
Di sebuah kafe yang nyaman, suasana ditemani oleh cahaya lembut dan aroma kopi. Aria Destiana, seorang wanita muda dengan senyuman ramah, duduk di sudut meja, mengamati suasana dengan penuh minat. Di dekat jendela, seorang pria dengan rambut hitam dan pakaian santai, Jiho Kim, duduk dengan buku di tangan, terlihat terpesona oleh keindahan pagi.
Pandangan Aria dan Jiho tak sengaja bertemu, menciptakan semacam magnetisme di antara mereka. Aria tersenyum pemalu, dan Jiho membalasnya dengan tatapan hangat yang mengundang senyum tipis. Beberapa detik berlalu seolah waktu melambat, mereka terperangkap dalam momen itu.
Pada akhirnya, Aria merasa cukup berani untuk memulai percakapan. "Hai, apa lagi yang Anda baca?" tanyanya dengan suara lembut.
Jiho mengangkat pandangannya dari bukunya dan menjawab dengan nada penuh kehangatan, "Ini buku tentang petualangan. Saya suka membaca cerita-cerita yang membawa saya ke tempat-tempat baru."
Percakapan mengalir dengan alami, mereka menemukan banyak kesamaan dan minat bersama. Aria yang polos dan Jiho yang berjiwa bebas, ternyata memiliki banyak hal yang bisa dibagikan. Mereka tertarik dengan masing-masing kepribadian yang unik.
"Jadi, apa yang membuat Anda datang ke kafe ini hari ini?" tanya Jiho sambil tersenyum.
Aria menjawab, "Saya suka datang ke sini untuk menikmati kopi dan menulis. Saya senang mengekspresikan diri lewat tulisan."
"Menulis? Bagus, Anda pasti memiliki banyak cerita menarik," kata Jiho dengan antusias.
Saat waktu berlalu, obrolan mereka semakin dalam dan nyaman. Mereka tertawa bersama, berbicara tentang impian dan harapan masing-masing. Aria merasa seperti Jiho bisa membaca pikirannya, dan Jiho merasa begitu terhubung dengan Aria.
Ketika matahari semakin tinggi di langit, mereka menyadari sudah berjam-jam berbicara. "Wah, waktu berlalu begitu cepat," ucap Aria sambil mengernyitkan kening.
__ADS_1
Jiho setuju, "Benar. Saya sangat menikmati percakapan kita. Bisakah saya minta nomor telepon Anda?"
Aria tersenyum malu-malu, "Tentu saja." Mereka saling menukar nomor, dan pandangan mata mereka kembali bertemu, mengirimkan getaran yang tidak terduga di antara keduanya.
Tak lama kemudian, mereka berdiri di luar kafe, terhanyut dalam suasana. "Siapa yang mengira hari ini akan menjadi begitu menyenangkan?" kata Aria dengan nada gembira.
Jiho menatapnya dengan tulus, "Saya juga tidak menyangka. Semoga kita bisa bertemu lagi."
Pandangan mereka yang bersemangat saat berjalan keluar dari kafe tak pernah berhenti memberi senyuman. Beberapa minggu berlalu, Aria dan Jiho semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk makan malam, menonton film, dan bahkan berani melakukan perjalanan singkat bersama. Setiap momen bersama mereka penuh keceriaan dan tawa.
Suatu hari, saat mereka berjalan-jalan di taman, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Mereka berlindung di bawah pohon, coba-coba mencari perlindungan dari tetesan air yang jatuh. Aria tertawa kecil karena rambutnya menjadi basah. Jiho tersenyum, lalu mengusap air di pipinya, yang tanpa sadar mengundang candaan.
"Saya pikir ini adalah taktik licik Anda untuk merapikan rambut saya," timpal Aria dengan mata melotot palsu.
"Baiklah, terbongkar! Saya tertangkap," kata Jiho dengan nada mengakui, sambil tertawa.
Momen-momen seperti ini membuat mereka semakin dekat dan meleburkan perbedaan di antara mereka. Jiho yang dulu keras dan serius, kini memiliki sisi lembut yang Aria kagumi.
Suatu hari, ketika mereka duduk di taman lagi, Aria dengan ragu-ragu berkata, "Jiho, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
__ADS_1
Jiho menatapnya penuh antusiasme, "Tentu, tanyakan saja."
"Dengar, ini mungkin terdengar gila, tapi bagaimana jika kita menikah?" ucap Aria dengan wajah merah.
Jiho terdiam sesaat, lalu tertawa. "Anda tahu, biasanya orang bertanya tentang kencan eksklusif dulu, tapi Anda langsung meloncat ke pernikahan!"
Aria tersipu, "Maaf, saya tahu itu mungkin terlalu cepat..."
Jiho menahan tawa, "Tidak, tidak, saya hanya terkejut. Tapi, tahu apa? Saya pikir itu adalah ide yang bagus."
Aria terkejut, "Benarkah?"
Jiho mengangguk, "Ya, benar. Kita sudah saling mengenal dengan baik, dan saya merasa bahagia bersama Anda."
Dari situlah, rencana pernikahan mereka mulai berkembang dengan cepat. Mereka merasa seperti semua momen yang mereka lewati bersama adalah bagian dari persiapan untuk masa depan mereka.
Pernikahan mereka menjadi peristiwa yang penuh tawa dan kebahagiaan. Acara pernikahan yang sederhana tetapi penuh kasih dihadiri oleh teman-teman dekat dan keluarga. Bahkan hujan turun di hari pernikahan mereka, mengingatkan mereka pada saat pertama kali bertemu. Mereka menari di bawah hujan, dengan senyum dan ciuman yang penuh sukacita.
Dalam kisah ini, komedi hadir dalam momen-momen candaan dan kelucuan antara Aria dan Jiho. Keberanian Aria yang langsung menyinggung pernikahan dan tanggapan lucu Jiho menciptakan hubungan yang kuat dan penuh kebahagiaan di antara mereka.
__ADS_1