
Keduanya tengah menikmati suasana santai mereka dengan berjalan-jalan di area Dongdaemun Street setelah berbelanja kebutuhan sehari-hari di kawasan itu juga. Entah kenapa, rasa lelah setelah delapan jam bekerja semalaman menguap begitu saja, seolah tiga jam yang sudah mereka habiskan di sana, tidak ada apa-apanya.
"Buka mulutmu, oppa." Pinta So Yeon, membalik tubuhnya seraya bersiap menyuapkan Goldfish bread dengan topping frozen yogurt pada lelaki itu.
Dae Han, yang berjalan di belakangnya dengan menenteng beberapa kantung kresek belanjaan, menurut, membuka mulutnya dan memakan sebagian.
"Ada lagi yang harus kita beli?" Tanya Dae Han, menanyakan kepastian kapan mereka akan pulang.
So Yeon melipat bibirnya, dahinya mengkerut seolah tengah membuat keputusan kapan mereka akan pulang. Ia berjalan perlahan, menyejajarkan tubuhnya di samping Dae Han, menggamit lengan lelaki itu, lantas berucap... "Sebentar lagi, ya? Aku masih ingin membeli chicken skewers on stick."
"Baiklah."
Setelah itu, keduanya segera mencari penjual makanan yang disebutkan So Yeon tadi. Mereka terlihat benar-benar menikmati quality time keduanya. Berjalan-jalan seraya menikmati snack di kawasan pasar Dongdaemun, entah kenapa menjadi begitu menyenangkan.
***
"Honey, sudah pulang?"
"Ya," balas seseorang seraya memberikan sebuah kecupan hangat dibibir suaminya, saling menyalurkan kehangatan satu sama lain, sebelum ia melingkarkan kedua lengannya di leher pria dengan setelan santainya itu. "Melelahkan sekali, kau tahu?" Tambahnya, ia meletakkan dahinya pada dahi suaminya. Memejamkan mata selagi menyusun kalimat yang akan ia utarakan untuk memulai pembicaraan serius.
"Memangnya kasusmu kali ini sangat berat?" Tanya pria berkebangsaan Amerika itu. Ia turut memejamkan mata selagi wanita yang begitu dikasihinya itu masih melakukan hal yang sama.
"Kasus pembunuhan ketua mafia itu masih belum selesai. Ah, honey... omong-omong, apa di kantor sedang tidak membuka lowongan untuk contract attorney?" Wanita yang adalah Sae Rin itu menatap mata suaminya lekat-lekat, mengawali perbincangan dengan sebuah pertanyaan dasar.
Edward, suaminya, mengerutkan alisnya dalam. Matanya menerawang jauh ke depan, mengingat apakah kantor tempatnya bekerja tengah membuka lowongan untuk intern atau tidak. "Entahlah, aku tidak tahu masalah itu. Memangnya kenapa?" Ucapnya, balik bertanya. Ia memang tidak mengetahui tentang perekrutan semacam itu. Biasanya yang melakukan perekrutan adalah tim senior lawyer. Sementara dirinya menjabat posisi lebih tinggi dari itu, sebagai managing partner.
Sae Rin mengambil duduk di depan suaminya, menuang sebotol sampanye pada sebuah koktail, lalu meneguknya sedikit. "Temanku akan melamar di sana, ia sudah lulus ujian, tapi ia gagal dalam tahap interview." Sesal Sae Rin.
"Lulusan mana?" Timpal Edward. Air mukanya berubah serius.
"Harvard, LL.M." Jawab Sae Rin sekaligus menyebutkan gelar magister yang disandang Dae Han.
Edward manggut-manggut. "Menarik. Aku akan menanyakan hal itu lebih dulu pada Pengacara Stevi." Janji Edward. Sepertinya ia tertarik dengan profil Dae Han sebagai lulusan Harvard University. Seperti yang diketahui banyak orang, Hannam Law Firm memang masih melakukan proses rekrutmen dengan cara konvensional. Lulusan universitas ternama serta Grade Point of Average (GPA) menjadi poin utama sebelum melangkah pada tahap tes dan interview. Jadi, jika teman istrinya itu telah berada pada tahap interview. Sudah barang tentu ia memiliki kualitas yang baik.
