Oh My Mr.Cool

Oh My Mr.Cool
H-3 Pernikahan


__ADS_3

Pagi ini Mira tengah bersiap pergi ke rumah Sabran Wijaya,tadi Adnan mengingatkannya via chatting.


[ Jam 10 pagi,Jl.Haji Husein 2,Komplek Acisa Permai,nomor **] Notifikasi tertampil di layar HP Mira


[ ini Adnan? ] Tebak Mira,karena setahunya Adnan tidak punya nomornya


[Ya ] Jawaban mampir di HPnya


Mira hanya mengabaikan,tidak ambil pusing karena dia yakin Adnan punya banyak pesuruh untuk sekadar mendapat nomornya,itu hal yang gampang bagi seorang Adnan Wijaya.


Pagi ini Mira mengenakan Tunik berwarna olive dipadukan dengan jilbab putih dan celana berwarna senada.


Mira meraih tasnya yang dia siapkan di atas nakas lalu mengunci pintu kamar hotel dan berlalu pergi.


***


"Rencananya gagal ya Paman?" Adnan tersenyum mengejek saat berlintasan dengan Anton yang hendak masuk ke dalam rumah dengan muka kusut,sedangkan Adnan hendak keluar rumah.


"Rencana apa?"


"Sungguh manusia bermuka dua,lempar batu sembunyi tangan. Cih" Adnan berdecih lalu tersenyum sinis


"Jaga ucapan mu Adnan,aku ini Paman mu dan lebih tua dari kamu. Dasar tidak punya sopan santun,persis seperti ayah mu."


Emosi Adnan tersulut karena ucapan Anton,ditariknya kerah Anton lalu didorongnya menjorok ke dinding


"Dengar ya Paman,Kau itu bukan Paman kandung ku,jadi aku tidak peduli dengan rasa hormat atau apalah itu kepada mu,aku akan hormat jika engkau orang yang layak di hormati walaupun dia bukan keluarga sedarah denganku,tapi lihat dirimu!" Adnan tersenyum mengejek kembali "Pantaskah orang yang berniat mencelakakan calon istri keponakannya dihormati? cihh ingin harta dengan cara menyedihkan."


Anton menggertakan giginya menahan amarah


"Dan satu lagi,jangan berani-berani mencela ayahku dengan mulut kotor mu itu!" Adnan mendorong Anton dan melepaskan genggamannya dari kerah baju Anton lalu berlalu masuk ke dalam mobil.


Urat-urat di sekitar pelipis Anton bermunculan karena menahan geram dan marah


"Dasar bocah tengik,lihat saja nanti apa yang aku lakukan kepada mu." Anton mendecih kasar dan masuk ke dalam rumah


***


Mira mondar-mandir di depan hotel menunggu taksi online yang akan menjemput nya.


Setelah 5 menit berlalu mobil putih dengan tulisan taksi diatasnya berhenti di hadapannya. Saat hendak membuka pintu mobil,suara klakson mobil lain terdengar memekakan telinga. Mira melihat arah suara klakson,mobil merah nampak terpakir di belakang taksi.


Adnan keluar dari mobil merah itu,mendekati Mira.


"Naik ke mobil ku!" Adnan membuka suara saat sampai di hadapan Mira


"Kenapa aku harus mau?"


"Biar Kakek tidak curiga,ayo!" Adnan menarik tangan Mira

__ADS_1


"Sebentar." Mira menepis tangan Adnan lalu mengetuk kaca jendela taksi


"Paman,ma'af saya ternyata dijemput. Saya ganti biaya kesini ya?" Mira mengangsurkan uang berwarna hijau dua lembar ke supir taksi.


"Gak usah mbak,gapapa." Supir taksi tersebut mendorong kembali tangan Mira


Mira menarik tangan supir taksi lalu meletakan uang tadi ke tangan sang supir "Udah gapapa ambil aja."


"Makasih banyak mbak." Mira mengangguk lalu tersenyum


"Ayo Tuan Adnan" Mira berjalan menuju mobil disusul Adnan di belakangnya.


"Kenapa kasi uang ke supir taksi yang tidak mengantar mu?" Adnan bertanya bingung


"Gapapa,kasian lokasi sebelumnya jauh rela jemput aku ke hotel. Rugi bensin dong dia kalau aku gak jadi naik."


"Oh" Adnan menjawab singkat


**


"Lama tidak bertemu ya Mira." Sabran Wijaya tersenyum hangat kepada Mira. Seingatnya dulu wajah Mira tidak seperti sekarang.


Mira tersenyum canggung melihat cara Sabran menatapnya,dia tau apa yang difikirkan lelaki bijaksana itu.


Dulu,saat masih ada ayahnya dirinya masih bisa membeli sedikit skincare,sekarang untuk bisa makan pun alhamdulillaah setelah setengah gajinya dipakai untuk sewa rumah.


