
Kini Naomi tengah bersantai di dalam kamar tidurnya. Ia melepaskan perban yang melilit mata kanannya seraya kembali memfokuskan diri untuk membaginya menjadi dua penglihatan. Ia membayangkan adanya sebuah garis hitam yang memisahkan penglihatan mata kiri dan kanannya. Dengan usaha dan niat yang besar akhirnya Naomi berhasil membagi kedua penglihatan itu dengan sempurna.
"Swart, aku berhasil!" Naomi memekik senang, namun karena pekikannya itu ia kehilangan fokus dan akhirnya membuyarkan semua kerja kerasnya sedari tadi. Penglihatannya kembali tumpang tindih membuat dirinya berdecak sebal.
"Tenanglah My Lord, saya akan ajarkan anda cara bermeditasi" ucap Swart yang dibalas anggukan Naomi. Sewaktu ia masih berada di Bumi, Naomi tidak pernah sekalipun melakukan meditasi. Menurutnya itu hanya akan membuang-buang waktu dan lebih baik ia memakai waktu tersebut dengan bekerja keras mencari penghasilan.
"Tutup kedua mata anda My Lord, kosongkan pikiran anda dan alirkan semua energi sihir yang berada di jantung anda ke seluruh tubuh. Mulai dari kepala, kedua tangan, dan terus turun menuju kedua kaki anda" ucap Swart yang langsung dipraktekan oleh Naomi.
Naomi mengambil posisi duduk tegak lurus. Ia menutup kedua matanya dan mengosongkan pikirannya. Ia membayangkan sebuah sihir berwarna merah berada di jantungnya. Dengan tenang ia mengalirkan energi sihir itu seperti aliran darah menuju seluruh tubuhnya. Mulai dari kepalanya hingga ujung kakinya.
Swart tersenyum puas melihat majikannya kini diselimuti oleh api berwarna merah padam. Sesungguhnya energi sihir yang ada pada Naomi sekarang hanya sebagian dari energi sihir Thriss, maka dari itu sebisa mungkin Swart membantu membangkitkan energi yang ada di dalam tubuh Naomi sendiri.
Setelah Naomi berhasil mengalirkan energi sihir ke seluruh tubuhnya, ia merasakan sensasi panas terbakar dikulitnya. Ia sekuat tenaga menahan rasa panas itu dan terus memfokuskan dirinya. Hingga akhirnya rasa panas yang menyelimuti itu tergantikan dengan sebuah kehangatan yang membuat Naomi merasa nyaman.
"Alirkan semua energi itu ke tangan kananmu My Lord setelah itu bukalah matamu dan lihat" ucap Swart yang tersenyum melihat majikannya telah berhasil menguasai energi sihir milik Thriss.
Naomi mengikuti ucapan yang di katakan Swart. Ia mengalirkan energi sihir yang berada di seluruh tubuhnya menuju tangan kanannya. Setelah rasa hangat itu berpindah memenuhi tangan kanannya, ia membuka kedua matanya secara perlahan.
Naomi terkejut melihat gumpalan lidah-lidah api berwarna merah berada di atas tangan kanannya. Sedetik kemudian ia tersenyum. Aku berhasil mengendalikannya, mataku juga sudah tidak tumpang tindih! Ucap Naomi dalam hati.
"Bagaimana My Lord, apakah anda menikmatinya?" Tanya Swart sembari terbang di atas kepala Naomi. Naomi menjawabnya dengan anggukan antusias.
"Ini sangat menyenangkan!" Pekik Naomi sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Naomi kembali mengembalikan energi sihir yang berada di tangan kanannya menuju jantungnya. Lidah-lidah api yang sebelumnya melekatpun berangsur-angsur menghilang seperti tertelan oleh tubuhnya sendiri.
Ketukan pintu membuat Naomi yang sedang asik dengan mainan barunya pun terkerjut. Ia kembali memasang perban yang menutupi mata sebelah kanannya. Setelah itu ia segera bangkit berdiri dan membukakan pintu. Tampak Klora dengan senyum manisnya berdiri di hadapan Naomi.
__ADS_1
"Nona Naomi! Tempat untuk pelatihan sihirmu sudah selesai dibangun, apakah kamu mau melihatnya bersamaku?" Tanya Klora yang disambut dengan anggukan Naomi. Naomi bersama Swart yang kini terbang di atas kepalanya mengikuti langkah kaki Klora. Mereka menaiki sebuah tangga yang megah dengan ukiran-ukiran melingkar dari emas. Astaga ini mewah dan cantik sekali, ucap Naomi dalam hati sambil memancarkan ekspresi kekagumannya.
Klora menuntun Naomi memasuki sebuah pintu yang besarnya sama dengan satu buah truk kontainer. Di dalamnya Naomi bisa melihat ruangan yang amat besar dengan cat berwarna putih dan telah di lapisi anti sihir untuk meredam kehancuran.
