Niati Dengan Bismillah

Niati Dengan Bismillah
Mas Yudi


__ADS_3

# Yudi POV #


Bulan ini pengeluaran begitu besar, banyaknya tetangga dan teman yang memiliki hajatan, belum lagi anak sakit, ditambah harus bayar pajak kendaraan. Uang gajianku tak mampu menutup semua kebutuhan. Hingga Ayu pergi meminjam pada tetangga, namun tak dikasih malah dapat omongan yang aku sendiri pun merasa sakit hati mendengar cerita dari Ayu.


Hingga akhirnya Ayu meminjam uang pada Bu Sulis. Meminjam dengan bunga dan harus membayar setiap minggunya.


Sebenarnya aku tak setuju, karena aku merasa berat harus membayar cicilan setiap minggunya. Hingga Ayu memberikan ide dia akan jualan dengan uang modal hasil dari meminjam sama Bu Sulis.


Berat hati ini menyetujui, tapi kebutuhan ekonomi begitu mendesak, tak ada yang bisa membantu. Hanya jalan ini satu-satunya. Kalau Ayu tak ikut bekerja aku sendiri juga tak tau bagaimana harus membayar cicilan setiap minggunya. Dengan berat hati aku pun menyetujui rencana Ayu. Biarlah dia bekerja asal anak-anak tidak terabaikan. Toh kerjanya tidak terikat oleh waktu.


Sore hari saat aku pulang kerja, ternyata Ayu benar-benar langsung merealisasikan niatnya berjualan lauk matang. Dia berencana akan berjualan keliling kampung untuk menjajakan masakannya. Aku berdoa semoga usaha istriku dimudahkan dan dilancarkan.


Sebelum tidur, Ayu memasang alarm jam 3. Pagi sekali dia harus bangun, aku sempat protes, namun Ayu memberikan alasan yang membuatku tak mampu lagi mendebatnya. Jujur aku takut Ayu kecapean dan sakit. Karena dia juga di rumah sibuk mengurus kedua anakku dan juga membersihkan rumah. Aku hanya bisa berdoa semoga ia senantiasa sehat dan baik-baik saja.

__ADS_1


Aku berjanji akan melarangnya jualan lagi setelah hutang di Bu Sulis lunas. Namun rencana hanya tinggal angan saja. Aku malah mengalami kecelakaan saat cicilan ke Bu Sulis tinggal dua kali saja.


Saat aku dirawat di rumah sakit, aku merasa aku tak berguna, aku menyusahkan Ayu. Dia harus bolak balik dari rumah ke rumah sakit, belum lagi dia harus memasak dan berjualan, aku merasa berdosa karena membuatnya mangalami kesulitan. Aku hanya pasrah dan berdoa semoga Ayu selalu dalam lindunganNya. Apalagi kala dokter mengatakan kalau aku harus istirahat total dan tak boleh bekerja selama tiga bulan kedepan. Aku syook, apa gunanya aku sebagai suami? sudah tak mampu membahagiakan anak istri, sekarang malah membuat istriku susah payah cari nafkah buat memenuhi segala kebutuhan. Mengapa aku harus jadi beban buat istriku Ya Allah? kapan aku bisa membuatnya bahagia? kapan aku bisa memberikan kehidupan yang indah buat keluargaku? mengapa semua harus terjadi kepadaku? aku bingung. Sebagai seorang lelaki aku merasa tak berguna, aku hanya beban buat istriku. Aku gagal, aku tak bisa menepati janjiku untuk membuatnya bahagia, aku gagal.


Disaat aku terpuruk atas kejadian yang menimpaku, Ayu tak henti-hentinya memberikan support kepadaku hingga aku mulai bisa berfikir positif, aku harus bisa sembuh dan harus berfikir bagaimana caranya agar aku bisa tetap menjadi ayah dan suami yang baik dengan kondisiku saat ini.


Aku sekarang sudah bisa ikhlas dan sabar menerima keadaanku sekarang. Aku tak bisa menyalahkan takdir, justru aku harus bangkit dan memulai semua dari awal.