Akibatnya,Mira menghentikan pemakaian skincare dan membuat mukanya yang memang sensitif menjadi lebih berjerawat.


"Kemana saja selama ini? Kok susah dihubungi? kamu juga sering berpindah-pindah." Sabran melanjutkan pertanyaannya


Mira serasa diinterogasi,digaruknya kepala yang tak gatal untuk menghilangkan gugup.


"Gini Tuan,setelah tamat SMA...."


Mira merantau ke Ibukota tepat selepas tamat SMA,kebetulan dia diterima di salah satu Universitas Negeri dengan beasiswa setengah,untuk menutupi biaya kuliah yang setengahnya ia bekerja paruh waktu.


Alasan dirinya sering berpindah adalah karena pekerjaannya juga berpindah-pindah,seringnya juga dirinya diusir karena telat membayar biaya kontrakan.


Adnan hanya memperhatikan obrolan dua orang didepannya,bingung harus beraksi seperti apa akhirnya dia hanya menggulirkan-gulirkan beranda HP.


Sabran prihatin mendengar penjelasan Mira,hatinya sakit melihat anak gadis itu berjuang sendirian.


Dia tahu persis karakter Mira yang mirip ayahnya,tidak suka merepotkan dan berhutang budi kepada orang.


Sabran tidak dapat berbuat banyak,hanya menepati janjinya kepada mendiang sahabatnya itu agar menikahkan cucunya dengan Mira.


Mira dapat melihat tatapan keprihatinan dari sorot mata Sabran,dan dia benci itu.


Itulah alasannya selama ini tidak suka merepotkan orang saat dirinya kesulitan,dia benci dengan sorot mata itu.

__ADS_1


"Jadi,kapan rencananya pernikahan kalian akan berlangsung?" Sabran bertanya


"Jum'at ini kek" Kini giliran Adnan yang membuka suara


Jawaban Adnan membuat Sabran tersedak ludahnya sendiri.


"Secepat itu?"


Adnan hanya mengangguk,sedangkan Mira tersenyum canggung.


"Baiklah,kalau itu keputusan kalian. Kakek akan urus semua persiapannya."


"Biar Adnan saja kek,Mira dan Saya sepakat tidak ingin mengadakan pesta."


Sabran menggeleng keras,menolak ide kedua orang berbeda jenis kelamin di depannya.


"Biar Kakek. titik!" Sabran bersikeras,"Oh,ya Mira. sekarang tinggal di mana?"


"Untuk sementara waktu Mira menginap di hotel AA kek,karna kontrak rumah kebetulan sudah habis beberapa hari lalu."


"Kenapa tidak tinggal disini sementara? Di bawah ada kamar kosong,kamu boleh menginap disitu. Lagipun,pernikahan kalian tinggal 3 hari." Sabran menawarkan


"Gak usah kek,gapapa. Makasih banyak tawarannya kek. Mira pamit."


Sabran meminta Adnan mengantarkan Mira pulang,namun ditolaknya dengan alasan masih ada urusan.


Di dalam taksi muka Mira kusut,dia mulai berfikir ulang,apakah keputusan ini keputusan yang tepat untuk diambil?


Ia memejamkan matanya sejenak dan memantapkan hati bahwa ini adalah keputusan terbaik.


***


Langit mendung pagi ini,cakrawala tampak menghitam dan matahari bersembunyi malu-malu sepertinya akan turun hujan.


Di dalam butik ternama,Mira tengah mencoba baju pengantin.


Pagi tadi bel kamar hotelnya terus berbunyi,ternyata orang suruhan Sabran datang menjemputnya untuk fitting baju. Terpaksa dia terdampar di sini sekarang


Setelah bergulat dengan tumpukan baju pengantin,Mira kembali diseret ke salon dan spa untuk perawatan,wajahnya sedikit cerah setelah itu namun jerawatnya masih tampak memenuhi wajahnya.


Terakhir dia diajak ke gedung pernikahan. Para pelayan keluarga Wijaya menunduk saat dirinya tiba.


"Nona Muda,Tuan Besar ingin Nona memilih tema dekorasi yang sesuai keinginan Nona." Salah satu pelayan muda mendekatinya


Mira merasa aneh dipanggil begitu,akhirnya dia hanya meminta dipanggil Mira,namun pelayan itu menolak


"Mana mungkin saya berani Nona,Anda kan calon istri Tuan Muda."


Mira hanya pasrah dan mengatakan dekorasi apapun bagus menurut nya.

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk dan berlalu,Mira pula keluar dan minta diantar kembali ke hotel.


Dirinya kelelahan fisik dan mental,dia hanya merindukan kasur untuk saat ini.


__ADS_2