NiLaM (Nikmatnya Love After Married)

NiLaM (Nikmatnya Love After Married)
Bab 13


__ADS_3

Setelah beberapa hari sebelumnya Niken mengalami pergulatan panjang di batinnya dan setelah cukup banyak berdiskusi dengan Sriyani serta Sofia, sore itu saat Niken sudah kembali ke rumah, ia menyempatkan diri untuk sejenak mematut-matutkan dirinya di depan lemari kaca. Mencoba melihat dirinya saat mengenakan hijab berupa jilbab putih yang menutupi kepalanya dan dsar memang aslinya anak selebor dan tomboy maka topi putihnya pun


tetap ia selempangkan di atas jilbab putih yang ia kenakan dengan posisi ciri khasnya, miring di kepala!


“Hemmm...kira-kira, aku dah pantas gak ya berpenampilan seperti ini?” gumam Niken bertanya pada dirinya sendiri. Badannya bergerak ke kiri dan ke kanan menggeser pinggang sisi sebelah kiri dan kanannya lalu berputar dan saat berputar ke belakang tiba-tiba sang ayah sudah muncul di balik pintu kamar Niken.


“Wahhh....tumben anak ayah pake hijab begitu, hehehe!” tawa ayahnya Niken muncul di balik pintu kamar Niken karena baru kali ini terlihat putrinya itu mencoba memakai hijab. Karena selama ini Niken itu selalu terlihat cuek dalam berpakaian dengan rambut terurai sebahu plus topi khasnya yang berwarna putih. Niken selalu nampak tomboy setiap harinya.


“Ihhh...apaan sih ayah ganggu aja dehhh!” timpal Niken melihat sang ayah menertawainya


“Pasti ada yang membikin kamu tiba-tiba berubah kayak gini!” balas sang ayah menyelidik


“Gak gitu juga kali yah! Kan niken bisa aja liat di sosmed tentang tampilan tetap bisa modisnya para wanita berhijab!” balas Niken ngasih argumen


“Ahhh....ayah sih masih gak percaya deh! Pasti ada sesuatu yang membikin kamu tiba-tiba mau pake hijab itu!” balas ayahnya lagi sambil ngeloyor pergi


Dalam hati Niken bergumam, “Emang orang gak boleh berubah yah? Atau memang sebutan gadis selebor sudah terlalu melekat di diriku?  Ahhh....masa bodolah....yang penting aku mau mencoba pake hijab ini besok ke kampus!” Niken sambil senyum-senyum mematut-matut dirinya di depan kaca.


Namun demikian ternyata keterkejutan sang ayah belum berhenti sampe disitu apalagi malamnya saat sang ayah sudah menunggu Niken di meja makan untuk makan malam bersama tiba-tiba Niken keluar dari kamarnya dan telah rapih dengan penampilan barunya, berhijab! Meski tak lupa tetap menempel topi miring berwarna putih itu tetap setia menemani di kepalanya.


"Niken? Apa yang terjadi? Kau... kau serius  mengubah penampilan?" sang ayah lagi-lagi bertanya seolah masih tak percaya dengan perubaha drastis dari sang putri.


“Ya ayahhh....aku kali ini serius mo memcoba mengubah penampilanku mulai saat ini juga!” jelas Niken sambil tersenyum.


"Berhijab? Tapi... kau kan selalu menyukai penampilan tomboy-mu dan topi putih miring itu."

__ADS_1


"Iya, dulu memang begitu. Tapi, setelah banyak merenung dan berdiskusi dengan teman-teman, aku menyadari bahwa aku ingin mencari kedamaian dalam hidupku. Aku ingin lebih dekat dengan agama dan merasa lebih baik dengan diri sendiri."


"Jadi, kau yakin dengan keputusanmu ini?"


"Iya, Ayah. Aku memang masih ragu di dalam hati. Tapi, aku ingin mencoba. Aku ingin merasa dekat dengan Tuhan dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


"Aku bangga padamu, Nak. Meskipun Ayah kaget, tapi jika ini benar-benar keputusanmu yang tulus, Ayah akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Ayah. Aku tahu kau pasti bakal kesulitan menerima perubahan ini, tapi aku berharap kau bisa


mendukungku."


"Tentu, Nak. Aku bisa mencoba untuk lebih memahami dan mendukungmu. Jangan khawatir, Ayah akan selalu ada untukmu."


"Niken, apa yang sebenarnya membuatmu ingin berhijab? Apakah ada pengaruh dari orang lain?"


