
Pagi hari rutinitas yang sangat menguras tenaga dan waktu kembali aku jalani. Namun ada yang berbeda dengan pagi ini. Bagaimana tidak, mas Yudi bangun dan langsung mandi terus mencuci baju kotor dengan mesin cuci, dan dilanjutkan dengan menyapu rumah dan juga halaman.
Mas Yudi Bahkan juga membangunkan Lina dan menyuruhku memandikannya, sementara ia menyiapkan menu sarapan pagi yang tadi sudah ku masak.
Setelah Lina siap, mas Yudi menawarkan diri untuk mengantarkan Lina ke sekolah, aku pun setuju saja. Karena aku harus segera menyelesaikan masakan-masakan yang akan aku jual nanti.
Alhamdulillah saat mas Yudi sudah sampai di rumah, Ardan bangun. Hal yang sama, aku memandikan Ardan dan mas Yudi membuka bengkelnya.
Setelah Ardan sudah siap, mas Yudi menyuapi Ardan sarapan. Aku merasa senang, rutinitas pagi yang biasa selalu ribet kini mulai terasa ringan berkat uluran tangan mas Yudi.
Dulu sebelum mas Yudi kecelakaan dia juga sering membantu untuk sekedar menyuapi atau kadang mengantarkan Lina ke sekolah. Namun semenjak kecelakaan aku tak mengizinkan mas Yudi untuk membantuku. Dan kali ini mas Yudi kembali membantuku. Aku tak menolak, karena kulihat mas Yudi juga sudah sehat dan baik, hanya saja masih belum bisa untuk melakukan aktifitas yang berat.
Selesai berkutat didapur, aku menyiapkan diri. Pergi menjemput Lina di sekolah, karena mas Yudi harus menunggui bengkelnya.
Saat aku berjualan, Ardan dan Lina dirumah bersama dengan mas Yudi. Suamiku itu tak keberatan sama sekali, lagipula bengkel masih sepi. Aku berdoa semoga hari ini bengkel suamiku kedatangan pelanggan.
Sudah satu jam aku keliling kampung, namun daganganku hanya laku sedikit. Tidak seperti biasanya, kata pelangganku tadi banyak yang nggak beli daganganku lantaran hari ini di masjid ada pembagian makanan gratis.
Sungguh aku melupakan kegiatan tahunan rutin dari masjid yang memberikan makan kepada seluruh warga sekampung setiap tanggal 7 Rajab untuk memperingati hari berdirinya masjid di kampung kami. Pantas saja tak banyak yang membeli daganganku. kalau aku harus keliling kampung lagi pasti hasilnya akan sama, tak akan ada yang beli.
Aku memutuskan untuk berkeliling ke kampung sebelah, agak jauh tempatnya karena harus melewati hamparan persawahan yang cukup luas. Namun tekadku sudah bulat, aku harus menjajakan habis masakanku agar ada uang buat memenuhi kebutuhan keluarga. Karena usaha bengkel suamiku yang baru di buka kemarin belum ada pelanggan yang datang silih berganti.
Dengan niat yang kuat, aku mengucap Bismillah agar jualanku bisa segera habis.
sepuluh menit ku kayuh sepedaku, akhirnya aku sampai di desa M. Aku mulai berteriak-teriak menawarkan jualanku pada ibu-ibu yang ada di depan rumah.
Alhamdulillah aku mengucap syukur, karena daganganku laku banyak. Walaupun masih ada sisa sedikit, namun lumayan. Setidaknya ada uang untuk membeli bahan untukku jualan besok dan masih ada sisa sedikit untuk membeli beras. Untuk uang jajan anakku, semoga saja bengkel mas Yudi hari ini ramai. Aamiin.
Terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang. Biasanya saat ini aku sudah ada di rumah, menyiapkan makan siang anak-anakku, tapi kini aku masih ada di desa M.
Entah memang sudah takdirku bernasib buruk atau bagaimana, karena aku terburu-buru ingin segera sampai dirumah, aku mengayuh sepedaku dengan cepat, hingga rantainya putus. Padahal masih sekitar 200 meter lagi aku sampai diujung desa. Ya Allah, lengkap sekali rasanya derita hari ini.
Ingin rasanya aku berteriak menyuarakan kesusahan yang kualami saat ini, namun kuurungkan lantaran aku merasa malu kalau nanti ada orang yang lewat dan malah mengiraku orang tak waras.
Aku terpaksa harus menuntun sepedaku dengan sisa tenaga dan sisa kesabaran yang ada. Lelah sekali kaki ini harus melangkah. Kalau aku beristirahat, aku akan semakin lama sampai di rumah.
Setelah berjalan selama tiga puluh menit lebih akhirnya aku tiba di rumah. Senyumku merekah melihat pemandangan yang ada di depan rumah.
Ada tiga orang yang tengah menunggu motornya di perbaiki suamiku. Alhamdulillah masih ada rejeki buat anak-anakku dari usaha suamiku. Semoga lancar selalu dan bisa mencukupi kebutuhan kami.
Ternyata dibalik kesusahan yang aku alami hari ini, Allah masih memberikan rejeki melalui suamiku. Terimakasih Ya Allah, sungguh betapa indah nikmat dariMu.
