
"Ternyata memang benar-benar ada di kolong jembatan." Ujar Alice dengan ekspresi muka yang bermasalah.
Neil bersiul pendek, kemudian tersenyum lebar dan terlihat puas dengan terus melihat kearah mansion tersebut. Sementara Eiri tetap sama dengan ekspresi mukanya yang datar.
Mereka kini telah berdiri tepat dihadapan mansion dan juga kediaman bagi pemimpin Sentrik, Frederick Devanky Lutimi, dibawah kolong jembatan terbesar yang berada di sebelah barat District 1. Mereka tengah mengantri untuk masuk kedalam mansion.
Sebuah mansion yang dibangun dengan gaya klasik layaknya sebuah istana kecil dengan dinding yang dicat warna merah dan pilar-pilarnya berwarna krem. 4 Pilar dengan tinggi 11 meter berjajar di bagian paling depan, 2 pintu besar yang terbuka lebar sebagai pintu masuk, dan 8 jendela besar. Mansion milik Sentrik adalah mansion terbesar yang pernah dibangun oleh manusia di bagian bawah kolong jembatan. Benar-benar sebuah mansion yang megah.
"Kali ini Sentrik benar-benar sangat niat."
"Perhatikan logat bicara mu, Neil."
"Maaf, tapi kau juga pasti setuju kan, Eiri, Sentrik kali ini terlalu niat."
"Entahlah, aku tidak yakin tentang itu. Dilihat dari manapun Mansion tersebut memang hebat, tapi membangunnya dibawah sebuah jembatan?" Alice menanggapi dengan raut muka yang masih bermasalah.
"Berlebihan adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya." Eiri menegaskan pendapatnya sendiri dengan ekspresi yang tetap datar.
"Aku bisa sedikit memahami jika Alice sedikit merasa aneh tentang hal ini, dia memang masih belum lama di District 1. Tapi kau sudah sangat lama disini, Eiri, bukakan kah ini sudah sangat wajar bagi Sentrik." Ujar Neil dengan nada yang terdengar kecewa.
"Kamu sendiri yang mengatakan bahwa mereka kali ini benar-benar niat, itu sama artinya seperti mereka bertindak berlebihan bagi ku."
"Tidak!" Alice tiba-tiba menyela. "Membangun sebuah mansion dibawah jembatan dari awal bukan tindakan yang niat atau pun berlebihan, itu adalah tindakan yang tidak masuk akal!"
Neil dan Eiri sesaat langsung menatap kearah Alice, lalu Neil berpaling dengan tersenyum dan menarik nafas pendek sementara Eiri berpaling dengan muka yang masih datar. Dengan pandangan yang lurus ke depan Neil kemudian berkata.
"Panjang ceritanya, tapi begitulah."
Alice menatap kearah Neil dengan raut muka yang bermasalah. Neil yang merasakan hal itu senyum di wajahnya kini mulai berubah menjadi senyuman yang sedikit masam.
"Baiklah, akan aku ceritakan." Neil menyerah.
"Sentrik. Mereka sudah ada 4 tahun yang lalu."
"Itu jauh sebelum aku pindah ke District 1. Tapi itu artinya bukankah Sentrik terbilang masih baru?"
"Tepat. Pendiri Sentrik adalah Frederick Michel. Dia adalah ayah dari Frederick Devanky Lutimi. Devanky sendiri baru 1 tahun menjadi pemimpin Sentrik menggantikan ayahnya. Sentrik memang masih lumayan baru di District 1. Tapi meskipun begitu dalam waktu kurang dari 5 tahun mereka telah menguasai banyak tempat di District 1, termasuk; pasar, dan juga beberapa tempat hiburan. Katakanlah mereka sekarang- Sentrik dalam masa kejayaannya."
"Jadi begitu." Alice dengan menggangguk pelan, "Untuk bisnis mereka sendiri, apakah mereka melakukan bisnis yang sama seperti kebanyakan mafia?"
"Ya, aku pikir mereka melakukan bisnis yang sama seperti kebanyakan mafia, mungkin." Neil mulai terlihat tersenyum ragu.
"Mungkin?"
"Tentu saja mereka menyelundupkan senjata kemudian menjualnya secara ilegal, mereka juga menyewakan jasa pinjaman uang dengan pengembalian bisa dicicil serta bunga 3%, dan terkadang mereka bisa menjual beberapa informasi yang menurut beberapa kalangan sangat berharga, tapi itu semua hanya bisnis sampingan mereka."
