
So Yeon bersedekap, mengamati penampilan sempurna suaminya dalam balutan kemeja berwarna plum, celana bahan hitam berikut comma hairstyle-nya yang sudah tertata rapi. Ia lantas mengulas senyuman lebar setelah berhasil membuat Dae Han terlihat semakin memesona.
"Sangat tampan." Pujinya seraya mengerling, membuat Dae Han nampak tersenyum simpul, lalu menggeleng pelan. Istrinya memang selalu bisa membuatnya merasa tenang dan bahagia. Seperti sekarang ini saat kegelisahan melingkupi hatinya lantaran mengkhawatirkan hasil interview nanti.
Dae Han tak membalas pujian itu. Ia hanya mengulurkan tangan, menggapai tubuh sang istri dan mendekapnya erat. So Yeon membalas dengan pelukan erat pula. Senyuman kelegaan tak pernah luntur dari wajah cantiknya yang tersapu make up tipis. Ia mencium bahu suaminya, menghirup aroma lembut dari parfume kesukaan lelaki itu. Ia hanya berharap agar kebahagiaan tak akan pernah sirna dari lelaki yang begitu dicintainya itu.
Setelah kurang lebih lima menit membiarkan keheningan melingkupi mereka. Dae Han melepas pelukannya, menyentuh kedua pipi So Yeon, lantas mengecup bibir soft pink-nya. So Yeon memejamkan matanya, berharap agar ciuman itu bukan hanya sekedar ciuman singkat. Sedikit memainkan lidah, menggigit bibir satu sama lain seperti kebanyakan pasangan romantis lainnya, akan sangat menyenangkan, bukan? Apalagi sebulan terakhir ini intensitas pertemuan mereka sangatlah buruk. Namun harapan tinggallah harapan. Dae Han dengan cepat menjauhkan bibirnya, seolah mengetahui isi pikiran So Yeon, lantas mengerjap, menatap sang istri yang memberengut kecewa. "Apa kau tega membuatku terlihat seperti lelaki mesum di depan pengacara senior nanti, huh?" Gurau Dae Han, membuat So Yeon mencebik dan memilih mengalihkan fokusnya.
"Aku akan menemanimu pergi ke firma hukum itu." So Yeon akhirnya angkat suara, mengenyahkan rasa kecewa karena keinginan french kiss-nya tidak disambut baik oleh Dae Han. Ia bergegas mengambil sling bag di atas ranjang, menyilangkan dibahunya begitu saja, lantas bergegas menuju ruang tengah.
"Apa?!" Seru Dae Han tak percaya. Ia menguntit sang istri yang berjalan ke arah ruang tengah, mengambil helm di atas rak lalu memakainya.
"Ayo kita pergi." Ajak So Yeon yang sudah siap dengan outfit kasualnya: kemeja putih lengan pendek yang dibalut jaket denim baby blue dan celana jins hitam, membuat Dae Han baru menyadari penampilan tak biasa istrinya yang sudah mengisyaratkan untuk ikut pergi.
Dae Han menggeleng. Ia menahan lengan istrinya untuk melangkah menuju pintu depan. "Tidak. Kau tidak boleh ikut denganku. Kau harus istirahat. Ayo." Dae Han berbalik menarik lengan So Yeon menuju kamar, memintanya istirahat karena nanti malam harus bekerja lagi. Selama sebulan ini, So Yeon mendapat shift malam, delapan jam bukanlah waktu singkat untuk berjaga semalaman. Biasanya, jika sudah pulang, So Yeon akan menggunakan waktu luangnya untuk membersihkan rumah sebentar, menyiapkan makanan setelah tidur panjang hingga sore hari. Selepas itu, jika beruntung, ia bisa menyambut Dae Han pulang. Namun jika keberuntungan tidak berpihak padanya, ia sudah lebih dulu berangkat bekerja pada malam harinya lantaran Dae Han mengambil lembur. Dengan begitu, tentu saja Dae Han menolak permintaan wanita itu. Kesehatan istrinyalah yang menjadi pertimbangan utama.
So Yeon menampik lengan Dae Han. "Tidak bisa. Aku ingin pergi denganmu, oppa. Kau tahu? Aku bosan hanya melihat pasien, obat, dan sejenisnya selama sebulan ini. Aku ingin jalan-jalan sebentar, ku mohon," kedua telapak tangannya bertaut satu sama lain. "Lagipula, kebutuhan kita juga sudah habis," So Yeon memberengut. Ia memegang kedua lengan Dae Han, lalu melanjutkan kalimatnya. "Setelah interview nanti, kita pergi belanja, ya? Sudah lama sekali kita tidak belanja bersama, kan?" Ia masih memohon.
