
"Jadi, Eiri, bisakah kamu menjelaskan lagi tentang tugas ku kali ini?" Tanya Alice melalui Headset yang di hubungkan dengan handphone nya berjalan diantara kerumanan orang-orang dengan terus membawa koper yang di sembunyikan kedalam sebuah tas jinjing.
"Seperti yang di katakan oleh Ian tadi, tugas mu hanya perlu mengantarkan koper itu kepada Yampiee." Jawab Eiri, dengan terus memperhatikan Alice dari sebuah gedung dengan teropong dan sniper berada di sampingnya.
"Aku tahu itu. Tapi apakah aku harus mengantarkan koper ini langsung kepadanya? Bukan kah itu terlalu beresiko untuk kita?" Tanya kembali Alice, dengan terus memperhatikan orang-orang di balik kacamata hitam yang dia beli sebelumnya di sebuah toko baju untuk menyamar diantara kerumunan orang-orang.
"Iya, itu terlalu beresiko, karena itu lah, Ian, telah mengatur tempat dimana kalian harus bertemu." Jawab kembali dari Eiri.
"Aku mengerti, jadi dimana letak tempat pertemuannya?"
"Aku akan memberitahu mu nanti, untuk sekarang kamu harus terus mengulur waktu, Alice."
"Tunggu apa? Mengulur waktu? Bukankah tugas ku memberikan koper ini kepada Yampiee dengan segera?" Tanya kembali lagi Alice dengan merasa kebingungan.
"Tidak, tugas mu hanya perlu memberikan koper itu kepada Yampiee saja." Jawab Eiri memperjelas tugas milik Alice. "Tenanglah, Alice. Dia masih sedang bersiap-siap."
"Bersiap-siap? Bersiap-siap untuk apa?"
"Bersiap-siap untuk pergi ke luar, tentu saja."
Sementara itu, di dalam Kantor seseorang tengah bersiap-siap untuk pergi keluar dari Kantor nya. Dia telah mengumpulkan keberanian didalam dirinya selama berjam-jam untuk kembali pergi ke luar setelah sekian lama. Tapi sekarang dia menghadapi masalah baru, kini dia mulai merasa kebingungan dengan pakaian yang harus dia kenakan untuk pergi.
"Ahhggg..!! Aku sudah tahu waktu seperti ini pasti akan datang. Tapi tetap saja, dia terlalu mendadak memberitahukannya kepada ku. Sesuatu seperti ini seharusnya dia jelaskan terlebih dahulu kepadaku. Ahhggg!! Dimana Aku menaruh celana ku!" Teriaknya dengan perasaan kesal berkeliling sepanjang Kantor untuk mencari dimana dia menaruh celana miliknya.
"Aku bisa membayangkannya..." Ujar Alice dengan tersenyum membayangkan hal tersebut. "Ini pasti akan memakan waktu yang lama. Apakah aku bisa duduk terlebih dahulu untuk menunggunya, Eiri? Aku ingin sedikit mengistirahatkan kaki ku sejenak."
"Baiklah, tapi ingat lah untuk tetap terus waspada. Aku akan menghubungi Yampiee sekarang, berhati-hati lah."
__ADS_1
"Baiklah, Aku mengerti."
Eiri pun memutus panggilannya dengan Alice, dan langsung menghubungi Yampiee yang masih berada di kantor mencari pakaian yang cocok untuknya.
Telepon Kantor mulai berdering, Yampiee terkejut mendengar hal itu, dia kemudian melihat kearah telepon tersebut yang tengah berdering, dia tidak terbiasa mengangkat telepon Kantor, yang biasanya mengangkat telepon Kantor adalah Ketua atau Eiri, tapi kali ini hanya ada dia yang berada di Kantor, dengan perasaan gugup dia berjalan mendekati telepon tersebut, kaki nya bergemetar saat berdiri tepat di hadapan telepon tersebut, begitu juga dengan tangannya yang bergemetar disaat memegang-nya, dia menarik nafas yang panjang dan menghembuskannya kembali, kemudian mengangkat telepon tersebut.
"Ha Hallo, Selamat Siang, dengan NERIYA, apa yang bisa kami bantu untuk anda hari ini?" Ujar Yampiee, mencoba untuk ramah tapi dengan nada-nada grogi masih bisa terdengar jelas.
"Kamu membuat orang lain menunggu hampir 50 detik agar panggilannya bisa di jawab, dan disaat panggilannya di jawab hanya terdengar nada grogi dan gugup saja?" Jawab Eiri, sedikit kecewa dengan jawaban dari Yampiee.
"Eiri, kau kah itu? Kenapa kau memakai telepon Kantor?" Tanya Yampiee.
"Karena jika Aku menelepon mu lewat handphone kamu tidak akan pernah mengangkat ya." Jawab kembali dari Eiri. "Apakah kamu sudah siap untuk pergi sekarang?"
"Siap? Tentu saja tidak!" Jawab Yampiee, dengan keras. "Bagaimana mungkin aku bisa siap pergi untuk keluar sekarang, Eiri."
"Pakaian." Jawab Yampiee dengan segara.
"Pakaian?" Tanya kembali dari Eiri mencoba untuk memastikan.
"Iya, pakaian." Jawab sekali lagi dari Yampiee memberikan kepastian.
