
---------------------------------------------------
Naomi tengah duduk bersama orang-orang berpentingan di istana. Ia mengambil tempat di sebelah Klora dan siap menelan sajian makan malam di atas meja.
"Klora, bisakah kau membuat ibadah khusus untuk meminta kemenangan dari para Dewa sebelum peperangan berlangsung?" Tanya Raja Soviech setelah menjatuhkan peralatan makannya di atas meja, hingga terdengar suara dentingan nyaring di seisi ruang.
"Bisa yang mulia, saya akan menyiapkannya segera" ucap Klora dengan senyum khas di wajahnya. Cantik. Satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan dirinya.
"Yang Mulia, bolehkah saya meminjam pemakaman istana untuk melatih sihir saya?" Raja Soviech beserta beberapa orang yang hadir tersentak kaget mendengar ucapan Naomi. Sebuah pemakaman untuk di jadikan latihan, sangat-sangat tidak masuk akal. Pikir mereka.
"Bisakah kau beri alasan yang lebih jelas, Nona Naomi?" Tanya Ratu Elisse dengan nada tidak sukanya. Naomi tersenyum dan dengan santai membalas ucapan tersebut.
"Saya ingin mencoba membangunkan para Undead" Terlihat rawut wajah Raja dan Ratu yang menahan amarah. Sontak semua orang yang hadir langsung terdiam. Klora juga bungkam seribu bahasa tidak ingin membantu Naomi.
"Lancang sekali! Kau ingin membangunkan para Undead di pemakaman istana yang suci?!" Geram Ratu Elisse sambil membanting gelas ke atas meja. Naomi tersentak kaget, bukan seperti ini yang ia harapkan. Ia bahkan tidak tau kalau ternyata membangunkan para Undead adalah salah satu hal yang terlarang di istana ini.
"Nona Naomi pemakaman di istana bukanlah sembarangan pemakaman. Disana adalah tempat peristirahatan orang-orang besar seperti Ratu dan Raja terdahulu, Pangeran dan Putri, para Ksatria dan Pendeta Agung" ucap Ksatria Froderu menjelaskan kesalahpahaman ini. Naomi yang mendengar hal itu merutuki Swart di dalam hatinya. "Swart kenapa kau tidak bilang hal ini sebelumnya padaku!!"
"Saya tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti ini My Lord. Kalau begitu anda ancam saja, lagipula mereka kan yang membutuhkan kekuatan anda untuk memenangkan peperangan ini" Balas Swart menggunakan telepati.
"Kenapa aku jadi seperti orang jahat, pakai ancam mengancam segala?!" Ucap Naomi yang tidak terima mendengar saran dari Swart. Swart terdiam, dia tidak lagi membalas telepati majikannya. Semakin ia jawab, semakin pula Naomi akan menaikkan nadanya satu oktaf.
"Jadi Raja dan Ratu menganggap saya telah lancang? Kalau begitu baiklah jangan harap saya akan membantu kalian dalam peperangan ini. Tidak tau berterimakasih!" Ucap Naomi ketus mengikuti saran yang diberikan Swart sebelumnya. Swart yang mendengar hal itu memutar bola matanya jengkel. "Akhirnya Anda mengancamnya juga My Lord"
"Jangan berbangga hati, aku melakukan ini karena terpaksa!" Ucap Naomi yang masih meninggikan harga dirinya di depan Swart. Swart kembali terdiam, dia malas menjawab majikannya yang serba benar itu.
"Eh, bukan begitu nona Naomi. Saya akan mengabulkan permintaanmu. Saya Raja Soviech memberikan nona Naomi ijin untuk membangunkan para Undead menggunakan pemakaman istana" ucap Raja Soviech cepat dengan tatapan mata yang menyiratkan ketakutan akibat ancaman yang dilontarkan Naomi.
__ADS_1
"Tunggu yang mulia, apakah anda yakin dengan kuputusan ini?" Tanya Ratu Elisse yang masih saja tidak setuju orang-orang yang dikasihinya akan dibangunkan menjadi seorang Undead.
"Kalau nona Naomi yang meminta saya pasti akan menyetujuinya" Balas Raja Soviech yang mengundang senyuman sinis di wajah Naomi. Dasar Raja penjilat, menjijikan sekali. Geramnya dalam hati.
"Tidak jadi, saya sudah tidak sudi memakai pemakaman yang berada di istana. Saya akan mencari pemakaman umum di luar sana saja" Ucap Naomi dengan nada sombong level maximal. Swart tersenyum senang, "B**agus My Lord, anda harus membuat pemimpin bodoh ini untuk tunduk pada anda."
Raja Soviech dan Ratu Elisse terdiam tidak berani lagi memperdebatkan hal itu. Naomi mengambil segelas air dan meneguknya hingga habis. Setelah itu ia menaruh gelas dengan kasar di atas meja dan beranjak keluar dari ruang makan tanpa pamit.
"Tadi anda sangat hebat My Lord" ucap Swart yang berterbangan di atas kepala Naomi. Naomi mengerucutkan bibirnya, sejujurnya ia merasa tidak enak hati setelah mengancam Raja dan Ratu yang sedang berada di posisi terpuruknya.
"Aku ingin ke kamar tidur dan berisitirahat. Setelah berdebat kepalaku jadi sakit" ucap Naomi sembari memijat-mijat pelipisnya.
---------------------------------------------------
Setelah selesai membersihkan diri. Naomi dan Swart kini bersiap untuk keluar dari istana melihat keadaan Rakyat Noderdim. Dan juga memenuhi tujuan utama Naomi yaitu mencari pemakaman umum untuk membangkitkan para Undead.
