Nasib Menjadi Istri Idol

Nasib Menjadi Istri Idol
Awal Bahagia


__ADS_3

*Ariadan jiho menikmati masa-masa awal pernikahan mereka. Kehidupan romantis dan penuh tawa mengisi hari-hari mereka.*


*(Di ruang tamu, Aria dan Jiho sedang sarapan bersama. Aria memegang garpu dengan tangan yang bergerak-gerak)*


Aria: Jiho, tadi pagi aku mencoba gaya rambut baru, tapi sepertinya aku sedang mengalami "kecelakaan rambut."


Jiho: *(tersenyum)* Kecelakaan rambut? Apa maksudmu?


Aria: Nah, aku berpikir untuk mencoba gaya rambut poni, tapi sepertinya poni ini punya rencana sendiri dan menghalangi pandangan mataku!


Jiho: *(tertawa)* Ya ampun, aku tidak tahu poni bisa punya keinginan sendiri!


Aria: Benar-benar! Aku hanya berharap poni ini tidak memutuskan untuk memasuki mataku saat aku sedang bernyanyi di atas panggung.


Jiho: Jangan khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu untuk menjaga poni nakal itu agar tetap pada tempatnya.


Aria: *(tersenyum)* Terima kasih, Jiho. Kamu selalu tahu caranya membuatku merasa lebih baik.


*(Mereka berdua tertawa sambil mengecup satu sama lain)*


*(Di taman, Aria dan Jiho berjalan-jalan bersama sambil berbicara)*


Aria: Hei, ingat ketika pertama kali kita bertemu di konser idol? Aku hampir tidak percaya kalau kau adalah Jiho dari kelompok idol terkenal itu.


Jiho: Ya, aku tahu. Kau terlihat begitu terkejut dan sedikit ketakutan. Aku hampir saja kira kau tidak suka denganku.


Aria: *(tersenyum)* Nah, aku pikir kau adalah seorang pria yang sangat sibuk dan serius. Tapi ternyata, kau adalah seorang pria yang tidak bisa memasak!


Jiho: *(memasang wajah polos)* Aku menyangkalnya dengan tegas! Aku hanya punya satu resep andalan: mie instan dengan telur!

__ADS_1


Aria: *(tertawa)* Kau tahu, setelah menikah denganku, kau akan belajar banyak hal tentang memasak.


Jiho: Aku tidak sabar untuk mempelajarinya dari seorang guru masak yang spesial seperti dirimu.


Aria: *(merajuk)* Jangan mencoba menggodaku dengan pujianmu yang manis!


*(Di apartemen mereka, Aria terlihat sibuk menghias ruangan dengan balon dan dekorasi lainnya. Jiho memasuki ruangan dengan wajah kaget.)*


Jiho: Apa yang sedang terjadi di sini?


Aria: Surprise! Aku merasa kita perlu merayakan hari ini dengan cara khusus. Kau tahu, hari ini kita resmi menempati apartemen ini selama enam bulan!


Jiho: *(tertawa)* Kau sangat istimewa. Tapi apa ini? *(menunjuk ke arah topi ulang tahun dan pakaian aneh yang disiapkan Aria)*


Aria: Itu untukmu, Oh Tuan Terkasih. Kau akan menjadi "Raja Hari Ini"! Dan aku, sebagai "Ratu Kelucuan," akan menjadi pelayanmu!


Jiho: *(tertawa)* Aku tidak tahu apakah aku harus bangga atau malu. Tapi satu hal yang pasti, aku merasa sangat beruntung bisa menjalani kehidupan ini bersamamu.


*(Beberapa hari kemudian,Aria dan Jiho berdiri di dapur, dihadapkan pada berbagai bahan makanan dan peralatan memasak yang tersebar di sekitar)*


Aria: Baiklah, Jiho, hari ini kita akan mencoba memasak makan malam romantis kita sendiri. Siap?


Jiho: Tentu, tapi harapkan yang terburuk dariku. Ingat, mie instan dengan telur adalah spesialitasku!


Aria: *(tersenyum sambil menggeleng)* Nah, kita akan memulai dengan resep yang sederhana dulu. Bagaimana dengan pasta?


Jiho: Pasta? Kau yakin aku bisa menghadapi tantangan ini?


Aria: Percayalah padaku, ini resep yang cukup mudah. Pertama, kita butuh potongan daging...

__ADS_1


Jiho: *(memotong daging dengan tergesa-gesa)* Seperti ini?


Aria: *(tertawa)* Tenang, Jiho. Kami tidak berada dalam perlombaan memotong daging tercepat. Lebih perlahan dan hati-hati.


*(Beberapa saat kemudian, Jiho mulai mengaduk-aduk pasta yang direbus, tetapi tangannya terlalu semangat dan air mendidih tumpah ke atasnya)*


Jiho: Aduh! Air panas!


Aria: *(tertawa)* Jiho, sebaiknya kita segera mengecek panduan "Cara Memasak dengan Selamat 101."


Jiho: Mungkin aku harus menggunakan peralatan tahan panas berikutnya: panci logam yang bisa menghindari insiden semacam ini.


Aria: *(tersenyum)* Tepat sekali! Dan untuk sausnya, kita perlu...


Jiho: *(mulai mencampur-campur bahan-bahan dengan terlalu antusias, hingga sausnya tumpah keluar dari wadah)* Ups, sepertinya aku membuat "kecelakaan saus."


Aria: *(tertawa)* Jiho, mungkin kita perlu memperlakukan bahan-bahan ini seperti saat kita sedang melakukan tarian slow. Lebih lembut dan penuh perhatian.


Jiho: Tarian slow dengan bawang putih? Ini benar-benar tantangan!


*(Setelah perjalanan yang penuh tawa dan kekonyolan di dapur, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan hidangan mereka. Mereka duduk di meja makan dengan pandangan penuh harap dan kekhawatiran)*


Aria: Baiklah, momen kebenaran. Waktu untuk mencoba hidangan khas kita sendiri.


Jiho: *(mengambil sejumput pasta dengan hati-hati)* Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya selain... unik.


Aria: *(tertawa)* Unik adalah kata yang baik. Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, termasuk masakan pertama kita. Yang penting, kita bersama-sama menyiapkannya dengan cinta.


Jiho: Ya, dan kita punya cerita yang bisa diceritakan tentang bagaimana kita hampir membakar dapur dalam prosesnya.

__ADS_1


Aria: *(merangkul Jiho)* Itu benar. Semua kenangan ini akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kita.


*(Sambil makan bersama dengan senyum dan candaan, Aria dan Jiho menyadari bahwa apa pun yang terjadi di dapur, mereka selalu bisa mengatasi tantangan itu bersama-sama, menciptakan momen tak terlupakan dalam hidup mereka.)*


__ADS_2