Oh My Mr.Cool

Oh My Mr.Cool
Hari-H pernikahan


__ADS_3

Karpet emas membentang di lantai,sepanjang jalan karpet dihiasi dengan bunga-bunga segar,di langit-langit gedung pernikahan Adnan dan Mira pula bunga-bunga menjuntai ke bawah memberikan kesan mewah dan romantis. Hari ini,pernikahan Adnan dan Mira dilangsukan di salah satu gedung di Kota Pontianak.


Di depan pelaminan bergaya rustic,Mira dan Adnan menyalami para tamu yang datang. Selepas akad sejam yang lalu disini lah mereka terdampar sekarang. Adnan dengan muka datarnya,dan Mira yang terus tersenyum sehingga rasanya giginya akan kering karena terlalu banyak tersenyum.


Kasak-kusuk para tamu sempat beberapa kali terdengar


"Itu istri Adnan?"


"Serius istri CEO PT.Triya Tech segemuk itu?"


"Wah,mau belajar pelet dari dia bisa nih."


"Adnan matanya burem apa gimana?"


Itulah sederet perkataan yang mampir di telinga Mira,mereka membicarakan dirinya di belakang namun memberi selamat dan tersenyum manis saat didepannya.


Mira tidak bisa menyangkal atau marah,karena semua yang dikatakan semua orang itu benar.


Dirinya bagaikan upik abu harus bersanding dengan Adnan yang bagai pangeran di negeri dongeng.


"Selamat ya bestie udah melepas masa ******. Baik-baik ya jadi istri." Tasya mencium pipi kiri dan kanan Mira


Perempuan dengan gaun selutut berwarna peach dan rambut dark brown tergerai indah itu datang bersama Sisi yang juga sahabat Mira.


Mira tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Hanya Tasya dan Sisi orang terdekatnya saat ini.


Dari tadi Mira rasanya ingin menangis,saat orang lain menikah ditemani dan diwalikan akad nikahnya oleh orang tuanya,tidak dengan Mira.


Saat orang lain bersanding dengan cinta dan bahagia karena menikah bersama pasangannya,tidak pula dengan Mira.


Saat orang lain dipuji saat menikah karena cantik,tidak pula dengan Mira.


Namun dia menutupi kerapuhan hatinya dengan tersenyum dan pura-pura bahagia.


Adnan pula memandang Tasya di depannya dengan perasaan bersalah,rasanya ingin dipeluknya kekasih hatinya itu namun ditahannya.


Bisa habis dirinya,jika berani memeluk Tasya di depan khalayak ramai begini.

__ADS_1


"Selamat ya Mira sayang,selamat menjadi istri. Semoga Mira jadi istri yang baik,istri yang menyenangkan hati suami,semoga ini happy ending dari perjuangan-perjuangan Mira selama ini. Walaupun kamu menikah karena dijodohkan,semoga seiring berjalannya waktu rasa kasih dan sayang diantara kalian saling tumbuh. Aku mencintaimu dan mendo'akan mu dengan tulus sahabat ku."


Sisi memeluk dan membisikan kata-kata yang membuat Mira tak kuasa menahan air matanya.


Dipeluknya erat tubuh wanita berambut sebahu itu,hatinya menghangat karena mempunyai sahabat seperti Sisi.


Sisi tiba di hadapan Adnan dan hanya memberikannya selembar kertas


"Baca saat acara selesai." pesannya sambil menyalami Adnan.


Adnan hanya menerima dengan muka datar.


***


Disinilah Mira sekarang,di kamar dengan aroma mint dan nuansa hitam putih.


Suara gemericik air dari kamar mandi,menandakan empunya kamar tengah membersihkan diri.


Sehabis pesta,Mira langsung diboyong ke rumah Sabran Wijaya oleh Adnan.


Mira bingung saat ini,gugup bercampur malu. Sebelumnya dirinya tak pernah sekamar dengan lawan jenis. rasanya ingin bersembunyi di lubang tikus saja.


suara pintu kamar mandi terbuka,Adnan keluar dengan handuk putih melilit sebatas pinggang sehingga otot-otot perutnya nampak berkotak-kotak.


Mira memalingkan mukanya yang memerah melihat pemandangan di depannya.


