
Saat ayahnya Niken mulai tertarik dengan kepribadian Alam dan mulai berpikir untuk menjodohkkan putrinya dengan Alam, di sisi lain Sofia melalui Sriyani masih berupaya untuk menantikan kejelasan respon lanjutan Alam setelah mereka berdua sama-sama telah membaca file PDF berisi profil pribadi masing-masing.
Siang itu Sofia merenung sendiri di taman kampus, pandangannya menerawang ke langit yang cerah. Dia merasa cemas dan galau karena dijodohkan dengan Ardi, seorang pria mapan yang keluarganya anggap sebagai calon yang tepat untuknya. Namun, perasaan Sofia masih belum sreg. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hubungan yang diaturkan itu.
Di tengah kebimbangan Sofia, Sriyani, sahabat setia dan perwakilan Sofia untuk Alam, sibuk menghubungi Alam untuk menanyakan responnya setelah membaca file PDF profil Sofia.
"Hai, Alam. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai file PDF profil Sofia. Bisakah kita bertemu?"
Alam dengan cepat membalas pesan Sriyani, menunjukkan antusiasme untuk bertemu.
"Tentu, Sriyani. Kapan dan di mana kita bisa bertemu?"
"Besok pagi, di musolah fakultas IPS tempat kita biasa bertemu?"
"Baik, besok pagi aku akan ada di sana."
Keesokan harinya, Sriyani dan Alam bertemu musolah IPS seperti yang telah direncanakan. Alam duduk dengan penuh perhatian menunggu dengan wajah penuh keingintahuan.
"Hai, Alam. Terima kasih sudah setuju untuk bertemu."
"Tidak masalah. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan tentang file PDF profil Sofia?"
"Sofia merasa sedikit bingung dengan perjodohan yang diatur oleh orang tuanya dengan Ardi. Sebagai sahabatnya, dia ingin mencari tahu apakah kau merasa sesuatu setelah membaca profilnya."
Alam tersenyum ramah, "Sofia adalah seorang wanita yang hebat, dan aku menghargai kepercayaan yang diberikannya untuk memperlihatkan file PDF profilnya padaku. Namun, untuk saat ini, kita masih lebih fokus pada persahabatan kita. Aku ingin memberikan dukungan padanya dalam perjodohan yang dia hadapi dengan Ardi."
__ADS_1
"Jadi, kau tidak memiliki perasaan khusus terhadap Sofia?"
"Tidak, tidak seperti itu. Sofia adalah rekan kerja yang hebat di divisi mading yang sangat berarti bagi saya, tapi setau saya untuk saat ini, kayaknya Sofia pun sejalan dengan pemikiran saya untuk tidak membiarkan perasaan pribadi mengganggu hubungan kerjasama kami terutama di organisasi Rohis ini."
Sriyani merasa lega mendengar jawaban Alam. Dia merasa bahwa ini adalah keputusan yang bijaksana dari kedua temannya, dan dia akan mendukung Sofia dalam apapun yang akan dia lakukan berikutnya.
Beberapa waktu pun berlalu, Sofia akhirnya memutuskan untuk kembali dan lagi-lagi berbicara dengan orang tuanya tentang perasaannya terhadap perjodohan dengan Ardi. Dia berbicara dengan tulus dan jujur, menyampaikan bahwa dia belum merasa siap untuk ikatan yang begitu serius.
Awalnya, orang tuanya sedikit kecewa dengan keputusan Sofia. Namun, mereka melihat keberanian dan ketegasan putri mereka, serta melihat betapa bahagianya Sofia saat berbicara tentang persahabatannya dengan Alam.
Akhirnya, orang tua Sofia memberikan dukungan untuk putrinya. Mereka menyadari bahwa kebahagiaan Sofia adalah prioritas utama, dan mereka memutuskan untuk memberi waktunya untuk menemukan cinta sejati, jika
memang itu yang Sofia inginkan.
Sofia juga merasa lega dan bahagia dengan dukungan orang tuanya. Dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri dan mengikuti hatinya.
Hari-hari berlalu, dan Sofia terus merenungkan perasaannya. Dia merasa seperti berada di persimpangan jalan, antara melanjutkan persahabatan dengan Alam atau membuka hatinya untuk mencoba menjalin hubungan dengan Ardi.
Sriyani selalu mendukung Sofia dalam setiap tahap perjalanan ini. Dia mengingatkan Sofia bahwa kebahagiaannya adalah prioritas utama, dan dia harus mengikuti hatinya sendiri tanpa mempertimbangkan ekspektasi orang lain.
