
Di suatu pagi yang cerah, Mira merasa gelisah ketika tidak dapat menghubungi Deni, pacarnya. Beberapa hari terakhir, Deni menjadi semakin menjauh dan enggan berbicara dengan Mira. Setiap kali Mira mencoba membahas kelanjutan hubungan mereka untuk ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan, Deni tampak menghindari topik itu. Mira merasa perlu membahas keseriusan Deni untuk menikahinya mengingat hubungan mereka sudah terlampau jauh dan jika tidak segera diresmikan maka akan sangat membahayakan masa depan mereka dan bahkan nama baik orang tua maupun keluarga mereka.
Mira memutuskan untuk mencari Deni di kampusnya. Namun, Deni tidak ada di sana. Dia mencoba menghubungi teman-teman mereka, tetapi tidak ada yang tahu tentang keberadaan Deni.
Mira merasa panik dan cemas. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Deni dan mengapa dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Dalam hatinya, dia berusaha mencari tahu apa yang mungkin telah terjadi.
Sementara itu, Deni berada di sebuah tempat terpencil, jauh dari keramaian kota. Dia merasa terbebani dengan tekanan dari Mira dan keluarganya untuk segera menikah. Meskipun dia mencintai Mira, dia merasa belum siap untuk bertanggung jawab dengan ikatan pernikahan.
Deni merenung dan mengasingkan diri untuk mencari kejernihan dalam hatinya. Dia tahu dia harus mempersiapkan mentalnya dan memikirkan masa depan mereka dengan lebih matang sebelum mengambil langkah serius seperti pernikahan.
Beberapa hari berlalu, Mira masih tidak mendapatkan kabar dari Deni. Hatinya semakin cemas dan khawatir. Dia merasa kesepian dan tidak tahu harus berbuat apa.
Mira akhirnya memutuskan untuk mencari bantuan dari teman-temannya untuk menyelidiki keberadaan Deni. Mereka mencoba menghubungi teman-teman dan saudara-saudara Deni, namun hasilnya nihil. Deni sepertinya telah benar-benar menghilang dari peredaran.
Mira merasa putus asa dan kehilangan harapan. Dia tidak tahu harus menghadapi kenyataan seperti apa, apakah Deni akan kembali atau tidak. Hatinya hancur dan ia merasa sendirian.
Di tempat persembunyiannya, Deni merasa berat hati. Meskipun dia tahu bahwa keputusannya meninggalkan Mira membuatnya terluka, dia berusaha mencari kekuatan untuk melanjutkan hidup dan menemukan dirinya
sendiri. Dia tahu bahwa dia harus mengatasi ketakutan dan ketidaksiapannya jika ingin menjalani hubungan yang lebih serius.
Saat malam tiba, Mira merenung di kamarnya untuk mengenang semua momen indah yang telah mereka lewati bersama Deni. Air mata mengalir di pipinya saat dia menyadari betapa besar rasa cintanya pada Deni, dan betapa dia merindukan sosok lelaki itu.
Sementara itu, Deni melihat bulan dan bintang-bintang dari tempat persembunyiannya. Hatinya berusaha mencari
kedamaian dan kejernihan. Dia tahu bahwa dia harus mengatasi rasa takutnya dan menemukan kekuatan untuk menghadapi masa depan bersama Mira.
__ADS_1
Beberapa minggu berlalu, Mira masih mencoba mencari tahu tentang keberadaan Deni. Dia mencari tahu di media sosial, berharap menemukan petunjuk tentang keberadaan Deni. Namun, tidak ada jejak yang bisa dia temukan.
Suatu hari, ketika sedang berusaha mencari Deni di kampusnya, Mira bertemu dengan teman lama Deni, Rio. Mira dengan cepat menegurnya dan bertanya tentang Deni.
"Mas Rio, apa mas tau kabar tentang mas Deni? Aku sangat khawatir tentangnya. Apakah kau tahu di mana dia berada?"
Ternyata Rio selama ini sudah tau tentang keberadaan Deni karena sebelumnay Deni sering cerita ke rio tentang permasalahannya dengan Mira.
Rio terlihat ragu, seolah ingin menyembunyikan sesuatu dari Mira. Namun, melihat kekhawatiran di wajah Mira, Rio memutuskan untuk mengungkapkan kebenaran.
"Mira, sebenarnya Deni menghilang karena dia merasa belum siap untuk bertemu denganmu dan keluargamu. Dia merasa tertekan dengan pernikahan dan butuh waktu untuk mempersiapkan mentalnya."
