
Tak ada kalimat apapun yang keluar. Hanya sebuah senyuman manis yang ia berikan selagi jemarinya menyentuh wajah lelaki yang tengah terlelap. Kemeja berwarna arthicoke yang masih melekat ditubuh lelaki itu terlihat berantakan. Dua kancing bagian atasnya terbuka, sedang celana kain berwarna hitam masih pula melekat di sana, terlihat longgar karena ikat pinggangnya yang telah tanggal.
So Yeon kembali menyentuh wajah lelakinya. Mengusap-usap wajah lelahnya seraya menggumankan ucapan selamat pagi. Tak lupa ia sematkan sebuah kecupan dibibir ranum sosok yang sudah menjadi suaminya sejak tiga bulan lalu itu. Menyibak beberapa helai rambut yang jatuh di dahi, lalu lagi-lagi, mengecup bibir semerah ceri-nya. Satu hal yang selalu mereka lakukan bagi siapapun yang bangun lebih dulu.
Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang masih menguasai, sebelum akhirnya seulas senyuman samar mulai muncul di wajah lelaki itu. Matanya mengerjap pelan. "Sudah pulang?" tanyanya parau, khas suara bangun tidur. Perlahan, ia mulai membuka matanya lebar. "Maaf, aku tidak bisa menjemputmu, sayang." Ucapnya, menambahi, disertai raut bersalah yang begitu kentara.
"Eum, gwaenchana, lagipula, aku membawa mobil sendiri, kan, oppa," So Yeon menjeda kalimatnya, lalu melanjutkan. "Omong-omong, kau pulang jam berapa tadi malam?" Dengan raut khawatir, ia menanyakan satu hal yang sedari tadi menggelitik pikirannya. Tak ada bungkus makanan instan di dapur atau meja makan. Ia curiga jika suaminya pulang larut dan melewatkan makan malamnya karena sudah terlalu lelah.
Dahi lelaki itu berkerut, seolah mencoba mengais memorinya semalam. "Kurasa pukul dua... atau pukul tiga? Entahlah." Jawabnya seraya menggedikkan bahu, tak ada ide.
Wajah So Yeon berubah muram seketika. Ia merasa bersalah. Terlebih sejak satu bulan terakhir ini, terhitung hanya empat kali ia melayani suaminya yang pulang larut. Ia merindukan saat-saat itu sebenarnya, tapi ia tak bisa berkutik, pekerjaan barunya di sebuah rumah sakit besar tidak mentolerir untuknya melanggar jadwal shift.
Melihat sang istri yang diam bergeming, lelaki itu kembali angkat bicara. "Waeyo?" Tangannya terulur, menggenggam jemari So Yeon, menenangkan. "Tidak apa-apa. Lagipula, aku juga sudah makan di luar." Ia menaik turunkan alisnya, menggoda. Ia tahu apa yang dikhawatirkan istrinya. Sementara So Yeon hanya tersenyum simpul. Ia hanya masih kecewa pada dirinya sendiri.
"Gwaenchana, tidak perlu dipikirkan. Kemarilah..." Lelaki itu menggeser tubuhnya ke kiri. Membuat space di sebelah kanannya cukup luas. So Yeon mengernyit. "Apa kau menyuruhku tidur di sini, oppa? Ini kan sudah pagi. Kau tidak pergi ke kantor?"
Lelaki itu menggeleng, ini bukan hari libur. Dan satu jam lagi adalah pukul 8 yang mana ia harus berada di kantor jika tidak ingin dipecat.
"Aku sudah dipecat."
So Yeon yang semula sudah meletakkan kepalanya di atas lengan suaminya, kontan kembali mengangkatnya, menatap suaminya tak percaya. Dipecat? Tapi kenapa? Ia menopang bobot tubuhnya pada lengan kirinya, menghadap ke arah sang suami. Bibirnya kelu, terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya, hingga tak ada sepatah katapun yang bisa keluar. Ini sudah kelima kalinya ia dipecat dalam rentang tiga bulan. Dan ini bukanlah hal yang baik.
"Apa kau marah padaku?" Tanya lelaki itu, khawatir melihat diamnya So Yeon.
Samar, So Yeon menggeleng. Perlahan, punggungnya mengendur, merebahkanmya kembali ke atas lengan suaminya, menyerah dengan kemelut pikirannya sendiri. Ia memilih menghadap dada bidang lelaki itu, membenamkan wajahnya disana. Mencari secercah ketenangan saat dadanya mulai terasa sesak.
