
"Ayo ikuti aku!" Ucap Raja Soviech memimpin perjalanan. Naomi beserta para prajurit mengikuti langkah Raja Soviech menuju sebuah goa yang sangat besar. Dari luar goa Naomi bisa mencium bau amis darah yang menyengat.
Naomi termangu menatap bibir goa yang sangat besar itu. Ia kembali merasa dejavu seakan pernah mendatangi tempat ini sebelumnya. Tiba-tiba saja sekilas bayangan Naga berwarna hitam memenuhi kepalanya.
"Naomi!" Panggilan Raja Soviech membuat Naomi membuyarkan lamunannya.
"Ah.. yang mulia, apakah anda berkenan kalau saya memasuki goa ini sendirian?" Untuk kedua kalinya Naomi secara spontan mengucapkan hal tersebut. Ia sendiri merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Raja Soviech yang mendengar permintaan Naomi sontak kaget dan menatapnya tajam. "Kau benar-benar ingin bunuh diri ya?" Bentak Raja Soviech pada Naomi.
Naomi membalas tatapan Raja Soviech sama tajamnya. Seakan ia tidak lagi takut pada apapun. "Saya akan membujuk Naga Kegelapan sendiri yang mulia!" Ucap Naomi tegas.
Raja Soviech menghela napas. Ia merasa tidak ada ruginya juga kalau Naomi sampai mati akibat serangan Naga Kegelapan. "Baiklah kami akan menunggumu disini. Kalau kau tidak keluar selama 30 menit kami nyatakan kau telah mati" ucap Raja Soviech pada Naomi.
Naomi mengangguk, ia berjalan memasuki goa sendirian. Bau amis yang kian menyengat membuat seisi perut Naomi serasa di aduk-aduk. Sambil menahan mual, ia terus melangkah masuk hingga dirinya terselimuti oleh kegelapan.
Naomi terus berjalan tanpa arah. Hingga ia melihat setitik cahaya di ujung Goa. Ia tersenyum, perasaan bahagia memenuhi seisi hatinya. Kenapa aku jadi merasa senang begini, apa jangan-jangan aku memang ada kaitannya dengan dunia ini. Gumamnya dalam hati.
"Beraninya makhluk rendahan memasuki wilayahku!" Suara berat itu sontak membuat Naomi tersentak. Ia melihat seekor naga hitam tengah terbang di hadapannya. Naga tersebut hendak menyerang Naomi dengan semburan api dari dalam mulutnya.
"Tenanglah, aku tidak berniat untuk menyakitimu" ucap Naomi sembari mendekat ke arah Naga tersebut.
"Aku tidak peduli, pergilah dari sini!" Ucap Naga tersebut sambil menyemburkan api ke arah Naomi. Naomi yang melihat api tengah mengarah padanya pun segara menghindar.
"Akh.." Naomi berteriak kesakitan saat api itu membakar lengan kanannya. Ia mengeluarkan air mata dan jatuh terduduk di atas tanah.
__ADS_1
"Kumohon Naga Kegelapan, Kerajaan Noderdim membutuhkanmu" Ucap Naomi lirih menahan rasa sakit pada lengan kanannya.
"Aku hanya akan mengabdi pada nona Thriss" Naga kegelapan berjalan menjauh dari Naomi. Naomi yang melihat hal itu pun segera beranjak berdiri dan berlari mengejarnya. Bagaimanapun aku tidak boleh gagal membujuk naga ini. Ucap Naomi dalam hati.
"Tunggu Naga Kegelapan, bagaimana kau bisa tau kalau aku bukan majikanmu?" Ucap Naomi dengan yakin. Naga kegelapan pun segera menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Naomi.
"Nona Thriss tidaklah lemah, tetapi aku cukup salut padamu gadis kecil kau bisa mendengar perkataanku" ucap Naga Kegelapan membuat Naomi memiringkan kepalanya bingung. Jadi yang lain tidak bisa mendengar ucapan Naga ini, sementara aku sendiri bisa mendengarnya dengan jelas. Gumam Naomi dalam hati.
"Bagaimana kalau aku ini sebenarnya reinkarnasi dari Thriss?" Pertanyaan bodoh itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Naomi. Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk Naga Kegelapan. Semoga saja ia terpancing oleh ucapannya.
"Nona Thriss itu abadi gadis kecil, tetapi ucapanmu dapat dicoba juga" Ucap naga itu yang tampak ambigu bagi Naomi. Dicoba juga? Maksudnya apa?
"Kemarilah, akan ku tunjukkan sesuatu milik Nona Thriss" Naomi mengangguk mengikuti langkah kaki Naga Kegelapan. Ia semakin melangkah masuk ke dalam Goa yang gelap gulita itu. Anehnya, semakin Naomi melangkah masuk ke dalam semakin pula Goa tersebut terlihat terang. Ini keren goa di awal terlihat gelap, namun saat masuk ke dalam ia bertambah terang seakan ada cahaya yang menyinarinya.
