NiLaM (Nikmatnya Love After Married)

NiLaM (Nikmatnya Love After Married)
Bab 12


__ADS_3

Hari itu di kampus saat Niken sedang mencari bahan untuk tugas salah satu mata kuliahnya ketika secara tak sengaja  pandangannya tertuju pada deretan rak buku-buku religi ia tertarik pada sebuah buku berjudul "Pentingnya Hijab dalam Kehidupan Muslimah." Warna hijau elegan pada sampul buku itu menarik perhatiannya, dan dengan penasaran, ia mengambilnya dari rak tersebut.


Niken mulai membaca buku tersebut, membenamkan dirinya dalam setiap kata yang tertulis. Halaman demi halaman, ia mulai memahami arti dan makna dari hijab dalam kehidupan seorang Muslimah. Buku itu membuka mata Niken pada aspek-aspek yang belum pernah ia pertimbangkan sebelumnya.


Sementara Niken membaca, bayangan dirinya dengan hijab tergambar dalam pikirannya. Ia berpikir tentang bagaimana penampilannya akan berubah, tentang reaksi teman-temannya yang selama ini terbiasa melihatnya dengan gaya tomboynya yang khas. Keraguan mulai merayapi pikirannya.


Keraguan itu timbul karena Niken tidak pernah menganggap penampilan sebagai hal yang penting. Baginya, kepribadian dan kecerdasan adalah yang utama. Namun, buku tersebut membantunya melihat hijab


sebagai simbol penghormatan pada agamanya dan cara untuk mengekspresikan keimanan serta nilai-nilai yang ia anut.


Seiring dengan pencerahan yang ia dapatkan dari buku tersebut, Niken mulai merenung tentang dirinya sendiri. Ia berpikir tentang kehidupan spiritualnya yang belum pernah ia perhatikan secara mendalam. Ia mempertanyakan apakah penampilannya selama ini sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ia sampaikan.


Namun, sembari merenung, keraguan pun muncul. Apakah Niken siap untuk mengubah penampilannya dan mengenakan jilbab? Bagaimana reaksi teman-temannya, apakah mereka akan menerima perubahan itu atau justru


menjauh darinya? Apakah ia akan kehilangan jati dirinya atau justru menemukan sesuatu yang lebih dalam tentang dirinya?


Momen penting di perpustakaan itu telah memicu perdebatan batin dalam diri Niken. Ia merasa terjebak antara mempertahankan penampilannya yang selama ini ia cintai atau mengambil langkah baru dengan memakai jilbab. Semuanya terasa rumit dan membingungkan.


Dalam keraguan yang melingkupinya, Niken menyadari bahwa ia harus mencari jawaban sendiri. Ia memutuskan untuk membaca lebih banyak, berbicara dengan orang-orang yang dapat memberikan wawasan, dan merenungkan pentingnya hijab dalam hidupnya.


Momen di perpustakaan itu telah menjadi titik balik bagi Niken. Dengan buku tentang hijab sebagai pemicu, ia merasakan adanya kekuatan baru yang mendorongnya untuk menggali lebih dalam mengenai keimanan dan identitasnya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul menjadi tantangan bagi dirinya, tetapi juga menjadi jalan untuk menemukan diri yang sebenarnya.


Perjalanan Niken dalam menemukan jawaban dan mengatasi keraguan serta konflik batinnya akan terus berkembang seiring berjalannya cerita. Apakah ia akan memilih untuk memakai jilbab atau mempertahankan


penampilan lama yang familiar? Semua itu akan terungkap dalam momen penting yang akan datang.


Keraguan dalam diri Niken terus bergelora sejak momen penting di perpustakaan. Ia menghadapi konflik antara menjaga penampilan lama yang ia cintai dan memilih untuk mengenakan jilbab sebagai ekspresi keimanan. Namun, semakin banyak Niken membaca dan berbicara dengan orang-orang yang berpengalaman, semakin jelas ia melihat arti yang lebih dalam dari hijab.

__ADS_1


Niken mulai mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang hijab dan mengapa ia begitu penting dalam kehidupan seorang Muslimah. Ia membaca buku-buku, mengikuti kuliah online, dan berdiskusi dengan teman-teman yang lebih berpengalaman. Melalui proses ini, Niken mulai mengerti bahwa hijab adalah simbol penghormatan pada agama, pengingat akan kewajiban sebagai seorang Muslimah, dan perlindungan dari godaan yang dapat menggoda keimanan.


Namun, walaupun Niken semakin mengerti pentingnya hijab, keraguan masih menghantuinya. Ia bertanya-tanya tentang bagaimana jilbab akan mempengaruhi hubungan sosialnya. Ia merasa cemas tentang reaksi teman-temannya, apakah mereka akan menerima perubahan ini atau malah menjauhinya. Perasaan takut akan penolakan mulai menghalangi langkah-langkahnya.


Dalam momen-momen ketidakpastian tersebut, Niken mencoba menemukan dukungan dari orang-orang yang mengerti perjuangannya. Teman-teman yang sejalan dengan nilai-nilai agamanya memberikan semangat dan


memberikan contoh bagaimana hijab tidak akan menghalangi kehidupan sosialnya. Mereka meyakinkan Niken bahwa teman-teman sejati akan tetap ada dan menerima perubahan tersebut. Dan teman-teman yang dimaksud adalah para muslimah yang aktif  di organisasi Rohis Fakultas IPS salah satunya adalah Sofia dan Sriyani menjadi tempat ia bertanya dan belajar. Sriyani maupun Sofia pun menyambut dengan hangat niatan Niken untuk memperdalam urgensi hijab bagi seorang perempuan muslimah.


