
---------------------------------------------------
"Nona Naomi, bangunlah" Ignes susah payah membangunkan Naomi yang tertidur pulas. Ia berkali-kali megoyang-goyangkan tubuh junjungannya namun tetap tak mendapatkan respon.
Swart yang melihat hal itu hanya diam tanpa berniat untuk membantu. Ia sebenarnya bisa membangunkan Naomi dengan telepati, namun lebih baik dia membiarkan majikannya untuk beristirahat lebih lama.
"Nona Naomi!" Ucap Ignes setengah berteriak membuat Naomi terperanjat kaget. Naomi mengusap-ngusap telinganya yang sakit akibat teriakan Ignes. Beginikah cara elf membangunkan orang yang sedang tertidur, tidak berprikemanusiaan sekali. Gumam Naomi dalam hati sambil menatap Ignes yang berdiri di sebelahnya.
"Nona bangunlah sekarang sudah siang. Saya akan membawakan sarapan ke kamar anda" ucap Ignes yang disambut anggukan Naomi. Naomi beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai berpakaian dengan rapih, ia melahap sarapan yang di bawakan Ignes untuknya. Ia harus mengisi energi ekstra untuk berlatih sihir hari ini.
"Nona, Raja Soviech memberitahu saya untuk memanggil anda menuju ruang rapat untuk membahas strategi peperangan" ucap Ignes kepada Naomi. Naomi yang mendengar hal itu pun menghela napas panjang. Ternyata pekerjaannya hari ini sangat banyak dan semuanya menguras otak.
"Baiklah, aku akan menghabiskan sarapan ini
terlebih dahulu" ucap Naomi sembari mempercepat makannya. Setelah sarapannya habis ia segera memanggil Swart untuk ikut bersamanya menuju ruang rapat.
Ignes menuntun Naomi dan juga Swart menuju ruang rapat. Jarak antara kamar tidur Naomi dan ruang rapat ternyata cukup jauh. Dibutuhkan sekitar 5 menit hingga mereka tiba di tempat tujuan.
"Salam yang mulia" Naomi menunduk memberikan hormat kepada Raja Soviech saat memasuki ruang rapat. Ia mengambil tempat di sebelah Raja Soviech dan melihat peta besar Kerajaan Noderdim telah tergeletak di atas meja.
"Karena semua sudah berkumpul, mari kita mulai rapatnya" ucap Raja Soviech membuat berbagai batang hidung yang hadir mengangguk. Raja Soviech mengambil sebuah paku kertas dan menusuknya di suatu tempat pada peta.
"Ini adalah titik dimana peperangan akan dilaksanakan. Tempat ini bernama Hutan Arizona. Disana terdapat sebuah jurang yang mengarah langsung pada sebuah pemakaman" ucap Raja Soviech yang didengar baik oleh Naomi. Sebuah pemakaman? Kalau seperti itu akan menguntungkanku sebagai penyihir dong! Gumam Naomi dalam hati.
"Bagaimana bila kita menempatkan para pemanah di atas pohon untuk memanah prajurit para iblis?" Ucap Naomi memberikan sebuah ide. Seluruh pasang mata yang mendengar ide dari mulut Naomi segera menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Kenapa mereka tidak setuju dengan ideku? Bukankah akan lebih baik bila memanah dari atas. Ucap Naomi dalam hati.
"Tidak bisa nona Naomi, iblis tidak akan mati bila hanya menggunakan sebuah panah. Lagi pula akan berbahaya bila mereka menyerang kita dengan api neraka. Api itu dapat ******* habis pepohonan dan membuat para pemanah yang berada di atasnya ikut terbakar" ucap Ksatria Froderu yang juga ikut hadir di dalam rapat. Naomi yang mendengar penjelasan dari mulut Froderu segera menyunggingkan senyum.
"Kalau begitu apa gunanya aku! Begini caranya-" Naomi menjelaskan strategi yang akan dijalankannya dalam peperangan. Semua yang mendengar memancarkan ekspresi bahagia hingga bersorak-sorai.
__ADS_1
"Kalau seperti ini kemenangan sudah berada di tangan kita! Terimakasih nona Naomi, anda adalah Dewi Penolong kami" ucap Raja Soviech mengakhiri rapat.
"My Lord anda harus berusaha dengan keras untuk menjalankan strategi ini. Semuanya tergantung pada anda" ucap Swart yang bertelepati pada Naomi.
"Kau benar Swart maka dari itu aku akan berjuang dengan keras! Mari kita ke perpustakaan khusus untuk kembali mendalami ilmu sihirku" balas Naomi menggunakan telepati.
Naomi kembali di tempat yang sama seperti kemarin. Ia menghafal berbagai macam sihir yang menggunakan bahasa latin. Sesekali ia mengacak rambutnya frustasi akibat terlalu banyak mantra yang harus dihafal.
"My lord, lebih baik anda dahulukan sihir yang akan digunakan dalam peperangan" ucap Swart yang melihat wajah frustasi majikannya.
"Aku akan mempelajari semuanya. Setelah tempat latihan kita sudah selesai dibangun, aku akan mempraktekkannya langsung di hadapanmu" ucap Naomi dengan penuh keyakinan dan semangat membara. Swart tersenyum senang melihat semangat yang ada pada majikannya. Ia seperti melihat keberadaan Thriss di dalam diri Naomi.
