NERIYA

NERIYA
V-1 C-1 P-8 "Fase Dua(1)"


__ADS_3

"Itu tadi hampir saja." Ujar Alice dengan tertunduk lemas diatas meja Bar.


"Tcih, ini hanya air limun saja." Protes Eiri dengan nada yang terdengar kesal setelah meminum minuman yang dibawa oleh bartender atas permintaan Yampiee yang sebelumnya telah disampaikan kepada Alice.


"Bertahanlah dengan itu sampai misi kita selesai. Itu adalah minuman yang dipesan oleh Yampiee khusus untuk mu Eiri. Aku akan menagihnya nanti setelah misi ini selesai." Alice kemudian bangkit dan memesan minuman. "Permisi, apakah kalian menyediakan Co-"


"Bawakan dia minuman yang sama denganku." Potong Eiri.


"Saya mengerti." Jawab si Bartender.


"Tunggu, Eiri... Apakah kau marah? Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Yampiee." Bisik Alice dengan raut muka yang bermasalah.


"Marah? Apa maksudmu? Kamu seharusnya sadar minuman rendahan seperti Cola tidak mungkin ada disini. Jika kamu memesan minuman rendahan seperti Cola penyamaran mu akan terancam dan misi ini akan menjadi sangat berbahaya sehingga bisa berpotensi kegagalan." Ungkap Eiri dengan raut wajah yang datar sembari meminum air limunnya.


"Menurutku akan jauh lebih berbahaya jika kau sudah mabuk." Gumam Alice.


"Kamu mengatakan sesuatu?"


"Tidak bukan apa-apa."


Bartender kemudian datang dengan membawa minuman Alice.


"Silahkan, Nona." Ujar si Bartender dengan sopan.


"Terima kasih." Jawab Alice dengan tersenyum ramah.


Alice mengambil minuman tersebut dengan sedikit perasaan kecewa. Ia memutar-mutar gelas minumannya dengan raut wajah yang tampak bermasalah. Alice benar-benar tidak menginginkannya, dia berpikir untuk tidak meminumnya. Tapi melihat Eiri yang terlihat seperti menikmati minumannya, ia mulai merasa penasaran dengan rasanya. Hatinya masih merasa enggan untuk meminumnya. Dia masih ingin terus setia kepada Cola. Rasa penasaran akhirnya mengalahkannya. Dengan perasaan yang berat, Alice kemudian meminumnya.


"...!!" Alice benar-benar dibuat terkejut dengan rasa limun tersebut. "Apa ini gabungan air lemon dengan soda? Rasanya ternyata cukup menyegarkan. Aku benar-benar tidak menyangkanya. Tapi jika di bandingkan dengan Cola, tentu saja Cola tetap yang terbaik."


"Lebih tepatnya ini adalah gabungan dari asam sitrat, air, sari buah, gula, air soda, dan karbondioksida." Eiri memperjelas.


Alice menanggapi penjelasan Eiri dengan gumaman saja.


Baik Alice ataupun Eiri mereka berdua harus menahan hasrat keinginan mereka agar misi mereka tidak gagal. Namun itu bukanlah masalah yang besar bagi mereka berdua. Ini hanyalah masalah sepele. Mereka adalah profesional. Mereka adalah anggota dari NERIYA.


Disaat Alice dan Eiri sedang menikmati air limun mereka, Neil akhirnya datang kemudian bergabung bersama mereka.


"Yo." Sapa Neil dengan tersenyum senang sembari mengangkat sedang salah satu tangannya kearah mereka berdua.


"Jaga sikap dan logat bicaramu itu." Tegas Eiri.


"Aku mengerti."


Neil dengan segera merubah sedikit gayanya. Ia mulai membetulkan sedikit postur tubuhnya hingga terlihat berdiri lebih tegap, ia juga menurunkan tangannya kemudian menjaganya, senyumnya juga mulai ikut berubah menjadi sebuah senyum kecil penuh keramahan, ini adalah gaya sopan Neil.


"Selamat malam, nona-nona." Sapa Neil kembali dengan nada yang lembut. "Bolehkah aku?"