Niken mengetuk pintu ruang divisi mading rohis, “ Sofia dan Sriyani Hei, ini Niken. Boleh masuk?”


Sofia: membuka pintu dengan senang Oh, Niken! Tentu saja, silakan masuk! Jarang sekali kami melihatmu mencari nasihat dari kami. Ada apa?


Niken masuk ke dalam ruangan itu dengan perasaan gugup, “Jadi, begini... Aku sudah banyak berpikir akhir-akhir ini, dan aku ingin berbicara dengan kalian berdua tentang sesuatu yang penting.”


Sriyani tersenyum hangat, “tentu, Niken. Kami di sini siap mendengarkan. Apa yang ingin kau sampaikan?”


Sofia mengangguk, “Senang mendengarnya, Niken. Menggunakan hijab adalah bagian penting dari keyakinan kami, dan memiliki makna yang mendalam bagi kami.”


Sriyani tersenyum memberi semangat, “Hijab bukan hanya aspek fisik semata; ia melambangkan kesopanan, menghargai diri sendiri, dan keinginan untuk menyenangkan Allah. Ini adalah cara untuk terhubung dengan diri batin kita dan menjaga hubungan yang kuat dengan keyakinan kita.”


Niken mendengarkan dengan saksama, “Mengerti. Tapi, tahu kan, aku selalu tipe cewek tomboi yang santai. Menggunakan hijab rasanya seperti perubahan besar bagiku. Benarkah cocok dengan kepribadianku?”


“Niken, hijab tidak mendefinisikan tipe kepribadian tertentu. Ini adalah pilihan pribadi, dan tentang merangkul siapa


dirimu sambil selaras dengan keyakinanmu. Kau tetap bisa menjadi dirimu sendiri dan mengenakan hijab. Ini tidak akan mengubah siapa dirimu di dalam,” balas Sofia sambil tersenyum


Sriyani mengangguk, “Sofia benar. Mengenakan hijab tidak berarti kehilangan jati diri; malah, ia memberdayakanmu untuk menjadi dirimu sendiri dan memperkuat keyakinanmu.”

__ADS_1


Niken merenungkan kata-kata mereka, “Aku belum pernah memikirkannya seperti itu. Aku rasa aku khawatir akan kehilangan diri sendiri, tapi sekarang rasanya berbeda.”


Sofia memberi semangat, “Ingat, Niken, ini adalah perjalanan. Seperti perubahan dalam hidup, butuh waktu untuk beradaptasi dan tumbuh.”


Sriyani tersenyum, “Benar. Dan kami akan selalu mendukungmu dalam perjalanan ini. Kau bisa selalu mencari kami jika ada pertanyaan atau membutuhkan nasihat.”


Niken berterima kasih, “Terima kasih, kalian berdua. Aku senang bisa berbicara dengan kalian tentang ini. Rasanya seperti ada beban yang terangkat dari bahu.”


Sofia tersenyum penuh kasih, “Kami senang bisa membantu, Niken. Ingatlah, kita semua berada di jalur unik kita sendiri, dan yang penting adalah niat di balik tindakan kita.”


Sriyani mengangguk, “Betul. Ambil waktu, pelajari, dan tumbuhlah dengan ritme yang sesuai denganmu.”


“Kami akan selalu mendukungmu dalam setiap langkah, Niken. Keputusanmu ini sangat berarti,” timpal Sofia


Sriyani sambil tersenyum, “Selamat datang dalam perjalanan hijab, Niken. Kau tidak akan menyesalinya.”


Melalui dukungan dan inspirasi ini, keraguan dalam diri Niken mulai berkurang. Ia mulai memahami bahwa mengenakan jilbab adalah keputusan pribadi yang akan memberikan dampak positif dalam kehidupannya. Tidak hanya sebagai tanda keimanan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai yang ia anut dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan.


Ada satu momen kala Niken dengan hati-hati mencoba mencopot topi putih kesayangannya dan menggantinya dengan jilbab yang ditemukan di dalam lemari. Mencoba sebuah kepantasan dalam berpenampilan. Ia mengambil


langkah pertama dalam perjalanan baru ini. Saat melihat cermin, ia melihat dirinya dengan pandangan baru. Ia merasa teguh dalam keputusannya dan siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang.


Meskipun masih ada keraguan yang menyelinap di pikirannya, Niken tahu bahwa ini adalah langkah yang tepat baginya. Ia mengerti bahwa perubahan tidak akan selalu mudah, tetapi ia siap untuk menghadapinya dengan penuh keyakinan dan keberanian.


Momen penting di perpustakaan telah membuka mata Niken terhadap pentingnya hijab dan memberinya keberanian untuk mengambil langkah maju. Ia siap menemukan jati dirinya yang sebenarnya dan menemui


tantangan baru dalam hidupnya. Perjalanan Niken belum berakhir, namun dengan keberanian dan keteguhan hati, ia akan terus melangkah maju untuk mengejar kehidupan yang lebih berarti.

__ADS_1


__ADS_2