
Alam duduk di ruang kerja Ayahnya Niken, mereka kembali membahas perkembangan perusahaan dan strategi bisnis yang lebih ambisius. Namun, Ayahnya Niken tidak bisa menahan rasa penasaran tentang hubungan Alam dengan Niken.
"Alam, maaf jika pertanyaanku terdengar lagi dan lagi sedikit pribadi, tapi sekali lagi aku ingin tahu sejauh mana kedekatanmu dengan Niken di kampus," tanya ayahnya Niken kembali tentang sejauh mana kedekatan Alam dan Niken.
Alam terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, namun ia dengan jujur menjawab, "kami memang sangat dekat,
Pak. Niken adalah salah satu teman terbaikku di kampus. Kami saling mendukung dan sering berdiskusi tentang ekonomi dan studi lainnya."
"Aku senang mendengarnya. Apakah kau pernah berpikir tentang perasaan lebih dari sekedar pertemanan terhadap Niken?"
Alam mengambil nafas dalam-dalam, lalu ia menjawab, "Sejujurnya, Pak, ya, pernah. Namun, sebagai sahabatnya, aku ingin memberikan dukungan sepenuhnya untuk impian dan cita-citanya. Aku tidak ingin mengganggu persahabatan kami dengan perasaan yang ambigu."
Ayahnya Niken mengangguk mengerti. "Itu adalah sikap yang baik, Alam. Hubungan persahabatan yang kuat adalah landasan yang penting bagi setiap hubungan lebih serius."
"Terima kasih, Pak. Saya ingin menjadi teman terbaiknya dan selalu ada untuknya, tanpa mempertimbangkan perasaan pribadi."
"Aku menghargai kejujuranmu. Jika kalian berdua memiliki ikatan yang kuat sebagai teman, itu adalah hal yang sangat berharga."
"Saya akan selalu mendukungnya, Pak, apa pun yang dia pilih dalam hidupnya."
"Itu sikap yang baik, Alam. Kalian berdua punya masa depan yang cerah, baik sebagai teman maupun mungkin di masa depan sebagai mitra hidup."
Sore harinya sepulang dari kantornya, ayahnya Niken yang makin kesini makin penasaran terkait kedekatan Niken dengan Alam. Di rumah besarnya itu, ayahnya Niken memutuskan untuk mendiskusikan hal yang sama dengan Niken. Mereka duduk bersama di ruang tengah, sambil menikmati minuman hangat.
"Niken, aku ingin bertanya tentang hubunganmu dengan Alam di kampus. Kalian sepertinya sangat dekat."
"Ya, ayah. Alam adalah teman terbaikku di kampus. Kami belajar dan berdiskusi banyak hal bersama."
"Aku senang kau memiliki teman sebaik itu. Apakah kau pernah berpikir tentang perasaan lebih dari sekedar persahabatan terhadap Alam?"
Niken merasa sedikit gugup, tapi ia ingin jujur dengan ayahnya. "Ehmm...untuk hal yang itu aku belum tau ayah. Sejauh ini yang ada aku mengagumi kak Alam dan dia selalu mendukungku dalam segala hal. Namun, kami berdua sudah bersepakat sejak awal untuk lebih fokus untuk mendukung karier dan belajar."
__ADS_1
"Itu adalah sikap yang bijaksana, Nak. Persahabatan yang kuat adalah fondasi yang baik untuk setiap hubungan lebih serius."
"Aku ingin berfokus pada studi dan mencapai cita-cita, ayah. Masih banyak yang harus aku lakukan di dunia
akademik."
"Itu benar, Nak. Jangan biarkan perasaan pribadi mengganggu fokusmu untuk meraih impianmu."
"Aku berjanji akan tetap fokus, ayah. Kak Alam adalah temanku yang luar biasa, dan aku ingin menjaga hubungan kami tetap kuat."
Ayahnya Niken mengusap kepala Niken dengan lembut. "Kamu anak yang cerdas dan kuat, Nak. Aku yakin kau akan berhasil dalam apapun yang kau lakukan."
Niken tersenyum dan merasa lega. "Terima kasih, Ayah. Aku senang bisa berbicara tentang ini denganmu."
"Kau selalu bisa berbicara dengan saya tentang apa pun, Niken. Aku selalu ada untukmu."
Keesokan harinya setelah membahas tentang hubungan Alam dan Niken, Ayahnya Niken merasa terdorong untuk mengetahui lebih banyak tentang apa yang diinginkan Alam untuk nantinya menjadi pendamping hidupnya. Dia merasa bahwa Alam adalah pria yang bertanggung jawab dan memiliki nilai-nilai keagamaan yang kuat.
kau idamkan untuk menjadi pendamping hidupmu."
Alam tampak sedikit terkejut, tapi kemudian ia tersenyum dan menjawab, "tentu, pak. Untuk menjadi pendamping hidupku, aku ingin menemukan seseorang yang memiliki nilai-nilai keagamaan yang sama dengan saya. Seseorang yang bisa menjadi sahabat, partner dalam segala hal, dan mendukung satu sama lain dalam mencapai impian dan cita-cita."
