
Esok harinya di kampus sesuai dengan niat Niken sebelumnya bahwa ia akan mencoba memakai hijab setelah mencoba-coba di rumah semalamnya dan juga setelah sempat berdialog panjang dengan sang tadi malam.
Saat memasuki gerbang kampus terutama saat Niken memasuki wilayah gerbang Fakultas IPS cukup banyak mata yang memandang kaget, surprise dan mungkin juga kagum dengan tampilan Niken terkini meski masih tetap juga nemplok ciri khasnya yaitu topi putih yang ia selalu pake dalam posisi miring di kepalanya.
Saat memasuki kelasnya bahkan teman-teman sekelasnya bertepuk tangan melihat progres yang ditunjukkan oleh Niken dengan penampilan barunya itu.
“Huhuuuyyyyyy.....!” teman-teman sekelas bertepuk tangan sambil tertawa melihat Nike pagi itu.
“Iiihhh...pangling aku liat kamu, Ken!” kata beberapa temannya bahkan mereka minta selfie bersama Niken untuk foto bersama
Mira yang datang agak belakangan juga kaget bukan kepalang melihat perubahan drastis sahabatnya itu.
“Gila kamu, ken! Koq bisa sih?” tanya Mira sambil bengong terbelalak melihat sahabatnya sekarang
“Emangnye kenapeee? Hehehe!” balas Niken sambil tertawa geli melihat Mira bengong kaget gitu.
“Siapa yang nyuruh kamu, Ken? Ayahmu? Atau si alim itu? atau siapa?” tanya Mira bertubi-tubi karena penasaran.
“Mo tau aja atau mo tau bangetttt?” goda Niken masih terkekeh-kekeh
“Bangetttt!” balas Mira sambil mencubit lengan Niken
“Awww...aduhhh...sakit tauu!” Niken meringis kesakitan karena cubitan Mira yang sampe berbekas merah di kulit lengannya itu.
Kini giliran Mira yang tertawa melihat sahabatnya meringis kesakitan.
Seusai serius mengikuti kuliah pertama hari itu. Mira kembali membahas tentang penampilan Niken.
"Niken, apa yang terjadi? Kamu berubah sekali!" nampaknya Mira belum selesai rasa penasarannya
"Iya, Mira. Aku memutuskan untuk berhijab."
"Berhijab? Tapi kamu kelihatannya selama ini selalu nyaman dengan penampilanmu yang dulu."
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku ingin mencari makna hidup yang lebih dalam. Aku ingin dekat dengan agama dan merasa lebih baik dengan diri sendiri."
"Tapi Koq, tiba-tiba begitu? Ada apa, Niken? Apa yang membuatmu memutuskan ini?"
"Ini adalah hasil dari banyak pertimbangan dan diskusi dengan teman-teman. Aku merasa ada kehampaan dalam hidupku yang perlu aku isi dengan hal yang lebih bermakna."
"Jadi, ini ada hubungannya dengan Alam, bukan?"
Niken mengernyitkan dahi, "Alam? Apa hubungannya dengan dia?"
Mira berusaha menutupi kecurigaannya, "Tidak apa-apa, mungkin hanya kebetulan. Tapi kamu yakin dengan keputusan ini?"
"Aku ingin mencoba, Mira. Aku merasa ini adalah langkah yang tepat untukku."
"Tapi teman-teman sekelas kita pasti akan banyak bertanya-tanya. Apa yang akan kamu jawab?"
"Aku akan jujur pada mereka. Ini adalah pilihan hidupku, dan aku tidak ada alasan untuk menyembunyikannya."
"Aku tahu, Mira. Tapi aku tidak bisa hidup untuk menyenangkan orang lain. Aku harus hidup untuk diriku sendiri, dan untuk hubunganku dengan Tuhan."
"Aku masih tidak yakin dengan ini, Niken. Tapi, jika ini benar-benar membuatmu bahagia, yahhh....akan hanya bisa mensupport apa yang menurutmu itu berguna untukmu."
"Terima kasih, Mira. Itu berarti banyak bagiku."
Perjalanan Niken dalam memaknai pilihan hidupnya berlanjut dengan banyak pertanyaan dan pandangan dari teman-teman sekelasnya. Meskipun awalnya Mira ragu dan tidak sepenuhnya setuju, dia akhirnya menyadari bahwa ini adalah perubahan penting bagi Niken dan dia harus mendukung sahabatnya. Niken, dengan tegar dan penuh keyakinan, menjalani perubahan hidupnya dengan berhijab, menemukan kedamaian dalam diri sendiri, dan
semakin dekat dengan agamanya.
Dalam perjalanannya, Niken belajar untuk tidak membiarkan pandangan orang lain menghalangi tekadnya. Dia menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri dan dia harus memilih yang terbaik baginya. Dukungan dari sahabat-sahabatnya, termasuk Mira, memberikan kekuatan tambahan bagi Niken untuk tetap bertahan dalam menghadapi tantangan yang ada.
