?" Permaisuri kaget bukan main mendengar hal tersebut.


"Itu benar Yang Mulia. Saat ini kediaman Permaisuri telah porak-poranda," terusnya dengan nada bergetar.


Hampir saja Permaisuri akan pingsan. Untungnya Kaisar Wu dengan sigap menahan tubuh Sang istri dan mendekapnya erat.


"Apa yang terjadi disana?" Tanya Kaisar Wu.


Berita buruk itu sukses membuatnya berang. Calon menantu pilihannya hilang bahkan kediamannya juga hancur. Itu berarti ada musuh yang menyusup masuk tanpa ia ketahui. Dan kaisar benci hal itu.


"Hamba kurang tahu Yang Mulia. Karena ketika sampai di kediaman Permaisuri untuk menyampaikan titah Yang Mulia Permaisuri, tempat itu telah hancur. Pengawal yang berjaga pun tumbang tak bersisa, termasuk para dayang yang ditugaskan untuk mendandani Putri Mahkota." Terang pengawal itu dengan singkat namun jelas.


"Kalau begitu-"


"Ada apa ini?" Tanya Putra Mahkota yang baru saja selesai didandani layaknya pengantin pria kerajaan pada umumnya.


Dengan langkah santai dan tubuh tegapnya, Putra Mahkota mendekati mereka. "Salam Ayahanda dan Ibunda." Sapanya pada Kaisar Wu dan Sang Ibu dengan membungkukkan badan.


Dia belum sadar jika Permaisuri Shan tidak sadarkan diri dalam dekapan sang ayah. Baru setelah Kaisar Wu menganggukkan kepala, Putra Mahkota mengangkat kepala dan terkejut dengan kenyataan yang ada.


"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ibunda tak sadarkan diri?" Tanyanya dengan nada datar nan dingin. Tetap saja meskipun begitu raut khawatir terpatri dalam wajahnya.


"Putri Mahkota, dia menghilang." Xue Ren terkejut mendengar penuturan ayahandanya.


"Apa? Tapi bagaimana bisa?"


Meskipun pernikahan ini bukanlah keinginannya, tetap saja jika itu menyangkut nyawa orang yang di kenalnya Xue Ren akan ikut andil.


"Sepertinya ada penyusup yang masuk ke dalam istana." Kaisar Wu dengan mata yang membara menatap sekeliling istana dengan begitu marahnya.


"Jendral Li perintahkan semua pengawal untuk memperketat pengamanan di gerbang masuk. Dan periksa kembali setiap warga biasa yang masuk ke dalam istana!"


Jendral Li mengangguk, lalu membungkukkan kepala berlalu dengan tergesa-gesa bersama dua orang pengawal lain menuju gerbang.


"Apa mungkin ini ulah salah satu musuh kerajaan?"


Tak bisa dipungkiri, kabar pernikahan Putra Mahkota telah menyebar ke penjuru dunia. Itu berarti musuh juga mengetahuinya. Kaisar Wu mengangkat permaisuri Shan menuju kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Xue Ren.


Xue Ren yang mengerti keadaan bagaimana sikap Kaisar akhirnya hanya menghela nafas berat. Siapa sebenarnya yang sedang main-main dengan keluarga kekaisaran.


Dengan langkah lebarnya, Xue Ren pergi menuju kediaman Yi Wei. Tangannya terkepal erat dengan wajah dingin yang memancarkan kekejaman dalam netranya. Semua penghuni istana tahu jika pangeran yang satu itu tak pernah terlihat tersenyum.


'Paviliun Mei Hwa'

__ADS_1


Begitulah tulisan yang terdapat di pintu masuk. Dengan mantap Xue Ren melangkah masuk dan berhenti di tengah taman bunga milik Yi Wei.


Banyak kerusakan yang terjadi di kediaman ini. Bunga yang hancur dengan percikan darah di atasnya, dinding kamar yang berlubang seperti dihantam sesuatu yang berat, bau amis yang menguar jelas dari mayat pengawal dan dayang yang tewas dengan kejam.


Semua bukti memang mengarah pada pembunuhan dan penculikan. Tapi satu yang Xue Ren tak mengerti, kenapa orang itu mengincar Yi Wei? Apa kah orang keji itu ingin membuat Kaisar marah atau dia ingin membuat posisi permaisuri menjadi kosong?