Sedangkan Adnan menatapnya dengan pandangan datar dan mengenakan bajunya di hadapan Mira dengan santai,membuat muka Mira semakin memerah bagai kepiting rebus saja.


"Untuk malam ini tidurlah dulu di sini. Karena ini di rumah Kakek,maka kita harus pura-pura tidur sekamar. Besok kita pindah ke apartemen ku." Adnan membuka suara yang dibalas Mira dengan anggukan


Mira membuka kopernya,menarik handuk dan piyama tidur lalu berlalu ke kamar mandi.


Selepas mandi ia hendak naik ke ranjang karena melihat Adnan duduk di atas sofa masih asyik dengan ponselnya.


"Mau kemana kamu?" Adnan menatap Mira dingin


Mira heran ada apa dengan otak Adnan,jelas-jelas dirinya naik ke ranjang sudah pasti hendak tidur,"Ya mau tidur." Mira menjawab Adnan

__ADS_1


"Tau,tapi kenapa naik ke ranjang ku?" Adnan berdiri berkacak pinggang. Lalu berjalan ke tepi ranjang tempat di mana Mira duduk saat ini,di dekatkannya wajahnya ke hadapan Mira hingga tersisa beberapa senti saja,bahkan kini Mira merasa hembusan nafas Adnan di wajahnya.


"Dengar ya Mira! aku yang punya kamar dan ranjang ini,kamu itu hanya tamu di kamar ku. Jadi sebaiknya jaga sikap mu itu,tidur di sofa sana." Adnan membisikan Mira lalu berdiri dan merebahkan dirinya di atas kasur.


Muka Mira memerah,bukan karena malu tapi karena menahan kesal kepada Adnan


"Dasar pria kasar,aku tau aku hanya tamu tapi bukankah biasanya jika tamu menginap maka tamu yang diistimewakan untuk tidur di ranjang. Cihh,kalau aku tamu kenapa dia seenaknya buka baju di depan ku. Dasar pria mesum." Mira bergumam pelan sembari mencebik kesal


"Aku bisa dengar ocehan mu itu Nona Almira. Tidurlah! kau merusak gendang telinga ku dengan suara jelek mu itu." Adnan mengoceh dari tempat tidur membuat Mira semakin geram


Mira berfikir Adnan memang spesialis membuat orang kesal.


Mira merebahkan tubuhnya yang lelah setelah pesta pernikahan di atas sofa beludru berwarna dark. Memejamkan matanya,bersiap menghadapi kegilaan Adnan esok hari.


***


Denting sendok beradu di ruang makan pagi ini,hening terasa hanya suara kunyahan yang terdengar


Empat orang tampak mengitari meja makan


Di kiri kanan mereka berdiri 6 pelayan wanita dengan setelan putih khas pelayan.


"Kenapa harus pindah ke apartemen? rumah ini sangat besar. Cukup untuk menampung kalian berdua." Sabran Wijaya protes akan keinginan Adnan yang hendak pindah ke apartemen


"Kami ingin mandiri Kek,nanti pasti Saya dan Mira akan sering berkunjung." Adnan meletakan sendoknya dan menyahut


"Mandiri kaki mu! Jika kau ingin mandiri,sekalian saja jangan bekerja di perusahaan yang Kakek bangun." Sabran Wijaya mendengkus kesal


Sedangkan Adnan hanya terkekeh geli,sikap kakeknya itu kadang sulit dimengerti seperti kembali bocah lagi.


"Jangan marah ya kek,hum?" Mira menimpali sembari menatap Sabran Wijaya,"Mira janji akan sering main ke sini. Ya?"


Perkataan Mira membuat Sabran melunak,"Baiklah,tapi segera beri Kakek cicit. hehehe"


Adnan dan Mira tersedak makanan saat Sabran mengatakan itu. Sedangkan Sabran tetap santai memotong daging di depannya.


Anton menatap mereka bergantian,serasa tidak dianggap. Dia mengepalkan tangannya menahan geram dan amarah.

__ADS_1


"Saya sudah selesai." Anton mendorong kursinya sedikit kuat membuat Sabran berjengkit kaget


"Ah,ma'af ayah. aku lupa ada kalian jadi terdorong kuat. Ma'af" Sindirnya sembari berlalu


__ADS_2