"Aku tidak akan pernah marah padamu. Tapi, beri aku alasan, kenapa kau bisa sampai dipecat?" Tanya So Yeon setenang mungkin agar menciptakan kesan tidak menggurui. Ia mendongak. Menatap wajah suaminya yang pias. Raut lelah begitu kentara di sana, lingkaran hitam semakin melebar, rona wajahnya pias tak ada warna. Sungguh. Melihat lelaki itu dalam keadaan seperti ini membuatnya ingin meraung-raung. Menangis sejadi-jadinya. Ia hanya berharap, jika alasan yang diberikan lelaki itu tidaklah sama.
"Aku sudah absen selama seminggu berturut-turut."
__ADS_1
"Apa!?"
Sang suami tersenyum miris. "Firma hukum itu memberi gaji yang sangat sedikit. Bagaimana bisa aku memenuhi kebutuhanmu? Aku butuh tempat yang lebih prestisius, kan?"
So Yeon kehabisan kata-katanya. Ia hanya bisa menggeleng beberapa kali. Lalu bangkit, mendudukkan dirinya dengan napas tertahan.
Seingatnya, Dae Han, suaminya, adalah seorang lulusan terbaik Harvard University. Ia mendapat gelar sarjana dan magisternya di sana dalam waktu empat tahun. Nilai sempurna hampir tak pernah absen di setiap mata kuliah. Bahkan ia juga sempat diberi tawaran untuk bergabung di sebuah firma hukum ternama Los Angeles, Whinslet Law Firm. Tapi kenapa sekarang Dae Han seolah kehilangan predikatnya sebagai mahasiswa genius? Kenapa ia merelakan nama baiknya tercoreng dengan alasan klise seperti itu? Ia bahkan memutuskan resign dari ketiga firma hukum sebelumnya dengan alasan yang sama pula.
Lelaki itu turut mendudukkan dirinya. Melihat So Yeon yang bergeming, membuatnya sangat gelisah. Apa istrinya benar-benar marah kali ini?
"A-aku, bisa mencari kantor lain, secepatnya. Lagipula, aku sudah mendapat panggilan interview dari sebuah firma hukum ternama siang nanti, kau tahu?" Suaranya masih terdengar bergetar, senyuman miris yang ia tunjukkan hanya membuat So Yeon merasa semakin bersalah. "Aku bahkan mendapat nilai sempurna pada tes kemarin." Pungkasnya, dengan menampilkan seulas senyuman yang dipaksakan.
Hati So Yeon sangat sakit mendapati kenyataan jika Dae Han masih sama keras kepalanya seperti sebelumnya. Semula hanya embusan napas berat yang terdengar, lama kelamaan embusan itu berubah menjadi isakan kecil, lalu pada detik berikutnya berubah menjadi raungan hebat.
So Yeon tak bisa menjawab saat suaminya bertanya kenapa kau menangis? Ia hanya bisa meraung selagi tangannya sibuk melingkar di leher Dae Han. Menangis sejadi-jadinya di sana. Istri mana yang tak nelangsa melihat suaminya sendiri menganggapnya sebagai saingan? Harga diri Dae Han terlalu tinggi. Prinsip 'suami harus bisa memenuhi semua kebutuhan istri' yang telah lama dipegangnya, nyatanya, hingga saat ini tetap tak tergoyahkan. Namun sayangnya, Dae Han mengabaikan satu hal yang lebih besar dari itu. Yaitu rumah tangganya sendiri.
***
Tak berselang lama, dua piring Bangers and Mash sudah terhidang di depan mereka. "Makan dulu, oppa, aku tahu semalam kau tidak sempat makan, kan?"
Dae Han menurut. Meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Meneguk sedikit susu vanila kesukaannya. Kemudian mulai angkat bicara. "Hannam Law Firm memintaku datang ke kantor pukul sebelas nanti." Ucapnya seraya menyendok sepotong sosis.
So Yeon mengatupkan bibirnya rapat. Rasa was-was mulai melingkupi dirinya kalau-kalau besaran gaji yang ditawarkan firma hukum itu tak sesuai ekspektasi Dae Han.
Dahi So Yeon berkerut. Ingin sekali ia kembali menjelaskan, entah untuk yang keberapa kalinya, jika kebahagiaannya tidak terletak pada materi. Berapapun gaji yang suaminya dapat, tidak akan menjadi masalah baginya. Toh selama ini kebutuhan mereka selalu terpenuhi meski hanya mengandalkan gaji Dae Han yang minim. Walaupun tak dipungkiri, seringkali Dae Han keteteran membayar uang sewa apartemen. Tapi sejauh ini, lelaki itu masih bisa mencover kekurangan meski harus berhutang lebih dulu ke kantornya.