"Tunggu, sampingan? Hal semacam itu hanya sampingan!?"
"Begitulah. Bisnis utama mereka adalah berjualan baju."
"... Hah? Berjualan baju?"
"Yup... Berjualan baju. Baju buatan mereka sangat terkenal."
"Kalian sudah selesai? Ada tugas yang harus kita kerjakan sekarang." Eiri memotong untuk mengingatkan mereka agar kembali fokus. "Kalian bisa membicarakan sejarah Sentrik di kantor setelah tugas ini selesai."
"Tidak, tunggu sebentar! Kesampingkan tentang tadi semua. Yang ingin aku ketahui adalah alasan kenapa Sentrik selalu memilih kolong jembatan sebagai markas!" Desak Alice.
"Panjang ceritanya, Alice, tapi begitulah Sentrik, tidak, lebih tepatnya memang seperti ini lah sifat kedua orang itu. Ayah dan anak sama saja." Raut wajah Neil mulai berubah menjadi senyum yang bermasalah.
"Tunggu apa maksud perkataan mu tadi? Setidaknya jelaskan lah lebih rinci. Kebiasaan mu yang selalu berkata tapi tidak pernah selesai itu sangat menyebalkan!"
__ADS_1
"Kalian berdua sudah cukup!" Seru Eiri dengan nada suara yang tegas.
Alice dan Neil seketika langsung terdiam. Aura yang keluar dari Eiri mulai membuat mereka bergidik ketakutan. Eiri kemudian berbalik dan memberikan sebuah alat komunikasi kepada mereka berdua. Alice dan Neil tanpa pikir panjang langsung menerima alat tersebut, dan langsung memakainya kedalam telinga mereka.
"Tes, kalian sudah bisa mendengar kan ku?" Suara Yampiee mulai terdengar di telinga mereka.
"Ya, kami sudah bisa mendengar mu." Respon Alice.
"Roger." Respon Neil.
Eiri kembali berbalik dari Alice dan Neil kemudian kembali mengantri. Lalu mereka berdua menarik nafas lega, dan Neil kembali tersenyum meskipun tidak sesantai sebelumnya. Sementara Alice mencoba kembali membetulkan postur badannya.
"Aku berubah pikiran, kau bisa menceritakan tentang Sentrik lain kali, Neil." Bisik Alice
"Itu saran yang terdengar bagus. Ada tugas yang harus kita selesai kan sekarang."
"Ya, kau benar."
Alice membenarkan sedikit postur tubuhnya agar bisa terasa nyaman dengan gaun yang tengah dia kenakan. Neil hanya sedikit membenarkan bagian kerah dan juga dasinya. Eiri yang berdiri didepan mereka tetap bersikap tenang. Antrian semakin memendek. Kini giliran mereka untuk masuk kedalam mansion.
Sebelum mereka masuk kedalam mansion, mereka diperiksa terlebih dahulu oleh dua orang penjaga di bagian pintu masuk mansion. Eiri yang berdiri paling depan diperiksa terlebih dahulu. Salah seorang penjaga mengecek tas yang dibawa oleh Eiri, dan salah seorang penjaga yang lain mengecek tubuh dengan sebuah alat pendeteksi logam, dan juga para penjaga tersebut mengecek gaun apakah yang di kenakan oleh Eiri adalah buatan Sentrik.
Setelah pengecekan yang cukup ketat. Penjaga tersebut mengangguk kepada rekannya yang tengah memeriksa tas Eiri, dan rekannya yang lain memberikan tanda bahwa tas Eiri aman. Penjaga tersebut kemudian tersenyum dengan ramah dan mempersilahkan Eiri masuk. Eiri tanpa melihat kebelakang langsung mengambil tas-nya kembali dan masuk kedalam mansion. Alice dan Neil pun akhirnya bisa menyusul Eiri setelah diperiksa cukup lama.
"Kami semua sudah masuk. Bersiap menjalankan operasi." Eiri mengabari Yampiee menggunakan alat komunikasi.
"Baiklah." Yampiee merespon, kemudian dengan segera mengabarkan kepada Ian dan River. "Mereka bertiga telah masuk kedalam mansion."
"Bagus. Kami sudah siap di posisi. Respon Ian dengan nada yang puas. "...Tunggu sebentar River, kau jangan masu-"
"Aku mengerti." Yampiee kemudian memotong salurannya dengan Ian, dan mengabari Eiri untuk memberikan instruksi. "Eksekusi."
