Niati Dengan Bismillah

Niati Dengan Bismillah
Hari Pertama


__ADS_3

Hari sudah berganti, aku memang sengaja menyetel alarm jam 3 dini hari, semua sudah terancang rapi dalam otakku. Buat jaga-jaga manakala sikecil merengek, secara inikan baru pertama kali dan pastinya belum terbiasa.


Aku bergegas gosok gigi dan mencuci muka, lanjut menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari menyapu, ngepel, nyuci dan menyiapkan segala keperluan untuk kerja suami dan keperluan anak. Baru setelah itu aku memasak buat sarapan pagi.


Pukul 4 lebih 30 menit semua pekerjaan rumah sudah teratasi, aku mandi dan kemudian membangunkan suami untuk menunaikan kewajiban pada Sang Khaliq bersama-sama. Berdoa semoga hari ini akan disertai banyak keberuntungan dan usahaku akan berjalan dengan lancar dan dimudahkan jalannya.


Aku percaya, segala sesuatu yang baik yang diawali dengan Bismillah dan diakhiri dengan hamdalah maka akan mendatangkan kebaikan.


Karena jam masih menunjukkan angka 5 tepat, aku kini berada di dapur kembali dan mulai menyiapkan segala macam bumbu yang nantinya akan aku pakai, mulai dari mengupas bawang, mengulek bumbu-bumbu masakan, dan sebagainya. Aku lebih suka mengulek ketimbang pake blender, simpel aja sih alasannya, karena tak ingin ada suara bising dan malah membangunkan anak-anakku. Memanfaatkan waktu selagi anak-anak belum bangun, lagipula inikan hari pertama mau membuka usaha, ya sudah pasti lagi semangat 45 banget.


Setengah 6 pesananku diantar, segera kusimpan didapur dan bergegas membangunkan anak pertamaku. Dilanjut dengan memandikan dan menyiapkan dirinya untuk ke sekolah, tak lupa juga menyuapi sarapan. Suami apa kabar? tentunya suami bisa mengurus diri sendiri, asalkan semua keperluan sudah tersedia ya fine-fine aja.


Tugasku terhadap Lina anak pertamaku selesai, mengingat waktu dan kegiatan baruku, maka mulai hari ini Lina akan diantar ayahnya ke sekolah. Dan beruntung sekali, Lina cukup pengertian dan menurut.


Pukul setengah 8 biasanya Ardan bangun, dan sekarang baru setengah tujuh, itu artinya aku masih ada banyak waktu sebelum jagoanku bangun. Aku bergegas ke dapur buat mencuci semua jenis ikan yang aku beli, dan mulai memasaknya.


Berbagai jenis olahan ikan aku kerjakan, yang pertama aku kerjakan yakni pepes ikan, lanjut goreng ikan sambil menyiangi sayuran.


Ardan akhirnya bangun juga, baru juga olahan ikan yang matang, sayuran baru selesai aku siapkan semua dan belum dimasak. Namun karena tak ingin ada drama keriwehan sikecil jadinya aku putuskan buat kasih dot susu terlebih dahulu, baru aku lanjut membuat sayur bening dan sayur dengan kuah santan. baru nanti tumisan dan sambal, tak lupa ikan asam padeh.


Satu setengah jam setelah Ardan bangun dan semua masakan selesai. Bekerja dengan energi dan semangat menggelora menjadikan semua pekerjaa yang sepertinya begitu sulit ribet dan memakan waktu malah menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ardan tak rewel, namun dia begitu cerewet, bertanya banyak hal saat melihat kesibukanku yang luar biasa didapur.


Semua masakan sudah siap. Sekarang pukul sembilan, dan 30 menit lagi Lina pulang sekolah, segera aku mandikan Ardan dan menatanya, menyuapinya sarapan yang tertunda dan berangkat menjemput Lina.


Disekolah Lina sudah banyak ibu-ibu yang berdatangan menjemput anak-anaknya, dan ini kesempatanku buat mempromosikan daganganku.

__ADS_1


Alhamdulillah mereka menyambut baik usahaku, dan sebagian memintaku untuk mampir kerumah mereka untuk menjajakan lauk dan sayuran matang jualanku. Kesempatan emas yang tak boleh di sia-siakan, setibanya dirumah aku langsung mengganti baju Lina dan mengajaknya berkeliling komplek.