Sebenarnya, gajinya sendiri-pun sudah lebih dari cukup untuk biaya harian mereka. Namun sayangnya, Dae Han selalu menolak untuk menggunakan uangnya. Hingga selama tiga bulan ini, gaji yang ia dapat dari bekerja di klinik, dan sekarang di sebuah rumah sakit besar, hanya menumpuk di ATM. Dae Han menolak uang istrinya berkurang untuk biaya keseharian mereka. Ia lah yang berkewajiban membayar semua itu, apapun keadaannya.
"Oppa, memangnya bekerja di firma hukum akan langsung mendapat gaji besar?" Tanya So Yeon hati-hati. Ia tahu, apapun topik yang diangkatnya akan selalu terdengar sensitif ditelinga suaminya. Namun ia tidak punya pilihan.
__ADS_1
Dae Han menggeleng. "Aku harus manjadi intern selama dua tahun lebih dulu." Jawabnya enteng, karena itulah faktanya. So Yeon juga tahu hal itu. Tapi kenapa lelaki itu masih suka keluar masuk firma hukum bahkan ini sudah yang ketiga kalinya.
"Oppa, jika begitu kenapa kau suka sekali berpindah-pindah firma hukum? Aku takut namamu akan diblacklist jika kau masih melakukan hal ini. Apa aku harus mengatakan lagi, jika gajimu..."
"Aku tahu." Potong Dae Han. Ia meletakkan kembali peralatan makannya, seolah pembahasan tentang gaji membuat perutnya penuh seketika. "Aku akan segera mendapat pekerjaan, dan... kali ini... ku pastikan, gajiku lebih besar."
"Dan jangan resign lagi, oke?"
"Akan ku coba." Balas Dae Han antusias.
So Yeon akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Kerongkongannya sedikit teraliri oksigen, menyejukkan sekali mendengar pernyataan itu. Ia bangkit. Berjalan ke arah Dae Han. Mendudukkan dirinya di atas paha lelaki itu, menyematkan kecupan lembut di pipinya. Aroma ceri yang manis menyambangi indera penciumannya selagi lelaki itu turut mengecup singkat bibir So Yeon. Untuk sesaat, kegundahan hatinya sirna. Kepala lelaki itu semakin dalam menelusup di ceruk lehernya. Menghirup dalam-dalam aroma lily yang menguar dari sana. Sangat menenangkan. Sedang jemari So Yeon menyugar helaian hitam suaminya selagi lelaki itu memejamkan mata, menikmati belaian istrinya yang selalu berhasil membuatnya nyaman.
"Aku berjanji akan membelikanmu mobil secepatnya, chagi-ya."
So Yeon mengernyit. Menjauhkan kepala Dae Han dari dekapannya. "Kenapa dengan mobilku?" Tanyanya bingung. Tangannya yang semula melingkar di leher Dae Han mengendur. Ia menatap mata teduh Dae Han tak mengerti.
"Kembalikan mobil itu pada ayahmu. Aku hanya ingin membelikanmu mobil dengan jerih payahku sendiri." Jawabnya disertai seulas senyuman yang begitu tulus.
So Yeon tak menjawab, ia hanya mengelus kedua pipi Dae Han lembut, lalu mengangguk yakin. "Aku akan senang jika hal itu benar-benar terjadi. Tapi untuk saat ini, apa aku boleh tetap menggunakan mobil itu?"
Dae Han tersenyum, lalu mengangguk setelahnya. "Aku minta maaf, belum bisa membuatmu bahagia."
So Yeon menggeleng. "Tidak. Kita bahkan masih tiga bulan menikah. Tentu saja tidak akan mudah mendapat apartemen atau mobil kita sendiri." Tukas So Yeon sambil terkekeh kecil.
"Tapi Yeo Jin..."
So Yeon segera mengecup bibir suaminya. Memotong kalimatnya yang jelas akan kembali mengungkit luka lama. "Jangan samakan hubungan kita dengan orang lain, oppa." Dae Han mengangguk kecil, meski ucapan Yeo Jin kala itu belum bisa enyah dari pikirannya.
To be continued
__ADS_1
NOTE:
Intern/Contract Attorney : Pengacara magang. Sebelum menjadi seorang pengacara tetap dan disumpah, seorang calon pengacara harus magang selama 2 tahun di sebuah firma hukum lebih dulu.