Berjam-jam Naomi berada di posisi yang sama. Punggungnya terasa sakit serasa patah tulang. Ia merenggangkan tubuh dan beranjak dari tempat duduknya. Rasanya ia ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu dengan cemilan manis dan segelas teh.
"Swart, aku ingin mencari Ignes dan meminta kudapan padanya" ucap Naomi pada Swart. Swart yang tidak bisa menolak perkataan majikannya pun segera terbang bertengger di pundak Naomi.
Naomi berkeliling mencari keberadaan Ignes di dalam istana. Setelah menemukan gadis elf itu tengah bersantai di ruang khusus pelayan, Naomi segera berjalan menghampirinya.
"Ignes, bisakah kau membuatkanku kue manis dan segelas teh?" Ucap Naomi yang membuat Ignes terperanjat kaget. Ignes segera bangun dari tempat duduknya dan mengangguk menjalan perintah dari Naomi.
"Swart sebenarnya aku bingung bagaimana cara Thriss mengendalikan mata kanannya ini" ucap Naomi pada Swart yang berada di atas pangkuannya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kemampuan penglihatan masa depannya dengan menutupinya dengan sebuah perban.
"Kau bisa membaginya menjadi dua My Lord. Seperti sebuah layar yang menunjukkan dua tayangan sekaligus" jawab Swart yang langsung dipraktekkan oleh Naomi. Naomi secara perlahan melepas perban yang melilit mata sebelah kanannya. Ia memfokuskan pandangannya dan membaginya menjadi dua layar. Di sebelah kiri menunjukkan masa kini, dan di sebelah kanan menunjukkan masa depan.
"Ah, aku bisa mengendalikannya sedikit" ucap Naomi sembari terus berusaha untuk fokus memperjelas kedua penglihatannya itu. Baru saja Naomi berhasil melakukannya, sedetik kemudian penglihatan itu kembali tumpang tindih dan membuat Naomi merasa pusing. Ia kembali melilitkan mata sebelah kanannya dengan perban sembari menghela napas.
"Ternyata sulit untuk mengendalikannya Swart" ucap Naomi sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
"Lama-lama anda akan terbiasa My Lord" ucap Swart menghibur majikannya.
Saat Naomi tengah asyik mengelus sayap milik Swart, Ignes datang menghampirinya dengan membawa nampan berisi bermacam-macam kue dan secangkir teh.
__ADS_1
Naomi yang melihat kue-kue mungil berada di hadapannya segera mengambil sendok dan melahapnya. Dengan pipinya yang masih dipenuhi oleh kue, Naomi tersenyum dan bergumam "Enak sekali!"
"Kau seperti anak kecil saja My Lord" ejek Swart yang melihat tingkah majikannya. Naomi berpura-pura tidak mendengar ucapan Swart dan terus menikmati kue-kue itu.
"Oh ya Swart, di dunia ini sebenarnya ada berapa ras sih? Kalau Ignes dilihat dari telinganya itu ras elf kan?" Tanya Naomi saat Ignes sudah pergi dari sekitarnya.
"Di dunia ini ada 5 macam ras My Lord. Human, Undead, Dragon, Elf, dan Demon. Hanya saja Undead sudah punah keberadaanya dan hanya bisa dihidupkan dengan sihir" Ucap Swart menjelaskan. Naomi mengusap-ngusap tengkunya bingung.
"Swart kau ini ras Dragon kan?" Tanya Naomi meyakinkan.
"Benar My Lord, saat ini ras yang memimpin dunia adalah Demon dan Human. Sementara Dragon dan Elf hanyalah sebagai hewan peliharaan saja My Lord" Swart kembali menjelaskan membuat Naomi menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia menyesap secangkir teh seraya menyederkan badannya di kursi Gazebo.
"Aku ingin berjalan-jalan keluar dari Istana dan melihat kehidupan rakyat disini Swart" ucap Naomi sambil menguyah kue mungil nan manisnya.
"Saat ini, di luar sana kondisinya cukup hancur My Lord. Akibat ulah para Iblis, rakyat dipaksa bekerja untuk menghasilkan uang pajak yang besar. Bila mereka tidak memberikan uang pajak, mereka akan dibawa ke Neraka untuk dijadikan budak" jawab Swart membuat hati kecil Naomi merasa sakit. Kejamnya para iblis itu! Gumamnya dalam hati.
"Apakah kau tau untuk saat ini berapa banyak ras Human yang sudah dijadikan budak oleh ras Demon?" Tanya Naomi pada Swart. Swart segera terbang menghinggap di pundak Naomi.
"Hampir setengah populasi dari ras human itu sendiri My Lord" Naomi secara spontan menggebrak meja di hadapannya saat mendengar ucapan Swart. Ia merasa amarahnya meluap-meluap seperti air yang mendidih.
"Kita akan membalaskannya My Lord" ucap Swart sembari mengusap-ngusap sisiknya ke pipi Naomi.
"Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi dan aku akan menghabisi para iblis itu!" Ucap Naomi penuh keyakinan.
.
.
.
.
__ADS_1
**Vote, like, dan komennya jangan lupa ya kakak! 🖤
-Naomi**