Meskipun masih ada pertanyaan besar di kalangan teman-teman sekelasnya, Niken tetap tegar dan sabar. Dia tidak mengabaikan teman-temannya yang bertanya dan bahkan berusaha menjelaskan pilihannya dengan bijaksana. Semakin lama, pandangan orang-orang terhadap perubahan Niken mulai berubah. Mereka melihat bagaimana keputusannya mengubah Niken menjadi lebih bahagia, lebih percaya diri, dan lebih tenang dalam menghadapi setiap aspek hidupnya.
Akhirnya, Niken berhasil meyakinkan teman-temannya tentang keputusannya yang tulus dan baik. Dia mengajak mereka untuk menghormati perubahan hidupnya dan memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih jalannya masing-masing.
__ADS_1
Perubahan Niken menjadi perempuan yang lebih berhijab tidak hanya mempengaruhi penampilannya, tetapi juga mengubah dirinya dari dalam. Dia menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati dalam menjalani hidupnya dengan penuh keyakinan dan cinta pada Tuhan.
Niken dan Mira tetap bersahabat meskipun ada perbedaan pandangan. Mira akhirnya menyadari bahwa sahabatnya telah menemukan kebahagiaan dalam pilihan hidupnya dan dia harus menghormati dan mendukungnya sepenuhnya. Niken berhasil membuktikan bahwa perubahan hidupnya adalah bagian
dari pencariannya akan kedamaian dan makna hidup yang lebih dalam, dan dia siap menghadapi tantangan dengan keberanian dan keyakinan yang penuh.
Tak berapa lama Alam pun datang Namun, kali ini ada yang berbeda. Alam langsung terpana melihat penampilan Niken. Alam melihat Niken mengenakan hijab yang elegan dan terlihat begitu cantik. Alam merasa seperti melihat sosok yang benar-benar baru dan dari kejauhan nampak ia sangat terkejut melihat penampilan Niken yang terlihat berbeda hari itu dengan hijab barunya itu. Namun, karena posisi duduk Alam ada di barisan depan sehingga ia belum sempat menyapa Niken yang duduk bersama Mira di barisan belakang.
“Masya Allah, cantik sekali dia!’ ungkap Alam dalam hatinya yang belakangan ini memang seolah dibikin kagum oleh sepak terjang Niken terutama saat Alam gak sengaja melihat bagaimana Niken menasehati Mira untuk persoalan yang membelit Mira kemarin itu.
Sebelumnya, Niken tidak pernah terlihat dengan penampilan seperti ini. Ia lebih suka berpakaian santai, tak terlalu
memperhatikan penampilan, dan tidak terlihat seperti seorang muslimah yang taat. Perubahan ini membuat Alam semakin kagum kepada Niken. Ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat transformasi yang begitu besar pada teman sekelasnya itu.
Ketika pelajaran dimulai, Alam tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus melayang kepada perubahan Niken. Ia penasaran apa yang menjadi penyebab transformasi ini. Setelah kelas usai, Alam memutuskan untuk mendekati Niken dan mengungkapkan kekagumannya.
Dengan hati yang berdebar, Bahrul Alam menghampiri Niken yang sedang membungkus buku-bukunya. "Niken,"
panggil Alam dengan lembut. Niken menoleh, terlihat terkejut melihat Bahrul Alam menghampirinya.
"Oh, hai kak Alam. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Niken dengan senyum ramah.
Alam membalas senyumnya. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu terlihat sangat cantik hari ini. Perubahan penampilanmu begitu mengejutkan. Aku tidak menyangka kamu bisa berpenampilan seperti ini."
Niken tersenyum malu. "Terima kasih, kak! Aku melakukan perubahan ini karena keinginan dari dalam hati. Aku merasa perlu mendekatkan diri kepada agama dan mengenakan hijab adalah bagian dari perjalanan pribadiku. Aku berusaha menjadi lebih baik sebagai seorang muslimah."
Alam pun merasa terharu mendengar penjelasan dari Niken. Ia menghormati keputusan dan perubahan yang dilakukan oleh temannya tersebut.
"Aku sangat mengagumi keberanianmu, Niken. Perubahanmu ini membuatku semakin terinspirasi untuk menjadi lebih baik dalam menjalani hidupku juga."
Niken tersenyum penuh harap. "Terima kasih, Kak. Aku berharap kita semua bisa saling mendukung dan tumbuh bersama dalam perjalanan kita masing-masing."
Alam merasa senang bisa berbicara dengan Niken tentang perubahan ini. Ia menyadari bahwa penampilan bukanlah segalanya, tetapi kebaikan hati dan semangat untuk menjadi lebih baik adalah yang sebenarnya penting. Momen itu mengajarinya untuk tidak menilai seseorang dari penampilan fisik semata, melainkan melihat lebih dalam ke dalam hati mereka.
__ADS_1