"Sebenarnya, bukan karena orang lain, Ayah. Aku merasa ini adalah bagian dari perjalanan hidupku untuk menjadi lebih baik. Aku ingin mengenali diri sendiri dan menghadapi dunia dengan penuh keyakinan."


"Aku mengerti. Dan aku setuju, setiap orang memiliki hak untuk menemukan makna hidupnya masing-masing. Niken, bagaimana kamu merasa saat memutuskan untuk berhijab?"


"Aku merasa campur aduk, Ayah. Ada ketakutan dan kekhawatiran, tapi juga ada rasa bahagia dan optimisme. Aku tahu perjalanan ini tidak mudah, tapi aku ingin mencobanya."


"Niken, hidup ini memang penuh dengan tantangan dan perubahan. Tapi, jika kamu yakin dengan niat baikmu dan tetap kuat dalam keyakinanmu, aku percaya kamu akan menghadapi semuanya dengan baik."


"Aku berharap begitu, Ayah. Aku ingin menjadi anak yang baik dan berguna bagi orang lain."

__ADS_1


"Niken, kamu harus ingat bahwa hidup ini adalah milikmu. Selama keputusanmu baik dan tulus, tak perlu terlalu khawatir tentang pendapat orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana kamu merasa dengan dirimu sendiri."


"Iya, Ayah. Aku harus belajar untuk lebih percaya diri dan tak terlalu memikirkan pandangan orang lain. Ini adalah jalan hidupku dan aku harus berjuang untuk menjadi lebih baik."


"Benar sekali, Nak. Tidak ada yang bisa mencapai kebahagiaan sejati jika terus menerus mengkhawatirkan pandangan orang lain. Kamu adalah pribadi yang luar biasa Pak Agus: "Benar sekali, Nak. Tidak ada yang bisa mencapai kebahagiaan sejati jika terus menerus mengkhawatirkan pandangan orang lain. Kamu adalah pribadi yang luar biasa, dan jika ini adalah keputusan yang membawamu lebih dekat pada tujuanmu dan agama,


maka Ayah akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Ayah. Mendengar dukunganmu membuatku semakin yakin bahwa aku sedang berjalan di jalan yang benar."


"Baiklah. Sekarang, dari mana sumber inspirasi yang membuatmu ingin berhijab? Apakah ada tokoh atau pengalaman khusus yang mempengaruhimu?"


"Ada beberapa sumber inspirasi, Ayah. Pertama, saat aku setiaphari melihat teman-teman di kampusku terutama mereka yang setiap saat berhijab itu selalu ‘menghantuiku’ dan juga melihat organisasi Rohis di musolah fakultas. “


"Itu bagus, Nak. Belajar dan berdiskusi dengan orang-orang yang sejalan dengan keyakinanmu akan membuka pemahaman yang lebih dalam."


"Iya, Ayah. Dan juga, ada seorang teman yang telah menginspirasiku dengan kesabarannya dan kebaikan hatinya. Meski dihadapkan pada berbagai cobaan, dia selalu tegar dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Melihatnya, aku merasa termotivasi untuk menghadapi perubahan dalam hidupku."


"Teman yang baik memang berharga, Nak. Mereka bisa menjadi penopang dan teladan bagi kita."


Setelah dialog panjang dan penuh pengertian dengan Ayahnya, Niken merasa semakin yakin dengan keputusannya untuk berhijab. Ia tahu bahwa perubahan ini akan menghadirkan banyak tantangan, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak akan sendiri dalam menghadapinya. Dengan dukungan Ayahnya dan keyakinan dalam dirinya sendiri, Niken siap menghadapi perjalanan baru sebagai perempuan yang lebih islami dan berpenampilan menutup aurat, merangkul kedamaian, dan menemukan kebahagiaan sejati di dalam hatinya.


Perlahan tapi pasti, Niken menghadapi perubahan dalam hidupnya dengan penuh keyakinan. Meskipun ada tantangan dan keraguan di sepanjang jalan, dukungan dan cinta dari keluarga, terutama Ayahnya, memberikan


kekuatan bagi Niken untuk terus maju. Setiap langkah yang diambilnya membawa Niken pada kedekatan dengan Tuhan dan mendekatkan dirinya pada kebahagiaan sejati yang dicarinya. Transformasi Niken menjadi seorang yang lebih islami, berpenampilan menutup aurat, adalah tentang mencari kebenaran dan kedamaian dalam diri sendiri, dan di balik hijab putihnya, terdapat kekuatan, kecantikan, dan kecemerlangan yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2