Niati Dengan Bismillah

Niati Dengan Bismillah
Diringankan


__ADS_3

Seminggu sudah mas Yudi dirawat dirumah sakit, dan selama itu pula aku bolak balik dari rumah kerumah sakit, anak-anak selalu dijaga bulek Harni. Walaupun ada drama yang katanya Ardan rewel dan nangis terus kalau malam sampai bulek Harni harus bergadang menenangkannya.


Mas Yudi sering sekali aku tinggal di rumah sakit sendirian, karena aku pulang dari rumah sakit saat adzan subuh, dan mulai memasak untuk jualan. Biar bagaimanapun aku butuh uang buat kebutuhan sehari-hari dan juga bayar hutang yang masih dua kali bayar. Sepulang jualan aku meluangkan waktu bersama anak-anakku. Barulah setelah anak-anak tidur siang aku pergi ke rumah sakit.


Beruntungnya kondisi mas Yudi langsung pulih pasca operasi, tidak ada keluhan-keluhan yang berarti. Jadinya aku tak terlalu khawatir bila harus meninggalkan suamiku sendirian di rumah sakit.


Biarpun sendirian tak ada yang menjaga, namun mas Yudi tak akan kesepian, karena mas Yudi berada di kelas III, kelas ekonomi dengan satu ruangan berisi enam orang pasien. Jadi semisal butuh bantuan, bisalah meminta tolong sama orang yang menjaga pasien di dekatnya, begitu pikirku.


Hari ini mas Yudi sudah boleh pulang, namun kalau obatnya habis harus kembali lagi untuk kontrol.


Lega sekali rasanya. Mak Plong rasanya mas Yudi sudah bisa istirahat dirumah. Aku tak perlu bolak balik dari rumah ke rumah sakit lagi, belum lagi ketika di rumah sakit pikiranku melalang buana memikirkan anak-anak ku dirumah.


Dengan Bismillah aku mengawali setiap hariku. Dan terlepas dari kejadian seminggu lalu, hari ini akan menjadi awal kisahku yang mungkin melelahkan. Membayangkannya saja aku merasa kalau hari-hariku akan berat. Bagaimana tidak, suamiku harus bed rest total selama tiga bulan kedepan. Otomatis mencari nafkah kini menjadi tanggung jawabku.

__ADS_1


Kadang terselip rasa sesal saat melihat teman sebayaku yang masih melajang. Sempat terpikir andai dulu aku tak nikah muda, mungkin hidupku bisa lebih baik dari sekarang.


Namun segera ku tepis rasa itu. Aku sadar, tak sepantasnya aku berpikir demikian, kuucap istighfar berkali-kali.


Saat baru sampai dirumah, banyak tetangga berdatangan menjenguk suamiku, alhamdulilah dari setiap tetangga yang datang, mereka menyelipkan rejeki untuk kami. Memang sudah menjadi kebiasaan warga disini, setiap ada yang kesusahan pasti akan berbondong-bondong membantu meringankan.


Bersyukurnya aku hidup dilingkungan yang mayoritas warganya saling peduli satu sama lain.


Karena banyaknya tetangga yang datang silih berganti, hari ini aku memutuskan untuk tidak berjualan. Takutnya dikira tidak menghargai tamu kalau maksa jualan, apalagi suami masih baru pulang dari rumah sakit. Pasti kalau aku jualan bakalan ada radio siaran langsung. Hidup dimasyarakat ya enaknya gotong royong saling membantu, nggak enaknya kalau apa yang kita lakukan menurut orang lain nggak pantas ya bakalan langsung jadi trending topik, kalau kata sekarang mah viral.


Sudah dua hari aku libur jualan setelah mas Yudi pulang dari rumah sakit, dan hari ini aku kembali jualan. Karena mas Yudi ada dirumah, jadi aku tak perlu menitipkan anak-anak pada bulek Harni.


