Our Marriage Life

Our Marriage Life
Waiting for You


__ADS_3

"Kasus apa yang sedang menjerat suamimu, eonni?" Kedua tangan So Yeon menyangga dagunya. Penasaran dengan kasus yang menjerat suami Ji Won.


Wanita berusia sekitar 30 tahunan itu membuang napas putus asa. Kentara sekali dari raut wajahnya yang kuyu. "Ia diduga terlibat skandal penggelapan narkotika. Padahal suamiku bukan seorang mafia, ia hanya seorang pelaut yang bekerja di kapal milik China." Suara Ji Won terdengar parau. Ia lantas menghapus cairan bening disudut matanya.


So Yeon menyerahkan sebuah tempat tisu ke hadapan Ji Won. Ia juga mengusap-usap punggung tangan kiri wanita itu. Sementara pikirannya terus bergelayut memikirkan bagaimana cara ia mengatakan hal ini pada suaminya. Kasus yang menjerat suami Ji Won terdengar pelik. Hanya mendengar ceritanya saja ia sudah bergidik.


"Maaf, aku menangis di depanmu," Ji Won tersenyum miris pada dirinya sendiri sambil menghapus cairan di pelupuk matanya. So Yeon menggeleng. "Kenapa eonnie harus merasa tidak enak padaku? Tidak apa-apa, lagipula, eonnie juga sering memberiku saran. Sekarang giliranku yang membantumu." Pungkas So Yeon. Ia mencondongkan tubuhnya, mengusap bahu Ji Won, memberi ketenangan.


"Terima kasih." Parau Ji Won.


"Eum, tapi, bagaimana hal itu bisa terjadi, eonnie? Kenapa Sang Joon oppa bisa tertangkap otoritas setempat?" Sambil menggenggam kedua tangan kiri Ji Won, So Yeon kembali menanyakan masalah suami Ji Won lebih dalam.


"Aku tidak tahu persis detail ceritanya seperti apa," Ji Won menghentikan kalimatnya, memorinya kembali memutar kejadian tiga hari yang lalu saat tiba-tiba suaminya menghubunginya tengah malam dan mengabarkan hal buruk itu. "Sang Joon menghubungiku tengah malam dengan suara baku tembak yang mengerikan. Saat itu, ia hanya mengatakan jika ia dan beberapa awak kapal lainnya tertangkap otoritas laut selatan semenanjung Korea karena diduga menyelundupkan narkoba dari Taiwan."


"Lalu, apa eonnie sudah mengunjungi Sang Joon oppa?"


Ji Won mengangguk. "Ia juga terkena peluru di dada kiri."


So Yeon bergidik ngeri. "Apa sampai melukai paru-parunya?" Ji Won menggeleng. "Tidak, untungnya tidak. Petugas kepolisian yang bertugas menjaga suamiku di rumah sakit mengatakan proses penyelidikan akan segera dilakukan ketika kondisi Sang Joon sudah lebih baik. Sayangnya, aku tak memiliki banyak kesempatan untuk membicarakan masalah ini."


Ji Won menarik tangannya untuk menghapus air mata yang lagi-lagi mulai menggenang.


"Eonnie tenang saja, aku akan membantu proses hukum Sang Joon oppa. Lagipula, aku juga memikirkan Jennie." So Yeon menerawang, membayangkan bagaimana perasaan Jennie jika tahu ayahnya tidak akan pulang berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun nanti. Ia masih sangat kecil untuk kehilangan salah satu sosok orang tua.


"Terima kasih, aku akan mengusahakan untuk membayar jasa Dae Han dengan mahal, asalkan Sang Joon bisa bebas."


"Jangan pikirkan hal itu dulu, eonnie, kau fokus saja dengan pengobatan Sang Joon oppa lebih dulu saja."


"Gumawoyo."


Keduanya lantas saling menggenggam jemari satu sama lain. Menyalurkan kekuatan yang sebenarnya untuk masalah yang tengah mereka hadapi masing-masing.


***


"Tekanan darah 120/80 mmHg," Tae Ra bergegas mencatat apa saja yang dikatakan So Yeon. "Tekanan gula darah 200 mg/dL." So Yeon menghela napas lelah saat menyelesaikan ajang memeriksanya.

