
**Disini aku mau kasih tahu kalau setelah ini Lyra bakal lebih sering aku panggil Xia Wei ya, panggilan bisa sewaktu-waktu berubah.
Jadi, jangan bingung sama nama Lyra atau Han Xia Wei ya karena mereka itu masih satu orang:)
Maaf juga kalo banyak typo, aku bakalan seneng banget kalo kalian komen**...
✓✓✓✓
Ketiga orang itu berjalan saling bersisian dengan Yi Wei yang berada di tengah. Dalam diam mereka mengikuti langkah Zhu Li yang tengah mengawasi sekitar.
Bukan karena tak ada topik mereka berdiam diri. Hanya saja pikiran mereka yang berbeda-beda membuat ketiganya lebih banyak berpikir daripada bicara.
Zhu Li yang sedang memikirkan dinding misterius itu, Yi Wei yang sedang harap-harap cemas untuk kembali berkumpul dengan keluarganya, dan Lyra yang sedang ketakutan mengahadapi nasibnya.
Sejak memasuki dinding itu, Lyra merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhnya. Dia merasa tubuhnya semakin ringan dan bugar. Apa dinding itu punya kekuatan untuk menyehatkan tubuh?
Dengan tangan berada di dagu Lyra mengangguk-anggukan kepala. Benar, pasti seperti itu.
"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi." Zhu Li yang kebetulan menangkap gelagat aneh Lyra pun menyambar.
"Hah? Apa?"
"Siapa sebenarnya dirimu?"
"Aku? Entahlah, tapi bisa jadi aku adalah salah satu keturunanmu di masa depan?" Ucap Lyra asal.
"Eh, tidak tidak. Mana mungkin aku punya leluhur seaneh dirimu." Lanjutnya lagi dengan menahan tawa.
"Kau-"
Wajah Zhu Li memerah kesal. Andai saja dia bukan wanita maka sudah habis dia aku pukul, ucapnya dalam hati.
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar. Mari aku kenalkan." Kata Yi Wei yang jengah melihat kelakuan keduanya.
"Pangeran Huang, dia ini Han Xia Wei. Dia yang menemaniku di sana. Bisa dibilang dia dari zaman yang berbeda?" Jelas Yi Wei ragu.
"Dan Xia Wei, dia-"
"Aku tahu, tak perlu mengenalkannya lagi." Potong Lyra.
"Hei, jaga sopan santunmu! Pantas saja kau aneh rupa-rupanya kau memang dari dunia luar." Cibir Zhu Li dengan nada datar dan mata melotot.
Dia tidak tahu saja siapa Xia Wei sebenarnya. Tenang Xia Wei tidak usah membuang tenaga untuk orang asing sepertinya.
"Xia Wei..."
Xia Wei berhenti berjalan. Siapa yang memanggilnya barusan? Itu suara laki-laki tapi bukan suara Zhu Li. Xia Wei menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat siapapun di sana.
__ADS_1
"Siapa kau?" balas Xia Wei dalam hati.
"Aku Han Chao Guang, kakek buyutmu."
"Kakek buyut ku? Tapi kenapa kakek berbicara padaku—bukan, maksudku kenapa kakek bisa melakukan telepati?" Tanya Xia Wei masih dalam hati.
Dia tak mungkin langsung percaya bahwa orang itu kakek buyutnya. Pun dia tak pernah melihat wajahnya, jadi untuk apa percaya.
"Percayalah, nak. Aku ini masih keluargamu. Untuk alasan kenapa aku bisa menghubungimu itu tidak penting, karena ada hal lebih penting yang harus aku beritahu."
Jika saja Xia Wei bisa melihat wajah kakek buyutnya, kakek itu pasti sedang menunjukkan raut sedihnya. Memikirkan hal itu entah kenapa Xia Wei jadi yakin dengan ucapan orang itu.
"Baiklah, terserah kau saja. Jadi hal penting apa yang ingin kau beritahu?" Melihat Yi Wei dan Zhu Li yang sudah berada jauh di depannya, Xia Wei mulai melangkah kembali.
"Ketahuilah Xia Wei, begitu kau masuk ke dalam batas itu kau tak akan bisa keluar lagi,"
"Apa!" Xia berhenti dan tanpa sadar memekik keras.
Yi Wei dan Zhu Li yang mendengarnya ikut berhenti dan menatap ke arahnya. "Ada apa Xia Wei?" Bukannya membalas, Xia Wei justru tetap terdiam mendengar kelanjutan kakek buyutnya.
"Apa kau tahu jika kalung yang ada di lehermu itu bukan kalung biasa. Kalung itu adalah penyegel hutan ini. Dan kau adalah kunci kalung itu setelah Ayahmu."
Melihat Xia Wei yang masih terdiam dengan wajah pucat pasi, Yi Wei pun menghampirinya dan memegang kedua bahunya. Xia Wei hanya menatap Yi Wei kosong karena dia masih fokus pada hal lain.