Naga Kegelapan berhenti di depan sebuah tumpukan batu membentuk meja dengan kalung batu ruby berwarna merah di atasnya.
Saat kalung batu ruby berwarna merah tersebut sudah melingkar di lehernya, Naomi merasakan sensasi yang amat panas. Tubuhnya seakan terpanggang di dalam sebuah oven. Ia berteriak meronta-ronta berniat melepaskan kalung itu dari lehernya. Namun bukannya terlepas batu ruby merah itu seakan menyatuh pada tubuhnya. Dada Naomi memancarkan sebuah cahaya merah yang menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya.
"Gadis kecil!!" Naga Kegelapan berteriak saat cahaya merah menutupi pandangannya. Ia sendiri tidak menyangka bahwa kalung ruby peninggalan Thriss dapat tertelan ke dalam jantung gadis kecil itu.
Saat cahaya merah tersebut berangsur-angsur menghilang, Naga Kegelapan menatap gadis di hadapannya sembari menitihkan air mata. My lord, gumamnya dalam hati.
Naomi merasakan sekujur tubuhnya menjadi ringan. Rasa terbakar yang menyiksanya juga berangsur menghilang begitu saja. Naomi menatap seklilingnya. Ia dapat melihat semua partikel-partikel terkecil yang ada di goa tersebut. Bahkan ia dapat melihat pergerakan Naga Kegelapan di masa depan yang akan memeluk dirinya. Apa ini kekuatan Dewi Thriss? Tanya Naomi dalam hati.
"My Lord, saya telah menunggu anda kembali selama 100 tahun lamanya" Naga Kegelapan masih terus menitihkan air mata tak percaya. Ia berjalan perlahan mendekati Naomi dan merengkuh tubuh mungilnya.
"Tunggu, ini memusingkan. Aku bisa melihat masa depan dengan mataku" Naomi melepaskan pelukan Naga Kegelpan dari tubuhnya. Mata kanan dan kirinya seakan tumpang tindih, membuat kepalanya sakit serasa mau meledak.
__ADS_1
"Ah My Lord, perbanlah mata kananmu menggunakan ini" Naga Kegelapan memberikan sebuah kain putih panjang kepada Naomi. Naomi pun segera mengambil kain tersebut dan melilitkannya menutupi mata sebelah kanannya. Sekarang Naomi dapat kembali melihat secara normal, tidak tumpang tindih antara masa depan dan masa kini seperti tadi.
"Apa yang telah terjadi?" Saat semuanya kembali normal, Naomi bertanya pada Naga Kegelapan dengan nada bingung. Ia baru tersadar bahwa sedari tadi Naga Kegalapan memanggilnya dengan sebutan My Lord. Apa sebenarnya aku benar-benar reinkarnasi dari Dewi Thriss?
"My Lord, lihatlah penampilanmu dari pantulan air ini" Naomi mengangguk berjalan menuju sebuah batu berbentuk wadah berisi air yang menetes dari langit-langit goa. Ia menatap wajahnya dari pantulan air tersebut. Naomi tersentak kaget saat melihat penampilannya yang berubah seperti lukisan yang sebelumnya ia lihat.
Rambut berwarna hitam legamnya berubah menjadi merah darah. Mata kanannya yang telah terbungkus kain putih pun membuat dirinya persis seperti lukisan Dewi Thriss. Jadi aku adalah reinkarnasi dari Dewi Thriss yang tertarik oleh portal dunia? Namun kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini. Ucap Naomi dalam hati.
"Maaf Naga Kegelapan, aku masih tidak bia mengingat apapun" ucap Naomi lirih sembari menghadap Naga Kegelapan.
"Tidak apa My Lord, kehadiran anda sudah membuat saya sangat senang" ucap Naga Kegelapan sambil menunduk memberikan hormat pada Naomi. Naomi berjalan mendekatinya dan mengelus sayap Naga Kegelapan yang terbungkus oleh sisik.
"Apa nama panggilanmu, Naga Kegalapan?" Tanya Naomi yang merasa kesusahan harus menyebut kata Naga Kegelapan saat memangil dirinya.
"Anda bisa memanggil saya Swart, My Lord" Naomi tersenyum dan mengangguk. Ia naik ke atas punggung Swart dan memeluknya. Meskipun Naomi tidak mengingat apapun, ia merasa separuh hatinya yang telah hilang ia temukan kembali. Perasaan rindu begitu dalam melekat pada dirinya dan Swart.
Saat Naomi dan Swart tengah asyik melepas rindu, terdengar suara langkah prajurit yang mendekat ke arah mereka. Naomi menghela napas, ia tau pasti itu adalah suara langkah prajurit milik Raja Soviech yang telah menganggapnya dirinya mati di tangan Naga Kegelapan.
"Swart, mari kita kejutkan mereka" Ucap Naomi berbisik di telinga Swart. Swart yang mengerti pun segera mengepakkan kedua sayapnya. Mereka terbang keluar menghampiri prajurit milik Raja Soviech.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan vote, like, dan komen untuk mendukung novel ini. Terimakasih! 🖤