Di Kastil, Aku mengumpulkan para bawahan ku yg merupakan staf sekarang. Jumlah mereka adalah 9 orang. Yah, salah satu yang terkuat adalah Adelia. Karena hal itu, Adelia akan menjadi Asisten ku. Sebenarnya, itu merupakan saran Hakushi yang cemas akan diriku yang ingin mengecek keluar kastil bagaimana keadaan Kota.
Ariel menatapku dan menjelaskan dengan tangan di dada dan raut penyesalan.
"Maafkan hamba, Yang Mulia tahu lagi akan masalah ini ..."
Aku mendatar mendengar itu. "Jadi awal nya Kau merahasiakan nya dariku ?" Ujarku.
Aku lalu mengeluh. "Hah, sudahlah Ariel ..." Ujarku mengela napas kecewa.
Dalam hatiku. "Aku tak bisa memaksa nya untuk merubah dirinya. Lagian, pasti dia memiliki kepribadian seperti Cecilia (Staf). Contohnya saja Hakushi, dia orang yang terlalu khawatir dan juga suka memberikan saran ... Itu sangat mirip dengan Amui kun!"
Aku lalu tersenyum pada Ariel. "Sudahlah, lupakan saja hal itu ..." Ujarku melipat kaki kemudian.
Aku menatap serius dengan tangan menyilang.
"Jadi, apa belum ada perkembangan dalam melacak keberadaan si Galias?" Ujarku serius bicara.
Ariel menunduk dan berkata dengan nada keras sambil menahan rasa malunya.
"Maafkan hamba, saya belum mampu melacak pemimpin Galias ..."
Aku menopang dagu dengan telapak tangan dan menoleh kearah Lambang tameng di bendera yg tergantung di kiri.
"Pertahanan negara kah?" Ujarku bergumam.
Ariel menunduk seketika. "Hamba akan lakukan hal itu!" Ujarnya lalu menghilang seketika.
\*Dust! (Dia menghilang!)
Aku menjadi terkejut dan mencoba meraihnya.
"Eh?!" Ujarku melihat nya yang menghilang dari pertemuan ini.
Aku menepuk dahiku dan tertawa. "Ariel, kenapa Kau suka bertindak sendiri sih? Padahal, aku ga bermaksud menyuruhmu melakukan hal itu ..." Ujarku menggelengkan kepala.
Berneat berdiri dan berkata. "Tuan, jadi apa yang mau anda sampaikan sampai mengumpulkan kami?" Ujarnya.
Rose berdiri. "Apa maksudmu bertanya seperti itu?! Harusnya, kita akan menghadap Yang Mulia kapan pun Dia minta!" Ujarnya marah.
Aku menenangkan Rose si Ksatria. "Tenanglah!" Ujarku tertawa berkeringat.
Berneat menatap Rose dengan wajah bingung. "Aku ga bermaksud mengatakan hal tak sopan seperti itu?"
Seketika Rose tertunduk karena kaget yang di ucapkan si Berneat. "Ah, jadi maksudnya aku yang mengatakan hal tak sopan ..." Ujarnya mulai merasa rendah diri.
Adelia tersenyum dan melebarkan sayap kalilawarnya. "Itu benar Rose, wanita yang tak sopan menganggu kata2 Yang mulia saat bicara ..."
Aku menengangkan semuanya. "Tolong diam, jangan berdebat!" Ujarku mengesahkan tangan ku.
__ADS_1
Adelia lalu menoleh kearah. "Apalagi sudah melakukan hal mesum dengan Tuan sebelum Aku ..." Ujarnya cemberut.
"Eh?" Ujarku kaget, dalam hatiku , "jadi itu alasannya menambah bumbu ..."
Aku menghentakan kakiku karena pusing.
\*Dentam! (Seketika terdengar ledakan)
Muncul poin2 keudara, namun tak ada bekas apapun yang dihasilkan ledakan. Itu karena barang diruangan ini mengeluarkan Poin O yang artinya tak dapat di hancurkan.
Semua diam seketika dan menjadi hening.
Aku menunduk dan diam dengan gigi menggertak terus menerus.
Lalu, aku bicara.
"Merepet terus menerus berdebat terus menerus dihadapan ku, bukannya kalian meremehkan ku!" Ujarku memancarkan aura.