Dae Han hanya bisa menghela napas pasrah. "Baiklah. Tapi aku akan naik bus. Apa kau mau?"
"Kenapa tidak?"
***
So Yeon mencengkeram kuat pinggang Dae Han yang berdiri sebagai tameng di depannya. Lengan kiri Dae Han merengkuh tubuh istrinya, takut kalau-kalau So Yeon jatuh saat bus tiba-tiba mengerem. Bus nomor 17 yang mereka tumpangi tengah penuh sesak. Bahkan banyak penumpang yang tidak kebagian tempat duduk dan memilih untuk berdiri seperti apa yang mereka berdua lakukan sekarang.
Dae Han nampak tenang dengan lengan kanan yang memegang handle grip. Menahan tubuhnya serta So Yeon agar tidak terjatuh.
So Yeon beberapa kali mendongak, menatap wajah Dae Han yang terlihat sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Hal itu membuat So Yeon menyimpulkan jika suaminya sudah seringkali bepergian dengan menggunakan bus.
"Sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Dae Han menenangkan. Ia mengecup dahi So Yeon dan beberapa kali mengusap punggungnya.
So Yeon hanya bisa mengangguk. Lelaki itu memang selalu bisa menebak pikirannya yang tengah berharap agar mereka cepat sampai di firma hukum itu. Suasana di dalam bus sangat pengap, musim panas kian memperburuk keadaan. So Yeon berkali-kali meletakkan kepalanya di dada Dae Han, lebih baik menghirup aroma Chamomile lelaki itu daripada harus menghirup bau penumpang lainnya yang campur aduk.
Tak berselang lama, bus berwarna biru itu berhenti, menurunkan beberapa penumpang di sebuah halte. Sayangnya, hal itu tak terlalu banyak merubah keadaan, hanya sebuah kursi kosong yang tersedia, itu pun bersebelahan dengan seorang pria sangar yang terlihat menyeramkan.
"Kau duduk di sini, ya," Dae Han membimbing So Yeon beberapa langkah ke depan, menuju kursi kosong yang tersedia.
__ADS_1
"Di sini?" So Yeon bertanya ragu. Meski Dae Han juga nampak sangsi, tapi ia segera mengangguk sebagai jawaban. Tak ada yang perlu dikhawatirkan selagi ada dirinya disana.
"Duduk saja, masih sekitar lima belas menit lagi. Aku akan menjagamu." Dae Han memegang kedua bahu So Yeon, memintanya untuk duduk. Tak ada pilihan lain selain menurut, kan? Maka, meski enggan, So Yeon meletakkan seluruh beban tubuhnya di kursi itu, bukan menghadap ke depan, melainkan menghadap ke arah sang suami. Membelakangi pria sangar dengan pakaian dan kacamata hitam itu. Sementara Dae Han nampak tak terlalu curiga dengan pria tersebut. Ia hanya berpikir pria itu tak akan berani macam-macam selagi berada di dalam bus seperti ini. Namun perkiraannya salah, belum genap lima menit, So Yeon serta merta berdiri dan meneriaki pria sangar itu dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan, eoh?!" Seru So Yeon tiba-tiba, wajahnya memerah, sedang tangannya menutupi bagian belakang tubuhnya yang tertutup jaket denim. Tubuhnya bergetar ketakutan. Dae Han segera sadar keadaan tanpa perlu bertanya lebih lanjut. Ia telah kecolongan, begitu yang ia pikirkan. Maka, tanpa tedeng aling-aling, ia menarik So Yeon menjauh, lalu melayangkan tinjunya pada pria sangar tersebut. "Kau berani main-main denganku, huh?" Teriak Dae Han kalap. Ia masih mencengkeram kuat kerah baju pria sangar itu, lalu sedetik kemudian melayangkan tinjunya bertubi-tubi.
"Memangnya apa yang ku lakukan?" Seru pria itu seraya melindungi kepalanya dengan kedua lengannya. Dae Han menghentikan aksi memukulinya, berganti menatap wajah pria brengsek yang justru menampilkan senyuman mengejek, seolah tengah menggoda Dae Han.