"... Ouhh, ya, tentu, silahkan." Ujar Alice dengan sedikit terbata-bata mempersilahkan untuk duduk.

__ADS_1


"Terima kasih." Neilpun duduk disamping Eiri dengan tenang.


Alice sedikit dibuat linglung dengan perubahan sikap Neil yang sangat mendadak. Neil memang bisa mengganti sikap dan juga gayanya dengan begitu cepat. Sebenarnya Alice juga bisa melakukan hal tersebut. Bahkan tiap anggota NERIYA bisa melakukan hal tersebut. Tapi perubahan yang di lakukan oleh Neil adalah yang paling sempurna diantara anggota NERIYA yang lain. Alice sendiri sudah cukup lama menjadi anggota NERIYA, tapi ia tetap masih belum terbiasa dengan hal itu. Sementara itu Eiri tetap diam dengan ekspresi muka yang datar.


Neil melihat kearah gelas Eiri dan menyadari bahwa minuman yang tengah diminum oleh Eiri bukan lah alkohol, itu hanya air limun. Ia sadar bahwa Yampiee lah orang yang telah melarang Eiri untuk meminum alkohol. Ia juga sempat melihat kearah gelas Alice, dan melihat minuman milik Alice ternyata sama dengan milik Eiri. Neil kembali sadar bahwa minuman yang diminum oleh Alice sekarang pasti Eiri lah yang memesannya. Setelah selesai menafsirkan semua kejadian yang telah terjadi kepada mereka sebelum ia datang didalam kepalanya dengan tepat. Rasa untuk sedikit menjahili Eiri mulai muncul didalam pikiran Neil.


"Permisi."


"Ya, tuan?"


"Aku ingin meminum sesuatu. Tapi aku merasa sedikit bingung. Kau punya rekomendasi?"


"Bagaimana dengan 'El Presidente', tuan?"


"Hmmmmm..."


"Apakah ada masalah, tuan?"


"Rasanya aku ingin meminum wine."


Alice yang dengan sangat jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Neil raut wajahnya mulai berubah menjadi bermasalah. Alice terus melambaikan-lambaikan tangannya dengan panik, menyuruh Neil untuk tidak melakukannya. Namun Neil tidak menggubrisnya sama sekali. Sementara itu Eiri masih tetap diam seolah tak peduli.


"Kami punya beberapa botol wine yang cukup bagus, tuan, apakah tuan ingin mencobanya?"


"Iya, aku ingin mencobanya."


"Baik, tuan."


Sementara itu ditempat lain...


Ian bersama dengan River telah berada dilantai 3 ruang bawah tanah dengan Yampiee yang memandu mereka melalui saluran komunikasi mereka. Melawati lorong yang cukup gelap dan pipa saluran air yang terus menerus menetes di samping mereka dengan baju pelayan yang belum mereka ganti. Beberapa kat lampu menggantung diatas mereka namun hanya sedikit yang masih berfungsi dan menerangi lorong.


River berjalan didepan dengan membawa senter, sementara Ian berjalan di belakang. Ada beberapa alasan kenapa Ian memilih untuk berjalan di belakang dan juga memilih untuk tidak membawa senter. Alasan pertama Ian bisa melihat dalam kegelapan. Mata Ian sudah terbiasa dengan kegelapan. Yang kedua adalah menjaga River agar tidak kembali tersesat.


"Jika saja kita tidak salah belok mungkin kita sudah sampai didepan brangkas sekarang." Pikir Ian dengan lemas.


River memang bisa tersesat dengan mudah. Dia tidak bisa membaca peta dengan benar. Butuh waktu yang sangat lama bagi River agar ia bisa memahami sebuah peta ataupun denah. Tapi setelah dia hafal, dia akan terus mengingatnya. River hanya sempat melihat denah mansion Sentrik satu kali, yaitu pada saat rapat. Sehingga itu membuat River tidak hafal dengan letak lokasi brangkas milik Sentrik. Bahkan butuh waktu satu minggu lebih bagi River untuk mengingat dimana letak kantor tempat ia bekerja sebagai anggota NERIYA.


