Oh My Mr.Cool

Oh My Mr.Cool
Perjodohan


__ADS_3

Adnan menyugar rambutnya frustasi, mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut lelaki dengan perawakan berwibawa di depannya


"Kakek tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus terima perjodohan ini! Kakek sudah berjanji kepada almarhum ayahnya."


"Tapi ini bukan zaman Siti Nurbaya Kek! Pakai dijodohkan segala. Ini udah abad 21,sudah zaman modern. Perjodohan itu sudah ketinggalan zaman." Adnan tak mau kalah


Enak saja pakai dijodohkan segala. Dia sudah punya kekasih yang diimpikan akan dinikahinya. Bagaimana tanggapan kekasihnya jika tahu hal ini?


"Lagian Kakek juga tahu kan. Aku ini udah punya pacar." Adnan masih melanjutkan. Big no! dia tidak mau menikah dengan orang tak dikenalnya.


"Kakek tidak mau tahu. Menikah dan Triya Tech akan diwariskan sepenuhnya kepada kamu termasuk seluruh cabang di luar Negeri,atau jangan nikahi dia dan tidak mendapatkan 1℅ saham pun dari perusahaan Kakek." Sabran Wijaya berlalu meninggalkan Adnan yang mematung bingung dan frustasi.


"Oh,iya..." Sabran Wijaya--sang Kakek berbalik setelah berjalan beberapa langkah.


"Kakek kehilangan kontaknya 8 tahun lalu saat dia lulus SMA. Tugas kamu mencarinya! Kakek dengar setelah Ayahnya meninggal dia meninggalkan kampungnya untuk kuliah sembari bekerja paruh waktu di Ibukota sekarang."


Tuan Sabran membenarkan letak kacamatanya lalu melanjutkan,"Form latar belakang hidupnya ada di meja kerja kamu sekarang. Alamatnya sering berubah-ubah tugas kamu cari dia lalu menikahlah dengannya!"


Adnan hanya mendengkus kasar lalu berjalan menaiki tangga.


Membanting kasar pintu kamarnya hingga membuat sang Kakek di lantai bawah berjengkit kaget.


"Adnan Fighting!" Sabran Wijaya mengepalkan tangannya sembari mengangkat keatas. Memberi semangat kepada cucu satu-satunya keluarga Wijaya.


Namun,teriakan semangat dari sang Kakek terdengar seperti ejekan di telinga Adnan.


Dia bingung dan frustasi. Adnan menghirup oksigen dengan rakus sembari mondar mandir di atas lantai kamar yang berupa marmer hitam pekat--warna kesukaannya.


Uap Air diffuser beraroma mint di sudut ruangan kamar sedikit menenangkan hati Adnan.


Adnan Wijaya,lelaki tampan yang mempunyai kulit putih bersih serta rahang kokoh dan alis tebal adalah pemuda berusia 33 tahun. Dia merupakan cucu tunggal keluarga Wijaya.


Ayah dan Ibunya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat akan terbang ke New York.


Jadi,sejak umur 18 tahun dia hanya tinggal dengan Sabran Wijaya--sang Kakek dan Anton Wijaya--sang Paman,adik bungsu ayahnya.


Adnan terlahir dengan sendok emas di mulutnya. Sekalipun ia tak pernah kelaparan atau kedinginan.


Dia tinggal di rumah yang nyaman,dan hidup bergelimang harta.

__ADS_1


Mana mungkin ia rela perusahaan di serahkan kepada pamannya,musuh bagi hidupnya.


Baginya,pamannya adalah penyebab kecelakaan orangtuanya. Karna menggantikan sang Paman yang saat itu menolak pergi ke New York untuk mengurusi kantor cabang di sana,padahal itu seharusnya tugas Anton--sang paman. Tetapi orangtuanya terpaksa menggantikan Anton,sejak saat itu hubungan keduanya renggang. Adnan butuh seseorang untuk disalahkan.


"Sekretaris Yo,tolong cari informasi alamat wanita bernama Almira Sabania,gadis 26 tahun asal kecamatan Sanggau." Setelah menimbang-nimbang Adnan fikir untuk saat ini ia menyetujui rencana sang Kakek. Namun,banyak syarat terlintas di otaknya.


"Baik Tuan." Suara di seberang menyahut


Adnan menekan ikon merah bergambar gagang telepon tanda mengakhiri panggilan.


Ia lalu menjatuhkan bobotnya di tempat tidur king size dengan sprei sutra berwarna hitam pekat.


Sekian menit kemudian ia terlelap ke peraduan.


***


Tok tok tok....


Tok tok tok....


Mira menggeliat malas,menyibak selimut dan bangkit dari kasur dengan rambut yang acak-acakan.


"Kenapa?" Kepala Mira menyembul dari balik pintu dengan muka bantal khas bangun tidur dan rambut acak-acakan.