__ADS_1
"Sungguh?" Mata Sae Rin berbinar cerah. Suaminya tentu akan mempertimbangkan intern dengan kualitas bagus seperti Dae Han. Ia tahu itu.
"Euhm." Edward mengangguk lamat-lamat dan disambut senyuman semakin lebar dari istrinya.
"Haruskah aku memberimu hadiah sebagai ucapan terima kasih, huh?" Ucap Sae Rin ringan. Ia sudah bergelayut manja dilengan suaminya sambil sesekali mengecupi pipi seputih porselen pria itu.
"Boleh. Di kamar atau bagaimana?"
"YA!"
***
Tepat pukul lima sore, So Yeon dengan kaos putih dan celana jins selutut berwarna hitam-nya tengah berkutat di dapur, memasak hotteok serta Korean fried chicken dengan saus madu pedas sebagai camilan sore mereka. Sementara Dae Han tengah mandi setelah tadi turut membantu sang istri meletakkan barang belanjaan sesuai tempatnya.
Selang lima belas menit, ajang memasak camilan sore-nya telah selesai. So Yeon segera menyajikannya di atas meja makan, lantas mengambil duduk di kursi miliknya, melipat tangannya di atas meja, menanti Dae Han untuk keluar dari dalam kamar.
"Ish..." Dae Han tertawa kecil melihat istrinya yang masih setia menungguinya. Setelan kaos berwarna hitam, baggy pant selutut, dengan rambut yang masih sedikit basah membuat penampilannya terlihat segar. "Kenapa masih menungguku, sayang? Makan saja dulu." Ucapnya seraya memberi kecupan dipuncak kepala So Yeon.
"Tidak. Kita makan bersama-sama, setelah itu aku akan mengobati lukamu lagi, oppa." So Yeon memeluk pinggang suaminya, menengadah menatap wajah Dae Han yang masih membiru dibeberapa bagian.
So Yeon tak bergeming. Ia hanya tersenyum simpul, lalu menyentuh kedua pipi lelaki itu. Mengusapnya pelan, lantas menggeleng. "Tidak, makan saja dulu, oppa, mumpung masih panas."
Dae Han sedikit melirik ke atas meja makan, sedetik kemudian, kedua bola matanya membulat sempurna. Camilan kesukaannya yang masih mengepul terhidang menggiurkan di atas meja. Rasanya sudah lama sekali ia tak menikmati masakan So Yeon. Wanita itu seringkali hanya memasak ramyeon karena kesibukannya. Apalagi untuk memasak camilan-camilan seperti ini, hampir tak pernah lagi ia lakukan terhitung sejak satu bulan lalu.
Lelaki itu ganti menatap istrinya terharu. "Terima kasih, chagi-ya," sebagai ucapan terima kasih, ia mengecup bibir So Yeon cukup lama. Setelah itu, ia bergegas menuju kursi makannya, menusuk sepotong Korean Fried Chicken yang dibalut saos madu pedas dengan sebuah stick, lalu makannya lahap. "Enak sekali." Komentarnya. Tak ada kebohongan di sana, ia begitu menikmati masakan So Yeon kali ini. Nampaknya wanita itu telah banyak belajar cara memasak yang benar.
"Benarkah? Syukurlah jika kau menyukainya, oppa. Setelah ini, coba Hotteok-nya, oke?"
"Eum..."
Seharusnya, So Yeon merasa bahagia suaminya begitu menyukai masakannya, mengingat lelaki itu seringkali berbohong hanya untuk menyenangkan hatinya. Ia tahu, terkadang masakannya tak memuaskan. Ia sendiri sering melihat wajah Dae Han yang memerah selagi menyantap makanan buatannya. Tapi Dae Han tak pernah mempermasalahkan hal itu, apalagi memuntahkannya. Bahkan pernah sekali waktu ia membuat lelaki itu sakit perut, karena dengan cerobohnya ia terlalu banyak menambahkan cuka untuk kimchi buatannya.
"Ada yang kau pikirkan?" Ucap Dae Han, memecah keheningan, yang kontan membuat So Yeon menatapnya penuh tanya.
__ADS_1
"Ya?" balasnya dengan raut bingung. "A-aniya..." Tambahnya, gelagapan.
"Kau mulai menyembunyikan sesuatu dariku, chagi-ya?" Tanya Dae Han sekali lagi, meletakkan stick yang ia gunakan untuk menusuk potongan fried honey chicken-nya.