Ian sendiri sebagai ketua lupa untuk memberikan denah Sentrik secara langsung kepada River agar ia bisa belajar dan memahami denah tersebut. Dan itu membuat Ian tidak bisa menyalahkan River dengan keadaan yang tengah menimpa mereka sekarang.


"Untuk sekarang kau hanya perlu lurus saja sampai terlihat belokan, kemudian kita belok." Ian mencoba memberikan arahan.


"Baik."


"Yampiee, kau bisa mendengar ku?"


"Ya? Ada apa?" Respon Yampiee.


"Bagaimana keadaan tim Eiri disana?" Tanya Ian sembari terus memperhatikan punggung River berjaga jika ia tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


"Mereka masih menunggu di Bar." Jawab Yampiee.


"Penyamaran Neil masih belum terungkap?" Tanya kembali Ian.


"Belum. Tapi sepertinya tidak akan bertahan lama. Sepertinya mereka telah sadar bahwa baju yang dipakai oleh Neil adalah baju yang mereka yang sempat dicuri." Ungkap Yampiee dengan segera.


"Aku paham. Sebentar lagi kami akan segera tiba di brangkas untuk menjalankan fase kedua."


"Baiklah." Respon Yampiee. "Apa River kembali membuat mu tersesat, ketua?"


"Begitulah." Ungkap Ian.


"Bukan salah ku juga aku bisa tersesat." Bantah River dengan tiba-tiba.


"Kau seharusnya lebih banyak belajar lagi, atau Alice akan mengalahkan mu."


"Mengalahkan ku? Masih terlalu dini untuk dia agar bisa mengalahkan mu." Tegas River dengan nada yang sombong.


"Kenyataannya dia sudah mengalahkan mu. Dia bahkan sudah mengingat seluruh wilayah District 1." Ungkap Ian dengan nada yang menyakinkan.


"... Anak itu memang berpotensi, aku akui." River mengakui kemudian tersenyum puas.


River masih mengingat hari pertama bagaimana Alice menjadi anggota NERIYA. Dia masih terlalu muda. Pikirannya masih sangat naif dan juga labil. Tidak bisa mengendalikan emosinya. Selalu terburu-buru. Ceroboh. Tidak bisa menilai setiap keadaan. Pemalas. Singkat nya dulu ia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Tapi dibandingkan dengan yang sekarang Alice sudah sedikit berbeda.


"Tentu saja. Aku tidak pernah salah dalam merekrut seseorang untuk bergabung kedalam NERIYA." Ian dengan bangga menyombongkan dirinya.


River hanya diam saja menanggapi kesombongan Ian. River menyadari satu hal yang sampai sekarang membuatnya terkadang masih terasa janggal ketika melihat Alice.


"Dia masih mengingatkan ku dengan wanita itu." Pikir River. Disaat River sedang melamun Ian tiba-tiba memegang kedua bahunya.


"Baiklah, sekarang belok." Ujar Ian sembari mengendalikan tubuh River untuk berbelok.


"Sialan, kau tidak perlu sampai melakukan hal seperti itu." Protes River sembari menggeliatkan tubuhnya agar Ian melepaskan bahunya.


"Siapa kalian!?" Teriak salah seorang penjaga kepada River dan juga Ian tepat setelah mereka berbelok. "Segera laporkan ini!"


"Baik!" Jawab salah satu rekannya. "Ada dua penyusup dilantai tiga ruang bawah tanah didepan brangkas! Ada dua orang penyusup!!"


"Baiklah, sesuai dengan rencana." Perintah Ian kepada River dengan tersenyum senang.


River dengan segera membenarkan posisi tubuhnya, dan setelan baju pelayannya. Kemudian menghela nafas.


"Aku mengerti." Jawab River dengan tampak raut wajah serius.


"Yampiee, kau masih disana?" Tanya Ian, sembari melepaskan rompi baju pelayannya.


"Ya."


"Mulai 'Fase kedua', sekarang." Ungkap Ian.

__ADS_1


"Baik." Respon Yampiee dengan segara.


__ADS_2