
"Belum dapat kerjaan?" Sisi--teman serumah Mira bertanya sembari mengunyah roti isi coklat di tangannya.
"Belum. Ini barusan selesai kirim lamaran kerja." Mira menjawab sembari menghempaskan bokongnya ke sofa
"Udah berapa banyak kirim lowongan belum pada diterima ya? sekarang emang lagi susah dapat kerjaan. Sabar aja ya,aku bantu do'a."
Mira hanya manyun mendengar jawaban sahabatnya itu.
Sisi tertawa sejenak, "Mau ngopi? di jl.Sutoyo ada cafe baru tuh. Viewnya cakep ala-ala Korea."
Mira mengangguk-angguk cepat,sehingga rambut panjang dan kembang miliknya bergoyang-goyang, "Boleh juga. Sumpek dan stress di rumah"
"Yaudah ayok." Perempuan dengan rambut bergaya potongan pixie cut itu berdiri.
"Siap-siap dulu lah boss." Mira juga ikut berdiri.
"Oke. Ajak Tasya apa gak nih?"
"Lah,yakali. Dia mah gak libur katanya hari ini. Cuma kamu aja yang libur. Kita berdua aja dulu."
"Oke." Sisi dan Mira berlalu ke kamar masing-masing.
Mereka berdua telah tinggal serumah selama kurang lebih 2 tahun.
Sisi yang kala itu bertengkar dengan kedua orang tuanya memilih minggat ke kontrakan Mira. Dan akhirnya tinggal serumah.
Mira, Sisi dan Tasya adalah sahabat sedari kuliah.
Mira menghidupkan motor matic andalannya. "Udah?" bertanya kepada Sisi di boncengan
"Udah Mir,gasskeunn"
Mira melaju dengan kecepatan sedang.
"Mir kamu tadi kirim lamaran ke PT mana?" Sisi bertanya setengah berteriak.
"Iya. Nanti belanja ke Indomaret." Mira menjawab asal karena tidak mendengar suara Sisi yang terkalahkan oleh suara angin.
Sisi mencubit kecil pinggang Mira,"Serah loh deh Memunah." Sisi merengut kesal yang dibalas ringisan dari Mira.
***
Lelaki dengan tuxedo hitam pekat itu nampak terburu keluar dari dalam rumah mewah minimalis miliknya. Tergesa ia masuk ke dalam mobil Ferari merah.
__ADS_1
Pagi ini ada meeting dengan kliennya dari New York,namun ia telat bangun karena insomnia membuatnya gelisah sepanjang malam,pukul 3 dini hari baru matanya mau diajak kerja sama dan terpejam.
Jarum jam menunjukkan angka 9 pagi ia tersadar.
Itupun karena panggilan suara dari sekretaris pribadinya--Yoga, padahal meeting akan dilangsungkan 30 menit lagi. Setelah tergesa tanpa mandi dan hanya menyemprot parfum sekenanya ia memacu mobilnya memecah keramaian Ibukota.
Namun na'as tak dapat ditolak,saat hendak berbelok di persimpangan,mobilnya menabrak seorang gadis berbadan gemuk hingga terpental.
Panik! itulah yang dirasakan Adnan. Fikirannya beradu antara meeting dan meninggalkan gadis ini. Atau membawa gadis ini ke rumah sakit dan meninggalkan meeting bersama klien yang susah payah digaetnya hingga penawaran ke 12 kali barulah proyeknya dilirik sang klien.
Adnan menyugar rambutnya frustasi,membanting setir kemudi, "Si*l! Kenapa harus sekarang?!"
Pintu mobil terbuka,sepatu pantofel Adnan beradu dengan aspal jalanan yang kini ramai dikerumuni orang.
Darah nampak dari jarak Adnan berjalan. Setelah sebelumnya mengabarkan sekretarisnya bahwa ia tak bisa datang meeting dan minta digantikan. Adnan mengambil keputusan ini. Padahal sebelumnya rasa iba jarang menyambangi hatinya,entah kenapa kali ini berbeda.
Terburu Adnan membopong tubuh gemuk yang berlumuran darah itu ke mobil.
Dengan kecepatan sedang ia membawa gadis itu menuju Instalasi Gawat Darurat RS Universitas A.
***
Sisi mondar mandir di teras cafe. Pasalnya tadi Mira berkata ingin membeli rujak di persimpangan depan. Tidak jauh,paling 5 menitan dari Cafe.Tapi hingga 30 menit berlalu,batang hidung Mira tak nampak juga.