Hari ini aku sudah pulang dari rumah sakit, banyak sekali tetangga yang silih berganti datang menjengukku, tak lupa mereka menyelipkan rejeki untukku. Alhamdulillah aku bersyukur atas bantuan dari mereka semua. Ayu menggunakan uang tersebut untuk memperbaiki motorku yang rusak akibat kecelakaan yang menimpaku tempo hari. Dan sisanya Ayu menyimpannya, katanya untuk untuk biayaku saat kontrol nanti.


Pagi menjelang, Ayu sibuk dengan Lani anak pertama kami, dia mengurusnya dengan sangat telaten, lalu mengantarnya ke sekolah, setelah urusan dengan Lani selesai, kini Ayu kembali berkutat di dapur dan mulai memasak untuk jualannya. Lagi kutawarkan diri untuk membantunya, namun lagi-lagi Ayu tak mau aku membantunya. Tak ingin mendebatnya dan malah membuat waktunya terbuang sia-sia, aku lebih mengalah dan memilih diam melihat Ayu yang terlihat begitu sibuk di dapur.


Belum matang semua masakan Ayu, ternyata anak bungsuku bangun. Aku berniat akan mengurusnya saja, dan entah karena merasa terlalu repot, Ayu kini membiarkanku mengurus Ardan anak bungsuku. Kubuatkan susu, kumandikan, dan suapi sarapan.

__ADS_1


Saat aku sudah selesai, ternyata Ayu juga sudah selesai dengan kegiatannya. Ayu berpamitan ingin menjemput Lani di sekolahnya, aku pun mengizinkan dan memintanya agar memakai motor saja, Ayu tak menolak.


Lani sudah pulang sekolah, dan Ardan juga sudah bermain dengan riang dengan banyak mainannya yang disebar di depan ruang televisi. Kini saatnya Ayu untuk berkeliling menjajakan jualannya. Kulihat Ayu bolak balik dari depan ke dapur membawa masakan dan menatanya di keranjang.


Karen aku di rumah, anak-anak bersamaku, tak enak rasanya harus selalu merepotkan bulek Harni terus.


Setelah Ayu berangkat berjualan aku berjalan ke dapur untuk mengambil minuman, kulihat pemandangan yang sungguh memprihatinkan. Banyak cucian kotor yang menumpuk di bak cucian piring, mungkin Ayu belum sempat membereskan Karena mengejar waktu.


Aku kembali ke ruang televisi tempat kedua anakku bermain, kuminta Lani untuk menjaga Ardan adiknya, karena aku mau mencuci perabotan yang tadi digunakan Ayu.


Alhamdulillah semua selesai, baju-baju sudah ku jemur, semua perkakas sudah bersih dan kembali ketempat semula, rumah juga sudah aku sapu dan pel. Aku merasa bangga, walaupun sedikit aku masih bisa berguna, aku bisa meringankan sedikit beban di pundak Ayu.


Ketika Ayu pulang dari berjualan, Ayu masuk ke dapur dan melihat semua sudah beres. Lagi-lagi Ayu mengomel, bukan karena kecewa, namun karena mengkhawatirkan kondisiku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman saja.

__ADS_1


Setiap hari kukerjakan semua pekerjaan rumah saat Ayu jualan, Ayu tak bisa protes, dan hanya bisa mengalah saja.


Hari ini jadwalku kontrol, aku merasa sudah lebih baik, namun dokter masih menganjurkan untukku agar kontrol dua Minggu lagi, astaga.... bukankah aku sudah terlihat sehat dan baik-baik saja, kenapa masih disuruh balik lagi, padahal aku sudah nurut untuk tidak bekerja. Sepertinya tiga bulan agar aku tidak bekerja memang akan benar terjadi. Bagaiman nasib keluargaku? tak tega aku membiarkan Ayu banting tulang mencari rejeki untuk ku dan anak-anak. Hingga aku mulai memikirkan sebuah usaha yang bisa aku kerjakan di rumah dan bisa menghasilkan uang. Aku berencana akan membicarakannya dengan Ayu nanti malam. Bismillah semoga semua akan kembali baik-baik saja. Aamiin..


__ADS_2