
Sekian lama mengabdi di perusahaan milik ayahnya Niken terutama untuk mensupport bidang keuangan di kantor itu terlihat ayahnya Niken makin kagum dengan semangat dan kegigihan Alam sebagai anak muda yang selalu mau belajar dalam bekerja di lingkungan kerja yang relatif masih sangat baru sebenarnya bagi Alam, terutama juga ayahnya Niken salut melihat kesantunan Alam dalam berperilaku di kantornya sehingga gak aneh kalo para pegawai di perusahaan ayahnya Niken makin menyukai keberadaan Alam di perusahaan mereka terutama di divisi keuangan.
Suatu hari Ayahnya Niken duduk di ruang kerjanya yang elegan, menunggu kedatangan Alam untuk membahas perkembangan terbaru perusahaan. Alam, seorang mahasiswa yang sedang menempuh studi S1 di jurusan ekonomi, telah menjadi bagian integral dalam keberhasilan perusahaan ini. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan mengalami pertumbuhan pesat, dan itu tidak terlepas dari kontribusi besar Alam, terutama di bidang keuangan.
Pintu ruangan akhirnya terbuka, dan Alam masuk dengan senyum ceria. "Selamat pagi, Pak. Maafkan saya atas
keterlambatan," ucap Alam sambil mengulurkan tangan.
Ayahnya Niken tersenyum dan berjabat tangan dengan Alam. "Tidak masalah, Alam. Silakan duduk. Aku senang kau bisa hadir untuk membahas perkembangan perusahaan."
Alam duduk di kursi di depan meja Ayahnya Niken. "Saya sudah menyiapkan laporan keuangan terbaru, Pak. Sebagaimana yang telah kita diskusikan sebelumnya, pendapatan kita meningkat, dan kami berhasil memotong pengeluaran yang tidak perlu. Hasilnya, keuangan perusahaan semakin stabil."
Ayahnya Niken mengangguk puas. "Luar biasa, Alam. Kau benar-benar mengelola keuangan perusahaan ini dengan cerdas. Aku tidak akan pernah menyangka bahwa seorang mahasiswa bisa memiliki kemampuan
sehebat itu."
Alam tersenyum malu. "terima kasih atas pujiannya, Pak. Saya berusaha sebaik mungkin untuk memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan."
"Dan kau telah melakukannya dengan sangat baik," Ayahnya Niken menambahkan. "Sudah saatnya kita memberikan pengakuan lebih atas kerja kerasmu. Nanti, aku akan memastikan untuk memberikan apresiasi yang setimpal untuk prestasimu."
Alam merasa bahagia mendengarnya. "terima kasih, pak. Saya sungguh bersyukur telah bekerja di perusahaan ini dan mendapatkan kesempatan belajar langsung dari bapak."
Ayahnya Niken mengangguk. "Kita saling mendukung, Alam. Kau telah membantu perusahaan tumbuh pesat, dan aku yakin masa depan perusahaan ini akan semakin gemilang berkat kontribusimu."
"Saya berharap begitu," ucap Alam penuh semangat. "Saya ingin terus belajar dan berkontribusi sebanyak
mungkin bagi perusahaan ini."
Ayahnya Niken menatap Alam dengan penuh keyakinan. "Kamu punya masa depan yang cerah di bidang keuangan. Aku melihat potensi besar dalam dirimu."
Alam terharu mendengarnya. "Saya akan terus berusaha sebaik mungkin, Pak. Tidak ada kata berhenti untuk belajar dan berkembang."
Ayahnya Niken mengangguk setuju. "Itu sikap yang benar. Teruslah berusaha dan jangan pernah puas dengan diri sendiri. Kita harus terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di dunia bisnis."
__ADS_1
Alam memperhatikan penuh ketertarikan saat Ayahnya Niken berbicara. "Anda selalu memberikan inspirasi bagi saya, Pak. Setiap kali kita berdiskusi, saya selalu mendapatkan pelajaran berharga."
Ayahnya Niken tersenyum bangga. "Saya senang bisa menjadi mentor bagi kamu, Alam. Kamu adalah calon pemimpin masa depan yang berbakat."
"Semoga saja," ucap Alam rendah hati. "Tapi saya masih banyak yang harus dipelajari."
Ayahnya Niken menepuk bahu Alam dengan penuh kehangatan. "Kamu akan selalu memiliki dukungan dari saya. Aku yakin, suatu hari nanti, kamu akan menjadi sosok yang inspiratif bagi banyak orang."
Alam merasa terharu atas kata-kata perhatian Ayahnya Niken. "Terima kasih, Pak. Saya berjanji akan terus berusaha untuk mencapai harapan dan ekspektasi Anda."
Ayahnya Niken kemudian mengalihkan pembicaraan ke rencana masa depan perusahaan. Mereka membahas strategi bisnis yang lebih ambisius dan berani. Alam memberikan masukan dan ide brilian yang membuat Ayahnya
Niken semakin terkesan dengan kecerdasannya.
Perbincangan mereka berlanjut hingga berjam-jam, tetapi waktunya terasa begitu cepat. Mereka berdua menyadari betapa eratnya hubungan mereka dan sejauh apa perusahaan ini telah berkembang berkat kerja keras dan kolaborasi mereka.
