
sepulang dari rumah sakit aku dan mas Surya mengurung diri di kamar dan bicara empat mata.mas Surya yang menyadari kesalahannya terus minta maaf
"maafin saya Ndit... saya juga gak tahu kalau mereka semua menyadarinya"
"ya terus kamu mau kaya gini terus mas ? kalau emang kalian saling sayang kenapa gak nikah ajah sih ? kalau dari awal kalian nikah juga aku gak bakal ke seret seret seperti ini mas.."
"Ryno gak mau.. dia takut keluarganya tau ndit.."
"terus kenapa mas gak jujur sama keluarga mas ? "
"ibu punya penyakit jantung, jadi saya gak bisa buat katakan hal itu ndit.."
"jadi sekarang harus gimana sih ? aku tuh udah bingung, gak mudah ngejalanin satu tahun lamanya hidup tanpa cinta seperti ini. aku tuh udah kaya rumah singgah tempah neduh doang yah gak mas.. rasanya muak lama-lama"
semua unek unek keluar begitu saja, aku menyadari hal ini akan membuatku malu sendiri nantinya. namun karena pernikahan kita tak ada harapan sama sekali, aku jadi melampiaskan semuanya yang kupendam saat ini.
"saya gak mungkin khianatin Ryno ndit.. dia segalanya bagi saya.." katanya pasrah dan menahan semua rasa bersalahnya padaku
"maaf mas.. aku udah kelewatan, mungkin aku terlalu banyak menuntut kali" ujar ku perlahan menenangkan suaraku lalu pergi meninggalkan kamar dan pergi menyiapkan makan malam.
######
aku tidak baik-baik saja, pikiranku kacau. hidupku tidak sesuai ekspektasi diri ini. perasaan campur aduk yang cukup memporak-porandakan dinding hatiku, aku mencoba menegarkan diriku.
ku alihkan semua rasa kesalku dengan berkebun dan menyibukkan malam ini dengan berkebun meskipun hari sudah malam.
"mba.. kenapa berkebun malam-malam? " Nabila datang dan membantuku membawa pot bunga yang sudah kutanami berbagai macam jenis bunga
"mba besok mau pergi soalnya, pulang kerumah ayah mba.. "
"mba.. ada masalah sama mas Surya ? kok mba malah pulang sih ? mas Surya kan sedang cuti"
"mba.. ada urusan di rumah ayah, paling sekitar 2 hari. mba juga udah bilang sama mas Surya.."
"oh... yaudah.. tapi bener kan.. gak ada masalah sama mas Surya ? "
"hmmm... gak ada kok...mba titip mas ya.. selama mba pergi, jangan lupa suruh mas kamu minum obatnya"
__ADS_1
"okedeh...siap mba.."
######
sekitar jam 12 malam, aku tidak bisa tidur. yang aku lakukan hanya duduk di lantai sambil melamun menatap kosong layar ponsel yang tidak aku mainkan sama sekali.
"....." semenjak memergoki mas Surya dan Ryno pikiranku cukup terganggu karenanya
"ndit... kamu belum tidur"
"....." mendengar mas Surya yang terbangun tiba-tiba sindrom gilaku muncul, karena diriku semakin terpojokkan oleh perasaanku sendiri. aku malah membuat suasana membingungkan mas Surya
"mas... boleh aku tidur disamping kamu ? "
"??? bukannya kamu memang selalu tidur disamping saya Ndit ?"
"....." aku langsung berbaring dan menyelimuti diriku dengan selimut yang sama dengan mas Surya
"ndit.. kamu masih marah sama saya ?"
"mas..." aku malah mengalihkan pertanyaannya dengan menatapnya penuh harap seperti orang gila
"....." mas Surya bingung untuk menjawab apah, tapi tanpa mendapat jawaban apapun aku malah langsung memeluknya dan tidur di pelukan mas Surya, aku tau mas Surya sangat canggung dengan sikapku
"maaf ya mas.. aku lagi butuh sandaran banget saat ini, kamu gak perlu mikir yang enggak-enggak. aku tau diri kok"
"besok kamu jadi nginep di rumah ayah ?"
"Hmm... mungkin sekitar dua hari, selama aku pergi mas jangan lupa minum obat ya... jangan telat makan juga"
"ndit... apa saya boleh ikut kamu ?"
"ikut ? kamu serius mas..? "
"saya gak mau kamu di gosipin orang sekitar karena saya gak ikut sama kamu"
"ohh.. tapi mas yakin ? rumah aku kan kecil banget"
__ADS_1
"hmm gak apa-apa"
"terus gimana soal Ryno? kalau dia tau pasti dia marah sama kamu mas.."
"ryno gak perlu tahu soal aku pergi bersama kamu, lagian dia juga lagi sibuk dengan pekerjaannya"
"mas..."
"kenapa ?"
"makasih ya.. meskipun ini cuma pura-pura, tapi rasanya aku seperti punya seseorang disisiku, walaupun hubungan ini hanya sementara, tapi rasanya aku sangat bahagia bisa mengenal dan bertemu kamu mas" kataku mengigau seolah mabuk bucin kepada mas Surya
"....." mas Surya tidak menjawab karena sudah tertidur lelap, aku mendengak dan menatap wajahnya dengan sedih lalu diam-diam aku menangis terisak dalam pelukannya.
"aku ingin selamanya bersama kamu mas!!!!! tapi apa mungkin?!!!!" benakku menjerit tak bisa berbuat apa-apa soal perasaannya dan perasaanku.
######
sebelum pulang ke rumah ayah, aku dan mas Surya mampir membeli beberapa camilan dan makanan kesukaan ayah.
dalam perjalanan mas Surya juga membawaku mampir ke tukang bakso dan kita berdua menikmati bakso bersama.
aku dan mas Surya sama-sama suka makanan pedas, jadi selera makan bakso dengannya tak jauh beda.
#ting!!!
"kenapa kau tidak bercerai saja ? aku muak melihatmu bersama mas Surya"
si peneror mengirimiku pesan lagi, namun kali ini aku memilih membuka mulut pada mas Surya.
"siapa ndit ? "
"entahlah.. dia selalu menggangguku akhir-akhir ini"sahutku dan memberikan ponselku pada mas Surya agar dia melihat banyak pesan dari Ryno kepadaku
membaca pesannya, mas Surya sangat marah. akhirnya mas Surya segera menelpon Ryno di suatu tempat, namun aku yang melihatnya dari jauh cukup kaget melihat mas Surya yang marah-marah di telpon.
"mungkinkah ? masih ada peluang untukku?"benakku kembali berharap yang tak pasti.
__ADS_1
bersambung....