__ADS_1


"Eomonim, kadar gula Anda cukup tinggi. Mohon untuk menghindari jenis makanan dengan indeks glikemik tinggi. Lebih baik, mengonsumsi makanan yang telah kami sediakan saja." Jelas So Yeon dengan lembut. Sementara si pasien yang adalah seorang wanita tua berusia sekitar 60 tahunan itu hanya diam bergeming. Ia nampak acuh seolah tak memedulikan nasehat dokternya.


"Eomma memang sangat sulit dinasehati, uisa-nim. Ia juga masih suka makan bacon cheeseburger dan soda." So Yeon mengangguk lamat-lamat. Tak terhitung sudah berapa kali ia memergokinya mengonsumsi makanan sampah seperti itu. Nyatanya, semuanya tidak berubah hingga kini. "Lihat, kaki eomma semakin bengkak, ia masih suka tidur dengan menggantungkan kedua kakinya juga." Adu sang putri yang terihat sangat jengkel. Bagaimana tidak, setelah mendapat berbagai treatment dan perawatan intensif, kondisi Nyonya Jung bukannya membaik, justru semakin memburuk. Wanita tua itu masih gemar mengonsumsi junk food ataupun minuman bersoda. Itulah faktanya. Ia juga tak pernah mendengar nasehat So Yeon yang ditunjuk sebagai dokter-nya. Apalagi nasehat putra-putrinya. Telinganya seolah sudah didesain setebal mungkin untuk mendengar omelan dari berbagai arah. Alhasil, dihari kelima belas-pun ia masih belum diperbolehkan rawat jalan.


"Eomonim, apa Anda mendengar saya?" tanya So Yeon, beranjak ke samping kepala Nyonya Jung setelah memeriksa kondisi kakinya yang semakin membengkak. "Eomonim?"


"Wae..." Jawabnya dengan memanjangkan huruf terakhir. Nada suaranya terdengar sangat kesal.


"Nyonya Jung, saya sudah mengatakan jangan menggelantungkan kaki Anda lagi atau peredaran darah Anda akan terhambat," So Yeon dengan sabar memberi penjelasan. "Jika kaki Anda masih terus membengkak seperti ini, saya khawatir jantung Anda juga akan terganggu."


"Ah... begitukah?" Balas Nyonya Jung sedikit bergeming. Syaraf otaknya terganggu, membuatnya kesulitan berbicara dan berjalan. Dan sekarang, jantung wanita itu juga sedikit bermasalah karena pola hidup kurang sehat yang masih ia lakukan.


"Tentu saja, Nyonya Jung. Eonnie bisa memberi pengganjal dibawah kaki Ibu Anda, seperti ini." So Yeon membawa dua buah bantal sofa ke atas ranjang Nyonya Jung. Meletakkannya di bawah kedua kaki wanita keras kepala itu. Membuatnya berada lebih tinggi dari kepalanya.


"Ah, seperti itu." Jawab wanita yang setia menunggui ibunya.


"Benar, agar darah bisa kembali beredar normal. Tidak terkumpul pada satu titik saja. Mohon untuk selalu diingatkan jika Nyonya Jung kembali pada posisi semula."


"Baik Dokter Ahn, terima kasih." Wanita itu membungkuk hormat ke arah So Yeon, begitu pula sebaliknya. Setelah itu, So Yeon bergegas menuju beberapa pasien lainnya yang berada dibawah penanganannya dan rekam medis Kim Tae Ra.


***


"Ahn uisa-nim, sudah selesai?" Sapa Park Jae Hyun. Dokter spesialis bedah yang berusia dua tahun lebih tua darinya.


"Ah, ya." Balas So Yeon sambil melemparkan senyuman hangat. Ia mengambil duduk di sebelah Jae Hyun dan Kyung Sa karena memang kursi yang tersedia hanya itu saja.


"Annyeong, So Yeon-ah," sapa Kyung Sa, dokter umum yang juga berjaga di shift yang sama. "So Yeon-ah, omong-omong..." Kyung Sa menggantung kalimatnya, menatap So Yeon lamat-lamat. "Kau cantik sekali dengan make up sedikit tebal seperti itu. Tak biasanya."


