
"Kenapa kau beli semua ini? Bukankah semua barang ini begitu mahal? hari gajianmu kan masih lama"
"Aku ada kerjaan di Mall. Kakak dan Ara kan sudah lama tidak membeli baju baru"
_________________________________
"Celine, apa terjadi sesuatu?" Cali yang saat itu berniat ingin mengambil minum malah mendapati Celine yang tengah melamun dengan wajah yang benar-benar tidak bisa dikatakan baik
"Sesuatu apa. Nggak ada apa-apa, kok"
"Ceritalah, aku akan dengarkan"
"Kak...!" Cali langsung membawa tubuh Celine kedalam pelukannya, mengelus punggung Celine yang bergetar. Cali membiarkan Celine menangis untuk beberapa saat, sampai Celine cukup tenang untuk menceritakan masalahnya
"Ya ampun, dasar pria jahat! kalau begitu, apa alasan dia menciummu?!"
"Itu bukan salah pak CEO, karena aku yang memintanya duluan"
"Memangnya ada orang yang mencium siapa pun karena diminta? kenapa ada orang yang gampangan seperti itu?!"
Cali menghela nafas lalu mengelus kepala Celine dengan lembut "... jadi wanita itu juniornya saat kuliah?"
Celine menyenderkan kepalanya di bahu Cali "Senangnya karena aku punya kakak dan Barbara. Aku nggak bisa hidup tanpa kalian. Kak.. Sekarang aku akan menyerah"
__ADS_1
"Apa? ciuman? dengan Celine dari tim perencanaan???"
"Ini bukan masalah besar. Nggak ada yang perlu di ributkan"
"Bukan masalah besar, katamu?!"
Mark yang awalnya terkejut. Menatap Albert dengan tatapan mengejek "Aku sudah melihatmu menolak banyak wanita dari tahun pertama kita kuliah!
"Tapi kau bilang mencium wanita itu bukan masalah besar? hah?"
Mark mendekatkan tubuhnya. Menatap Albert penuh curiga "kenapa kau melakukannya? apa kau punya perasaan padanya?"
"Jangan sembarangan bicara. Aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Aku cuma melakukannya karena dia memintanya"
Albert tersentak ia menatap mata Mark yang dipenuhi rasa penasaran itu dengan lekat. Entahlah, kenapa aku melakukannya?
"...Aku cuma merasa hot latte itu enak"
"Hah?!"
Semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuaku. Aku berusaha keras untuk mengembalikan kejayaan IONE Group, apa pun caranya. Jadi aku selalu bersikap tegas kepada karyawan.
Tentu saja aku tahu apa yang mereka bicarakan di belakangku. Mana mungkin aku tidak tahu. Namun, pegawai baru yang bergabung tiga tahun yang lalu berbeda.
__ADS_1
Dia cantik, penampilannya sederhana. Pakaian yang ia kenakan terlihat sudah kuno. Rambut yang tidak diwarnai atau dikeriting. Tidak ada bagian dari dirinya yang terlihat mencolok. Tapi mau tidak mau aku mengingat satu-satunya wajah yang selalu tersenyum dan menyapaku.
"Apa dia tidak takut padaku?" setia aku memarahinya, dia tidak pernah berkecil hati.
Saat itu salju pertama turun dan 1 cup hot latte yang terletak di ruangan Alwyn dengan secarik kertas yang bertuliskan 'untuk pak CEO :)'
"Pagi tadi pak CEO dapat 1 cup hot latte? dari siapa?"
"Celine dari tim perencanaan"
"Ya ampun, bagaimana bisa?"
"Entahlah. Seleranya benar-benar unik"
Aku juga berpikir begitu
"Aku tanya apa yang kau mau dariku"
Kata-kataku itu cukup tulus. Setelah hari itu, aku ingin membalas senyuman dan hot latte yang dikirimnya setiap hari, meski tidak dapat menerima perasaannya
"Ciuman"
Tapi aku tidak bisa mengatakan kalau aku mengabulkan permintaannya dengan alasan hot latte-nya enak, karena aku tidak ingin dia memiliki harapan pada ciuman tanpa perasaan itu.
__ADS_1
"Intinya, dia wanita yang tidak perlu aku pedulikan"