
#POV noufal prambumi
Tidak pernah sekalipun hatiku berpaling dari seorang aneukeu. Wanita tangguh, mandiri dan tentu saja menggairahkan. Walaupun sekarang takdir tuhan tidak bisa di kendalikan.
Aku harus menerima permintaan umi dan abi untuk menikahi wanita bernama saima khumaira. Wanita idaman umi dan abi. Tapi, tidak denganku.
Sejauh ini. Aku seperti manusia tanpa jiwa. Di arahkan oleh kedua orangtua. Menjalaninya tanpa daksa. Andai saja aneukeu tahu mungkin ia yang akan lebih tersiksa dengan keadaan jiwa ku seperti di neraka dan raga ku semisal di surga.
Kini, aneukeu telah meninggalkan ku tanpa permisi, wanita itu terlalu berani melangkah pergi. Meninggalkan bumi pertiwi untuk meraih kesuksesaan sejati.
Aneukeu . . . Kalau saja aku tahu jika pertemuan di cafe itu adalah yang terakhir. Mungkin, aku tidak akan hanya diam saat dirimu menuntut kejelasan.
Aku kehilangan dirimu dan tidak mampu menjangkau keberadaanmu. Kalaupun aku mampu ingin sekali menyudahi drama palsu yang sedang aku perankan.
Aku tidak sanggup menyakiti umi dan abi. Tidak rela merendahkan kehormataan mereka. Sebab, sebetulnya aku tidak ingin bersanding dengan saima.
Kata orang saima calon istri yang sempurna. Wanita sholehah calon penghuni syurga. Namun, entah mengapa bagiku kamu segalanya.
Aku terus saja menunda sekuat usaha mengulur waktu untuk menikahinya. Jika manusia tidak mengenalku sebagai seorang ustadz pengayom semua orang. Bisa saja aku melangkah sesuka hati.
Tidak peduli akan seperti apa yang akan terjadi. Tapi, itu semua hanya ilusi. Nyatanya, aku masih pura-pura bahagia meskipun sesungguhnya menderita.
Kamu benar aneukeu. Aku memang egois. Aku tidak pernah menjadi diriku. Karena, tuntutan orangtua dan profesi. Hanya dengan dirimu aku bisa menunjukan keaslian pribadiku.
Kali ini. Aku merasa frustasi. Sedangkan, rasa bersalah terhadap dirimu semakin kentara seiring banyaknya berita bahwa kamu meninggalkan banyak cinta hanya untuk sekedar ingin bersama dengan pria seperti ku.
Aku kira. Kamu kuat ! Dan mampu mengobati luka yang aku berikan. Ternyata, langkahmu di luar dugaanku. Kamu pergi sangat jauh bahkan serius untuk meninggalkanku yang tak mampu memberi jawaban atas segala harapan.
-----####-----
Kepergianmu adalah hantaman untuk ekspektasi yang tidak terrealisasi. Beberapa minggu lalu aku menghadiri reuni pondok pesantren. Di sana, aku bertemu dengan syam. Syamsir lubis banyak cerita tentang kamu.
Aku baru tahu kalau syam pernah ingin melamarmu. Dan waktu yang syam ceritakan tepat setahun kita bersama. Kamu menolak syam sebab kamu bukan perawan.
Kata syam. Alasan dia tidak jadi melamarmu bukan karena tidak perawan. Karena, syam mampu menerima kenyataan itu. Alasan terbesarnya adalah syam tahu kalau kamu sedang menungguiku.
Dalam diammu. Ternyata, sangat tangguh memperjuangkanku. Bahkan, rela meninggalkan seseorang yang sangat kamu harapkan saat itu. Aku seolah menjelma menjadi lelaki bodoh. Menyia-nyiakan kesungguhan yang menggelayutiku selama 3 tahun itu.
"Sekarang aneukeu di luar negri kan fal ?" Tanya syam di tengah parasmanan.
"Gak tahu persis. Soalnya nomer aku di blokir begitupun dengan sosial media ku." Jelas noufal
"Wah, kok bisa ? "
"Tidak tahu. Mungkin, dia tidak ingin aku ganggu."
"Aneukeu memang wanita yang teguh pendirian dan tentu saja hebat." Bangga syam di depan noufal yang masih menatap sendu hidangan.
"Nih, liat. Semakin wah aja kan kehidupannya ?" Syam menunjukan sebuah foto di akun instagram peribadinya.
Noufal memandangnya penuh takjub. Wanita yang ia rindukan terlihat manis, di sana wanita itu terlihat sedang berada di sebuah cafe bersama seseorang. Foto tersebut lengkap dengan caption sebuah hati.
"Kamu masih berteman ? Suka chatan gak ? Atau telponan ?" Tanya noufal
"Masih. No WAnya juga ada. Kamu mau ?" Tawar syam
"Boleh, sini." Nomor aneukeu sudah tersimpan di daftar kontak noufal.
Ada harapan untuk menyambung ulang rasa yang telah lama hampa. Sudah satu tahun dari pertemuan waktu itu. Noufal sudah berstatus tunangan orang. Tapi, aneukeu masih lajang.
