Niati Dengan Bismillah

Niati Dengan Bismillah
Pinjaman


__ADS_3

Di era sekarang, semua harga kebutuhan pokok dan lain-lain naik secara perlahan bahkan apabila harga BBM naik, dipastikan seluruh barang baik kebutuhan pokok maupun sekunder pasti naik. Namun gaji buruh mengapa tidak naik? kalaupun naik itu juga hanya sepuluh persen dari gaji pokok.


Aku yang notabennya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak merasakan antara cukup dan tidak cukup gaji suamiku. Tiga juta tiap bulan, bagiku itu sudah nominal yang cukup tinggi, namun apalah daya bulan ini pengeluaran membludak, banyak tetangga yang hajatan, mulai dari nikahan, sunatan, selametan bayi dan sebagainya, ditambah harus bayar pajak motor yang biasa dipakai suami buat kerja. Puyeng euy.


Berada dalam fase minta tolong, duh Gusti rasanya nano-nano banget. Mau pinjem malu, nggak pinjem butuh, gimana dong?


Akhirnya bermodal nekat, aku mencoba mendatangi tetangga aku Bu Ulin. Dia lumayan mapan, karena kerja kantoran, sedang suaminya seorang satpam. Rumahnya juga paling bagus diantara sekitar.


Kebetulan hari ini hari Minggu, beliau pasti dirumah. Anak-anakku lagi pada bermain dan mas Yudi menemani anak-anak, aku berangkat kerumahnya Bu Ulin untuk minta pinjaman.


Malu? sudah pasti malu, bukan karena merasa gengsi atau gimana, malunya itu karena merasa nggak enak ikut menyusahkan tetangga atas beban yang kita pikul. Namun karena udah kepepet ya apa mau dikata.

__ADS_1


Dengan langkah pasti aku berjalan menuju rumah Bu Ulin yang berada tepat di samping kanan rumahku. Kuutarakan niat kedatanganku dengan sesopan mungkin, namun bukan uluran tangan yang aku dapat malah ceramah yang bikin panas kupingku.


'makanya jangan nikah terlalu muda, baru lulus sekolah udah buru-buru nikah, belom punya modal udah berani nikah, ya gini nih, hidupnya gali lobang tutup lobang, mana sekarang punya anak dua. Udah tau masih hidup susah, eh malah bikin anak mulu. Enak bikinnya, tapi **gedeinnya ta**u rasa kan kamu?'


Nylekit pake banget. Padahal tuh ya, yang namanya orang pinjem tuh udah merendahkan diri sendiri loh dihadapan orang lain, terus juga nggak mungkin kan orang minjem kalau nggak butuh, huh rasa-rasanya pengen nampok itu muluut, lemes bener dah. Mentang-mentang sarjana dan kerja kantoran gajinya gede ngomong sesukanya gitu.


Bingung nyari duit buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, mana gajian masih seminggu lagi, tapi duit tinggal selembar biru doang, well mencoba peruntungan mendatangi rumah Bu Rosita yang disebelah kiri rumahku, karena mau minjam sama Bu Ulin ditolak mentah-mentah, yaudah deh aku akhirnya minjem sama Bu Rosita, eh ternyata Bu Rosita juga sama lagi pailit. Duh mantap kali rasanya bila tak pegang duit.


Paginya setelah mendapat acc dari suami, cus aku berangkat deh kerumah Bu Sulis pake sepeda setelah mengantarkan anak pertamaku sekolah.


Dan akhirnya aku pulang bawa uang.

__ADS_1


Hahaha seneng, lega dan plong rasanya, ada rejeki buat makan dan beliin jajanan anak.


Satu juta, ya aku sengaja meminjam uang lebih, karena apa? karena aku ingin sekalian membuka usaha dengan modal hasil minjam sama Bu Sulis.


Pulang dari rumah Bu Sulis aku langsung mampir ke toko sembako milik pak haji Jafar, aku beli semua bahan bumbu lengkap. Lanjut ke warungnya Mpok Atin yang jualan ikan dan sayuran. Aku memesan beberapa ikan segar dan sayuran dan harus diantar besok pagi-pagi sekali, karena rencananya aku mau jualan lauk dan sayuran matang.


Dengan Bismillahirrahmanirrahim aku memantapkan diri untuk membantu suamiku mencari nafkah. Apalagi sekarang anak keduaku sudah umur dua tahun dan anak pertamaku enam tahun. Ditahun ajaran baru nanti, bakalan masuk SD, udah pasti bakalan banyak uang yang dibutuhkan, beli seragam, sepatu, tas, buku dan segala keperluan sekolah lainnya yang tentunya nggak bisa dicicil. Jadi aku putuskan buat jualan aja. Karena kalau jualan kan bisa lah sambil momong si bungsu.


Suami awalnya keberatan namun karena termakan rayuan maut dariku akhirnya mengijinkan aku jualan dengan syarat kalau anak-anak terurus dengan baik. Dan kalau anak rewel atau nggak enak badan harus libur jualannya. Intinya anak is number one.


DEALLL, aku setujui persyaratan dari suamiku, karena biar bagaimanapun memang anak harus tetap jadi prioritas. Jangan sampai kitanya sebagai orang tua sibuk dengan dunia orang dewasa dan lupa anak.

__ADS_1


__ADS_2