Seiring berjalannya waktu, keakraban dan kepercayaan antara Alam dan Ayahnya Niken semakin kokoh. Mereka tidak hanya rekan kerja, tetapi juga teman sejati yang selalu saling mendukung dalam setiap langkah yang diambil. Alam terus belajar dan tumbuh, sementara Ayahnya Niken dengan bangga menyaksikan kemajuan perusahaan yang semakin meroket berkat kontribusi besar Alam. Bersama-sama, mereka menghadapi tantangan masa depan
dengan penuh semangat dan optimisme, siap untuk meraih kesuksesan yang lebih besar lagi.
"Alam, bagaimana? Sejauh mana hubungan pertemananmu dengan Niken di kampus? Aku mendengar kalian berdua sangat
dekat."
"Ya, benar, Pak. Niken adalah salah satu teman terbaikku di kampus. Kami sering belajar bersama dan mendiskusikan
hal-hal terkait dengan ekonomi. Dia sangat pintar dan rajin."
"Aku senang mendengarnya. Niken juga cerita banyak tentangmu. Dia mengatakan bahwa kamu memiliki kemampuan di bidang keuangan yang luar biasa."
"Terima kasih, Pak. Saya sangat menghargai persahabatan kami dengan Niken. Dia orang yang baik hati dan selalu mendukung saya dalam segala hal."
"Kamu berdua memang memiliki minat yang sama di bidang ekonomi, jadi tidak heran kalian bisa begitu dekat."
__ADS_1
"Iya, Pak. Kami juga sering membahas masa depan setelah lulus kuliah. Niken memiliki ambisi yang besar untuk berkarier di bidang keuangan."
"Itu sangat bagus. Aku senang melihat anakku berteman dengan seseorang yang memiliki minat dan tujuan yang sejalan dengannya."
"Saya juga senang bisa menjadi teman baik bagi Niken dan mendukungnya dalam meraih impian."
Ayahnya Niken kemudian memutar topik dan mulai bertanya tentang kehidupan pribadi Alam. "Alam, sejujurnya, aku penasaran tentang apa yang kau inginkan untuk nantinya dijadikan pendamping hidup. Aku melihat bahwa kau aktif di kegiatan Rohis di fakultas, dan itu menunjukkan nilai-nilai keagamaan yang kuat."
Alam sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, namun ia dengan tulus menjawab. "Pak, untuk menjadi pendamping hidup, saya ingin menemukan seseorang yang memiliki nilai-nilai keagamaan yang sama. Karena itu, saya berharap bisa menemukan seseorang yang religius dan memiliki keinginan untuk terus belajar dan berkontribusi bagi masyarakat."
Ayahnya Niken mengangguk mengerti. "Itu adalah hal yang sangat baik, Alam. Menemukan seseorang yang memiliki prinsip dan nilai-nilai yang sejalan akan memperkuat hubungan dan keharmonisan dalam rumah tangga."
"Betul, Pak. Saya ingin menikah dengan seseorang yang bisa menjadi sahabat, mitra hidup, dan saling mendukung dalam menjalani kehidupan."
"Kamu memiliki pandangan yang matang tentang hal itu. Aku yakin suatu saat nanti, kau akan menemukan sosok yang tepat untukmu."
"Terima kasih, Pak. Saya akan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik untuk masa depan."
Ayahnya Niken kemudian berpikir tentang perubahan yang terjadi pada Niken selama berkuliah. Dia ingin mengetahui bagaimana pandangan Alam tentang perubahan itu.
"Alam, aku ingin bertanya tentang pandanganmu mengenai Niken. Saya melihat perubahan besar pada dirinya selama berkuliah. Dulu dia tomboy dan kurang peduli dengan penampilan, tapi sekarang dia menggunakan hijab dan terlihat lebih rapi."
"Betul, Pak. Saya melihat perubahan itu juga. Niken telah menemukan dirinya dalam perjalanan kuliahnya. Dia semakin percaya diri dan menemukan jati dirinya."
"Aku merasa bangga dengan perkembangan Niken. Dan aku sangat menghargai dukunganmu terhadapnya."
"Niken adalah teman yang baik dan saya mendukungnya sepenuhnya dalam perubahan yang dia pilih. Dia menjadi lebih fokus pada studinya dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik."
"Terima kasih atas dukunganmu, Alam. Aku senang Niken memiliki teman sebaik kamu yang selalu mendukungnya."
"Tidak ada masalah, Pak. Niken adalah temanku dan aku akan selalu berada di sisinya, mendukungnya dalam apa pun yang dia lakukan."
Percakapan mereka berlanjut dengan penuh keakraban dan saling pengertian. Ayahnya Niken semakin yakin bahwa persahabatan antara Alam dan Niken adalah yang berharga, karena mereka saling mendukung dan
__ADS_1
menjadi pendorong satu sama lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hubungan antara Ayah Niken dan Alam semakin kuat, dan Ayahnya Niken merasa bahagia karena anaknya memiliki teman sebaik Alam. Mereka berdua bersama-sama, menantikan masa depan yang cerah dan penuh prestasi bagi perusahaan dan kehidupan pribadi mereka.