Meskipun kecewa. Penuh luka, hidup harus tetap berlanjut. Terlepas dari segala kenyataan yang tidak sesuai harapan.
----####------
Setelah mendapatkan nomor dari syam. Seolah aku menemukan nyawa yang hilang, ragu untuk memulai. Ingin sekali menyapa dan berbagi cerita. Tapi, masihkah aneukeu sudi ?
__ADS_1
"Neu." Awal percakapan tanpa salam aku kirim di pertengahan malam.
"Ia." Balasan dari belahan dunia sana akhirnya datang.
"Ini aku noufal." Balasku sopan
"Oh, noufal." Balasnya singkat
"Ia, masih ingat ?" Tanyaku cepat
"Masih. Ada apa ?"
Ada apa ? Sedingin itukah jawaban dari wanita yang katanya sangat menginginkanku ? Dulu, wanita ini akan bersemu-semu jika ku kirim pesan. Riang gembira saat ku memulai percakapan. Tapi, sekarang seolah dia oranglain yang baru ku kenal. Kemana aneukeu yang ku kenal ?
"Gimana kabarnya ?" Tanyaku lagi
"Baik, kamu ?"
Ada perasaan lega saat dia menanyakan kabar. Hal remeh yang dulu aku anggap lebay. Namun, kini rasanya sangat menyenangkan.
"Aku baik-baik saja neu, aku rindu." Ungkapku tak tahan
"Jangan rindu. Kamu sudah tunangan orang, sebentar lagi menikah. Bukannya dari dulu kita hanya teman ? Lebih tepatnya, teman seranjang ?"
Nyesss . . . Hatiku tak karuan, rasanya terhunus belati, tertusuk pedang, tertancap panah. Hancur berkeping berdarah-darah lalu bernanah. Darimana aneukeu tahu kalau aku sudah tunangan ?
"Neu, maafkan."
"Tidak ada yang harus di maafkan. Harusnya aku sadar. Aku memang di butuhkan di atas ranjang. Tidak di butuhkan di atas ijab kobul yang di sahkan."
Lagi, pertahananku runtuh, tubuhku luruh di atas lantai beralaskan karpet bludru. Malam yang serasa mencekam mampu memeluk harapan yang hilang.
"Neu, bencikah kamu terhadap ku ?"
"Neu, darimana kamu tahu aku sudah tunangan ?"
"Kita memang berada di daratan yang berbeda. Tapi, kita masih berada di atas langit dan bumi yang sama."
"Apakah syam yang memberitahu kamu ?"
"Bukan. Adikmu yang memberitahu ku."
"Kenapa ?"
"Jangan salahkan adikmu. Sebelum aku berangkat ke luar negri. Aku menitipkan dirimu kepada adikmu. Aku tidak tinggal diam. Aku mencari tahu alasan yang kamu sembunyikan."
"Apakah adikku memberitahukan semuanya ?"
"Ya. Semuanya. Tanpa terkecuali. Oh, ia selamat untuk pernikahan yang sebulan lagi akan kamu langsungkan."
"Neu, aku . . ."
Andaikan, Andaikan, Andaikan waktu bisa di putar ke masalalu. Ingin sekali, menjelaskan oleh diri sendiri. Dengan begitu aneukeu akan memberi kesempatan.
Sepertinya aneukeu sudah sanggup melupakan. Tapi, aku baru merasakan takut kehilangan. Semuanya terlambat. Aneukeu sudah tahu dari adiku sendiri.
Neu . . . Aku tidak tahu akan seperti apa perjalanan pernikahanku dengan wanita pilihan umi dan abi ?
----####--------
Pernikahanku telah di langsungkan. Sangat meriah dan banyak orang yang datang. Mereka bersuka cita atas pernikahan impiannya. Senyumku di buat merekah seolah bahagia. Wanita di sampingku sangat cantik dengan gaun pengantin adat sunda.
Saima memang cantik. Bersuara merdu, berasal dari keluarga ulama. Seorang putri bungsu kesayangan kiyai. Pemilik pondok pesantren terkenal di kota ku.
Pantas saja, seluruh keluargaku menyambutnya dengan tangan terbuka. Menantu idaman semua orangtua. Suka ataupun tidak aku harus tetap bersandiwara.
__ADS_1
Ada rasa bangga di sanjung banyak orang. Tapi, wanita di sisiku tidak mampu menggantikan wanita di sana. Meskipun segala kelebihan tersemat di sosok yang sekarang menggandeng tanganku. Tetap saja ada hal luar bisa yang aneukeu miliki tidak ia punyai.
Wanita yang kini sedang menyuapiku dengan sepotong kue memang telah menjadi pemenang. Namun, sang juara tetaplah wanita di perantauan.
Ikatan kita telah sah di mata hukum dan agama di tambah bukti kuat buku nikah. Wanita yang kini sedang malu-malu berpose mencium pipiku tidak tahu. Kalau, raga dan jiwaku telah di jamah wanita lain yang tidak bisa aku lupakan.
