
Di sudut cafe bertema outdoor,ditemani rintik hujan yang turun setengah jam yang lalu. 3 orang wanita tampak bercakap seru
Perempuan dengan rambut panjang berwarna dark brown nampak membuka suara,"Jadi,ada cerita seru apa nih?" Tasya bertanya sembari menyedot minuman matcha di depannya
Sisi tengah mengunyah cake hingga mulutnya penuh dan bergerak lucu
Mira berdehem,"Jadi,kemaren aku sempat ketabrak dan beb--..." Ucapan Mira terjeda karena Tasya menyela
"Kamu ketabrak? kapan? kok aku gak di kasi tau?" Tasya berjengkit kaget
Mira dan Sisi saling pandang dan garuk-garuk kepala.
"Anu Tas,kamu waktu itu kayaknya sibuk banget
Jadi,aku gak kasi tau kamu takutnya kamu kepikiran." Mira merasa bersalah sedangkan Tasya hanya mendesah kecewa.
Senyum terbit di bibir Tasya kemudian,"gapapa hehe. Aku ngerti kok,jadi gimana lanjutannya?"
"Ternyata yang nabrak Tasya itu orang songong CEO PT.Triya Tech" Sisi menimpali sebelum Mira menjawab
"Oh,ya? CEO Triya Tech,si Adnan Wijaya itu?" Tasya menutup mulutnya kaget
"Loh kok kamu tahu?"
"Yakali ada orang di Negeri ini gak kenal Adnan. PT yang dia pimpin kan raksasa." Tasya menjawab cepat yang diangguki kedua orang didepannya.
"Bener juga, Ternyata tu orang songong banget. Masa dia yang nabrak eh gak ada kata ma'af tuh,dia cuma bayarin biaya rumah sakit Mira aja. Bayarin biaya rumah sakit kan emang kewajiban dia,lah wong dia yang nabrak. Minta ma'af langsung ya lain cerita." Sisi masih mengomel kesal sedangkan Mira hanya nampak mengangguk-anggukan kepalanya.
Sedangkan Tasya menggaruk pelipisnya,bingung harus bereaksi seperti apa. Secara,Adnan Wijaya itu pacarnya. Dua sahabatnya itu memang tidak tahu kehidupan pribadinya,karena ia sangat menjaga privasinya.
"oh,gitu yah" Tasya merespon canggung
"Wah,reaksi apa barusan? seperti reaksi seorang fans yang marah idolanya dihate buahahaa." Sisi menyerocos asal,sedangkan Mira memandang ketidaknyamanan Tasya akan obrolan barusan.
"udah gausah dibahas." Mira menyela
"Kenapa? aaa Mira mah gitu." Sisi memanyunkan bibir nya lucu,yang dibalas kekehan oleh Mira dan Tasya
__ADS_1
Memang diantara ketiga sahabatnya,Sisi lah yang paling sengklek dan blak-blakan. Dia yang membuat suasana tidak garing dengan tingkah konyolnya.
"Btw,kamu tau gak yang lebih gilanya lagi Adnan minta Mira jadi istrinya dong,wahh benar-benar daebak itu orang. ckckck" Mira berdecak sambil geleng-geleng kepala
Mata Tasya membola,diseruputnya hingga tandaa matcha di depannya.
"Kenapa Adnan begitu? kenapa dia minta Mira yang jadi istrinya? kenapa bukan aku yang jelas-jelas pacarnya?" batin Tasya gusar
Sedangkan Mira menyumpal mulut Sisi dengan tangannya,peka lagi dengan gelagat aneh Tasya.
"kenapa sih?" Sisi melepaskan dirinya dari Mira
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Gak enak di dengar orang" Mira menjelaskan
"wah,santai wae buk." Sisi menyahut santai
"Ttt-tapi,kenapa Adnan minta Mira jadi istrinya setelah nabrak dia?" Tasya membuka suara sembari menyelipkan anak rambut di belakang telinganya,menutupi kegusaran hatinya.