Ayahnya Niken mengangguk mengerti, "kau ingin memiliki hubungan yang kuat berdasarkan kesamaan nilai-nilai dan tujuan hidup."
"Betul, pak Saya ingin meraih kesuksesan di bidang karier dan juga memiliki keluarga yang bahagia dan harmonis."
"Itu adalah tujuan yang mulia, Alam. Saya yakin kau akan menemukan seseorang yang tepat untukmu suatu saat nanti."
"Terima kasih, pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin dan membiarkan takdir menentukan jalan hidupku."
Ayahnya Niken tersenyum. "Saya yakin kau akan menjadi pria yang hebat dan memiliki masa depan yang cerah, baik dalam karier maupun keluarga."
__ADS_1
Obrolan itu seolah membuka pintu untuk lebih mendalamnya hubungan antara Ayahnya Niken dan Alam. Mereka semakin dekat satu sama lain, tidak hanya sebagai bos dan karyawan, tetapi juga sebagai sahabat yang dapat berbicara terbuka tentang kehidupan pribadi dan aspirasi mereka.
Di kampus, hubungan persahabatan antara Niken dan Alam semakin erat. Mereka menjadi pasangan belajar yang tak terpisahkan, mendukung dan memotivasi satu sama lain untuk meraih prestasi akademis yang lebih tinggi. Mereka juga sering berbagi impian dan tujuan mereka di masa depan, menjadi sumber inspirasi satu sama lain.
Niken selalu terinspirasi oleh kecerdasan dan dedikasi Alam dalam membantu perusahaan Ayahnya. Setiap kali mereka bertemu, mereka tak hanya membahas tugas kuliah, tetapi juga mengobrol tentang bagaimana mereka dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan dan masyarakat.
Sementara itu, Ayahnya Niken dan Niken terus berbicara tentang hubungan Niken dengan Alam. Ayah Niken ingin memastikan bahwa putrinya merasa nyaman dan bahagia dengan persahabatan mereka. Dia ingin Niken memiliki kebebasan untuk mengejar apa pun yang dia inginkan tanpa tekanan atau harapan.
Niken merasa sangat bersyukur memiliki Ayah yang mendukungnya sepenuh hati. Dia merasa aman untuk berbicara terbuka tentang perasaannya dan juga tentang persahabatannya dengan Alam. Ayahnya memberinya
nasihat bijaksana untuk selalu mengikuti hati dan tetap berfokus pada cita-citanya.
Pada suatu hari, kesempatan akhirnya datang ketika Ayahnya Niken mengajak Alam untuk makan malam bersama keluarganya. Niken merasa sedikit gugup karena tidak ingin terkesan mencampuri urusan pribadi Alam. Namun, selama makan malam itu, suasana begitu hangat dan akrab. Mereka berbicara tentang perusahaan, kuliah, dan juga hal-hal pribadi dengan riang gembira.
Setelah makan malam, saat suasana semakin nyaman, Ayahnya Niken akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Alam tentang pandangannya terhadap Niken.
"Alam, apakah kau pernah berpikir tentang masa depan Niken? Dia telah berkembang pesat selama berkuliah, dan sekarang dia memiliki nilai-nilai keagamaan yang kuat, serta semakin fokus pada karier."
Alam tersenyum ramah, "Ya, pak. Niken adalah seorang wanita luar biasa. Dia memiliki potensi besar dalam karier dan memiliki hati yang baik."
"Aku senang mendengarnya. Apakah kau berpikir dia masuk dalam kriteria perempuan yang kau idamkan untuk menjadi pendamping hidupmu?"
Alam tersedak karena kaget mendengar pertanyaan ayahnya Niken itu. Alam mengambil air putih di hadapannya lalu sejenak meminumnya.
Alam menatap Ayahnya Niken dengan tulus, "Sejujurnya, Pak, Niken adalah sosok yang luar biasa. Dia adalah teman baikku dan juga orang yang aku kagumi. Namun, saat ini, fokus kami adalah pada belajar dan meraih impian kami masing-masing."
Ayahnya Niken mengangguk mengerti. "Aku menghargai kejujuranmu, Alam. Jika takdir mempertemukan kalian di masa depan, aku yakin itu akan menjadi hal yang indah."
Alam tersenyum dan mengangguk. "terima kasih, Pak. Aku akan selalu menjaga persahabatan kami dengan baik."
Di momen itu Niken tidak berani berbicara banyak melihat keberanian sang ayah menanyakan hal yang begitu pribdi kepada Alam. Sementara sejauh ini Niken merasa kak Alam adalah mentornya selain dengan Sriyani bahkan juga Sofia yang ikut membantu dirinya terutama saat awal-awal dirinya berhijab.
__ADS_1