Sisi menghentikan laju motornya dan hendak turun karena dilihatnya ramai orang berkerumun sepertinya terjadi kecelakaan.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan,sang korban kecelakaan sepertinya dibopong lelaki berperawakan tinggi ke mobil merah.
Sisi terperangah saat menyadari tas dan baju yang dipakai Mira adalah barang yang sama yang dipakai sang korban kecelakaan juga.
Fikirannya kalut akan bayangan buruk,ia menggelengkan kepalanya dan terburu mengambil motor lalu mengikuti mobil merah itu.
Setelah memarkirkan kendaraannya di parkiran khusus motor RS Universitas A,Sisi berlari menuju IGD. Setelah beberapa kali bertanya ia akhirnya menemukan sang korban kecelakaan.
Benar! Itu Mira--sahabatnya. Mira berbaring di atas ranjang rumah sakit,di sebelahnya nampak lelaki tampan berkulit putih dengan tinggi kira-kira 187 CM tengah memandanginya pula. Alis tebal sang lelaki berkerut dalam.
Setelah berdehem Adnan membuka suara, "Kamu keluarganya?"
Jari telunjuk Sisi mengarah kepada dirinya sendiri, "Aku?"
Adnan mengangguk.
"Aku sahabatnya--Sisi. Kamu,yang nabrak Mira?" Sisi memandang Adnan dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Yang dipandang hanya membalas tatapan lawan bicaranya dengan datar. "Ya. Aku minta ma'af."
Sisi melongo, "Cuma itu?"
Adnan menggaruk pelipisnya "Lantas apalagi? saya sudah lunasi biaya RSnya,dan untuk sementara biarkan dia dirawat di sini sampai keadaannya membaik. Saya sudah minta ia dirawat di kamar VIP. Kalau begitu saya permisi."
Adnan berlalu,lalu berbalik kembali
"Oh,ya. Ini kartu nama saya. Jika ia butuh uang ganti rugi silahkan datang ke kantor saya jika dia sudah pulih. Ma'af saya buru-buru. Permisi."
"Hey! Tunggu! Jangan mentang-mentang kamu kaya lantas seenaknya begini. Kamu fikir uang bisa mengatasi segalanya? kamu harus minta ma'af sendiri!" Sisi menarik lengan baju Adnan namun ditepis kasar oleh lelaki itu
"Ma'af saya buru-buru. Kalau dia mau dengar permintaan ma'af saya silahkan datang ke kantor saya"
Sisi hanya melongo memandangi punggung Adnan yang menjauh. Dia heran karena baru pertama kali bertemu spesies seperti Adnan di dalam hidupnya.
Sisi membolak balik kartu nama di tangannya tertulis
Adnan Wijaya
CEO PT.Triya Tech
"Oalahh,pantas songong. Dari majalah yang pernah ku lihat aja mukanya yang terpampang udah ketahuan kalau dia itu kasar dan dingin. Dasar kulkas berjalan."
Sisi membalikan badannya dan kembali ke IGD tempat Mira dirawat.
****
Sudah 5 hari Mira dirawat di ruangan VIP. Ruangan dengan jendela besar yang menghadap ke jalanan utama Ibukota.
Cantiknya lampu jalanan di bawah sana memantul di wajah Mira yang kini mulai kembali ronanya.
"Jadi,dia yang nabrak aku?" Mira bertanya sembari membolak-balikan kartu nama di tangannya.
"Iya. Dia bilang kalau minta ganti rugi datang aja ke kantornya. Asli songong banget. Minta ma'af pun cuma sekenanya,kamu udah 5 hari disini aja dia gak dateng sekalipun buat minta ma'af."
Sisi menjelaskan dengan menggebu-gebu.
"Pokoknya,nanti kamu datang ke kantornya. Minta uang ganti rugi sebanyak-banyak sekalian biar bangkrut tuh orang. Cih." Sisi berdecak kesal masih melanjutkan omelannya,sedangkan Mira hanya terkekeh menanggapi kekesalan sahabatnya itu.
"Tapi,walau ngeselin dia ganteng sih Mir." Lanjut Sisi lagi sembari membuka HP dan menunjukan foto Adnan Wijaya yang didapatnya dari Google.
Mira lagi-lagi hanya menanggapi dengan kekehan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1