NiLaM (Nikmatnya Love After Married)

NiLaM (Nikmatnya Love After Married)
Bab 20


__ADS_3

Hari itu, suasana di taman kampus begitu sejuk. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran, menghiasi sudut-sudut taman. Di bawah pepohonan rindang, dua orang sahabat, Niken dan Mira, duduk berhadapan di atas bangku kayu.


“Mira, aku ingin bicara serius tentanghubunganmu dengan Deni,” Niken membuka obrolan


“Apa itu, Ken? Bukankah kita sudah membahasnya sebelumnya?”


“Ya, tapi sepertinya kamu masih memberikan ruang yang terlalu besar untuk Deni. Hubungan kalian sudah sampai sejauh ini, tapi kenapa Deni belum juga menemui orang tuamu dan melamarmu?”


“Niken, aku sudah berbicara dengan Deni tentang itu, tapi dia butuh lebih banyak waktu untuk memikirkannya.”


Niken mengernyitkan dahinya, “Sudah berapa lama, Mira? Sudah hampir lima tahun kalian berpacaran, bukankah itu cukup lama?


Mira menunduk, “Aku tahu, tapi aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin dia siap secara mental dan finansial sebelum bertemu orang tua dan melamarku.


Niken memegang tangan Mira, “Mira, aku mengerti kekhawatiranmu, tapi kamu harus ingat, hidup ini tidak selalu seperti yang kita rencanakan. Kalau kalian benar-benar saling mencintai, kalian akan menghadapi masa depan bersama. Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkahmu.


“Tapi, Niken, bagaimana kalau dia belum siap? Aku tidak ingin dia merasa terbebani atau menyesal di kemudian hari.”


“Itu risiko yang harus diambil dalam cinta, Mira. Kamu tidak bisa selalu menunggu dan menunda-nunda. Bagaimana kalau dia menunggu terlalu lama dan akhirnya melepaskanmu karena merasa tidak dihargai?”


“Aku belum tahu, Niken. Aku masih ingin memberinya waktu, tapi aku juga takut kehilangannya.”


Niken memandang tajam, “Mira, dengarlah, kamu adalah seorang wanita yang kuat dan berharga. Kamu harus tahu apa yang kamu inginkan dan berani berjuang untuk itu. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam ketidakpastian yang merusak hatimu.”


Mira pun mulai menangis, “Tapi, Niken, apa yang harus aku lakukan?”


Niken menyeka air mata Mira, “Pertama, bicarakan lagi dengan Deni tentang perasaanmu dan apa yang kamu harapkan dari hubungan ini. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan mendengarkanmu dan mencoba memahami.”

__ADS_1


Mira mengangguk, “Baik, aku akan mencobanya.”


Niken pun tersenyum, namun, di balik senyum Mira, Niken merasakan ketidakpuasannya. Setelah beberapa waktu berlalu, Niken merasa bahwa Mira kembali berada dalam zona nyaman, dan tidak sepenuhnya menghadapi masalahnya dengan Deni. Pertanyaan dan keraguan terus menyiksanya.


Suatu hari, Niken memutuskan untuk bicara dengan Mira lagi.


Niken dengan mimik muka serius, “Mira, aku merasa kamu masih menyimpan keraguan tentang hubunganmu dengan Deni.”


“Kenapa kamu berpikir begitu, ken?”


“Aku melihat kamu tetap memberi Deni banyak waktu dan kesempatan untuk memutuskan hal-hal penting, seperti bertemu orangtuamu dan melamarmu. Aku khawatir kamu terlalu banyak mengalah, Mira.”


Mira berusaha membela diri, ”Tapi, Niken, aku mencintainya. Aku tidak ingin mendorongnya melakukan sesuatu yang dia belum siap untuk lakukan.”


“Tentu, mencintai seseorang adalah hal yang indah, tapi cinta juga harus seimbang, Mira. Kamu memberikan segalanya untuk hubungan ini, tapi apa yang dia berikan kepadamu? Apakah dia benar-benar berusaha untuk memahami perasaanmu dan apa yang kamu butuhkan?”