Mira terkejut mendengar penjelasan Rio. Hatinya berkecamuk, campur aduk antara kelegaan karena mengetahui bahwa Deni tidak dalam bahaya fisik, namun juga sedih dan kecewa karena mengetahui alasan mengapa Deni menghilang.
"Tidak, Mira. Dia sengaja menghilang untuk mencari waktu dan ruang bagi dirinya sendiri. Dia merasa belum siap untuk menghadapi pernikahan dan tekanan dari keluarga kita."
Mira merenung sejenak, mencerna informasi itu. Dia merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, dia merasa lega karena mengetahui bahwa Deni tidak berada dalam bahaya fisik. Namun, perasaan cemas dan kesedihannya masih ada, karena dia merasa ditinggalkan begitu saja.
"Kenapa dia tidak memberitahuku tentang hal ini? Kenapa dia tidak membicarakannya dengan aku?"
"Mungkin dia merasa sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tahu bahwa kau sangat ingin menikah dan mungkin merasa tidak bisa memenuhi harapanmu. Jadi dia memilih untuk mengasingkan diri dan mencari jawaban dalam hatinya sendiri."
Mira mengangguk dengan sedih. Dia merasa terhormat bahwa Deni menghormati perasaannya, tapi dia juga merasa kecewa karena Deni tidak berbicara dengannya.
"Tapi aku tahu bahwa Deni mencintaimu, Mira. Dia hanya butuh waktu untuk mempersiapkan diri dan meyakinkan hatinya tentang langkah yang akan diambilnya."
__ADS_1
Mira tersenyum lembut mendengar kata-kata itu. Hatinya merasa lega karena tahu bahwa perasaan Deni masih ada untuknya. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus memberikan ruang pada Deni untuk menemukan
dirinya sendiri.
Setelah berbicara dengan Rio, Mira memutuskan untuk memberikan waktu dan ruang bagi Deni. Dia tahu bahwa dia tidak bisa memaksakan pernikahan jika Deni belum siap. Meskipun hatinya sakit karena perpisahan sementara itu, dia harus menghormati keputusan Deni dan membiarkan Deni menemukan dirinya sendiri.
Sementara itu, Deni masih berada di tempat persembunyiannya, merenung dan merenung. Dia merasa campur aduk dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, dia mencintai Mira dan tidak ingin kehilangan dia, tapi di sisi lain, dia merasa belum siap untuk menikah dan menghadapi tekanan dari keluarga Mira.
Deni menyadari bahwa dia harus berbicara dengan Mira dan memberitahunya tentang keputusannya. Dia harus jujur tentang perasaannya dan meminta maaf karena menghilang begitu saja tanpa memberi penjelasan.
Beberapa hari kemudian, Deni kembali ke kota dan mencari Mira. Mira terkejut dan bahagia melihat Deni kembali. Dia ingin bertanya banyak hal pada Deni, tapi dia memutuskan untuk memberikan waktu pada
Deni untuk berbicara.
Deni dan Mira bertemu di taman kampus, di bawah sinar matahari yang hangat. Mereka duduk berdampingan, perasaan gugup dan cemas terasa di antara mereka.
"Mira, aku ingin minta maaf atas kehilangan kontak beberapa waktu lalu. Aku harus mengaku bahwa aku mengasingkan diri karena merasa belum siap untuk menghadapi pernikahan."
Mira mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Aku mengerti, mas Deni. Aku tahu bahwa aku terlalu banyak menekanmu dan berbicara tentang pernikahan. Aku minta maaf karena membuatmu merasa tertekan."
"Bukan itu, Mira. Aku mencintaimu, tapi aku merasa tidak siap untuk bertanggung jawab dengan ikatan pernikahan. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan mental dan merenung tentang masa depan kita."
“Baiklah, Mas! Aku masih akan memberikan mas Deni edikit waktu, namun aku akan selalu menunggu kepastian dari mas,segera!” tegas Dina yang dibalas anggukan Deni.
Sementara Mira menurunkan tensi kejarannya terhadap Deni, namun Mira tetap berharap agar Deni segera memiliki keberanian untuk segara memutuskan kelanjutan hubungan mereka dengan lebih hati-hati dan segera ke arah yang lebih serius. Mira bersedia memberikan waktu dan ruang dulu bagi Deni untuk merenung, sementara Deni berjanji untuk segera menemui kedua orang tua Mira.
__ADS_1