
kehidupanku kini di mulai tinggal di tempat yang masih sangat asing. rumah Mas Surya, beserta ibu dan adiknya Nabila.
aku harus bersikap seolah tak terjadi apa-apa diantara aku dan mas Surya. namun kenyataannya hatiku masih sangat sakit jika menyadari apa yang terjadi saat ini.
ibu mertuaku sangat baik, begitupun Nabila. mereka sangat memperlakukan layaknya keluarga mereka. tidak seperti dikebanyakan cerita-cerita wanita yang sudah menikah, ibu mertuaku adalah yang terbaik.
setelah beres masak dan rapih-rapih rumah, aku dan ibu duduk ngeteh di halaman belakang rumah.
"Bu.. kenapa halaman belakang sangat kosong?" tanyaku santai memulai perbincangan
"dulu halaman belakang banyak tanamannya, tapi ibu ga bisa merawatnya. karena dulu almarhum ayah mertua kamu yang selalu mengurusnya dengan baik. Nabila sama seperti ibu gak suka bercocok tanam, sementara Surya sibuk kerja"
"boleh gak kalau aku tanami bunga-bunga ? dari dulu pengen banget buat koleksi tanaman bunga.. tapi gak ada lahannya"
" bagus tuh... ibu setuju.. jadi kan halaman belakang bisa terlihat hidup lagi "
"okedeh.. nanti aku cari bibit-bibit bunga yang cantik"
"....." ibu mertuaku bersemangat mendengar ideku, dia sampai tak sabar melihat bagaimana aku merombak halaman belakang yang tampak tidak terawat.
######
malam tiba, aku masuk ke kamar dan sudah ada mas Surya yang sibuk dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. sebelum naik ke ranjang, aku berhias dan menyisir rambut agar nampak rapih.
"kamu besok udah mulai masuk kerja mas? " tanyaku santai memecah kecanggungan diantara kita
"iya..saya cuma dapet cuti seminggu"
" kamu biasa bawa bekal ? kalau mau nanti aku buatin mas.."
"boleh.. tapi apa engga apa-apa ? saya engga enak sama kamu"
"jangan hiraukan soal permasalah kita berdua, aku hanya ingin merasakan bagaiman menjadi seorang isteri saja.. jadi kamu gak perlu merasa tidak enak hati "
"oh iya.. soal tidur.. apa saya harus tidur... "
__ADS_1
" kita tidur di satu ranjang saja mas.. aku takut ibu sama Nabila malah curiga kalau mereka memergoki kita, dan... lagi pula kamu tidak mungkin bisa menyentuhku " sahutku lalu naik ke atas ranjang dan tidur tepat disamping mas Surya
"ohh... baiklah.." mas Surya cukup kaget melihat responku yang cukup santai namun bicara dengan aura dingin
semalaman aku masih tak bisa tidur, dan aku juga mendengar mas Surya masih sibuk dengan pesan-pesan di telponnya. sakit dan merasa sangat rapuh hatiku, seharusnya dia bisa menjaga perasaan sedikit saja.. dia harusnya paham aku masih dalam proses penyembuhan melupakan perasaanku padanya.
"kenapa bisa sesakit ini... sakit sekali..." benakku teriak menjerit karena aku bukanlah orang yang bisa membuat mas Surya bahagia.
#######
hati berganti, aku sudah beres membuat bekal makanan dan sarapan untuk mas Surya. untuk masak aku tak perlu cemas karena isi kulkas selalu penuh dan persediaan makanan selalu penuh.
bahkan Nabila di kamarnya juga seperti punya minimarket sendiri, Nabila yang sangat suka ngemil selalu menyetok makanan. kalau aku mau dia membolehkan aku memakan apapun Yang ada di kamarnya.
"pagi sayang..." sapa mas Surya membuat jantungku berdebar, sapaannya terasa sangat nyata hingga membuat lubang-lubang dihatiku meletup-letup. bahagia namun sangat menyakitkan
"hmm pagi..." jawabku kikuk dan berusaha tidak terlihat gugup
"unchhh pengantin baru so sweet banget sih.. " sindir Nabila yang sudah siap memakai seragam SMA
"ayo bila.. kamu sarapan dulu.. ibu mana ? "ajak mas Surya pada adik semata wayangnya
"sayang ayo.. sarapan dulu... cuci piringnya nanti ajah.."
"hmmm iya mas... "
seperti keluarga pada umumnya, sarapan ini sangat manis di mata Nabila namun dimataku sangat pahit. batu beberapa hari tapi rasanya jutaan tahun aku harus bertahan lamanya melakukan kebohongan seperti ini.
karena terlalu muak dengan kepalsuan ini asam lambungku naik, rasanya sangat mual.
"ue....ue..." aku beranjak pergi ke kamar mandi untuk muntah
"sayang kamu kenapa ?" mas Surya mengejar ku
"mba.. mba.. hamil ? "tanya Nabila dengan polosnya padahal aku dan kakaknya baru menikah beberapa hari
__ADS_1
"ya gak mungkin lah.. bil... " kataku tertawa kecil dan langsung meminum air hangat yang mas Surya berikan untukku
" mba... cuma sakit lambung ajah kali ini.."
"ohh hehehe aku pikir mba udah hamil"
"huhhh dasar... udah balik sarapan sana, mas mau anter mba ke kamar dulu"
"siap...pak bos..."
Nabila pergi kembali sarapan, sementara mas Surya mengantarku ke kamar dan memberikanku obat asam lambung.
"kamu mau ke dokter ? saya antar ya.. "
"engga usah mas.. aku cuma mual dikit ajah kok.."
"yaudah.. tapi kalau makin sakit telpon saya yah.."
"iya mas..udah sana sarapan, Nabila juga nunggu kamu pasti mau berangkat sekolah"
"yaudah.. saya pamit kerja ya.. "
"...." aku mengangguk lemas dan melihatnya pergi meninggalkan kamar lalu menutup pintu. air mataku kembali tumpah dan tidak percaya semakin hari malah semakin sakit dengan perasaanku saat ini.
#ting!!! ( pesan masuk dari nomor tidak aku kenal )
"selamat atas pernikahan kalian berdua, hati-hati.. mas Surya itu punya saya"
katanya dalam pesan itu dan mengetahui itu aku menyimpulkan dia adalah Ryno. tapi karena tak ingin ribet aku tak menggubrisnya dan mencoba mengabaikannya.
"saya harap pernikahan kalian tidak bertahan lama, karena mas Surya milik saya seorang"
katanya lagi membuatku gemas ingin membalas pesannya. tapi aku menahan diri dan tak ingin memulai pertengkaran yang akan merugikan diriku sendiri
semakin dia memberiku, hati kecil picikku mulai tertantang untuk merebut mas Surya dari dia, meski aku bukanlah dia saat ini, tapi aku percaya tuhan maha membolak balikkan hati manusia.
__ADS_1
"dia suamiku.. bagaimanapun juga aku adalah wanita yang sah baginya, mas Surya.. tunggu aku.. aku akan merebutmu darinya " benakku termotivasi untuk tidak berlarut-larut dalam rasa sedihku. karena aku harus lebih kuat dan tegar agar bisa mengalahkannya.
bersambung