So Yeon menangkup kedua pipinya yang bersemu merah dengan kedua telapak tangannya. "Jeongmal? Bukankah aku memang selalu terlihat cantik, eonnie?" Canda So Yeon, dan dibalas gelak tawa oleh lima dokter yang mengerubungi meja itu. Termasuk Jae Hyun yang diam-diam selalu menatap So Yeon penuh kekaguman.


"Tentu saja, jika tidak, mana mungkin si tampan Dae Han mau menunggui istri cantiknya di basement."


"Eh? Jeongmal?"


"Jinjja-yo?"

__ADS_1


Seru beberapa rekan bersahut-sahutan, terkejut dengan ucapan Kyung Sa barusan. Menungguinya di basement? Ulang So Yeon dalam hati. Ia menyesap kopi hitamnya lamat-lamat, mencoba mencerna kalimat itu. Air mukanya memang terlihat tenang, tapi sungguh, hatinya siap meledak saat itu juga. Benarkah Dae Han menungguinya di sana? Tapi kenapa? Apa Dae Han ingin meminta maaf dengan cara ini?


So Yeon kembali menyesap kopi hitamnya.


"Sungguh, saat aku ingin mengambil ponselku yang tertinggal di mobil, aku melihat Dae Han tengah duduk di samping mobil So Yeon. Kalian benar-benar romantis, tahu?"


So Yeon bergeming. Lagi-lagi, ia hanya bisa menanggapi dengan seulas senyuman simpul.


"Tapi... memangnya kenapa Dae Han menungguimu di sana?" Tanya Jin Ri, salah satu dokter senior.


"Aku... memang memintanya untuk mengantarku tadi. Tapi kenapa ia masih menungguiku di sana, ya?" Jawab So Yeon tanpa tergagap, dan itu berhasil membuat orang-orang di sana percaya begitu saja.


"Romantis sekali... andai suamiku seperti itu." Jin Ri melirik ke arah dokter Nam, yang hanya disambut helaan napas lelah dari lelaki berusia sekitar 36 tahunan itu.


"Memangnya dokter Nam tidak romantis, eonnie?" Gurau Kyung Sa sembari memelankan suaranya, bertingkah seolah tak ingin dokter Nam mendengar pertanyaannya.


Jin Ri mendengus. "Sama sekali tidak, bahkan sejak tahun pertama kita menikah." Wanita dengan dua anak itu bersedekap. Sedang dokter Nam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.


"Mulai sekarang jangan nonton drama lagi, ya." Ucap Dokter Nam setenang mungkin, menciptakan gelak tawa di meja mereka.


Ditengah senda gurau rekan-rekannya, So Yeon memilih undur diri, berdalih akan memeriksa beberapa pasiennya lagi. Beruntung, pusat korban bullying mereka malam ini adalah pasangan Jin Ri dan dokter Nam, bukan dirinya. Jadi ia bisa melenggang bebas tanpa kecurigaan.


Ia berjalan tergesa, sepatu pump setinggi 3 cm semakin memudahkannya berjalan cepat.


"Mau menemui Dae Han?" Tanya seseorang yang sudah menyejajarkan tubuhnya dengan So Yeon.


"OMO! Jae Hyun-ssi, kau mengikutiku? Ish..." Seru So Yeon, masih dengan kecepatan yang sama. Jae Hyun tersenyum, So Yeon tak banyak berubah, ia masih menyukai olah raga jalan cepat sepertinya.


"Is he... begging your pardon?" Tanya Jae Hyun, tanpa mengindahkan seruan So Yeon barusan.


So Yeon kontan menoleh mendengar ucapan Jae Hyun yang seolah mengetahui kekhawatirannya. Ia mulai memelankan ajang berjapan cepatnya. Namun sepertinya ia enggan menjawab.


"Baiklah, berikan ini pada Dae Han, ia pasti kedinginan menungguimu di sana selama ini." Jae Hyun menyerahkan segelas teh yang masih mengepulkan uap panas, mengenyahkan pertanyaannya yang tak mungkin mendapat jawaban.


So Yeon menerima segelas teh panas itu dengan senang hati. "Astaga, aku melupakan hal ini. Terima kasih, Jae Hyun-ah."

__ADS_1


"Uhm." Jae Hyun menghentikan langkahnya, membiarkan gadis itu menghilang ditelan lift menuju lantai dasar.


To be continued


__ADS_2