NiLaM (Nikmatnya Love After Married)

NiLaM (Nikmatnya Love After Married)
Bab 15


__ADS_3

Setelah seharian tersita dan terhipnotis karena perubahan penampilan Niken di kampus tadi, sesuai jadwal kuliah terakhir tadi di fakultas, Alam sempat membuka rekening tabungannya di mesin ATM dan ternyata itu membuat Alam  menjadi lemas seketika karena ternyata jumlah persediaan dana kuliahnya semakin menipis apalagi di akhir tahun kuliahnya ia membutuhkan dana yang cukup besar untuk bisa menyelesaikan studi S1-nya. Oleh karena itu, sepulang kuliah sesampainya di rumah wajah Arbi terlihat tak seperti biasanya terlihat murung dan seperti ada yang ia pikirkan dengan serius dan hal itu membuat sang ibu prihatin serta bertanya-tanya.


"Nak, apa yang sedang terjadi? Kamu terlihat sangat berbeda hari ini. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"


"Ehmm...anu Bu, sebenarnya... tadi sore, aku mencoba membuka rekening tabungan di mesin ATM. Ternyata saldo dana kuliahku jauh lebih sedikit dari yang kusangka."


Sang ibu memahami kekhawatiran putranya, "Oh,begitu. Masalah keuangan selama kuliah memang seringkali menjadi beban bagi mahasiswa.”


Alam menghela nafas, "Tapi ini tahun terakhir kuliahku, Bu. Aku butuh biaya besar untuk menyelesaikan skripsi dan


ujian-ujian akhir. Jujur, aku merasa agak terbebani dengan hal ini."


"Tentu, itu adalah tahap yang krusial dalam hidupmu. Namun, ingatlah bahwa kita tak pernah sendiri. Kita selalu


mempunyai Tuhan yang selalu mendampingi dan memberikan jalan keluar."


"Tapi, Bu, meski aku percaya pada Tuhan, aku juga harus mencari solusi nyata. Saya tidak ingin terus bergantung pada orang lain, termasuk kepada ibu."


Ibunya tersenyum bangga, "Itu adalah sikap yang baik, Nak. Sebagai orangtua, Ibu akan selalu memberikan dukungan dan membantu sebisa mungkin. Tapi Ibu juga percaya pada kemampuanmu. Kamu cerdas


dan memiliki potensi besar. Aku tahu kamu bisa mencari jalan keluar dengan ikhtiar dan kerja keras."


"Tapi, Bu, bagaimana caranya? Aku merasa terjepit di antara kebutuhan kuliah dan keterbatasan keuangan."


Sejenak mereka berdua terdiam dan otak Alam terus berpikir keras mencari ide untuk solusi permasalahan keuangan mereka khususnya untuk biaya kuliah Alam.


Alam belajar untuk tidak mudah menyerah dan terus berusaha dengan gigih. Setiap kali dia merasa putus asa, ia selalu teringat kata-kata semangat dari ibunya. Semangat itu menjadi penguat dan pengingat bahwa dia harus tetap berusaha mencari jalan keluar.


Keesokan harinya usai mengikuti jadwal perkuliahan seperti biasa, Alam duduk di musolah setelah usai Solat Dhuha rutin. Tak lama setelah itu, suara ponsel Alam berbunyi. Dia melihat pesan singkat dari Niken, yang menyampaikan bahwa dia ingin bertemu di tempat favorit mereka, taman kampus.


Alam pun segera bertolak menuju taman kampus. Sesampainya di sana, dia melihat Niken duduk di salah satu kursi taman, menunggu dengan senyuman hangat.


Niken tersenyum, "Hai, kak Alam! Terima kasih kak sudah mau datang."


Alam tersenyum membalas sapaan Niken, "Tentu, Niken. Ada apa? Kamu tampak semangat sekali."


"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku tawarkan padamu. Kamu tahu kan ayahku memiliki perusahaan yang bergerak di bidang keuangan?"

__ADS_1


Alam mengangguk, "Ya, aku tahu. Perusahaan ayahmu itu cukup dikenal dan sukses."


Niken tersenyum bangga, "Terima kasih. Nah, ayahku membutuhkan bantuan dalam mengelola keuangan perusahaannya. Dan saat aku melihat kecerdasanmu di bidang keuangan, aku merasa yakin bahwa kamu


bisa membantu ayahku."


Alam terkejut, "Apa maksudmu, Niken? Aku bukan ahli di bidang keuangan.”


Sejenak Alam tercenung inikah jawaban dari doa-doaku semalam dan juga doa sang ibu sesaat setelah mereka berdialog tentang permasalahan keungan mereka malam tadi.


“Terima kasih, Ya Alloh,” gumam Alam dalam hati sangat bersyukur dan sangat surprise dengan tawaran Niken yang sangat tiba-tiba itu.