"Apakah aku bisa pulang lagi? Aku bahkan baru memasuki batas itu beberapa langkah." Lirihnya sambil menatap dinding pembatas di belakangnya.
"Tidak mungkin," ucapnya pelan.
Yi Wei yang melihat itu menutup mulut terkejut. Dia sadar betul apa yang terjadi pada Xia Wei, tapi kenapa bisa? Bukankah dia bisa memasukinya tapi kini dia tak bisa keluar?
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Zhu Li yang melihat Xia Wei sedang berusaha keras melewati dinding itu.
Zhu Li meringis kecil melihat tubuh Xia Wei yang terpental sejauh 5 meter ketika memaksa lewat.
"Dia...terjebak," balas Yi Wei tanpa melihat pada Zhu Li.
"Sudahlah, Xia Wei. Kau tak akan bisa kembali sekarang. Lebih baik kau ikut bersama Putri Mahkota dan mencari jalan keluar disana. Aku menghubungimu lagi jika memang ada hal yang aku tahu." Jelas Chao Guang sedih.
Dia juga tak percaya jika Xia Wei akan masuk ke dalam sini. Andai saja cucunya—Ayah Xia Wei— belum meninggal, Xia Wei pasti akan tahu dan tak akan mencoba memasuki hutan ini dengan memakai kalung itu.
Chao Guang juga tak bisa berinteraksi dengan Xia Wei karena memang dia tak boleh sampai berinteraksi dengannya. Saat dia bisa berbicara dengan Xia Wei itu artinya Xia Wei tak lagi ada di dunianya.
"Tapi bagaimana dengan ibu?" Tanya Xia Wei dengan mata berkaca-kaca.
Badannya terasa sakit karena terpental tapi hatinya lebih sakit lagi memikirkan kebodohannya yang memilih masuk ke dalam sini.
"Tenang saja, aku akan menemuinya dan memberitahukan hal ini."
__ADS_1
Ya apa yang Chao Guang katakan itu adalah kebenaran, dia memang tak bisa berbicara langsung dengan cucu memantunya tapi setidaknya dia bisa datang ke mimpinya walaupun harus mengeluarkan banyak tenaga untuk melakukannya.
Zhu Li hanya menatap aneh pada Xia Wei yang sedang berbicara sendiri. Dia menarik lengan baju Yi Wei dan memberinya kode untuk menghampiri Xia Wei. Yi Wei hanya mengangguk dan berjalan menghampiri Xia Wei.
"Aku minta maaf," ucapnya begitu sampai di depan Xia Wei.
Xia Wei memandangnya sedih. Ini bukan salah Yi Wei karena dia hanya mengikuti kata hatinya untuk masuk ke dalam sini. Itu berarti dia juga yang harus menanggung konsekuensinya.
Xia Wei menggeleng lemah dan tersenyum tipis pada Yi Wei. "Ini memang pilihanku, jadi tak usah merasa bersalah."
"Ya sudah, aku pergi dulu Xia Wei. Butuh banyak energi untuk mendatangi ibumu." Ucap Chao Guang mengakhiri telepatinya.
"Baiklah," sahut Xia Wei dalam hati.
Xia Wei berdiri dengan memegang pinggangnya yang terasa nyeri lalu tersenyum lebar pada Yi Wei. Melihat perubahan itu Yi Wei hanya bisa mengangkat alis.
"Sudahlah, ayo pergi! Lagipula aku sudah disini." Ucapnya ceria.
Xia Wei harus mempercayai Chao Guang, dia tak punya pilihan lain. Bersedih dan terus memaksa dinding juga tak akan merubah apapun.
Xia Wei mengamit tangan Yi Wei dan menariknya berjalan menuju Zhu Li.
"Ayo!"
Zhu Li hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Xia Wei. Sekali aneh tetap saja aneh.
'Aku akan kembali, ibu.' Batinnya dengan yakin.
~•••••~
Setelah hampir satu jam berjalan, mereka melihat beberapa pengawal yang berdatangan menghampiri mereka.
"Pangeran Huang," mereka tunduk pada Huang Zhu Li yang hanya mengangguk kecil membalasnya.
"Cih, dasar" gumam Xia Wei tanpa didengar siapapun.
"Aku sudah menemukan Putri Mahkota, jadi beritahu pada yang lain untuk menghentikan pencarian." Pengawal itu mengangguk patuh dan salah satu dari mereka pergi untuk menjalankan perintah Zhu Li.
"Tunggu dulu, kau pergilah untuk membeli baju perempuan." Titah Zhu Li pada pengawal yang berdiri paling dekat dengan Xia Wei.
"Untuk apa?" Tanya Xia Wei bingung.
"Apa kau tidak sadar, bajumu itu aneh sekali. Terlalu membentuk dan tidak sopan." Ejek Zhu Li dengan nada yang mengesalkan.
"Terserah kau saja." Balas Xia Wei cuek.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1