Aku terus saja membayangkan. Tidur seranjang dengan wanita yang tidak aku harapkan, memadu kasih dengan wanita lain. Tega sekali diriku ini ! Aku tahu agama, hapal semua hadis, amalan tentang pernikahan, kewajiban suami terhadap istri. Namun, tetap saja hatiku menangis jiwaku berontak menolak untuk melaksankan sunnah rasulNya.
Sering kali aku merasa marah terhadap tuhan. Yang telah menciptakan rasa cinta. Tapi, tak bisa aku tuntaskan sebab terhalang restu orangtua.
Tidak berani menentang keinginan orangtua membuat ku terus menyembunyikan keberadaan aneukeu di hati dan kehidupanku. Hingga akhirnya aku harus mengucap ijab atas nama saima khumaira bukan lagi aneukeu puspa purna.
Aku tidak seberani aneukeu. Yang meninggalkan banyak cinta hanya untuk menungguku bersedia. Saat aku coba menunjukan foto aneukeu di hadapan umi dan abi. Mereka langsung mencebik berkata hal yang menyakitkan hati. Andai saja, aneukeu tahu mungkin dia akan terinjak harga dirinya saat orangtuaku bilang "tinggalkan wanita itu. Umi dan abi sudah punya calon buatmu".
Apa yang salah jika aku ingin aneukeu yang menjadi istriku ? Apa aku seorang ustadz ? Di pandang paham agama ? Di sangka taat ibadah ? Di kira pengayom jamaah ? Padahal aku pendosa.
Apa yang salah dengan aneukeu ? Wanita karir, pendidikannya tinggi, mandiri, cerdas, dan tentu saja menggairahkan. Hanya saja, memang tidak mengenakan jilbab syar'i. Setidaknya aneukeu juga berhijab dan mampu menempatkan posisi di setiap kondisi.
Aneukeu memang berasal dari keluarga broken home, keluarga miskin, lingkungan yang buruk, pergaulannya luas, kenalannya dimana-mana. Tapi, dia bisa mengangkat harkat drajatnya, memuliakan dirinya, memantaskan hidupnya.
Bahkan untuk beberapa waktu. Aku yang merasa tidak percaya diri untuk memiliki aneukeu.
"A, teh aneu masih di luarnegri ?" Tanya adikku setelah resepsi usai.
"Aneu, kamu ada komunikasi sama dia ?" Tanyaku kaget sambil berbisik.
"Ini." Adikku menyerahkan ponselnya. Aku membuka chat dari akun aneukeu93.
"De, bilangin sama a noufal. Semoga bahagia atas pernikahannya. Maafkan teteh yang sudah lancang masih mengingat sosoknya. Usai sudah penantian teteh, teteh lega juga bahagia. Mulai sekarang teteh akan segera melupakannya."
Ternyata. Aneukeu masih terus saja mengingatku. Aku kira, sejak terakhir aku chat dia. Dia sudah benar-benar melupakan aku.
"De, emang aneu bilang apa lagi ?" Tanyaku antusias
"Baca aja terus a." Tawar adiku cepat.
"Emang teteh lega kenapa ?" Tanya adikku di lanjutan chat.
"Tth lega. Janji teteh sudah lunas. Dulu, kan teteh punya janji akan nungguin a noufal nikahin teteh sampai kapanpun. Tapi, kalau a noufal bukan jodoh teteh. Teteh akan nungguin a noufal nikah duluan."
"Kok gitu teh ?"
"Ya, teteh gak tenang aja. Kalau teteh harus nikah duluan. Teteh mau mastiin kalau a noufal bahagia dengan pilihannya."
Sebesar itukah rasamu aneukeu ? Menunggu laki-laki yang menerima keadaan begitu saja bahkan untuk memperjuangkan wanitanya pun dia tak mampu.
Tahu kah kamu aneukeu ?
Ini bukan pilihanku ini semua pilihan orangtuaku, ini bukan alur hidup yang aku mau, ini semua keinginan orangtuaku.
"A, teh aneu gak aa kasih tahu kalau pernikahan ini dari perjodohan ?" Tanya adikku pelan.
"Tidak de. Aku gak mau aneu ikut merasakan kegetiran yang selama ini aa terima." Jawabku dengan gelengan
"Tapi, ini salah a. Harusnya aa bicarakan semua yang terjadi dengan teh aneu dengan begitu aa tidak salah banget kesannya di hadapan teh aneu."
"Nggak de. Biarkan saja aneu benci aa. Aa tidak mau aneu tahu kalau umi dan abi tidak menginginkannya untuk menjadi menantu."
"Ya sudah. Terserah aa aja." Jawab adiku sambil beranjak dari kursi pelaminan.
Malam ini aku ingin pergi jauh dari segala kewajiban yang sama sekali tidak aku inginkan.
Aku butuh aneukeu, sisi lain dari diriku sedang menggebu-gebu ingin menerkam segala kepalsuan.
Biarkan sang malam berlalu tanpa kehangatan. Aku memutuskan untuk meninggalkan peraduan, beranjak dari samping wanita yang sekarang sedang terbaring dengan lingerie menerawang.
__ADS_1