Aku benar2 memasuki mode marah, itu terjadi sesekali bila aku sudah muak. Sifat ku yang tak enakan dan baik hati serta lembut hilang jikalau aku sudah muak.
"Siapa yang mau bicara lagi, silahkan?" Menonggak dengan lirikan tajam.
Mereka diam semuanya bahkan si Adelia menjadi gemetar.
Aku lalu menghela napas. "Huh, sangat sulit sekali mengajak kalian bicara ..." Ujarku menggelengkan kepala.
"Terutama Adelia, jangan bertindak tanpa ku perintahkan ! Kau hanya kujadikan bodyguard dan langsung seenaknya !" Ujarku kesal dan berdiri.
Semua diam.
Aku lalu menghempas tubuh ke kursi singgasana lagi dan melipat tangan ku di dada sambil menoleh kelain.
"Diam kalian kan?" Ujarku mendecikan bibir.
Setelah tenang, aku kembali bicara dengan serius.
"Aku mengumpulkan kalian untuk melihat sesuatu yang kutemukan tapi si Ariel malah pergi dari sini ..." Ujarku bersandar.
Aku lalu melempar benda itu keatas dan tiba2 berubah menjadi DRONE.
"Ini adalah benda yang ada di penyimpanan, artefak visual !" Ujarku menjelaskan.
Seseorang berdiri, dia adalah salah satu ciptaan staf bernama Robert.
"Aku tau benda itu, disebut DRONE!" Ujarnya berkata dengan nada datar.
Dia adalah Demian, mahluk yang disebut sebagai Iblis.
__ADS_1
"Aku menjaga gudang penyimpanan harta Clan, dan jelas aku tau benda itu. Benda itu masih melayang dan menskreen tiap barang di penyimpanan dalam beberapa kali di tiap tahun."
Aku mendengar itu mengangkat alis. "Maksudnya itu mengecek tiap barang di penyimpanan harta ..."
Demian menunduk. "Benar, Yang Mulia ..." Ujarnya membusungkan dadanya.
Aku memikirkan kelompok Galias dan alasan mengapa mereka mencari Kota hilang.
"Mereka akan mengambil semua artefak di Kota hilang dan menskreen nya ... Yang berati, mereka para Galias adalah Sejarawan hebat yang dilengkapi alat canggih!"
Aku mengangkat tangan ku dan berkata pada para bawahan ku.
"Kalian ku izinkan, menggunakan semua harta di penyimpanan sesuka kalian. Kalian bisa memakai apapun yang kalian mau tanpa ragu, selama itu untuk kesejahteraan masyarakat Kita ..."
Aku lalu mengangkat tangan. "Dan untuk benda ini, kalian gunakan sebagai alat pengintai atau kamera pengawas ..."
Mereka semua mengangguk paham.
"Baik, Yang Mulia!" Ujar semua nya menunduk.
Aku menepis tangan. "Pergilah!" Ujarku memerintahkan semuanya bubar.
Seketika semua nya menghilang dari hadapan ku.
Menyisakan 2 orang Adelia dan juga Hakushi.
Aku menatap ke arah Hakushi. "Kau akan menemani ku dalam perjalanan kali ini ..."
Hakushi mengangguk. "Sesuai perintah, Yang Mulia!" Ujarnya membusungkan dada, "izinkan hamba bersiap ..."
Aku mengangguk. "Yah, pergilah!" Ujarku.
Dia lalu menghilang.
Aku menatap Adelia dan mengangguk kearahnya.
"Adelia, kita juga akan bersiap!" Ujarku menatap nya.
Adelia menunduk. "Baik, Yang Mulia Tercinta!"
Aku mendehem. "Ehm, jangan pakai kata itu jika ada para staf ... Aku rasa mereka akan cemburu dan tugas nya jadi lalai ..." Ujarku mengatakan nya dengan wajah memerah merona.
Dia menjadi semakin meleleh. "Tuanku, anda benar2 sangat baik! Aku benar-benar mencintai mu!"
Aku berteriak kesal. "Sudah kubilang jangan berlebihan!"
Dia menjadi semakin meleleh. "Maafkan Aku, Yang Mulia Ter-"
\*Dush! (Aku menghilang!)
Aku meninggalkan nya dan pergi bersiap keruangan kamarku.
__ADS_1
"Moh, Tuan ku!" Ujarnya menghentakan kaki dan menghilang kemudian.