Susah payah So Yeon mencoba tersenyum. Namun tetap gagal. Tak ada pilihan, ia akhirnya memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya, mengatakan satu hal yang mengganggu pikirannya.
"Oppa..." Panggilnya dengan suara tertahan.
"Ya?" Dae Han menggenggam jemari So Yeon yang berada di atas meja.
"Hannam Law Firm merupakan salah satu firma hukum besar, oppa. Apa lagi yang oppa ragukan tentang itu?" Setelah menatap guratan meja di depannya, So Yeon mulai mengangkat wajahnya, menatap raut Dae Han yang nampak terkejut dengan pertanyaan itu. Kenapa ganti ia yang diburu?
"Sudah ku katakan, mereka tidak bisa memberi gaji seperti yang ku minta, chagi-ya. Apalagi mereka tidak akan memberiku gaji selama masa intern." Jawab Dae Han, tetap pada pendiriannya. Alasan itu seolah menjadi harga mati untuknya.
So Yeon balik mengganggam jemari suaminya yang mulai mengendur. "Sayang, berapapun gaji yang kau dapat, tidak akan menjadi masalah untukku." Timpal So Yeon mulai meradang. Tak ada salahnya kembali mengingatkan Dae Han tentang itu.
"Tidak bisa." Dae Han mulai membuang muka, ia menarik tangannya dari ganggaman So Yeon. Sudah kepalang tanggung, wanita itu tetap bertekad untuk mencecar suaminya. Masalah ini tak akan baik jika terus dibiarkan. Seperti yang pernah dikatakan ibunya, bahwa kunci keharmonisan rumah tangga adalah komunikasi. Maka So Yeon tak ingin gagal hanya karena kurangnya komunikasi. Seberapa besar amarah Dae Han atas pemikirannya nanti. Ia akan mencoba menghadapinya dengan baik. Lebih baik memulai perdebatan sekarang selagi tawaran itu masoh terbuka. Dapidapa nanti, jika Sae Rin sudah memutuskan untuk tidak membantu.
"Kenapa tidak? Bukankah sebagai suami istri kita harus saling melengkapi, oppa?"
"Aku tahu. Tapi sebagai suami, aku harus memiliki penghasilan yang lebih besar darimu."
Dae Han menatap So Yeon dengan pandangan memohon. Ia menginginkan So Yeon untuk bisa memahami cara berpikirnya.
"Oppa, semakin bertambahnya usia mencari pekerjaan juga akan semakin sulit. Jadi, jika sudah mendapat kesempatan seperti ini, apa oppa akan menolaknya begitu saja?"
"Aku akan mencari tempat lain yang bisa memberiku gaji besar. Aku janji..."
So Yeon memotong kalimat Dae Han dengan sebuah gelengan. Ia sudah tak bisa berkata apapun lagi saat air mata kian berdesakan ingin segera turun. Ia begitu kecewa dengan pemikiran Dae Han yang menggampangkan masalah pekerjaan. Dalam kesempitan seperti ini, seharusnya Dae Han bisa mengalahkan ego-nya. Dengan menerima kesempatan menjadi seorang contract attorney tidak akan menurunkan harga dirinya. Tidak akan pula membuatnya rendah dimatanya. Dae Han akan tetap menjadi sosok suami yang begitu ia hormati. Lebih dari itu, siapa pula yang mau mempekerjakan seorang pengacara tanpa melewati dua tahun menjadi intern? Apalagi berdasarkan penjelasan Sae Rin tadi, Hannam Law Firm memiliki pengacara-pengacara lulusan luar negeri yang pastinya memiliki kualitas sama dengan Dae Han. Bukankah seharusnya Dae Han bersyukur mendapat kesempatan untuk bergabung dengan pengacara-pengacara hebat itu!?
"Terserah oppa saja."
Dae Han menatap kepergian So Yeon tanpa ingin mengejar. Ia tak tahu kenapa So Yeon begitu menuntutnya untuk segera bekerja, untuk menerima tawaran itu. Apa karena ia malu jika hal ini sampai terendus keluarganya? Apa ia malu memiliki suami seorang pengangguran dan memiliki banyak masalah soal pekerjaan seperti dirinya?
__ADS_1
"Benarkah seperti itu!?" Dae Han berujar putus asa diiringi senyuman miris.
To be continued