
"Kenapa kamu gak pernah kasi tau kalau Mira sahabat kamu?" Adnan menatap mata lentik lawan bicara di depannya.
Tasya Ana,wanita yang telah di pacarinya selama 2 tahun. Wajahnya cantik,dengan mata bulat dan netra hitam pekat,bulu matanya lentik,dagu nya runcing dan bentuk tubuhnya proporsional. Siapapun akan terpikat dengan kecantikannya,Adnan mencintai wanita ini,sangat. Dia gamang sesaat,menerka-nerka isi hati lawan bicaranya.
"Kamu coba bujuk Kakek kamu dulu,jika dia tetap kekeh maka akhirilah hubungan kita." Tasya menjawab ragu-ragu.
Jujur,dia pun sangat mencintai pria ini. Pria dengan tubuh atletis dan tinggi. Garis rahangnya tegas,batang hidungnya tinggi,alisnya tajam dan tebal ditambah lagi bibir merah dan tipisnya. Memang diluar dia nampak kasar dan dingin,namun dengan Tasya dia hangat.
Butuh perjuangan mendapatkan lelaki ini,Tasya gamang antara sahabat dan cintanya.
"Tas,aku mohon. Kamu mau tunggu aku ya! hum" Adnan kembali meraih tangan Tasya dan menciumnya, "kamu kan tau keputusan Kakek tidak bisa aku bantah. Aku gak rela perusahaan yang susah payah Kakek bangun,jatuh ke tangan anak angkatnya yang penuh ambisi itu." Adnan menggertakan giginya mengingat Anton.
Akhirnya Tasya mengangguk ragu, "ma'afin aku Mir" batinnya
***
Di sudut kamar dengan dinding berwarna ungu itu,Mira terisak. Pasalnya,tadi sepulang dari cafe Sisi mengatakan akan pindah kembali ke rumah orang tuanya.
4 jam yang lalu...
"Mir,sini duduk." Sisi menepuk-nepuk sofa di sebelah tempat duduknya.
"Kenapa?" Mira mau tak mau mendudukkan bokongnya di sofa berwarna abu,pemberian Ibu kontrakan
"Ehemmm..." Sisi terlihat ragu-ragu melanjutkan
"ihhh,kenapa? keburu kepo nih." rajuk Mira
"Aku disuruh balik ke rumah ortu nih,kamu....gapapa sendirian..lagi?" Sisi bertanya ragu-ragu
Mira nampak terkejut,namun berusaha mengontrol ekspresi wajahnya.
"Gapapa Si,kalau ortu suruh balik ya balik aja." Mira tersenyum tulus
__ADS_1
"Tapi,aku sedih ninggalin kamu sendirian lagi. Kamu mau tinggal bareng aku dan ortu? kan kontrak disini setengah bulan lagi habis. Kamu udah ada uang buat bayarnya?" mata Sisi berkaca-kaca menatap Mira
Sedih baginya meninggalkan Mira yang sudah seperti kakak baginya. Mira adalah wanita yang lemah lembut sebenarnya,dia juga penyayang dan telaten. Sayang,karena bentuk tubuh dan kondisi wajahnya yang sensitif ia susah mencari pekerjaan.
Sisi juga tau persis bagaimana kondisi keuangan Mira saat ini. Dia tidak punya siapapun lagi keluarga untuk dimintai tolong.
Ayahnya meninggal 10 tahun lalu,sedangkan ibunya menjadi TKW saat ia kelas 1 SMP namun sejak saat itu ibunya hilang seakan ditelan bumi. Menelfon pun tidak pernah lagi hingga saat ini.
Mira tidak punya siapapun sebagai tempat bersandar,nenek dan Kakek pun ia tak punya.
Ayah dan Ibunya berasal dari panti asuhan,karna itulah Mira tak punya siapapun lagi.
"Gak usah Si,aku gapapa." Mira menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih berharap dapat pekerjaan sebelum tenggat waktu bayar kontrakan.
Sisi tahu pendirian Mira teguh,dia tidak suka berhutang budi kepada orang lain "Ya sudah,tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan datang ke rumah ya Mir. Mama,Papa masih sering nanyain kamu." Sisi menegaskan sembari memeluk Mira,Mira hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya
Setelah puas menangis,Mira menyusut air matanya dan bergegas tidur. Menekan saklar lampu agar mati dan menghidupkan lampu tidur diatas nakas. Jemarinya meraih ponsel,bergerak lincah menyetel alarm agar bisa bangun pagi,esok hari.