Xue Ren masuk ke kamar Yi Wei dan mendapati keadaan di dalam sana sama hancurnya dengan keadaan di luar, bahkan mungkin lebih hancur lagi. Xue Ren menilik seluruh kamar Yi Wei dan menyadari sebuah kejanggalan besar.


"Jika dia memang hanya ingin menculik Putri Mahkota, kenapa ruangan ini begitu hancur seakan-akan ini hanyalah sebuah pengalihan saja?" Gumamnya dengan dahi mengkerut.


Tak masuk akal memang, entah orang itu bodoh atau memang disengaja, dia membuat kediaman ini porak-poranda. Dari apa Xue Ren lihat pun tak ada tanda-tanda perlawanan dari Yi Wei. Sebercak darah pun tak ada di dalam kamarnya.


Itu semua terlalu jelas terlihat untuk seorang Putra Mahkota. Xue Ren yakin para Jendral pun akan berpendapat sama.


Saat hendak melangkah keluar, mata Xue Ren manangkap sesuatu yang berkilau di dekat jendela. Memang tidak terlalu kentara, tapi begitu sinar matahari mengenainya, benda itu berkilau terang.


Xue Ren mengambilnya, dan mendapati bahwa itu adalah sebuah gelang dengan sebuah permata kecil di tengah-tengah sampulnya.


~•••••~


Keadaan Lyra dan Yi Wei saat ini juga sedang tidak baik-baik saja. Itu semua akibat kedatangan seorang pangeran dari zaman Yi Wei.


Ketika mereka masih dilanda keterkejutan, Pangeran dengan marga Huang itu menghampiri keduanya dan tersenyum seperti orang bodoh.


Dia berdiri di hadapan Yi Wei dengan kedua tangan terlipat di belakang badan. Tanpa sadar, Lyra mendengus pelan melihat gayanya.


"Bagaimana bisa Pangeran Huang berada disini?"


"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu?"


"Apa maksudmu?"


Mendengar ucapan Pangeran Huang, Lyra mengernyitkan dahinya.


"Tunggu sebentar! Apa maksud ucapanmu? Sejak kapan kau berada di tempat ini?" Tanya Lyra cepat.


"Siapa dia? Pakaiannya aneh sekali." Bukannya menjawab, Pangeran Huang justru menunjuk Lyra dengan tatapan aneh.


"Dia temanku. Sudah jawab saja," desak Yi Wei.


Terlihat sekali jika dia juga baru menyadari kejanggalan dari penjelasan Pangeran Huang.


"Aku baru sampai barusan. Dan lagi, apa yang harus aku jelaskan? Kurasa tak ada yang aneh dengan ucapan ku." Yi Wei dan Lyra saling bertatapan dengan raut berbeda. Yi Wei yang tidak percaya dan Lyra yang masih saja bingung.


"Tentu saja ucapanmu itu aneh. Yi Wei sudah ada disini sejak beberapa purnama lalu." Ucap Lyra pelan namun masih terdengar kedua orang di seberangnya.


Pangeran Huang terdiam mendengarnya. Bagaimana bisa? Ia jelas-jelas mendengar kabar hilangnya Putri Mahkota beberapa menit yang lalu. Dia sampai di sini juga karena ikut mencari Yi Wei.


Setelah ia menemukan Putri Mahkota dengan orang asing itu, dia bilang Yi Wei sudah sampai beberapa purnama lalu? Ini konyol sekali.


"Aku jelas-jelas berada disini karena mendapat kabar hilangnya dirimu. Sebagai sahabat yang baik tentu saja aku ikut mencarimu." Ucapan Pangeran Huang itu membuat kedua orang itu diliputi kebingungan.


"Tadi kau bilang sampai disini saat mencari Yi Wei, benar?" Pangeran Huang mengangguk tegas. "Lalu, darimana arah kau datang."


Pangeran Huang menunjuk jalur yang tadi dia lewati menuju hutan ini. Tempat ini tak jauh letaknya dari Istana Kerajaan Wu. Jadi, dia tahu sekali seluk beluknya.


"Bagus. Yi Wei sepertinya kau bisa pulang sekarang," kata Lyra dengan mata berbinar.

__ADS_1


Baru saja ia akan memikirkan cara membawa Yi Wei pulang. Siapa yang tahu ternyata Tuhan sudah menuliskan garis takdirnya sebelum dia bertindak.


Yi Wei hampir saja menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Lyra. Dirinya bisa pulang, hanya itu yang ada dalam pikirannya saat ini. "Akhirnya..." lirihnya pelan.