"My Lord anda benar-benat tidak mau pakai sihir teleportasi saja?" Tanya Swart yang terlihat cemas. Naomi hanya membalasnya dengan gelengan, memangnya apa yang harus dicemaskan sih.
"Nona Naomi, apa anda berkenan bila saya menjadi pemandu anda? Saya sudah hafal dengan seluk beluk Kerajaan ini" Naomi terkerjut melihat penampakan Ignes yang sudah berpakain rapih dengan tudung di kepalanya. Mau tidak mau karena melihat hal itu, Naomi terkekeh kecil. Ternyata Ignes lucu juga ya kalau lagi semangat kayak gini. Ucap Naomi dalam hati.
"Baiklah Ignes, tolong jadi pemanduku hari ini" ucap Naomi sembari tersenyum manis. Ia mengambil sebuah tudung berwarna senada dengan rambut merah darahnya. Ia menarik tudung tersebut menyembunyikan statusnya sebagai Thriss, Dewi penolong bagi Kerajaan Noderdim.
Naomi, Ignes, beserta Swart yang bersembunyi di balik tudung Naomi, melangkah keluar dari dalam Istana. Mereka menuju suatu permukiman rakyat yang jaraknya paling dekat dengan posisi mereka saat ini. Naomi mengedarkan pandangannya menatap jalanan yang ramai dengan lalu lalang orang khas seperti pasar. Ada penjual dan pembeli yang saling tawar menawar harga. Ada yang berpakaian compang camping, dan ada pula yang berpakaian rapih bak seorang bangsawan.
"Mengapa semuanya tampak normal Ignes?" Tanya Naomi yang mulai bingung dengan keadaan permukiman yang bisa dikatakan sangat layak.
"Karena kita masih berada di permukiman para bangsawan yang kaya raya. Kalau jalan lurus lagi kesana anda akan melihat perbedaannya nona" ucap Ignes sembari menunjuk arah jalanan dengan jari telunjuknya. Mendengar hal itu Naomi segera menganggukkan kepalanya. Ia terus saja berjalan mengikuti langkah kaki Ignes yang bisa dibilang cukup tidak sabaran.
__ADS_1
Kini Naomi mulai merasakan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Suara teriakan meminta tolong menggema dari balik jalanan sempit yang lembap. Tak hanya satu, namun dua, tiga, empat atau lebih suara teriakan memenuhi pendengaran Naomi.
"Nona, kita mulai memasuki wilayah yang dikuasai oleh preman-preman bengis yang suka merampas dan menyiksa para wanita. Ah, mereka juga menjual belikan budak disini" ucap Ignes yang membuat Naomi bergidik ngeri. Disaat seperti ini masih adakah orang yang tega untuk menyiksa para wanita. Benar-benar tidak punya hati!
"Nona Naomi, bangunan ini merupakan pelelangan terbesar yang di pimpin oleh seorang Human yang sudah bersekutu dengan Iblis" Ignes menunjuk arah bangunan usang yang menjulang tinggi. Mungkin sekitar tiga hingga empat lantai, pikir Naomi.
"Ayo kita masuk, aku mau lihat seperti apa pelelangan yang dipimpin orang setengah iblis ini" ucap Naomi yang sudah mengambil langkah pertama untuk memasuki bangunan usang itu. Ignes hanya bisa menurut mengikuti langkah junjungannya dari belakang.
Naomi menyiritkan dahinya mencium bau anyir darah yang bercampur dengan bau pesing air mani, saat memasuki bangunan ini. Seseorang bertubuh besar dengan wajah yang setengah hancur menyambut kedatangan Naomi dan Ignes. Naomi yang menatap wajah menjijikan dari laki-laki itu segera menutup mulutnya menahan mual.
"Selamat datang nona-nona cantik, apa kau ingin menjual tubuhmu disini?" Naomi ingin sekali mencabut pita suara laki-laki itu. Sambil menaham geram ia melipatkan kedua tangannya di atas dada.
"Minggir, tunjukkan saya pelelangannya" ucap Naomi singkat yang disambut senyum sinis dari bibir laki-laki itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi ia mengantarkan Naomi dan Ignes menuju sebuah ruangan besar dengan bangku-bangku berjejer. Sebagian besar bangku-bangku tersebut sudah ditempati oleh orang-orang berbusana mewah seakan sedang berlomba-lomba memamerkan kekayaan mereka.
"Untungnya anda tepat waktu nona, pelelangan akan segera dimulai. Duduklah di tempat yang menurut anda nyaman" ucap laki-laki itu dengan nada yang sedikit lebih sopan dari sebelumnya. Naomi berjalan menuju dua bangku kosong yang berada di pojok sebelah kanan.
"Nona, apakah anda ingin membeli sesuatu dari pelelangan ini? Untunglah saya membawa sedikit uang dari Raja Soviech" ucap Ignes sembari mengeluarkan sebuah kantung kecil yang berisi koin-koin emas. Naomi yang melihat hal itu langsung melukiskan senyum di wajahnya. Untung aku membawa Ignes bersamaku, ucapnya dalam hati.
.
.
.
.
**Naomi: Swart, apa yang harus kita lakukan pada Silent Reader?
__ADS_1
Swart: My Lord, anda dapat menggunakan kutukan jomblo biar mereka kapok!
Author: Author tidak bertanggung jawab ya kalau kalian jadi jomblo seumur hidup karna ga like dan komen novel ini ðŸ˜**