Niken tersenyum penuh kasih, “Itu dia, Mira. Kamu harus tegas tentang apa yang kamu inginkan dan tidak takut untuk mengungkapkannya kepada Deni. Kamu layak mendapatkan seseorang yang benar-benar siap untuk melangkah maju bersamamu.”


“Kamu benar, Niken. Aku sudah mendengar apa yang kamu katakan, dan aku tahu kamu peduli padaku. Aku akan coba berbicara dengan Deni lagi, dengan lebih jelas dan tegas.”


“Aku senang kamu mendengarkan nasihatku, Mira. Aku ingin yang terbaik untukmu, dan aku ingin kamu bahagia.”


“Makasih, ken. Kamu selalu menjadi sahabat yang terbaik bagiku.”


Di hari lainnya, Mira duduk di teras rumah tempat ia mengontrak, bersiap-siap untuk menunggu kedatangan Deni. Niken, sahabatnya, baru saja memberikan nasihat tentang pentingnya mendiskusikan masa depan hubungannya dengan Deni. Mira tahu dia harus mengambil langkah maju, tapi dia merasa canggung untuk membahasnya.


Tak lama kemudian, Deni tiba dengan senyum hangat di wajahnya. Mira mencoba untuk tersenyum, berusaha menekan rasa gugupnya.

__ADS_1


“Mas, bolehkah kita bicara serius?”


“Tentu, apa yang ingin kamu bicarakan?”


Mira menelan rasa gugup, “Tentang masa depan kita, Deni. Aku ingin membicarakan mengenai pernikahan.”


Deni terkejut, “Pernikahan? Tapi, Mira, aku pikir kita masih bisa menunggu beberapa tahun lagi sebelum  membicarakannya.”


“Itulah yang ingin aku bicarakan, Deni. Kita sudah berpacaran selama lima tahun, dan aku merasa saatnya untuk membahas masa depan kita. Aku ingin kita menikah, mas!”


“Tapi, Mir, aku masih merasa belum siap. Masih banyak hal yang harus kuatasi sebelum kita membicarakan pernikahan.”


“Mas, cinta sejati adalah tentang tumbuh bersama. Aku tahu ada tantangan, tapi kita bisa menghadapinya bersama-sama. Aku tidak ingin terus menunda-nunda. Aku ingin kita membangun masa depan bersama.”


Deni terlihat bingung, “Tapi apa yang akan kita lakukan jika aku belum siap untuk menikah?”


“Aku ingin kamu berusaha lebih keras, mas. Bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk kita berdua. Aku percaya pada potensimu mas dan percayalah padaku, kita bisa menghadapi semua rintangan bersama.”


“Aku tahu aku harus berusaha lebih keras. Aku mencintaimu, Mira, dan aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi aku perlu waktu untuk mempersiapkan diri.”


“Hemmm...ya sudahlah, mas. Yang penting aku sudah sampekan keinginanku pada ms Deni. Tentu, aku mengerti. Tapi harap berjanji padaku bahwa kita akan membahas ini lagi dalam beberapa bulan ke depan.”


Deni terdiam dan tak berkata-kata lagi ia malah merenung dan tidak alam kemudian pamit pulang ke Mira.


Sepanjang jalan dalam hatinya, Deni sendiri masih terus merasa tertekan dan dilema. Di satu sisi, dia mencintai Mira dan ingin membuatnya bahagia, tapi di sisi lain, dia merasa belum siap dan takut akan tanggung jawab yang besar.


Konflik ini membuat hubungan mereka menjadi agak rapuh dan rentan ditambah lagi Mira merasa pun sebenarnya dalam hatinya masih kecewa dengan ketidakpastian Deni ini, sementara Deni merasa terjebak dalam perasaan takutnya.

__ADS_1


Akankah Mira dan Deni bisa mengatasi konflik ini dan menemukan jalan untuk memperbaiki hubungan mereka? Ataukah kekhawatiran dan perbedaan pendapat mereka akan mengarahkan mereka pada akhir yang menyedihkan?


__ADS_2