Hampir pukul setengah sebelas aku menata daganganku di boncengan sepeda, juga dua tas keranjang di kanan kiri setang sepeda. Ardan aku dudukkan dijok tambahan yang ada didepan sepeda, sementara Lina kuminta menaiki sepedanya pelan-pelan.


Tak sesuai dengan ekspektasi, ternyata ribet banget jualan dengan dua balita ngikut. Mau ditinggal dirumah kasihan nggak ada teman, kalau keduanya ditinggal semua pikiran tak tenang. Terpaksa dihari pertama beribet-ribet ria dulu deh, nanti sesudah selesai berjualan baru dipikirkan solusinya.


Aku mulai menjajakan masakanku dari rumah kerumah, entah karena kasihan atau memang pada nggak masak, hari pertama jualan Alhamdulillah habis ludes.


Duh senang sekali rasanya kerja kerasku nggak sia-sia. Sebelum pulang aku mampir ke kios haji Jafar untuk membeli bahan masakan yang habis, dan mampir lagi kewarung Mpok Atin untuk pesanan besok. Baru setelah itu aku mengajak kedua anakku pulang.


Setibanya dirumah, kulihat jam menunjuk angka 1, kusuapi makan kedua anakku, dan menidurkannya. Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Seusai anak-anak tidur aku shalat dan makan, baru setelahnya membereskan kekacauan didapur setelah peperangan panjang tadi pagi.


Hampir menjelang asar selesai sudah pekerjaanku, namun aku tak bisa bersantai ria, karena apa? karena rutinitas sore hari sudah melambai-lambai.


Kuangkat jemuran, menyapu rumah dan halaman, membangunkan Lina dan mengantarkannya sekolah mengaji.


Adzan Maghrib berkumandang, Lina bermain dengan Ardan diruang tamu, tak lupa kututup pintunya biar nggak ada yang keluar, aku dan suami berjamaah didalam kamar. Usai berjamaah kita sekeluarga makan malam bersama. Dan sesudahnya bercengkerama bersama bermain dengan anak-anak.


Anak-anakku tak pernah tidur larut malam, seusai aku dan suami shalat isya' aku langsung menidurkan mereka. Dan mas Yudi menemani hingga mereka terlelap.


Anak-anak sudah tertidur, kini saatnya aku buat melipat dan menyetrika baju-baju yang aku cuci tadi pagi. Dan mas Yudi selalu setia menemani, ya meskipun tangannya sibuk mensecroll gadjetnya, namun tetap nyambung kalau diajak ngobrol.


" Gimana tadi dek jualannya?"


" Alhamdulillah lancar mas, daganganku habis, bahkan tadi beberapa ada yang pesen buat besok"

__ADS_1


" Alhamdulillah, mas seneng dengernya. Dan mas dari awal emang udah yakin sih kalau bakalan laris jualanmu, secara masakan kamu kan nagih banget dilidah"


" Jelas dong, Erni gitu, haha" mas Yudi menanggapinya dengan senyum dan mengusap kepalaku.


" Percaya deh sama istriku. Tadi gimana anak-anak dek?"


" Maksudnya mas?"


" iya tadi pas kamu jualan mereka kamu titipin dimana? "


" ya aku ajak lah mas "


" Ya Allah dek, kamu ngajak anak-anak keliling panas-panasan? ". Hanya cengiran yang menjadi jawaban aku atas pertanyaannya.


" Besok kalau kamu mau jualan, kamu titipkan saja anak-anak sama bulek Harni. Biar besok pagi mas yang ngomong"


" nanti kalau rewel gimana? "


" semoga saja tidak, doanya jangan yang buruk-buruk dong "


" iya deh suamiku "


" Yaudah sekarang tidur yuk, itu setrikaan kalau belum selesai mending besok bawa ke tukang laundry aja, minta buat setrikain, pasti boleh kok. Jangan terlalu capek, ayo tidur"


" baiklah, aku manut sama mas suamiku aja deh "

__ADS_1


" pinter kalau gitu " dan sekarang waktunya mengistirahatkan tubuh dari segala kelelahan dari aktivitas pada hari ini. Good Night...


__ADS_2