Aku pergi ke menara menjulang, menara dewa di kerajaan ku. Itu adalah menara yang mengatur kerajaan. Menara itu akan menerapkan hukum2 nya yang tak dapat di tentang oleh orang2 di Kerajaan ini. Aku lalu memasuki menara dan pergi menjelajahi nya.
Seorang gadis cantik berambut ungu muda sedang tiduran di kasurnya, aku memasuki kasur itu dan membangunkan nya.
"Adelia, bangun ..." Ujarku menggoncang tubuhnya.
Dia terbangun menatapku dengan mata nya yang masih sembab.
"Ada apa yang mulia unknown?" Ujarnya menjawab nya dengan wajah setengah sadar.
Aku berdiri dan keluar dari kasurnya.
"Aku kemari meminta data para petinggi kita ..." Ujarku berbalik dan memasang posisi istirahat ditempat.
Aku lalu menoleh. "Kau pasti tau kenapa aku butuh itu ..." Ujarku menoleh dengan senyuman.
Dia mengucak matanya lalu. "Waaaa, Ya-yang mulia!" Ujarnya menunduk sujud, "maafkan aku tak sopan!"
Aku berbalik dan memintanya. "Abaikan saja keformalan itu, aku membutuhkan mu sebagai asisten ku setelah ini ..." Ujarku menatapnya.
Dia mengeluarkan sayapnya dan ekor panjang nya.
"Apa tuan yakin?" Ujarnya memandangku dengan wajah malu2.
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. "Apa maksudnya ini, apa dia mikirin hal mesum?! Yah, wajar si karena dia secubbus tapi aku bukan berati meminta nya jadi asisten karena dia secubbus kok ..." Ujarku tertawa dengan wajah berkeringat menentang pikiran ku dihati.
Dia berdiri dari kasur nya dan bergerak dengan lembut.
Aku melihatnya berjalan dengan lembut jadi berpikir dia Kukang.
"Lambat sekali, dan halus sekali ..." Ujarku dihati.
__ADS_1
Dia mengangkat tirai kelambu nya dan berdiri namun terpeleset.
*Drekk! (Dia menginjak kain selimut kasur nya yg terseret hingga kelantai.)
"Agh!" Ujarnya terkejut.
Aku menangkapnya dan memeluknya. "Kau kenapa?" Tanyaku padanya yg sedang di pelukan ku.
"Ya-yang mulia!" Ujarnya memerah merona dengan ucapan gemetar.
Aku melihatnya dengan wajah datar. "Apa kau deg degan?" Tanyaku.
Dia mendorong tubuhnya dan lepas dari pelukan ku.
"Yang mulia, aku akan mengambilkan arsip2 nya ..."
Aku melihat itu tersenyum puas. " Wangi2 ..." Ujarku berjalan mengikutinya.
Aku sampai pada lemari buku dan sebuah layar besar tempat menulis hukum kerajaan.
"Ini, Yang Mulia!" Ujarnya menunduk saat memberikan.
Aku membaca bukunya, dan kulihat bahwa tertulis disitu.
"Buku data diri para Npc buatan , ini adalah buku yg juga sama pengaturan nya dengan layar hukum negara ..." Ujarku membuka buku kemudian.
Aku membaca buku, dimana ada 9 mahluk yang di ciptakan staf. Mahluk2 itu masing2 memiliki ke dudukan nya.
Mahluk penjaga gerbang adalah kepala pelayan, bernama Hakushi.
Dia memiliki bawahan yang masing2 di ciptakan oleh seluruh staf. Bawahan2 Hakushi menjaga masing2 lantai, ada sekitar 13 lantai. Yang setiap lantai memiliki penduduk nya masing2.
__ADS_1
Yang ke 2 Wakil Raja, yang mana itu adalah Ariel. Dia bertugas mengurusi kerajaan, seperti Dia adalah Rajanya sendiri.
Ariel memiliki 300 Mentri yang masing2 nya di pimpin oleh 1 orang dari seratus orang bawahannya.
Ada pula Berneat, dia adalah orang mengurus kebutuhan Kerajaan. Dia menciptakan dangeon dan labirint, yang merupakan penghasilan bagi Kerajaan ini.
Aku membaca nya sampai aku tertidur di meja. Saat Aku bangun, aku menemukan nama si gadis dan biodatanya.
"Adelia, memiliki kepribadian pemalu namun pikiran nya sebenarnya berisi kemesuman karena Dia seorang seccubus!" Ujarku tercengang membacanya.
Aku melihat sebuah tinta dan pena dari bulu burung.
"Dia akan menjadi asisten ku, maka harus di edit ..." Ujarku menulis ulang data diri si Adelia.
Saat Adelia masuk untuk membawa kan tehnya dengan wajah malu2. Tiba2 saja, matanya bercahaya sebuah kode terus berjalan seolah sedang memproses data.
Aku tak melihat hal itu karena sibuk mencatat. Adelia terdiam seperti mematung dalam beberapa saat.
Lalu ...
*Tes! (Dia menjatuhkan gelas nya)
Itu pecah di lantai, membuat aku yg serius mencatat jadi menoleh.
"Apa yg?" Aku berdiri dan menuju kearahnya, "Adelia, kau kenapa?" Ujarku menatap nya yang lesu.
"Entahlah, Yang Mulia kelihatannya aku butuh di cas oleh mu ..." Ujarnya berkata seperti itu dengan wajah lesu nya.
Aku menggendongnya dengan wajah serius. "Jangan bercanda, kau kenapa bisa tiba2 tumbang?"
__ADS_1
Dia menyentuh daguku. "Aku tak tahu, tapi jelas sekali aku lemas ..." Ujarnya membelai tangannya di belahan dadanya sendiri lalu mendesah.
Aku berkeringat dan menatap kearah samping. "Aku terlalu berlebihan mengedit!" Ujarku berteriak dihati.