“Ehhh...koq kak Alam malah bengong? Halooo....!” suara Niken menyentak Alam dari lamunannya sesaat tadi.


“Ohhh...yayaya...ma...maafff....saya bengong tadi,” cetus Alam sambil terkaget-kaget


“Hihihi...kak alam lucu ihhh!” tawa Niken mewarnai obrolan mereka saat itu.


Dan Niken pun melempar senyum tulus, "Aku percaya pada kemampuanmu, Alam. Kamu punya keahlian yang luar biasa dan kemampuan analisis yang hebat. Aku yakin, dengan sedikit bimbingan dari ayahku, kamu bisa mengatasi permasalahan keuangan perusahaan."


Alam masih terlihat ragu, "Tapi... aku tidak pernah bekerja di bidang keuangan sebelumnya. Aku khawatir tidak bisa


"Percayalah padaku, Alam. Ayahku adalah seorang pengusaha yang sangat bijaksana. Dia bisa memberikanmu bimbingan dan pelatihan yang kamu butuhkan. Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan baik."


Alam berpikir sejenak, "Ini terdengar menarik, Niken, tapi aku masih ragu. Aku tidak ingin membuat masalah bagi


perusahaanmu."


Niken memohon dengan tulus, "Tolong, Alam. Ayahku membutuhkan bantuan. Dan aku tahu, kamu adalah orang yang tepat untuk membantunya. Bukan hanya karena kemampuanmu, tapi juga karena aku tahu betapa


tekun dan gigihnya kamu dalam segala hal."


Alam terenyuh mendengar kata-kata Niken, "Baiklah, aku mau mencobanya. Tapi tolong beri tahukan pada ayahmu bahwa aku bukan ahli di bidang keuangan, dan aku perlu waktu untuk belajar."


"Tentu, Alam. Terima kasih sudah mau menerima tawaranku ini. Ayahku pasti akan sangat senang."


Setelah itu, Niken mengatur waktu dan tempat pertemuan antara Alam dan ayahnya. Alam merasa campur aduk, campuran antara gugup dan haru. Namun, dia yakin, bersama dengan bimbingan dan dukungan dari

__ADS_1


ayahnya Niken, dia bisa mengatasi permasalahan keuangan perusahaan dengan baik.


Hari pertemuan pun tiba. Alam pergi ke kantor perusahaan milik ayahnya Niken dengan diiringi oleh Niken. Saat mereka masuk ke ruang kerja ayahnya Niken, Alam merasa sedikit gemetar. Tapi dengan keberanian,


dia menyampaikan niatnya untuk membantu mengelola keuangan perusahaan.


Ayah Niken tersenyum, "Niken sudah ceritakan padaku tentang niat baikmu, Alam. Aku


senang mendengarnya."


"Terima kasih, Pak. Saya mohon maaf jika ini terdengar berani, tapi saya ingin mencoba membantu mengatasi permasalahan keuangan perusahaan."


"Tidak perlu minta maaf, Alam. Aku mengapresiasi niat baikmu dan keberanianmu untuk mencoba. Niken telah


memberitahuku tentang prestasimu dan keahlian analisis yang kamu miliki. Aku yakin, kamu bisa memberikan kontribusi positif bagi perusahaan."


"Terima kasih, Pak. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin."


"Bagus sekali, Alam. Kita akan mulaidengan memberikanmu bimbingan dan penjelasan mengenai situasi keuangan


perusahaan. Niken akan mendampingimu dan memberikan dukungan dalam proses ini."


Niken mengangguk antusias, "Ya, Ayah. Aku akan selalu mendukung dan membantu Alam sepanjang perjalanan ini."


Maka dimulailah perjalanan baru bagi Alam di dunia keuangan perusahaan milik ayah Niken. Dia bekerja keras, belajar dengan tekun, dan menerapkan keahlian analisisnya untuk mengatasi permasalahan keuangan


yang dihadapi perusahaan.


Setiap hari, Alam belajar dari pengalaman, dan dia merasa beruntung memiliki mentor seperti ayahnya Niken yang begitu sabar dalam memberikan panduan dan dukungan dalam pekerjaannya. Niken juga selalu ada di


sisinya, memberikan semangat dan membantunya mengatasi tantangan yang muncul.


Waktu berlalu, dan perlahan tapi pasti, Alam berhasil mencapai perubahan positif dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Proses yang awalnya penuh keraguan berubah menjadi peluang untuk tumbuh dan


berkembang.


Niken juga merasa bangga melihat perkembangan Alam. Dia sangat bahagia bisa membantu sahabatnya mencari jalan keluar dari masalah keuangan dan menemukan passion-nya dalam bidang keuangan.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, Alam semakin menguasai bidang keuangan dan memberikan kontribusi berarti bagi perusahaan. Dia merasa berterima kasih atas tawaran dan dukungan Niken yang telah membuka


pintu kesempatan baru baginya.


__ADS_2