***
Tadi,ia dapat pemberitahuan via email bahwa besok pagi ia dipanggil untuk wawancara kerja di PT.Triya Tech,lucunya takdir. Dari sekian puluh perusahaan yang Mira lamar,malah Triya Tech yang merespon lamarannya. Apa boleh buat,Mira butuh uang untuk menyambung hidupnya,selucu apapun takdir,tetap harus dijalaninya.
Pukul 1 dini hari
Mira terbangun karena mendengar suara seperti pintu yang dibuka paksa.
Dia menyibak selimutnya dan berdiri,menyalakan lampu lalu mengikat rambutnya.
Memegang handle hendak membuka pintu,namun pintu kamar ditendang duluan dari luar.
Mira panik,seluruh tubuhnya gemetar. Di depannya,3 laki-laki yang mengenakan penutup muka hitam legam tengah mengepungnya.
Tubuh mereka besar-besar,itu nampak dari otot yang terlihat di balik kaos hitam lengan pendek yang mereka kenakan.
__ADS_1
Mira mundur beberapa langkah,fikirannya kalut,air mata menetes dari pipinya.
"Mau apa kalian?" Mira mati-matian berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar,baru ingin meraih HP di atas nakas,tangannya lebih dulu ditarik paksa dan diikat oleh salah satu dari ketiga orang di depannya.
Mira meronta-ronta dan menjerit-jerit takut,sekujur tubuh nya gemetar.
"Siapa mereka? Kenapa mereka mengikatku? Apakah aku akan dijual?" Mira membatin dengan berurai air mata
"Diam saja kau,tidak akan ada yang dengar. Salah mu sendiri membuat rumah mu kedap suara." Lelaki didepannya menyeringai di balik penutup wajah yang dikenakannya, "lakban mulutnya!" Titahnya
Sedangkan Mira masih meronta-ronta hingga berurai air mata. Dia diseret paksa menuju mobil oleh ketiga orang itu.
Di dalam mobil yang melaju kencang,Mira mulai merutuki hidupnya yang sial. Mulai menyesali kenapa tidak mau saat diajak tinggal bersama Sisi,demi mementingkan egonya ia menolak.
Entah bagaimana nasib hidupnya saat ini.
"Boss,sepertinya ada yang mengikuti kita." salah satu pria menunjuk kaca spion yang memperlihatkan mobil merah di belakang yang sepertinya mengikuti mereka sejak tadi.
Sang pengemudi menambah laju mobil,begitupun mobil di belakangnya.
Pria pengemudi yang saat ini hanya terlihat rambutnya oleh Mira itu nampak berang,dia lalu membanting setir ke kiri,menuju jalan gelap. Diikuti pula oleh mobil merah di belakangnya.
Sang pria pengemudi menghentikan laju mobil,begitu pula mobil merah di belakang. Sepertinya ia benar-benar mengikuti mobil mereka.
Kedua pria yang ada di mobil turun,sedangkan pria satunya tetap berada di mobil,menjaga Mira agar tak kabur.
"Siapa kau?" Salah satu lelaki yang dipanggil boss tadi mengetuk-ngetuk kaca jendela pemilik mobil merah,sedangkan pria di dalamnya hanya tersenyum sinis.
Dibukanya jendela mobil,sepatu pantofel hitam mengkilat nya beradu dengan aspal hitam pekat.
"Anton,Anton. ck ck ck terlalu mudah ditebak." Lelaki itu berdecih sembari tersenyum mengejek.
"Kalian,orang suruhan Anton kan?" lelaki dengan surai hitam pekat itu kembali bertanya
__ADS_1
"Tidak penting kami orang suruhan siapa. Bukan urusanmu! Jangan ikut campur! sebelum engkau babak belur,pergilah!" Salah satu pria tadi mendorong kasar tubuh lelaki tampan tersebut
"weitss,santai bro." Adnan mengibas-ngibaskan bajunya seakan jijik karena disentuh,"Tentu urusan saya,karna yang kalian culik itu calon istri saya...." Adnan menyeringai dan mengepalkan tangannya