"Bagaimana, apakah kau menyukainya?" Tanya Klora yang di balas dengan senyum manis serta anggukan Naomi. Ia tidak menyangka akan mendapatkan ruangan sebesar ini untuk dirinya dan Swart. Bahkan di dalam ruangan ini Swart bisa kembali ke bentuk aslinya.
"Aku sangat menyukainya, setelah ini aku akan mengucapkan terimakasih pada Raja Soviech" ucap Naomi sembari memperhatikan Swart yang perlahan kembali ke wujud aslinya.
"Ah, menyeramkan!" Pekik Klora yang melihat wujud asli Swart. Naomi hanya bisa tersenyum tipis. Ia sudah pernah melihat wujud mengerikan ini sebelumnya.
"Klora, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" Tanya Naomi pada Klora yang berdiri di sebelahnya.
"Tentu nona Naomi" ucap Klora, tanpa mengubah rawut terkejutnya yang melihat perubahan drastis tubuh Swart.
"Apa tugasmu di Kerajaan Noderdim? Sepertinya kau adalah orang yang penting bagi Raja Soviech" tanya Naomi sembari memasang wajah penasarannya.
"Benar, aku seperti seorang peramal" ucap Klora seakan membaca pikiran Naomi. Naomi yang mendengar hal itu pun terkejut. Lagi-lagi Klora bisa membaca pikiranku, apa dia mempunyai kemampuan bertelepati seperti aku dan Swart.
"Ekspresimu terlalu mudah untuk dibaca nona"
Ucap Klora seakan menjelaskan semuanya. Naomi menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan ekspresinya pada Klora. Apakah aku se-ekspresif itu?
"Yasudah aku pamit undur diri, silahkan berlatih dengan baik nona Naomi" ucap Klora sembari berjalan keluar dari ruang pelatihan. Naomi menghela napas, benar juga kata Klora sekarang sudah tidak ada waktu untuk bersantai. Ia harus berlatih dengan giat untuk memperkuat sihirnya.
"My Lord, cobalah praktekkan sihir yang telah kau pelajari" ucap Swart membuyarkan lamunan Naomi. Naomi segera mengangguk. Ia melakukan ancang-ancang sebelum merapalkan sebuah mantra. "Ignis pila!"
Naomi melemparkan bola-bola api ke arah Swart. Swart dengan sigap menghindari serangan dari Naomi. Melihat bola api miliknya tidak mempan terhadap Swart, Naomi kembali merapalkan sihir lainnya. "Fulgur percutiens!"
__ADS_1
Swart terkejut melihat sambaran petir dari atas kepalanya. Dengan sigap ia menahan sambaran petir tersebut dengan semburan api dari mulutnya. Naomi berdecak sebal melihat Swart yang begitu mudah menahan serangan yang dilontarkannya. Ia kembali merapalkan sebuah mantra dahsyat yang akan menguras mana-nya. "Umbrae mille! Quod electrica inpulsa!"
Seketika Naomi membuat dirinya menjadi seribu bayangan dan masing-masing menyambarkan aliran listrik dahsyat ke arah Swart. Swart yang tidak bisa menghindari serangan itupun tergeletak jatuh di hadapan Naomi.
"Swart! Apa kau baik-baik saja?" Teriak Naomi sembari berlari mendekati tubuh Swart yang sekarat akibat serangannya.
"Saya tidak apa-apa My Lord. Anda sangat kuat seperti biasanya" ucap Swart lirih sambil tersenyum ke arah Naomi. Naomi yang melihat tubuh Swart dipenuhi luka segera menyentuhnya dan merapalkan mantra penyembuh. "Sanitatem!"
Seketika tubuh Swart dikelilingi cahaya putih yang menutup luka-luka di tubuhnya. "Terimakasih My Lord" ucap Swart yang kembali bisa terbang tanpa merasakan sakit sedikitpun.
"Sebenarnya aku ingin coba membangunkan para Undead" ucap Naomi di sela-sala kelelahannya akibat terlalu banyak menggunakan mana.
"Anda dapat meminjam pemakaman Istana pada Raja Soviech, My Lord" ucap Swart yang membuat Naomi menjadi antusias. *Ternyata di Istana ini ada sebuah pemakaman ya? Kalau begitu bagus sekali. Aku akan membangunkan para undead untuk dijadikan prajuri*t! Ucap Naomi dalam hati.
.
.
.
.
**Naomi: Swart, apa yang harus kita lakukan pada Silent Reader?
Swart: My Lord, anda dapat menggunakan kutukan jomblo biar mereka kapok!
Author: Author tidak bertanggung jawab ya kalau kalian jadi jomblo seumur hidup karna ga like dan komen novel ini ðŸ˜**
__ADS_1