"Brengsek!" Gumam Dae Han dengan tangan yang kembali terkepal kuat hingga membuat buku-buku tangannya memutih. Ia menarik pria itu berdiri, lalu memukuli wajahnya tanpa ampun. Sayangnya, pria itu tak tinggal diam, ia turut melakukan hal yang sama dibeberapa kesempatan.
So Yeon hanya bisa membekap mulutnya seraya menangis, beberapa penumpang wanita merangkul bahunya, menenangkan. Ia tak bisa berbuat apa-apa selagi beberapa tangan mencegahnya untuk melerai perkelahian antara suaminya dan pria asing tersebut. Dapat dilihatnya Dae Han beberapa kali terkena bogem mentah hingga membuatnya terdorong kebelakang. Namun hal itu tak membuatnya menyerah. Tenaganya terlampau besar, ia bahkan mampu menepis tangan-tangan besar yang berusaha menghentikan kebrutalannya, membuat beberapa penumpang yang berusaha menariknya terdorong mundur. Dae Han seolah kehilangan akal mendapati istrinya menjadi objek pelecehan pria brengsek, hingga yang ada di dalam pikirannya hanyalah membalaskan rasa murkanya pada pria tersebut, tanpa ampun, memberi perhitungan.
Bus berhenti darurat saat keadaan semakin kacau. Beberapa penumpang memaksa pria sangar tersebut turun dari dalam bus disertai pukulan serta tendangan dari mereka, membuat pria itu lari terbirit-birit. Setelah itu, petugas bus meminta Dae Han dan So Yeon turut turun pula karena telah membuat kekacauan. Alhasil, dengan terpaksa Dae Han menggandeng istrinya keluar bus menuju sebuah taman yang ia tahu berada di distrik Itaewon.
Tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang di sekitar tempat itu, Dae Han tetap mendekap erat So Yeon, membuat wanita itu dengan leluasa menangis di dadanya.
Setelah cukup lama menangis, So Yeon melepas pelukan suaminya, menatap wajah kacau lelaki itu dengan tatapan pelas. "Oppa tidak apa-apa? Kau terluka." Ia memegang wajah Dae Han, terdapat beberapa sapuan memar disudut bibir, pipi kiri serta kening.
Dae Han menggeleng. Hatinya lebih sakit daripada luka-luka itu tentu saja. "Apa pria brengsek itu menyentuhmu?" Suaranya tercekat. Kedua onix-nya terlihat lebih dingin.
"Euhm." Jawab So Yeon, seraya mengangguk lemah. Sebuah jawaban yang kontan membuat Dae Han membuang muka sebal. Mengembuskan napas keras-keras tanda ia masih murka. Ia tahu bagian mana yang pria brengsek itu sentuh, ia tak perlu mempertegas hal itu atau hatinya akan semakin berteriak marah.
Dae Han memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya angkat suara setelah merasa cukup tenang. "Maafkan aku, setelah ini, aku tidak akan mengajakmu pergi dengan bus lagi."
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu, oppa," sanggah So Yeon seraya memegang kedua tangan suaminya, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia baik-baik saja. "Lihat! Kacau sekali." Timpal So Yeon melontarkan candaan, ia memegang pipi Dae Han, lalu membenahi kemeja yang mencuat keluar dibeberapa bagian. Tak ada tanggapan dari Dae Han. Hanya seulas senyuman simpul. Ia juga berusaha memasukkan setelan kemeja berwarna plum itu ke dalam celana bahannya. Tak lucu jika ia harus menghadiri interview dengan keadaan kacau seperti ini.
So Yeon membimbing Dae Han untuk duduk di sebuah kursi taman yang terletak dibawah pohon rindang. "Oppa, tahan sebentar, ya." Pinta So Yeon, bersiap mengobati luka Dae Han dengan cairan antibiotik yang baru saja diambilnya dari dalam tas.
Dae Han menurut. Ia menghadap So Yeon sepenuhnya. Matanya terpejam beberapa kali saat cairan dingin itu menyentuh lukanya, meninggalkan sensasi perih setelah itu.
"Apa ini sakit, oppa?"
"Euhm. Neomu appa-yo." Jawab Dae Han sambil meringis kesakitan.
