Oh My Mr.Cool

Oh My Mr.Cool
Rencana Anton


__ADS_3

"Wahh sungguh terheran-heran saya mendengar kata-kata Anda. Dengar ya Tuan Adnan yang terhormat,saya kenal Kakek dari mendiang ayah saya. Dan saya bukan wanita penggoda seperti yang Anda tuduhkan!" tatapan Mira menghunus tajam,Sisi pun sampai bergidik ngeri dibuatnya.


"Tuan Adnan ini benar-benar sesuatu,habislah engkau wahai CEO songong." Sisi membatin sendu


Adnan tersenyum mengejek, "oh ya? benarkah? Kayaknya sih benar." Adnan mengangguk-anggukan kepalanya,lalu melanjutkan "Walaupun Kakek saya sudah berkepala 6 tapi seleranya ga mungkin seburuk kamu sih."


Sisi membuka mulutnya hingga membentuk huruf O,lalu melotot tajam ke arah Sekretaris Yo di seberangnya sembari melambai-lambaikan tangan.


"kali ini benar-benar habis kau Adnan,salahmu membangunkan macan betina." Sisi kembali membatin sembari memandang Adnan prihatin,


"Semoga engkau nanti pulang dengan keadaan sehat sentausa. aamiin."


Di seberangnya,Sekretaris Yo menggaruk kepalanya padahal tak gatal karena rajin keramas eh,maksudnya karena tak mengerti maksud lambaian tangan Sisi.


Urat-urat di wajah dan leher perempuan berusia 26 tahun itu terlihat menonjol,mukanya merah padam menahan amarah.


"Adnan bodoh" Plakk, kelima jari Mira membekas di wajah mulus Adnan meninggalkan jejak-jejak kemerahan, "keluar kamu dari rumah saya! apa? menikah dengan kamu? menikah dengan lelaki kasar seperti kamu? Cihh!" Mira berdecih sarkas "kenapa saya harus melakukannya Tuan Adnan yang terhormat? Hah kenapa?" Mira menunjuk-nunjuk pintu depan dengan wajah merah padam. Perkataan Adnan menggores harga dirinya,menjatuhkannya jauh ke dalam lubang insecure.


Dia tau,dirinya tak cantik. Tak usah dikatakan lagi. Apalagi sampai menyebut bahwa dia bahkan bukan selera kakek-kakek tua. Sungguh,harga dirinya terluka.


Adnan nampak terkejut mendapat tamparan dari Mira,tak disangkanya tanggapan gadis itu sekeras itu.


Sisi yang melihat sahabatnya tengah berang hanya mengigit ibu jari bingung,pasalnya jika Mira sudah marah susah diredakan marahnya.


Sedangkan Sekretaris Yo menarik-narik lengan baju Tuan Adnan,sebagai kode agar Tuannya itu meminta ma'af. Tapi,memang dasar Adnan tak peka dia hanya diam tak mengerti.


"Aku salah apa?" batinnya bingung,karena menurutnya perkataannya benar, "Seharusnya dia yang minta ma'af karena menampar ku!"


Sekertaris Yo yang mengerti maksud tatapan Tuannya itu hanya geleng-geleng kepala. Rasanya dia ingin menangis menghadapi sikap bodo amat Boss nya itu


"Ya, kamu harus melakukannya untuk membantu saya. Kamu pun butuh uang bukan untuk biaya hidup? terima sajalah! Saya tau kok kamu sedang menganggur sekarang. Saya siap kasi kamu saham 5℅ dari apa yang akan saya dapatkan. Bagaimana?"


"Anda menyelidiki latar belakang saya?" Mira bertanya menyelidik


"iya. Memang kenapa? Jangan kan latar belakang kamu,latar belakang orang penting di Negeri ini pun bisa saya dapatkan." Menyombongkan dirinya,Adnan membuat Sekretaris nya semakin sakit kepala.

__ADS_1


"Wahh,wahh,benar-benar sinting ini orang." Mira sekarang benar-benar kesal.


Ditariknya kasar lengan baju dua lelaki tampan tersebut,setelah mendorong mereka keluar dia membanting pintu dengan kasar dan menguncinya.


Sisi berjalan mendekati Mira, "Kamu....gapapa?"


Mira hanya menggelengkan kepalanya sembari menunduk dan berjalan menuju kamarnya.


Menjatuhkan tubuhnya di kasur single bed dengan sprei polkadot hitam putih kesukaannya,Mira menitikkan air matanya.


Bukan maunya terlahir begini,bukan maunya hidup begini.


