Niati Dengan Bismillah

Niati Dengan Bismillah
Hal tak terduga


__ADS_3

Hari kedua aku berjualan alhamdulilah sekali, lancar dan memuaskan. Bahkan banyak yang memuji masakanku. Aku senang karena para pelangganku puas. Aku tak boleh lengah, harus tetap konsisten menjaga citaras masakanku, agar semakin banyak pelangganku.


Pulang dari jualan, aku segera menemui anakku dirumah bulek Harni. syukurlah kata bulek Harni anak-anakku tidak terlalu merepotkan. Aku pun tak lupa membawakan lauk untuk bulek Harni, lauk ini sengaja aku sisihkan sebelum berjualan, sebenarnya tadi mau dikasihkan pas nganter anak-anak, namun karena buru-buru jadinya lupa.


Setibanya dirumah, segera aku memberi makan kedua anakku dan menemani mereka hingga tidur siang. Setelahnya aku segera membersihkan rumah.


Seperti biasa, sorenya aku mengantarkan anakku pergi mengaji. Dan malam hari setelah anak-anak tidur merupakan waktuku bersama suami untuk saling berkeluh kesah.


#


Seminggu sudah aku berjualan keliling, setiap harinya aku menyisihkan dua puluh ribu rupiah untuk membayar cicilan hutang. Alhamdulillah Minggu pertama aku bisa membayar cicilan hutang. Semoga jualanku selalu laris agar aku bisa membayar tepat waktu.


Seratus tiga puluh ribu setiap Minggu nominal yang harus saya bayarkan, kalau dilihat sepertinya nominalnya tidaklah terlalu besar, namun bagiku yang hanya orang biasa ini, rasa-rasanya sudah cukup besar. Tapi apalah daya, memang sudah jalannya seperti ini, ya jalani saja. Semoga kedepannya hidup kami bisa lebih baik.


Mas Yudi suamiku sebenarnya tak tega melihatku pontang panting membantu perekonomian keluarga, tapi kalau nggak begini bagaimana bisa? ya kujalani saja sebisa dan semampuku.


# 2 bulan #

__ADS_1


Tak terasa kini cicilanku tinggal dua kali lagi akan lunas, akhirnya aku akan menghirup udara dengan nyaman tanpa mikir ini hari apa, udah ada uang buat bayar utang apa belum, intinya hidup dikejar-kejar utang itu nggak nyaman pakai banget. Tidurpun kadang bisa sampai mimpi ditagih utang.


Besok pembayaran kesembilan, alhamdulilah uangnya sudah ada dan siap dibayarkan, namun ternyata takdir benar-benar tak bersahabat denganku. Suamiku mengalami kecelakaan saat pulang bekerja. Aku bingung, benar-benar bingung. Padahal rencananya aku ingin bayar lunas cicilan yang masih dua kali bayar, namun karena ada musibah aku putuskan untuk memakai dulu uangnya, urusan bayar utang pikirkan nanti saja lah.


Ku titipkan anak-anakku pada bulek Harni, dan segera aku pergi ke puskesmas, disana ternyata mas Yudi sudah tidak ada, mengingat keadaannya yang butuh penanganan lebih lanjut, pihak puskesmas langsung mengirimnya kerumah sakit. Katanya sih ada pendarahan diotak kecilnya. Segera kupacu sepeda motor matic milik Bu Siti yang memang aku pinjam sebelumnya, Karena nggak mungkin kalau aku harus naik sepeda ke puskesmas sementara jaraknya cukup jauh dari rumah.


Sesampainya dirumah sakit aku langsung menuju IGD. Alhamdulillah aku bisa melihat mas Yudi yang tergeletak diatas brankar rumah sakit. Kulihat sepertinya mas Yudi tertidur, karena tak ada yang bisa aku tanyai disini, aku ingin keluar bertanya pada dokter jaga di IGD. Namun sebelum aku keluar, kulihat Mas Yudi badannya kejang-kejang, Ya Allah kenapa dengan suamiku? Aku tak peduli ini rumah sakit, tubuhku rasanya kaku tak bisa untuk berjalan keluar. Aku berteriak-teriak memanggil dokter dan suster, untungnya mereka segera berdatangan setelah mendengar teriakanku. Aku dipapah keluar oleh seorang suster, akupun menurut saja agar suamiku lekas diperiksa.