Melihat kelakuan dua wanita di depannya itu membuat Pangeran Huang kembali berpikir.


'Apakah yang wanita asing katakan tadi itu benar?' batinnya.


Dilihat dari sisi manapun, Pangeran Huang tahu mereka tak berbohong. Tapi itu tak masuk akal. Sudahlah, hal itu bisa dia pikirkan nanti. Sekarang yang penting Putri Mahkota telah dia temukan.


Lyra dengan cepat membereskan barang-barangnya. Bungkus Snack yang tadi mereka makan dia lipat dan dimasukkan ke dalam tas untuk dibuang nanti. Dia juga membereskan barang lainnya yang tak dia sentuh sedikit pun.


Dia terlalu asik mengobrol sampai barang-barang itu hanya menjadi pemanis saja di atas kain.


"Yi Wei, aku ingin mengantarmu." Ucapnya sedih.


"Jika ingin, maka kau harus melakukannya." Balas Yi Wei dengan senyum lebarnya. "Selama ini juga banyak orang yang melalui lahan ini. Itu berarti kau juga bisa lewat."


"Tetap saja, aku dan mereka itu beda kasus. Mereka tak melihatmu seperti aku." Yi Wei tersenyum pada Lyra.


"Baiklah, itu terserah padamu saja. Aku tahu kau orang yang lebih suka mengikuti kata hati." Lyra terharu mendengarnya.


Padahal mereka baru saja bertemu kemarin dan Yi Wei sudah mengerti dirinya sebaik itu. Baiklah, dengan kayakinan yang dia miliki akhirnya Lyra memilih untuk ikut mengantar Yi Wei.


Dia akan menanggung resikonya.


Yi Wei yang mendengar kata hati Lyra tersenyum lebar. Mereka memang seumuran, tapi banyak perbedaan sikap yang dia dan Lyra miliki. Hal itu justru membuatnya mengerti dengan baik seorang Lyra.


Sebelum melangkah, Lyra menatap Pangeran Huang. "Siapa namanya, Yi Wei?" Tanyanya pada Yi Wei.


"Hei, Kau! Berani sekali telunjukmu itu mengarah padaku. Itu sangat tidak sopan kau tahu!" Teriaknya membuat Lyra terkejut.


Tanpa menghiraukan sikap Pangeran Huang, Yi Wei membalas Lyra. "Huang Zhu Li, itu namanya. Dia itu sahabat Pangeran Mahkota."


Lyra mengangguk pelan mendengarnya lalu mengangkat bahu acuh. Kenapa dia menanyakan pertanyaan unfaedah pikirnya.


Melihat tingkah Lyra, hampir saja Zhu Li akan memukulnya. Tangannya sudah terangkat hendak memukul, tapi tertahan oleh dinding itu.


Lyra yang tadi refleks menutup wajahnya, hanya terdiam dengan mata tertutup. Tak merasakan apapun pada tubuhnya, Lyra membuka matanya pelan dan mendapati Zhu Li yang sedang mencoba melewati dinding itu.


Huh, Lyra bernafas lega melihatnya. Dia hampir saja lupa dengan keberadaan dinding ini. Ternyata meskipun Zhu Li dapat menuju hutan ini, tetap saja dia tak bisa menembus dinding aneh ini.


"Sudahlah, kau tak akan berhasil." Ledek Lyra.


Zhu Li semakin kesal mendengarnya tapi dia kembali meletakkan tangannya di belakang tubuh. Dia harus tenang agar bisa berpikir.


"Xia Wei, ayo!" Yi Wei mengulurkan tangannya di ambang dinding.


Meskipun masih ada sedikit keraguan, Lyra menerima uluran tangan Yi Wei. Dengan mata tertutup dia melangkah melewati dinding itu.


"Kau berhasil." Seru Yi Wei yang membuat sadar dan membuka mata.


Matanya bergulir ke sekeliling hutan lalu berhenti di arah Yi Wei yang berdiri di depannya. Dengan cepat Yi Wei menarik Lyra dan memeluknya erat. Dia senang sekali bisa menyentuh Lyra. Begitu pun sebaliknya.


"Kalian itu aneh sekali. Ayo pergi!" Kata Zhu Li tiba-tiba lalu meninggalkan dua wanita itu.


"Hei, tunggu kami!" Teriak Lyra keras.

__ADS_1


Tanpa dia sadari, tadi kalung peninggalan ayahnya mengeluarkan cahaya putih terang ketika melewati dinding itu.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2