"Kakek Adnan--Tuan Sabran Wijaya itu sahabat ayah aku Tas,entah kenapa beliau minta aku jadi istri cucunya. Secara,kalian tahu sendiri Tuan Adnan itu nyaris sempurna; wajahnya tampan,tinggi,konglomerat lagi. Apalah aku hanya bagaikan butiran debu di sepatunya,pekerjaan aja aku gapunya." Mira menjelaskan dengan heran
Fikiran Almira sama seperti Adnan,tidak mau menikah karena dijodohkan. Bagi Mira pernikahan itu cukup sekali dalam hidupnya,ia juga ingin merasa mencintai dan dicintai,karna sedari dulu ia mengunci hatinya dengan rapi sebab ia sadar diri. Sedari dulu ia tak pernah berani mencinta karena tahu ia pasti akan terluka.
"Oh,gitu." Tasya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Dipandanginya jam merk Alexander Christie yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak terasa waktu 2 jam telah berlalu sejak merek tiba di cafe. Matahari sore mulai menyembul keluar,bercak jingga di langit terlihat,menandakan hujan telah reda sedari tadi.
"Btw,aku duluan ya? aku ada janji lagi nih." Tasya menarik tas berwarna burgundi di depannya lalu beranjak berdiri diikuti Sisi dan Mira pula.
"Kita juga nih,udah sore soalnya." Sisi menyahut
Tasya berlalu menuju mobilnya setelah berpelukan dan cipika cipiki dengan duo sahabatnya itu.
Dibukanya pintu mobil SUV berwarna putih itu dengan terburu,sebab penasaran ingin menuntut penjelasan Adnan--sang pacar.
Tidak ada hujan,tidak ada angin,kenapa Adnan hendak meninggalkannya tanpa sepatah kata? Tasya mendecih geram.
Dicarinya nama Adnan diantara banyak nama kontak,setelah ketemu ditekannya ikon bergambar gagang telefon berwarna hijau tersebut.
Tuttt....
__ADS_1
tuttt...
tuttt...
"Halo Tas?" Suara di sebrang terdengar menyapa
"Maksud kamu apa sih Adnan?" Suara Mira serak menahan tangis,ditepikannya mobilnya sejenak ke tepi jalan raya.
"Kamu kenapa? maksudnya apa? kamu dimana?" Suara di sebrang terdengar panik,takut pacarnya kenapa-napa.
"Aku gak kenapa-kenapa. Kamu itu yang ada masalah! Kenapa kamu mau nikah sama Mira? sedangkan aku ini masih pacar kamu loh Adnan!" Tasya berang,disusutnya kasar air matanya yang terlanjur jatuh.
"Hah..." Adnan di sebrang mendesah kasar, "Jadi kamu sudah tahu rupanya. Kamu dimana? Biar aku kesana. Kita bicarain ini langsung ya." Adnan membujuk
"Datang ke apartemen aku aja. Kamu jelasin semuanya." Mira menekan ikon bergambar gagang telefon merah,tanda mengakhiri panggilan. Diusapnya kasar wajahnya,setelah bisa menguasai diri,ia menghidupkan mobilnya dan mengendarainya memecah jalanan ibukota.
****
Di Apartemen Tasya
"Jadi,kenapa?" Tasya mendesak lelaki dengan setelan casual di depannya.
Adnan tampak menegakkan punggungnya yang semula bersandar di sofa. Disesapnya dalam,teh beraroma chamomile di depannya.
Setelah meletakkan cangkir,Adnan bersuara, "Ma'af belum sempat memberitahu kamu Tas. Kakek menyuruh aku menikahi Mira karena janji beliau dengan mendiang ayah Mira. Aku tak bisa menolak karena ini menyangkut hak waris perusahaan."
"Tapi kan kamu bisa bilang kamu udah punya pacar." Tasya geram
"Aku udah bilang Tas,udah! Tapi kamu kan tahu sendiri gimana karakter Kakek. Dia tetap memaksa." Adnan menangkupkan telapak tangan ke wajahnya
Sedangkan Mira di sebrangnya mendesah kecewa,hubungan yang telah terjalin selama 2 tahun harus kandas begitu saja? Tidak! dia tidak mau,"lantas,bagaimana hubungan kita?"
"Kamu mau kan nunggu aku selama 2 tahun? Aku janji setelah 2 tahun akan bercerai dari gadis itu. Kamu tau kan aku cuma cinta sama kamu? hum?" Adnan meraih tangan Tasya dan menggenggam nya.
"Kamu gila ya?! Mira itu sahabat aku." Tasya menghempaskan dengan kasar tangan Adnan
"Apa?" Mulut Adnan membulat sempurna
__ADS_1