Cukup lama dokter dan suster berada dibalik ruangan yang hanya tertutup oleh gorden biru polos itu. Aku diluar mondar-mandir sambil berdoa berharap-harap cemas melihat suamiku yang kejang-kejang seperti tadi. Sebentar-sebentar aku melihat jam yang ada ruang IGD, hampir sepuluh menit tapi dokternya belum juga keluar, yang ada hanya suster yang keluar masuk mengambil perlengkapan- perlengkapan yang entah akan digunakan untuk apa.


Lelah mondar mandir aku pun duduk dikursi besi. Air mataku terus saja mengalir tanpa ku komando. Dengan derai air mata aku berdoa pada Sang Pemilik Takdir, aku berharap suamiku masih bisa bersama kami, menemani kami hingga anak-anak kami dewasa nanti.


Sejenak aku berpikir, kemudian kutanyakan pada dokternya yang masih menunggu di depanku menunggu keputusan yang aku ambil.


" Apa operasinya bisa pakai BPJS pak ?"


" bisa Bu, segera saja langsung diurus kebagian administrasi "

__ADS_1


" baik, saya mohon segera tangani suami saya dan lakukan dengan sebaik mungkin ya pak dokter "


" baik Bu ".


Lupa bertanya kemana arah menuju ke meja administrasi, aku malah kesasar masuk ke area bersalin. Beginilah kalau orang bingung, mau kemana malah nyasar kemana. Putar badan tengok sana sini, ada seorang wanita yang kuperkirakan umurnya lima puluhan tahun, aku bertanya pada beliau. Tapi beliau tak tau, akhirnya ada suster yang lewat dan aku bertanya padanya. Susternya baik, aku bertanya bukan dijelaskan arahnya kemana tapi aku diantar langsung menuju meja administrasi. Kuucapkan terimakasih berkali-kali padanya. Sungguh bila dihadapkan dengan situasi seperti ini, otakku benar-benar tak berfungsi dengan baik.


Kuurus administrasi untuk suamiku, alhamdulilah semuanya lancar, dan kini suamiku akan segera dioperasi. Kutanyakan terlebih dahulu dimana letak ruang operasi, dan aku berjalan dengan setengah berlari kesana. Tak peduli apa pandangan orang-orang yang melihatku. Entah mereka iba, kasihan atau penasaran akan apa yang tengah menimpaku. Yang jelas semua tak kupedulikan.


Sampailah aku kini didepan ruang operasi, melihat lampu yang belum dinyalakan sepertinya suamiku belum dibawa kesini.


Benar, baru juga aku duduk, aku melihat rombongan suster mendorong brankar dengan seorang pasien diatasnya. Itu suamiku, syukurlah dia cepat ditangani, pandanganku tertuju padanya hingga pintu ruang operasi itu ditutup. Tak lama kemudian lampu berwarna merah menyala, menandakan ada tindakan yang dilakukan didalam.


Terdengar suara adzan Maghrib, aku pergi menuju mushalla yang ada dirumah sakit. Lebih baik aku shalat dan berdoa daripada hanya duduk menunggu dan menangis.


Saat aku kembali, lampu masih menyala. Hampir satu jam lamanya suamiku didalam, entah apa saja dilakukan dokter dan suster pada suamiku itu, kenapa begitu lama sekali. Apakah mereka tidak tau bagaimana gelisahnya orang yang menunggu didepan ruang operasi ini.


Tepat saat adzan isya' dikumandangkan, lampu diruang operasi mati. Menandakan operasi sudah selesai, dag dig dug hatiku menunggu kabar keberhasilan dokter dan timnya didalam. Alhamdulillah kabar baik yang kuterima, sujud syukur langsung kulakukan ditempat.

__ADS_1


Kulangkahkan kakiku yang kini sudah terasa lebih ringan untuk melangkah. Tujuanku kembali ke meja administrasi guna mengurus ruang perawatan untuk suamiku.


Setelah mas Yudi dipindahkan keruang perawatan, dan kata dokter harus menunggu tiga sampai empat jam lagi untuk pasien bisa sadar. Aku memutuskan pulang kerumah terlebih dahulu, mengembalikan motor dan meminta bulek Harni menjaga anak-anakku beberapa hari kedepan sampai suamiku pulang dari rumah sakit.


__ADS_2