"Ada yang nyariin kamu. Ishh kok baru bangun? Begadang lagi semalam? Udah buru cuci muka sana! GPL,gapake lama! udah ditungguin tuh." Sisi nyerocos sembari mengarahkan jari telunjuknya ke dua orang yang tengah memandangi mereka dari kursi tamu.


Mira menarik garuk rambutnya sembari mengikuti arah jari telunjuk Sisi dan sedetik kemudian secepat kilat ia berlari masuk kembali ke kamarnya.


"Waduh beg*, ada cogan malah begini bentukan aku." Mira memandangi dirinya di cermin berbentuk persegi panjang di depannya.


"Astaghfirullaah...." Rambut acak-acakan dan masih ada sisa belek di matanya.


Mira rasanya ingin sembunyi di lubang semut.


Terburu ia cuci muka dan gosok gigi tanpa mandi. Setelah menyemprotkan parfum ke badannya ia keluar hendak bertemu cogan di depan.


"Wangi bener buk,yakin aku mah cuma pake parfum,cuci muka,gosok gigi tak mandi buahhhahaha." Sisi heboh sendiri membuat pipi Mira bersemu merah menahan malu.


Setelah puas menertawakan sahabatnya ia tersadar situasi dan kondisinya yang tengah ditatap 2 cogan dengan tatapan heran,kini giliran Sisi yang bersemu merah dan Mira yang terbahak. Sedangkan dua lelaki berjas di depan mereka hanya saling pandangan dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Salah satu dari dua pria berjas yang tampan tadi membuka suara,setelah membenarkan letak kacamatanya.


"ehem. Perkenalkan saya Yoga Sekretaris Tuan Adnan. Dan ini Tuan Adnan bos saya CEO PT.Triya Tech."


"Udah tau kalau Tuan Adnan mah kan dia yang nabrak kamu tempo hari Mir." Sisi menyela perkataan Sekretaris Yo dengan sewot.


Sedangkan Tuan Adnan bergerak-gerak gelisah karena sadar situasi saat ini.


Pantas ia merasa pernah mendengar nama Almira Sabania sebelumnya,ternyata wanita itu adalah wanita gemuk dengan pipi chubby penuh jerawat yang ditabraknya tempo hari.


Membayangkan akan menikah dengan wanita seperti itu membuatnya bergidik ngeri. Sangat jauh berbeda dengan kekasihnya--Tasya yang seorang model. Sudah pasti wajah dan proporsi tubuhnya nyaman dipandang mata.


Sedangkan Mira di seberangnya hanya memandangi Tuan Adnan biasa saja. Tidak ada pandangan marah atau kagum di matanya.


Sekretaris Yo berdehem untuk meminimalisir suasana yang terasa berbeda.


"Soal itu,saya mewakili Tuan Adnan meminta ma'af kepada Anda Nona Almira,jika berkenan mema'afkan. Adapun kedatangan kami kesini dengan maksud berbeda."


"Suruh minta ma'af sendiri dong! Emang tu Boss kamu gak punya mulut apa? Minta ma'af pake diwakilin segala." Sisi kembali nyolot karena karakternya memang menggebu-gebu


"Udah gapapa Si." Mira memegang tangan sahabatnya itu agar tenang.


"Jadi,ada apa kesini sepagi ini?" Mira memandangi bergantian dua orang di depannya.


Sekretaris Yo mengeluarkan secarik kertas. Baru hendak membuka mulut,Tuan Adnan sudah menyela duluan.


"Kamu kenal Tuan Sabran Wijaya?" Adnan memandang lurus dan datar mata Mira--lawan bicaranya.


"Tuan Sabran Wijaya?" Mira balik bertanya,lalu memandang langit-langit ruang tamu mencoba mengingat nama itu.


"Jika yang Anda maksud Tuan Sabran Wijaya yang berkacamata dan punya tahi lalat tiga titik di sekitar bawah mata maka saya kenal. Boleh Anda tunjukkan saya fotonya?" Mira melanjutkan.


Sekretaris Yo mengutak-atik HPnya dan sekian detik kemudian mengangsurkan HPnya ke hadapan Mira.


Mira menjentikkan jarinya,"Iya,benar beliau! Saya kenal, namun sudah lama lost contact semenjak saya pindah ke Ibukota. Tapi,kenapa menanyakan beliau?"


"Dia Kakek saya. Beliau menyuruh saya mencari Anda Nona Almira Sabania. Pelet apa yang Anda gunakan untuk memikat Kakek saya sehingga beliau begitu kekeh meminta saya menikahi Anda?" Adnan menjawab dengan kasar sembari melemparkan tatapan tajam kepada Mira yang membuat gadis itu bingung sekaligus marah.


"Kurang ajar" batin Mira marah

__ADS_1


__ADS_2