__ADS_1
"Assalamualaikum "
"wa'alaikumsalam, kenapa Yuk kok sepedanya di tuntun?, kamu baik-baik saja kan?"
"iya mas, aku baik-baik saja. Cuma ini rantainya putus" jawabku pada mas Yudi. Kemudian mas Yudi pun melihat kearah rantai sepedaku yang putus.
"Alhamdulillah kalau kamu nggak kenapa-kenapa, sepedanya nanti mas perbaiki"
"iya, makasih ya mas, kalau gitu Ayu masuk dulu"
"iya, mas mau lanjutin ini dulu ya" aku pun hanya mengangguk saja. Segera ku ayunkan kaki masuk kedalam rumah. Mencuci kaki dan tangan, kemudian menghampiri anak-anakku dan menanyai kegiatan mereka hari ini.
Kutanyakan pula apakah mereka sudah makan, dan ternyata mereka semua sudah makan. Karena mendapat jatah makanan dari masjid. Dan satu kotak yang tersisa di meja makan Lina ambilkan untukku.
Aku teringat masih ada sisa beberapa dagangan di rantang belakang sepedaku. Aku bergegas keluar untuk mengambilnya. Sebenarnya aku berniat untuk menghangatkannya agar bisa buat lauk nanti malam. Baru saja aku mengangkat rantang jualanku, datang Bu Sulis ke rumahku. Ya Allah aku lupa kalau aku masih harus membayar cicilan bunga sama Bu Sulis. Astaghfirullah,,,bagaimana ini? apa iya aku harus merelakan uang modalku? terus bagaimana aku jualan besok?
"siang, Ayu apa jualannya masih?" tanya Bu Sulis saat sampai di depan teras rumahku.
"m masih Bu"
"apa aja yang masih Yuk?"
"masih ada pepes sama oseng bunga Turi, sama ikan lele"
"mau diborong bu?"
"iya, soalnya aku tadi nggak masak, eh ada ipar aku datang"
"Alhamdulillah, iya Bu saya bungkuskan dulu"
"total berapa ini Yuk?"
"pepesnya 2, oseng masih 5, terus ini ada sayur asem masih 1 bungkus, sama lelenya 2 bungkus"
"iya, totalnya berapa?"
"total tiga puluh tujuh ribu Bu"
"ini uangnya"
"saya ambilkan kembaliannya dulu Bu ya, mohon ditunggu sebentar"
__ADS_1
"cepat ya Yuk, buru-buru soalnya"
" iya Bu" Aku bergegas kedalam mengambil dompet dan mengambil uang tiga belas ribu untuk kembalian Bu Sulis.
Alhamdulillah rejeki orang sabar, tak ku sangka daganganku habis. Kalau sudah rejeki memang tak akan kemana. Bagaimanapun jalannya pasti akan ada rejeki. Itulah ilmu yang bisa kupetik atas apa yang kualami seharian ini.
"ini Bu kembaliannya"
"iya, makasih ya Yuk. Jangan lupa ya besok dibayar lunas utangnya"
"iya Bu"
Setelah Bu Sulis pulang dengan menaiki motornya aku kembali masuk ke dalam untuk makan siang. Menu yang diberikan oleh panitia masjid tak tanggung-tanggung, ada daging, telur bacem, lengkap dengan acar mentah dan tumisan buncis. Alhamdulillah, lagi-lagi aku berucap syukur atas nikmat yang datang bersamaan ini.
Ku lahap habis makanan tersebut karena perutku memang sudah keroncongan. Setelah kenyang, aku mandi dan ku lanjukan dengan menunaikan kewajibanku pada Yang Maha Kuasa.
Saat aku sudah selesai shalat, kulihat mas Yudi sudah duduk bersama anak-anak, aku pun ikut duduk bergabung bersama mereka.
"sudah selesai mas?"
"sudah Yuk"
"Alhamdulillah, ramai ya mas bengkelnya"
"iya, total hari ini sudah ada empat pelanggan, Alhamdulillah"
"sudah shalat mas?"
"sudah kok Yuk, pas adzan Dzuhur mas langsung buru-buru shalat, takut kalau ada pelanggan nanti malah pergi karena nggak sabar nungguin mas shalat. Setelah shalat baru kami makan, Alhamdulillah sesudah makan tadi datang tiga orang pelanggan. Mas senang banget Yuk"
"Alhamdulillah Ayu juga senang mas, meskipun tidak banyak setidaknya ada yang datang meramaikan bengkel mas"
"bengkel kita Yuk"
"hehe iya, bengkel kita"
"kamu istirahat gih sana sama anak-anak, mas mau nungguin bengkel, siapa tau aja nanti ada pelanggan yang datang"
"yaudah, Ayu ajak Lina sama Ardan tidur siang dulu mas ya"
"iya"
__ADS_1
"Ardan, Lina. Ayo tidur siang dulu, nanti sore kan harus sekolah ngaji"
Kedua anakku berdiri mengikuti ku ke kamar untuk tidur siang. Alhamdulillah akhirnya aku bisa rebahan juga.