So Yeon terkekeh pelan. Seharusnya ia tak perlu menanyakan hal yang sudah memiliki jawaban pasti. Dae Han memang tidak bisa menahan sakit, sekecil apapun luka yang ia dapat, ia akan selalu mengadu padanya seolah tengah mendapat luka mengerikan. So Yeon masih mengingat benar beberapa bulan lalu sebelum mereka resmi menikah, Dae Han yang gemar sekali bermain skateboard terjatuh hingga menyebabkan siku kanannya terluka. Hanya sedikit luka gores, bahkan tak ada darah yang keluar dari luka itu. Tapi Dae Han dengan panik mendatangi So Yeon, mengaduh seraya memegangi sikunya kuat-kuat. Meminta So Yeon segera mengobati lukanya sebelum terinfeksi. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi barusan.
Setelah selesai mengobati luka lebam diwajah Dae Han. So Yeon beralih merapikan rambut lelaki itu yang nampak berantakan. "Apa firma hukum itu masih jauh?" Tanya So Yeon disela merapikan rambut suaminya.
__ADS_1
Dae Han mengangguk, "Ya, sekitar sepuluh menit lagi," sedetik kemudian, air muka Dae Han kembali berubah serius, ia memegang kedua tangan So Yeon. "Tapi... apa benar pria brengsek itu hanya menyentuh pinggangmu? Bukan..." Dae Han tak melanjutkan kalimatnya, suaranya seolah tercekat dikerongkongan.
So Yeon tergelak, lalu segera menambahi kalimat Dae Han yang terpotong. "Pantatku?"
"Apa ini lucu?"
"Tidak, maksudku, pria itu memang hanya menyentuh pinggangku," jawab So Yeon, berusaha menghentikan gelak tawanya melihat raut serius suaminya.
"Sungguh?"
"Euhm, bagaimana ia menyentuh pantatku jika aku sudah lebih dulu menangkis tangannya, huh?"
Dae Han terlihat mengembuskan napas lega. "Syukurlah." Gumamnya. "Setelah ini, kita pergi dengan taksi saja. Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
So Yeon menggeleng. "Tidak, ini bukan salahmu, oppa. Aku yang memaksa ikut pergi denganmu."
"Tapi..."
"Lupakan saja kejadian tadi, oppa, aku sungguh baik-baik saja. Lagipula, apa kau tidak percaya padaku jika pria itu memang belum sempat menyentuh pantatku? Apa kau perlu bukti, oppa?" Tanya So Yeon, matanya memicing menatap Dae Han menggoda.
"A-aniya..." Kedua manik hitam Dae Han melebar sempurna.
Terdengar gelak tawa setelah itu, So Yeon gemar sekali menggoda suaminya dalam hal seperti ini. Bagaimana caranya agar Dae Han percaya jika pantatnya masih perawan selain memeriksanya langsung?
"Euhm," So Yeon mengangguk. "Apa kau mau membuktikannya langsung, huh?"
"A-aniya..." Ulang Dae Han tergagap. "Bagaimana aku membuktikan hal itu?" Tambahnya putus asa. Matanya bergerak gelisah membuat So Yeon semakin tergelak.
Tak membuang kesempatan. So Yeon semakin gencar menggoda suaminya, merubah suasana yang semula beku menjadi cair seketika.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dae Han, sangat dekat, membuat lelaki tak nyaman kalau-kalau ada yang melihat adegan romantis mereka di tempat umum seperti ini.
"Apa yang kau lakukan? Chagi-ya..." Dae Han berseru gelagapan. So Yeon benar-benar nekat. Beruntung, tak banyak orang di kawasan itu, waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi, belum waktunya makan siang atau setidaknya ini bukanlah saat yang tepat untuk bersantai di luar ruangan ditengah terik matahari musim panas akhir bulan Juli yang bahkan mencapai 33 derajat celcius. Lebih dari itu, So Yeon tak peduli, mereka sudah resmi menikah, tak ada yang berhak menghentikan aksinya menggoda suaminya sendiri.
Wajah So Yeon semakin mendekat, dapat ia dengar embusan napas Dae Han yang memburu. "Chagi-ya... " Dae Han masih mencoba menyadarkan istrinya. "Kita akan melakukan french kiss di rumah saja, oke?"
So Yeon menghentikan aksi mendekatkan wajahnya, menaikkan satu alisnya seolah telah memikirkan tawaran Dae Han barusan. "Sungguh? Apa kau akan memeriksa pantatku juga?"
__ADS_1
To be Continued