Alhamdulillah daganganku selalu laris terjual. Ketika sampai dirumah aku berniat membersihkan rumah dan mencuci semua perkakas yang tadi aku gunakan untuk memasak, namun ternyata semua malah sudah dikerjakan oleh mas Yudi. Rasa bersalah menyelimutiku, tak enak hati rasanya membiarkan orang sakit harus mengerjakan pekerjaan rumah apalagi ditambah dengan cucian yang menggunung dan harus jaga anak pula. Saat kutegur mas Yudi hanya bilang kalau sudah sepantasnya mas membantu kamu Yuk, selagi mas bisa dan mampu, kenapa tidak? lagian kan bukan pekerjaan yang butuh tenaga banyak. Itu juga tadi mas kerjainnya sambil ngaso-ngasoan, kalau kerasa pusing atau capek ya langsung istirahat bentar baru lanjut lagi.

__ADS_1


Terharu aku rasanya, entah apa yang dipikirkan mas Yudi? apakah ia merasa bersalah karena tak bisa mencari nafkah? tapi kan ini semua bukan salahnya, ini sudah takdir dari Sang Pencipta. Aku hanya bisa menasehati agar besok mas Yudi tak perlu mencuci perkakas yang aku gunakan untuk masak, cukup menyapu rumah sama jagain anak-anak saja.


Hari ini jadwal kontrol mas Yudi, aku menitipkan anakku ke bulek Harni lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena kerabat terdekat kami memang hanya bulek Harni, sementara aku anak tunggal dan kedua orang tuaku juga sudah meninggal. Bapakku meninggal saat aku masih SD sedang ibuku meninggal dua bulan setelah kelahiran Lina anyak pertamaku. Dan aku tak tau apakah aku masih punya kerabat baik dari bapak maupun ibu. Karena mereka dulu tak pernah mengajakku berkunjung kerumah siapapun, bahkan kakek dan nenek pun aku tak punya. Sebenarnya ada rasa penasaran, hanya saja enggan untuk menanyakan. Karena pernah bertanya sekali dan ibu langsung pergi ke kamar tanpa keluar lagi. Semenjak itu aku sudah tak ingin tau lagi mengenai saudara, kerabat atau bahkan nenek kakek. Biarlah aku hanya berdua dengan ibuku saja asal bisa bahagia.


Aku dan mas Yudi berangkat ke rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor yang sudah diperbaiki, awalnya aku menolak, namun setelah dibujuk oleh mas Yudi dan juga bisa hemat ongkos, ya baiklah aku setuju, dengan syarat pelan-pelan saja, tak perlu buru-buru.


Sebelumnya kami mengantarkan Lina dulu ke sekolah, dan meminta tolong sama Bu Rosita kalau nanti menjemput anaknya agar sekalian membonceng Lina dan mengantarkannya ke rumah bulek Harni, alhamdulilah Bu Rosita bersedia. Jadinya aku tak perlu risau kan lagi gimana nanti anakku pulang.


Setelah mengantri cukup lama, akhirnya kini giliran mas Yudi masuk ruang periksa, aku tak mau ketinggalan, aku turut serta masuk kedalam ruangan, melihat dokter memeriksa suamiku dan memberikan beberapa pertanyaan perihal keluhan apa saja yang dialami dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab suamiku. Sudah kayak interview saja, jlimet banget pertanyaannya.


Meskipun dari sekian banyak rentetan pertanyaan dan dijawab dengan hanya keluhan-keluhan kecil, mas Yudi tetap harus kontrol dua Minggu lagi.


Huh dua Minggu sekali harus kontrol, semoga tidak berlanjut sampai ketiga bulan berikutnya. Karena jujur saja aku sudah puyeng mikir cara buat nyari duit. Karena utang cicilan ke Bu Sulis masih satu kali bayar lagi.

__ADS_1


Alhamdulillah Bu Sulis Minggu lalu cukup pengertian karena tau suamiku kecelakaan, jadinya dikasih waktu libur dua Minggu, dan Minggu ini sudah ku bayar. tinggal Minggu berikutnya.


Tapi aku bingung dengan apa mau bayar, karena hasilku jualan hanya cukup buat makan sehari-hari dan buat beli jajan anak. Masa aku harus nyari pinjaman lagi? ke siapa? hadeehh mumet kepalaku kalau harus mikirin cara dapet duit.


__ADS_2