"Di mengerti." Jawab Eiri, lalu memberikan perintah kepada Alice dan Neil dengan tegas. "Berpencar."
"Siap..." Neil menjawab dengan tersenyum santai, sambil berjalan menuju ruang utama mansion yang di penuhi oleh tamu-tamu yang berdatangan, berbaur, kemudian menjadi pusat perhatian untuk mengalihkan orang-orang, itulah tugas Neil.
Alice dan Eiri kemudian berpisah dengan mengambil jalur jalan yang berbeda. Eiri berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengambil alih ruang kontrol CCTV mereka. Sementara Alice menuju ruang kendali listrik mansion yang berada di lantai bawah yang pertama.
Eiri mulai berjalan mendekati ruang CCTV, melewati beberapa dua pelayan yang lewat dan menawarkan minuman kepadanya, Eiri dengan senang hati menerima minuman tersebut kemudian melanjutkan terus menuju ruang CCTV milik mansion Sentrik. Eiri telah sampai didepan pintu ruangan CCTV. Eiri melihat keadaan sekitar memastikan tidak ada yang melihatnya, setelah memastikan keadaan aman Eiri kemudian membuka pintu tersebut dan masuk dengan santai. Dia berjalan menuju salah satu komputer mengabaikan para penjaga yang terkapar di lantai tak sadarkan diri akibat, Eiri merogoh tasnya kemudian mengambil sebuah bedak hias dari tasnya, ia kemudian membongkar bedak hias tersebut dan mengambil alat milik Yampiee untuk menyadap seluruh CCTV mansion. Eiri menempelkan alat tersebut, dan seluruh akses CCTV milik Sentrik kini telah beralih tangan kepada Yampiee.
"Hallo, para penghuni Sentrik." Ujar Yampiee setelah dia berhasil mengakses seluruh CCTV milik Sentrik. "Gaun yang bagus, Eiri, kau terlihat cantik mengenakan gaun itu."
"Tentu saja, itu sudah pasti." Jawab Eiri dengan tanpa ada keraguan. Eiri berhasil tanpa kendala. "Bagaimana dengan Alice?"
"Alice? Dia-"
Notifikasi mulai muncul di layar komputer Yampiee yang menunjukan Alice telah berhasil.
"Dia telah berhasil, tunggu sebentar." Yampiee kemudian mengganti saluran komunikasinya dengan Alice. "Alice? Kau bisa mendengar ku?"
"Hah... Haah... Yak?" Jawab Alice dengan lemas.
"Kau kenapa? Aku akan memeriksa keadaan mu." Yampiee dengan cepat memeriksa keadaan Alice melalui kamera CCTV dan berhasil menemukannya yang sedang terkapar.
"Aku hanya... Aku baru saja-"
"Alice kenapa kau terkapar!? kau baik-baik saja!?" Tanya Yampiee dengan suara yang mulai terdengar panik.
"Aku baru saja tersengat."
".... Hah?"
__ADS_1
"Aku tersengat oleh aliran listrik ketika menancapkan alat mu itu, Yampiee." Jawab Alice dengan lemas dan masih terkapar. "Yampiee? Kau masih disana? Yampiee? Tes, tes, tes, aku butuh sedikit bantuan. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Yampiee?"
Yampiee yang mendengarkan penjelasan dari Alice mulai merasa bodoh karena telah mengkhawatirkannya, dan dengan segara mematikan saluran komunikasinya dengan Alice, lalu kembali kepada saluran komunikasi milik Eiri.
"Alice baik-baik saja." Yampiee memberikan kabar bohong dengan nada yang datar.
"... Aku mengerti. Jadi dia masih dibawah ruang bawah tanah?" Tanya Eiri. Eiri tahu Yampiee berbohong dan hendak menjemput Alice.
"Iya."
Dengan segera Eiri keluar dari ruang CCTV kemudian mengunci ruang CCTV tersebut, lalu mulai bergegas untuk menjemput Alice yang berada di ruang bawah tanah. Saat Eiri berada di lantai pertama, ia melihat ke arah Neil yang berada di kerumunan orang-orang. Neil yang menyadari hawa keberadaan Eiri, matanya mulai mencari Eiri, dan Neil akhirnya menemukan Eiri yang berdiri sejauh 5 meter dari dirinya.
"Aku akan menjemput Alice diruang bawah tanah."
"Dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja."
"Baiklah."
Setelah mengabari Neil, Eiri dengan segera pergi menuju ruang bawah tanah. Eiri terus berjalan melawati kerumunan orang-orang dengan begitu tenang, tidak ada yang menyadari keberadaannya. Semuanya kini telah terfokuskan perhatiannya kepada Neil seorang.
Setelah melewati para tamu yang berada diruang tengah, Eiri terus berjalan menuju ruang bawah tanah dan kini ia telah sampai didepan pintu ruang bawah tanah. Eiri melihat kearah dua orang penjaga yang tengah berdiri tegap dengan tubuh besar menggunakan kacamata hitam dalam keadaan pingsan sepenuhnya. Eiri menghiraukan dua penjaga tersebut dan hendak membuka pintu tersebut. Sesaat Eiri ingin membuka pintu tersebut, pintu tersebut tiba-tiba terbuka secara perlahan, Eiri yang sadar bahwa ada seseorang yang membuka pintunya dari dalam ia langsung mengambil sedikit langkah ke belakang dan mulai menjadi waspada, tapi itu hanya terjadi untuk waktu yang sebentar, sesaat setelah pintu itu terbuka dan yang keluar ternyata adalah Alice, Eiri mulai menurunkan kewaspadaannya.
"Apa yang kau lakukan disini, Eiri?" Tanya Alice dengan heran.
Eiri melihat kearah Alice dengan seksama untuk memastikan keadaannya. Dirasa Alice terlihat baik-baik saja. Hatinya merasa lega.
"Aku kira kamu telah gagal dengan tugasmu." Jawab Eiri dengan ekspresi wajah dan nada yang datar.
"Bukankah kau terlalu meremehkan ku? Aku tidak selemah yang kau pikirkan." Alice yang mendengar jawaban dari Eiri mulai sedikit menjadi kesal.
"Benarkah? Lantas kenapa kamu sangat berkeringat, penampilan mu juga berantakan, dan juga kenapa gaun mu bisa sangat kotor seperti itu?"
Mendengar pertanyaan tersebut Alice mulai tersadar lalu melihat kearah Eiri yang penampilannya terlihat sangat cantik dan menawan, gaun yang tengah di kenakannya juga masih terlihat sangat bersih, dan aroma yang tercium dari Eiri begitu sangat harum.
"Ya itu, karena, kau tahu... Aku harus melumpuhkan dua penjaga ini, lalu... ahh, tempat generator listrik mereka ternyata cukup jauh dan juga didalam sana sangatlah pengap, jadi sangat panas, wajar saja jika aku berkeringat. Didalam sana juga sangat kotor sekali, ya ampun, sarang laba-laba dan juga debu dimana-mana, benar-benar sangat kotor."
Eiri mendengarkan alasan Alice dengan seksama, walaupun ekspresinya masih terlihat masih datar. Alice kemudian kembali menyadari, bahwa tidak gunanya dia membuat alasan.
"Dilihat dari manapun yang telah melumpuhkan dua penjaga ini adalah River. Berhenti membuat banyak alasan. Segera pergi ke kamar mandi dan bersih kan penampilan mu itu." Perintah Eiri, dengan nada yang tegas. "Kita bertemu lagi di Bar."
"Baik." Jawab Alice dengan tertunduk lemas.
Eiri kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Alice menuju ruang Bar. Ia menyalakan kembali alat komunikasinya, kemudian mencoba menghubungi Yampiee.
"Fase pertama telah selesai."
"Baiklah. Kita mulai dengan fase kedua, seharusnya..." Respon Yampiee, dengan nada yang terdengar bermasalah.
"Ada apa?" Tanya Eiri.
"Ian dan River masih belum mencapai posisinya." Jawab Yampiee. "Aku tidak tahu apa yang menghambat mereka berdua."
"Mereka hanya sedang tersesat. Tenang saja itu sudah biasa."
"... Sepertinya kita hanya bisa menunggu untuk sekarang."
"Benar sekali. Aku bisa mencoba beberapa minuman di Bar." Suara Eiri mulai terdengar sedikit bersemangat.
"Apa!? Tidak jangan kau-"
__ADS_1
Eiri memutuskan panggilan komunikasinya, dan sedikit mempercepat laju jalannya menuju Bar. Sementara itu, menyadari panggilannya telah di putus, Yampiee dengan cepat langsung menghubungi Alice dengan panik.