Sementara itu disebuah taman di District 1. Alice sedang duduk menunggu kabar kembali dari Eiri di sebuah kursi dengan meminum sodanya yang ke enam, yang langsung ia habiskan dengan meminumnya sekali tegukan sambil menikmati udara segar di bawah pohon, melihat orang-orang yang tengah bersantai, bersama beberapa anggota dari Mafia yang tengah terbaring saling menumpuk satu sama lain di belakang bangkunya tak sadarkan diri.
Dia melihat ke arah kerumunan orang-orang yang tengah piknik bersama keluarga mereka, tawa-tawa senang menghiasi taman di District 1 saat ini, kemudian Alice melirik ke arah sebuah tong sampah, tanpa basa-basi dia melemparkan botol sodanya ke tempat sampah tersebut yang jaraknya 20 meter dari tempat dia duduk, dan dia berhasil memasukannya kembali untuk yang ke enamnya kalinya, kemudian berkata...
"Aku hebat dalam melakukannya bukan? Sebenarnya aku bisa melemparnya lebih jauh, tapi tidak tong sampah lain yang lebih jauh dari itu disini, bagaimana menurutmu?" Ujar Alice, dengan santai tersenyum lebar dan senang sambil menepuk bahu salah satu anggota Mafia yang tengah duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Be benarkah begitu? Sebenarnya i i itu cu cukup mengesankan, No no nona..." Jawab anggota Mafia itu, yang masih merasa ketakutan dengan terus memegangi kedua lututnya yang semenjak tadi terus bergemetar karena masih tidak percaya rekan-rekannya yang lain telah dibuat tak sadarkan diri oleh Alice.
"Tentu saja, sekarang..." Ujar Alice, sambil berbalik mengarahkan pandangannya kepada si Mafia dengan tersenyum, tetapi tidak selebar seperti di awal, kali ini dia memperlihatkan sebuah senyum tipis dan ramah di wajahnya, namun sang Mafia mulai merasa semakin ketakutan. "Apa kalian benar-benar mengejarku demi sesuatu yang ada di dalam koper ini?" Sambil memperlihatkan koper yang dari tadi ia bawa.
Si Mafia melihat ke arah koper tersebut, benar, itu adalah koper yang harus ia ambil, tapi dia tidak bisa langsung menjawabnya, dia merasa tertekan dengan apa yang ia tengah hadapi sekarang. Sebenarnya dia tidak ingin menjawab pertanyaan sama sekali, karena itu adalah hal yang di larang, tapi jika ia tidak menjawabnya dia pasti akan berakhir sama seperti rekan-rekannya yang tergeletak di belakangnya, "I i i iya..." Jawab si Mafia dengan nada yang pelan karena sangat ketakutan.
"Apakah didalam koper ini terdapat sesuatu yang sangat penting bagi kalian?" Tanya Alice lagi.
"I i i iya, i i itu benar..." jawab anggota mafia itu.
"Pastinya..!" Timpal Alice dengan cukup keras, sambil memalingkan pandangannya ke arah lain dan membuang nafasnya lewat mulut, kemudian duduk bersandar ke belekang kursi dan menengadah ke langit, dan menutup kedua mata nya. "Apakah hal itu sepadan?" Tanya Alice.
"Sepadan?" Tanya kembali anggota mafia itu.
"Iya." Jawab Alice, yang kemudian membuka kembali mata nya, dengan tubuhnya yang masih menyandar ke kursi dia melihat kembali ke arah anggota mafia tersebut, dan menatapnya dengan serius. "Apakah itu sepadan?" Tanya sekali lagi Alice.
"Maksudmu?" Tanya kembali anggota mafia itu sekali lagi.
"Apakah itu sepadan dengan sebuah nyawa?" Jawab Alice dengan segera.
"Hei! Aku menemukan wanita yang mengambil koper kita! Dia disini!!" Teriak seseorang kepada Alice sambil menunjuk ke arahnya.
Alice yang mendengar hal tersebut langsung segera beranjak dari tempat duduknya dan melihat ke arah orang tersebut. Dia saat Alice melihat ke arah orang itu, ia melihat dari kejauhan segorombolan Mafia tengah berlari ke arahnya, tapi kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari pada sebelumnya, dan mereka semua membawa senjata.
"Ya ampun." Ujar Alice ketika melihat hal itu datang.
Alice mulai mundur selangkah demi selangkah dari tempatnya berdiri sebelumnya sembari terus mengatur nafasnya secara perlahan, disaat dia sudah merasa tenang, Alice dengan cepat kemudian berbalik sambil menelan ludahnya, ia langsung berlari kembali dengan sekuat tenaganya tanpa mengambil ancang-ancang sama sekali, terus berlari, terus berlari, dan terus berlari, mencoba untuk terus menjauhi gerombolan Mafia Sentrik yang masih mencoba untuk menangkapnya karena telah mengambil koper mereka.
__ADS_1
Didalam hati Alice dia berharap, semoga Yampiee telah selesai bersiap-siap, semoga Eiri segera menghubunginya kemudian menolongnya, dan semoga nanti bayaran dari tugas berbahaya yang dia terima ini benar-benar sepadan. Agar harapannya sekarang dapat terkabul Alice menyadari bahwa dia harus terus berlari, terus berlari, dan terus berlari.