Sofia merenung di kamarnya, memandangi bintang-bintang yang berkilauan di langit malam. Hatinya terus berkecamuk, mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu menghantuinya. Dia merasa tertarik pada Alam, tetapi perasaan itu juga diikuti oleh keraguan dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi jika dia mengambil risiko dan mengungkapkan perasaannya.
Sementara itu, di lain tempat, Alam juga merasa galau. Dia menyadari betapa berarti Sofia bagi dirinya, tetapi dia tidak ingin merusak pertemanan mereka dengan mengungkapkan perasaannya. Dia takut bahwa perasaannya bisa merusak hubungan kerjasama yang begitu indah selama ini.
Di saat yang sama, Sriyani tetap menjadi teman setia bagi Sofia dan mendukungnya dalam menghadapi perasaannya. Mereka berbicara panjang lebar tentang hubungan persahabatan dan cinta, dan bagaimana
__ADS_1
mengambil keputusan yang terbaik bagi diri sendiri.
Hari-hari berlalu, dan pertemanan Sofia dan Alam semakin kuat. Mereka tetap saling mendukung dan bersama-sama mengejar impian masing-masing. Sofia juga semakin dekat dengan Sriyani, yang selalu ada di sampingnya untuk memberikan dukungan dan nasihat.
Di sisi lain, kehidupan Sofia tetap diiringi perjodohan yang diaturkan dengan Ardi. Kedua orang tuanya terus mendorongnya untuk mengenal Ardi lebih baik dan memberikan peluang kepada pria itu untuk membuktikan diri sebagai calon pendamping yang baik.
Namun, perasaan Sofia tetap tidak merasa nyaman. Setiap kali dia bersama Ardi, hatinya selalu merasa berat dan terpaksa. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak tepat dalam hubungan ini.
Suatu hari, setelah berbicara dengan Sriyani tentang perasaannya, Sofia merasa bahwa sudah saatnya untuk berbicara dengan Ardi dengan jujur. Mereka bertemu di rumah Sofia, dan Sofia mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat.
"Ardi, aku perlu bicara denganmu tentang perasaanku. Aku merasa bahwa hubungan kita tidak berjalan dengan baik. Aku tahu keluarga kita menginginkan hal ini, tapi aku merasa tidak bisa berbohong pada diri sendiri."
Ardi terlihat bingung dan sedikit terkejut mendengar perkataan Sofia. Namun, dia mencoba untuk mendengarkan dengan bijaksana.
"Aku mengerti perasaanmu, Sofia. Tapi apakah kita bisa memberikan peluang untuk memperbaiki hubungan kita? Aku sungguh ingin membuatmu bahagia."
Sofia menggeleng lembut, "Maaf, Ardi. Aku merasa ini bukan tentang memberi peluang. Aku tidak ingin menyakiti hatimu, tapi aku juga tidak bisa terus berpura-pura."
Ardi merenung sejenak, lalu mengangguk dengan pengertian, "Aku menghargai kejujuranmu, Sofia. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jika memang kita tidak bisa bersama, aku akan merelakannya."
Sofia merasa sedikit lega karena Ardi bisa mengerti perasaannya. Dia merasa sedih karena merasa harus mengecewakan Ardi, tapi dia juga merasa lega karena akhirnya berani mengutarakan perasaannya dengan jujur.
Kehidupan terus berjalan, dan Sofia memutuskan untuk memberikan dirinya lebih banyak waktu untuk memahami perasaannya. Meskipun dia merasa tertarik pada Alam, dia juga tahu bahwa hubungan pertemanan mereka sangat berarti dan dia tidak ingin merusaknya.
Sofia belajar untuk menemukan keseimbangan antara cinta dan pertemanan. Dia belajar untuk menghargai perasaannya sendiri dan memberikan dirinya waktu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.
__ADS_1
Namun, dalam hati Sofia masih ada keraguan dan ketidakpastian. Dia merasa bahwa hubungannya dengan Alam lebih dari sekadar pertemanan, tetapi dia tidak tahu apakah Alam merasakan hal yang sama. Di sisi lain, Alam juga merasa bingung tentang perasaannya terhadap Sofia. Dia merasa sangat dekat dan nyaman dengan Sofia, tapi dia tidak ingin mengambil risiko yang bisa merusak pertemanan mereka.