Fisiknya yang berjerawat dan kulit wajahnya yang sensitif membuatnya sering menjadi bulan-bulanan sedari duduk di bangku sekolah. Ditambah lagi tubuhnya yang mudah sekali bertambah bobotnya,padahal dia makan tidak banyak juga. Namun,mungkin penyebabnya adalah saat stress Mira cenderung makan banyak dan selalu merasa lapar. Mungkin itu sebab bobotnya selalu bertambah saat kakinya berpijak di timbangan.


Mira menyusut air matanya,kenangan 8 tahun silam menari-nari di memori ingatannya.


Sabran Wijaya--pria tua bijaksana dan baik hati,sahabat mendiang ayahnya. Dulu,saat terakhir bertemu pria itu pernah menawarkan mau merawat Mira yang saat ini sebatang kara. Namun Mira menolak,sungkan dan tidak ingin membuat orang terbebani.


Dia tidak ingin berhutang Budi,begitu fikirnya.


Namun siapa sangka,hidup di ibukota ternyata berat buatnya yang terbiasa di kampung halaman.


Seingatnya,Kakek Sabran adalah pribadi yang lembut dan ramah serta murah senyum,bagaimana bisa cucunya bagikan langit dan bumi kepribadiannya,sungguh heran Mira dibuatnya.


Penat berpikir membuat otak Mira lelah dan minta diistirahatkan. Mira terlalap larut dalam mimpi


***


Di sisi lain,di meja makan bergaya Eropa duduk 3 orang lelaki dewasa mengitari meja makan putih bercorak emas di semua sisi bawahnya.


Kursi hitam pekat itu nampak cantik terpantul lampu bergaya mewah diatas kepala mereka.


Tuan Sabran melambai-lambaikan tangannya pertanda meminta enam pelayan yang memakai baju dengan warna dan corak senada itu pergi.


Enam wanita itu menunduk lalu pelan-pelan mundur dan berbalik,mematuhi majikan mereka.

__ADS_1


"Jadi,sudah kau temukan alamat rumah Almira?" Sabran Wijaya membuka suara setelah keenam orang itu pergi


Adnan hanya berdehem menanggapi,tidak mengalihkan pandangan,masih sibuk memotong steak di depannya.


"Jadi,apa katanya?" Tuan Sabran melanjutkan,menunggu jawaban dengan tidak sabar.


Adnan meletakkan pisau dan garpu ke meja makan. Mengalihkan pandangan ke kakeknya, "Dia tidak mau." Jawabnya datar


"Kenapa?" Tuan Sabran tampak terkejut


"Ya mana saya tau kek." Adnan mengangkat bahunya acuh


"Ayah seperti tidak tahu saja karakter Adnan,dia kan kasar dan suka bicara seenaknya. Saya yakin dia bicara macam-macam kepada Mira itu." Anton menimpali obrolan dua orang didepannya


Adnan menghunuskan tatapan tajam kepada Anton lalu mendengkus kasar,sedangkan Tuan Sabran hanya menghela nafas dan mengangguk-angguk.


"Kakek tidak mau tahu,cari cara agar dia mau di nikahi atau semua aset kakek serahkan ke Anton--paman mu." Tuan Sabran berdiri dan mendorong kursi ke belakang setelah meletakan tisu bekas mengelap mulutnya


Anton tersenyum penuh kemenangan menatap keponakannya itu. Ambisi nampak berkobar di matanya


Dia sangat berharap Mira tidak mau dinikahi Adnan agar semua aset Triya Tech jatuh ke tangannya.


"Lap iler mu itu paman,nampak sekali ambisi dari wajah mu itu." Adnan tersenyum sarkas,sedangkan Anton buru-buru meraba mulutnya memastikan perkataan Adnan


"****,dia mengerjai aku,bocah tengik itu! Awas saja kamu!" Anton menatap punggung Adnan dari kejauhan dengan senyum mengerikan.


Anton berdiri dan melangkah menaiki tangga marmer hitam pekat,di pegangnya kuat-kuat pagar pembatas tangga. Setelah sampai di


kamarnya ia mengeluarkan handphonenya.


Menekan kombinasi angka-angka lalu menekan ikon hijau bergambar telefon


"Ya Tuan?" Jawaban di sebrang terdengar


"Kalian dimana? tolong laksanakan perintah saya kemarin. Pembayaran akan saya beri setelah tugas selesai." Anton memberi perintah

__ADS_1


"Baik Tuan."


"hmm" Anton menutup telefon sembari menyeringai


__ADS_2